My Handsome Police

My Handsome Police
Punya bayi sendiri?



" Baby, are you oke? " tanya Seno sambil memeluk Armell erat saat ia baru tiba di area food court.


Armell mengangguk sambil mengernyit. Ia melepas pelukan Seno.


" Kok udah pulang? Bukannya masih setengah jam lagi? " tanya Armell sambil melihat ke jam tangannya.


" Mana mungkin aku bisa bekerja kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. " jawab Seno.


" Aku baik-baik saja kok. " jawab Armell sambil melirik ke arah Rezky. Ia yakin pasti Rezky yang memberitahu suaminya dengan apa yang terjadi.


" No, baby. Kamu pasti panik. Kamu pasti ketakutan. Aku akan buat perhitungan sama dia. "sahut Seno.


" I am oke, my Handsome Police. Aku tidak apa-apa. Ia tidak akan berani macam-macam sama aku. Kalaupun ia berani macam-macam, aku tidak akan tinggal diam. Kamu lupa, aku ini jago beladiri. " jawab Armell berusaha sesantai mungkin.


Seno kembali memeluknya. Seno merasa telah lalai menjaga dan melindungi gadis yang ia cintai. Padahal Armell sudah berkali-kali bertemu dengan Robert. Tapi ia memang sengaja tidak mengatakannya kepada suaminya. Karena ia tidak mau suaminya terlalu mengkhawatirkannya.


" Kita pulang sekarang. " ajak Seno.


" Lah, mas belum makan lho Iki. Makan aja dulu. " sahut Armell.


" Kamu udah makan kan? " tanya Seno. Dan Armell mengangguk sambil menunjuk ke piring kosong di depannya.


" Ya udah, ayo kita pulang. Aku makan di rumah saja nanti. " jawab Seno sambil menggendong baby Arvin dan mengambil tas milik baby Arvin.


Armell mengikutinya. Ia membawa beberapa paper bag yang berisi barang belanjaannya. Tapi paper bag itu segera di ambil alih oleh Rezky. Alhasil, Armell kini hanya membawa tas miliknya saja.


Mereka berjalan keluar dari mall bersamaan. Armell berjalan di samping Seno, sedangkan Ikke dan Rezky berjalan berdampingan di belakang Armell juga Seno.


" Lo antar cewek lo pulang sono. Antarkan dengan selamat. " perintah Seno.


" Siap bos. " jawab Rezky setelah menaruh belanjaan Armell di jok belakang.


" Kak, aku pamit dulu ya. " pamit Armell ke Ikke. Ikke mengangguk. " Bang, titip kakak aku. " ucapnya ke Rezky.


" Iya nona. " jawab Rezky.


Kemudian Seno membukakan pintu untuk Armell. Setelah Armell masuk ke dalam mobil, Seno menaruh baby Arvin di atas pangkuan Armell. Lalu setelah ia menutup pintunya, ia segera berjalan cepat mengitari mobil, masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya.


...Keesokan harinya...


Armell merapikan barang-barang baby Arvin sambil sesekali menyeka air matanya. Baju-baju baby Arvin, ia masukkan ke dalam koper. Kemudian mainan baby Arvin ia masukkan ke koper yang lain. Ia di bantu oleh baby sitter Arvin yang bernama Siti.


" Non bos, kalau baby Arvin sudah tidak di sini, bagaimana dengan saya? " tanya Siti sambil menunduk.


" Maksud mbak Siti? " tanya Armell.


" Apa saya akan di berhentikan? " tanyanya kembali.


" Siti, kamu nggak usah khawatir. Kami tidak akan memecatmu. Kamu tetap akan bekerja disini. Kamu kan bisa bantu-bantu si Lilik. Sambil menunggu kami punya anak sendiri. Nanti kamu yang asuh bayi kami. " Seno yang menjawab pertanyaan Siti dari depan pintu kamar baby Arvin sambil menggendong baby Arvin.


" Terimakasih banyak, tuan bos. Siti senang sekali. Baru kali ini lho, Siti merasa sangat nyaman bekerja. Tuan bos dan nona bos, sangat baik sama Siti. Bahkan Siti dianggap seperti saudara di sini. " ucap Siti begitu bersyukur.


" Iya, makanya, kamu bekerjalah dengan benar. Maka kami akan selalu baik sama kamu. " ucap Seno.


" Siap, tuan bos. " jawab Siti.


" Sudah selesai beberesnya, baby? " tanya Seno ke Armell.


" Udah mas. Tinggal dikit. " jawab Armell.


" Ya udah, yuk ke depan. Sambil nungguin keluarganya baby Arvin, kita main dulu sama baby Arvin. Biar beberesnya di lanjutkan sama Siti. " ajak Seno.


Armell mengangguk, kemudian mengambil baby Arvin dari gendongan Seno.


" Tolong ya mbak. " pinta Armell.


" Siap non bos. " jawab Siti sambil tersenyum. Armellpun juga ikut tersenyum. Kemudian ia keluar dari kamar baby Arvin dan turun ke lantai satu.


Mereka bermain sambil bercanda dan menggoda baby Arvin. Mereka terlihat bahagia. Tapi sesekali Armell tiba-tiba terdiam.


