My Handsome Police

My Handsome Police
Romantis



Seno dan Armell kini sedang berada di menara Eiffel. Saat ini mereka sedang berada di puncak menara itu. Dari ketinggian tersebut kita akan bisa melihat dan menikmati keindahan kota paris secara keseluruhan. Kebanyakan yang mencoba menaiki menara Eiffel ini sendiri adalah para wisatawan. Sedangkan masyarakat lokal akan lebih banyak untuk duduk dan menikmati suasana di taman yang berada tak jauh dari Menara Eiffel. Menara yang satu ini merupakan satu ini di bangun pada tahun 1887 dan selesai pada tahun 1889. Nama Eiffel sendiri berasal dari nama perancang menara ini yaitu Gustave Eifell.


Armell berdiri di pinggir, memandang indahnya kota Paris saat malam hari. Kerlap kerlip lampu yang memancar, semakin membuat pemandangan menjadi lebih indah. Seno berdiri di belakang Armell dan memeluknya dari belakang. Suasana romantis benar-benar tercipta di sana.


Seno mengecup bahu Armell. Membuat Armell tersenyum. Hatinya kembali menghangat.


" Suka? " tanya Seno.


Armell mengangguk dan tersenyum, " Banget. Pemandangannya sangat indah. " ujarnya. " Terimakasih, tuan muda Adiguna. Karena telah memberikan kebahagiaan ini. Memberiku kesempatan melihat semua ini. " lanjutnya.


" Sama-sama nona muda Adiguna. Aku juga berterima kasih, karena kamu sudah bahagia hidup bersamaku. " sahut Seno.


Mereka kembali saling diam menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka saat ini. Saling berpelukan, memberikan kehangatan masing-masing di udara yang dingin seperti ini. Sampai beberapa saat lamanya, terdengarlah suara perut Armell.


" He...he...he..." Armell memamerkan giginya yang putih.


" Lapar? " tanya Seno sambil menjauhkan tubuhnya dari istrinya. Armell mengangguk.


" Memang sudah waktunya makan malam. " lanjut Seno sambil melihat jam tangannya. " Yuk, kita turun. Cari makan. "


" Sebenarnya masih sayang mau pergi dari sini. Tapi apa daya. " keluh Armell sambil melihat dan mengelus perutnya. " Besok kalau mau pulang, pokoknya harus kesini lagi. " pinta Armell.


" Iya. Apa sih yang nggak buat kamu. " jawab Seno sambil mengacak rambut Armell. Lalu ia meraih tangan Armell dan memasukkan jari-jarinya di sela jari-jari istrinya. Membimbing istrinya untuk segera melangkah meninggalkan menara Eiffel.


Berjalan berdua berdampingan sambil bergandengan tangan. Membuat hati mereka berdua menghangat.


Seno mengajaknya dinner di sebuah restoran yang dekat dengan menara Eiffel. Restoran yang selalu memberikan suasana romantis. Dan banyak di gemari oleh pasangan.


Mereka mulai memasuki restoran bernuansa romantis itu, dengan alunan musik yang semakin membuat suasana semakin romantis.


" Wuahhh....Ada juga restoran seperti ini. " puji Armell sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. " Mas, tahu ada restoran seperti ini dari mana? " tanya Armell sambil menoleh ke arah Seno.


" Baby, apa gunanya ada internet? " sahut Seno.


Armell menepuk jidatnya perlahan. " Oh iya lupa. "


Lalu mereka segera memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang santai. Armell kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil berbincang.


" Mas, apa mereka minum minuman beralkohol itu? " tanya Armell saat ia melihat hampir semua pengunjung di restoran itu meminum minuman yang sama.


Seno mengangguk, " Yup. Mereka meminum wine. "


" Apa orang-orang di sini minum seperti itu semua? "


" Hampir semua orang. Karena cuaca di sini akan sangat dingin saat sudah memasuki musim dingin dan salju. Jadi mereka mengkonsumsi minuman itu untuk menghangatkan tubuh mereka. " jelas Seno.