" Baby, kamu kenapa lagi? " tanya Seno sambil mengelus kepala Armell.


" Ya aku sedih lah. Baby Arvin kan sebentar lagi bakalan nggak sama aku lagi. " jawab Armell memberengut.


" Hei, bukankah ibunya Arvin bilang kalian akan berbagi waktu merawat baby Arvin? " sahut Seno.


" Iya. Tapi kan tetep aja baby Arvin sekarang bukan milikku lagi. " jawab Armell.


" Kamu tidak boleh egois. Baby Arvin juga perlu mengenal ibu kandungnya. Masih mending, ibu kandungnya tetap mengijinkan kita untuk tetap bisa bertemu baby Arvin. Iya kan? " ujar Seno.


Armell terdiam, kemudian mengangguk.


" Emang kita mau adopsi bayi lagi? " tanya Armell.


" Ya nggak lah baby. Kita bikin bayi kita sendiri. " jawab Seno.


" Emang bisa? " tanya Armell.


" Asal kamu mau unboxing sama aku, pastilah kita bisa punya bayi sendiri. " sahut Seno.


Bugh


Armell memukul lengan Seno menggunakan bantal sofa.


" Selalu aja unboxing. " gerutu Armell.


" Eh, ngomong-ngomong, dua hari lagi udah tahun baru loh. " ucap Seno serius.


" Terus mau ngapain? Mau ngajakin nonton kembang api? " tanya Armell.


" Mau ngajakin kamu unboxing an lah. " jawab Seno sambil menghindar saat Armell kembali akan memukulnya.


" Ihhhh....itu aja yang di omongin. " teriak Armell.


" Ya kan aku cuma ngingetin, baby. Kamu bilang kita boleh unboxing besok tahun depan. Tiga hari lagi kan udah ganti tahun. " jawab Seno bersemangat.


" Aku kan cuma asal bicara waktu itu. Nggak usah di anggap serius juga. " sahut Armell.


" Nggak bisa lah. Udah terlanjur serius akunya. Udah tercatat dengan manis di memori aku. " ujar Seno.


" Ihhhh, mas ngeselin....."


Tok ..tok ..tok...


Terdengar pintu depan di ketuk.


" Aku lihat dulu. Mungkin itu tuan Abraham dan nona Leora. " ujar Seno.


Kemudian ia keluar dan menemui tamunya.


" Silahkan masuk. " Seno mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya.


" Kak Leora? Apa kabar? " sapa Armell.


" Baik. Kamu sendiri gimana? " tanya Leora sambil mereka cipika-cipiki.


" Alhamdulillah aku juga baik kak. " jawab Armell. " Arvin, lihat tuh siapa yang datang? " ucap Armell ke baby Arvin yang ada di gendongannya. " Halo, mama..." lanjutnya mengikuti suara anak kecil.


" Halo, sayang...Mama kangen....." jawab Leora sambil mengecup pipi tembem baby Arvin.


" Duh, maaf ya mommy, Arvin udah ngerepotin mommy. " kini Leora yang berucap dengan suara anak kecil.


Mereka telah memutuskan, baby Arvin akan memanggil ibu kandungnya dengan sebutan mama, dan Armell dengan sebutan mommy. Seperti sebelumnya. Dan Seno tentu saja tetap Daddy.


" Nggak ngerepotin kak. Aku malah seneng banget bisa ngerawat baby Arvin. " jawab Armell.


Kemudian mereka saling mengobrol banyak hal. Armell menceritakan tentang kebiasaan baby Arvin supaya Leora bisa mengerti. Hubungan Leora dan Armell sudah sangat dekat semenjak pertemuan mereka satu minggu lalu. Mereka sudah sering saling berteleponan, dan berkirim pesan.


Sampai akhirnya tuan Abraham dan Leora berpamitan karena hari sudah hampir gelap. Armell memeluk erat baby Arvin dengan air mata berlinang saat mereka berpamitan. Enggan rasanya ia berpisah dengan baby Arvin.


" Boleh besok aku main ke rumah kak? " tanya Armell.


" Tentu saja boleh. " jawab Leora.


" Kami pamit dulu, tuan Seno, nona Armell. " pamit tuan Abraham.


Kemudian mereka meninggalkan rumah Seno.


💫💫💫


" Kalian cepat cari tahu tentang anak yang di adopsi oleh Seno Adiguna. Cari semua informasi selengkap-lengkapnya. Dan cepat, tentu saja. " ucap Robert ke anak buah kepercayaannya.


" Baik, bos. Saya akan mengerahkan anak buah saya untuk mendapatkan informasi secepatnya. " jawab si anak buah.


Setelah pertemuannya dengan Armell sore hari itu, Robert selalu kepikiran dengan baby Arvin. Seorang anak kecil yang sudah mampu membuatnya tak karuan. Ia yang seorang jenius cerdas, langsung berpikir tentang satu kemungkinan. Dan kemungkinan itu membuatnya gusar tapi sekaligus senang. Kalau apa yang di pikirkannya itu benar, maka ia akan mengambil Armell dan baby Arvin dari tangan Seno bagaimanapun caranya. Seno tersenyum smirk memikirkan hal itu.


***


bersambung