" Tapi itu kan haram mas. "


Setelah makan malam mereka usai, sebelum kembali ke hotel, mereka berjalan di sepanjang jalan dekat menara Eiffel. Menikmati udara dingin yang hampir menusuk tulang mereka. Bahkan saat mereka berbicara, akan keluar asap dari mulut mereka. Tapi mereka menikmatinya.


Di rasa makan malam mereka tadi sudah tercerna dengan baik, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Karena semakin malam, udaranya semakin dingin. Seno merangkul erat tubuh Armell supaya istrinya itu tidak semakin kedinginan. Meskipun mereka sudah memakai mantel tebal juga syal, tapi udara dingin tetap sangat terasa.


Saat memasuki hotel, udara terasa hangat. Karena hotel menghidupkan penghangat ruangan. Sampai di hotel, mereka langsung naik ke lantai 15 dan masuk ke dalam kamar mereka. Armell sangat terkejut saat masuk ke dalam kamar mereka. Suasana kamar itu sudah berubah, tidak lagi sama seperti saat ia tinggalkan siang tadi.


Suasana kamar itu terasa sangat romantis. Lampu yang menyala redup, dengan berbagai macam lilin aroma terapi yang berada di setiap sudut ruangan, serta taburan bunga di atas ranjang mereka.


" Mas, ini kok sepertinya bukan kamar kita? " ujar Armell.


" Ini kamar kita, baby. Bagaimana? Apa kamu suka? " tanya Seno seraya memeluk Armell dari belakang.


" Mas yang nyiapin ini semua? " tanya Armell sambil menoleh ke arah suaminya yang berada tepat di belakangnya.


Seno mengangguk, " Iya. Aku ingin menciptakan suasana honeymoon yang sempurna untukmu. Berlibur di tempat yang romantis, tidur di hotel dengan pemandangan yang indah, juga suasana kamar yang romantis pula. " jawab Seno.


" Jadi seperti pengantin baru. " Armell melepas pelukan Seno dan berjalan menuju ke tempat tidur. Mengambil beberapa helai kelopak bunga yang ada di atas tempat tidur, lalu berjalan menuju sudut ruangan, menghirup lilin aroma terapi yang ternyata baunya sama seperti sabun aroma terapi yang ia gunakan siang tadi.


" Kamu nikmatilah suasana kamar ini. Aku mandi dan ganti baju dulu. " ujar Seno sambil berjalan menuju lemari mengambil baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi.


Armell masih menikmati aroma wangi di kamar itu sambil duduk di sofa dan memejamkan matanya. Lalu ia teringat akan sesuatu. Ia berdiri dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan sebelum berangkat ke Perancis. Setelah mengambilnya, Armell tersenyum geli.


" Malam ini, aku akan mengenakannya. Suamiku pasti menyukainya. Kamu harus menahan malu, Armell. " ucapnya pada dirinya sendiri.


Sebelum berangkat ke Perancis, Armell sempat pergi ke toko pakaian. Ia membeli sebuah lingerie yang sangat seksi. Lebih seksi dan terbuka di banding yang pernah mertuanya belikan dulu dan pernah ia kenakan saat di rumah mertuanya dulu.


Tiga bulan tidak beraktivitas dengan sang suami, membuat Armell juga sangat merindukannya. Pikirannya kini mulai menerawang kemana-mana.


" Duh Mell, kok pikiran kamu jadi mesum gini sih? Udah nular nih virus mesum mas Seno. " gumamnya sambil menggetok kepalanya perlahan.


Ceklek


Bunyi pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Armell segera menyembunyikan lingerie itu di balik badannya. Seno keluar dari kamar mandi dan lalu memandangnya.


" Baby, kamu mau mandi dulu, atau gimana? " tanya Seno yang telah selesai mandi dan memakai celana boxernya dan kaos kesayangannya.


" Mau mandi. Nggak enak kalau nggak mandi. " jawabnya lalu segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


" Jangan lama-lama baby. Jangan sampai satu jam lagi di kamar mandinya. " teriak Seno.


" Iya. " jawab Armell dari dalam kamar mandi.


***


bersambung