My Handsome Police

My Handsome Police
Pengen bakso



Sore menjelang. Langit seperti sedang bersedih. Matahari enggan bersinar semenjak siang tadi. Langit terlihat gelap. Tapi hujan juga enggan datang.


Sudah sejak siang tadi, Seno sedang berkutat di dapur dengan di tunggui oleh Armell yang duduk di kursi makan. Karena udara yang agak dingin, Armell tiba-tiba ingin makan bakso yang sering ia beli saat ia masih duduk di bangku SMA.


Tentu saja Seno tidak mengabulkan keinginan bumil ini. Karena tidak mungkin mereka melakukan perjalanan dengan membawa mobil dengan jalanan arah ke kampung Armell yang buruk. Apalagi cuaca juga tidak mendukung.


Alhasil, Armell meminta dirinya membuatkan bakso. Awalnya iapun enggan. Karena dia sama sekali tidak pernah membuat gelondong bakso. Lalu bagaimana ia bisa membuatnya. Seno sudah mengusulkan, kalau Lilik akan membuatkannya. Tapi Armell langsung menolak.


Flash back on


" Baby, aku mana bisa membuat baksonya? Pernah lihat cara buatnya aja nggak. Biar Lilik aja yang buat ya. Dia pasti bisa. " rayu Seno.


" NGGAK. Titik. " sahut Armell ketus. " Aaahhh....mas sebenarnya sayang nggak sih sama aku? Sayang nggak sama si orok? " tanya Armell kesal.


" Ya sayang lah. " sahut Seno.


" Ya udah, kalau sayang, cepetan buatin baksonya. Cuma bakso loh mas. Aku nggak minta di buatin rumah gedong. Nggak minta di beliin mobil mewah. Apalagi, aku juga nggak minta di buatin seribu candi kayak Roro Jonggrang. " lanjut Armell masih dengan mode kesal.


" Ya mana bisa aku buat seribu candi. Si Bandung Bondowoso aja nggak bisa. " sahut Seno.


" Iya makanya....cepet bikinin bakso. " kekeh Armell.


" Tapi aku nggak bisa, baby. " ujar Seno.


" Ah, kamu mah kebanyakan alasan. Bilang aja nggak mau buatin. Bilang aja kamu nggak sayang. Ya udah, aku mau beli aja di depan komplek. " ujar Armell ketus sambil berdiri dari sofa.


" Eh, mau kemana kamu baby? " tanya Seno.


" Mau beli bakso ke depan. " jawab Armell.


" Jangan, baby. Itu banyak micinnya. Nggak bagus buat kamu sama dedek bayinya. " larang Seno.


Tanpa menjawab, Armell berlalu ke dalam kamar. Di dalam kamar, ia menangis sesenggukan. Karena dia benar-benar sangat ingin makan bakso yang di buat oleh tangan suaminya.


Tak lama, Seno juga masuk ke dalam kamar. Ia melihat istrinya menangis di atas tempat tidur. Ia menjadi merasa sangat bersalah.


" Baby, jangan menangis, oke. " ujar Seno sambil mengelus rambut Armell.


Cepat-cepat Armell menepis tangannya. Lalu memalingkan wajahnya, sambil mengusap air matanya.


" Oke, kita bikin bakso yuk. Kita lihat, apa Lilik punya daging atau nggak. Tapi kamu harus nungguin dan nemenin aku. " ujar Seno merayu istrinya saat melihat istrinya menangis.


Raut wajah Armell langsung berubah. Senyum terbit dari kedua sudut bibirnya. Ia langsung meraih tangan Seno dan menariknya membawanya ke dapur. Seno hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Flash back off


Dan di sinilah mereka sekarang. Sudah beberapa kali mencoba membuat gelondong bakso seperti yang ada di video YouTube, tapi Seno masih saja gagal. Bakso itu tidak bulat bentuknya. Tapi tidak beraturan.


Dan tentu saja Armell tidak mau kalau bentuk baksonya seperti itu. Ia mau baksonya bulat-bulat dan besar seperti yang di jual oleh penjual bakso langganannya.


Setelah hampir satu jam Seno berusaha, akhirnya kali ini, ia bisa membuat bakso dengan bentuk yang sempurna. Ia segera memanggil istrinya.


" Baby, lihat, aku bisa membuat bakso seperti yang kamu mau. " ujar Seno tanpa menoleh ke arah Armell.


Tidak ada jawaban dari istrinya. Seno berinisiatif melihat ke belakang. Dan ternyata, Armell sedang tertidur pulas dengan kepala di atas meja berbantalkan kedua tangannya.


" Ya Tuhan... Benar-benar putri tidur dia ini. Di manapun, ia akan tertidur. " gumam Seno.


Memang semenjak hamil, Armell sangat suka tidur. Bawaannya mudah mengantuk.


Seno mencuci tangannya dan melepas apron yang ia pakai. Lalu berjalan menghampiri sang istri. Gemas ia melihat istrinya tertidur pulas seperti itu setelah mengerjainya hampir setengah hari. Ia tidak membangunkan istrinya. Ia akan membangunkannya setelah bakso yang ia masak sudah matang.


Saat kuah bakso yang Seno buat sudah mendidih dan rasanya pas di mulut, Seno membangunkan Armell dengan menaruh semangkuk bakso di dekat Armell tertidur. Dan seperti dugaan, tidak perlu mengeluarkan suaranya, Armell sudah terbangun dengan sendirinya dengan aroma bakso itu.


Saat membuka mata dan melihat semangkuk bakso tersaji di depannya, Armell sangat senang. Tanpa berbicara apa-apa, ia langsung menyendok bakso itu dan meniupnya sebentar sebelum masuk ke dalam mulutnya.


Tak butuh waktu lama, mangkuk itu telah kosong. Tapi ia merasa masih menginginkan bakso itu.


" Mas, boleh nambah? " tanya Armell sambil menyodorkan mangkuk kosong ke depan suaminya.


Kembali Armell memakannya dengan sangat lahap.


" Enak, beb? " tanya Seno sambil tersenyum melihat betapa rakusnya sang istri menikmati bakso itu.


Tanpa mengeluarkan suara, Armell menjawab pertanyaan Seno dengan anggukan.


Kembali, mangkuk itu sudah dalam kosong hanya dalam waktu beberapa menit saja. Armell bersendawa sambil menutup mulutnya.


" Sudah kenyang? " tanya seno.


Armell mengangguk. Sambil mengelus perut buncitnya.


" Mas nggak makan? " tanya Armell. " Enak loh baksonya. "


" Ngelihat kamu makan tadi aku udah kenyang. " jawab Seno.


" Rakus ya ? He ..he...he...Habis enak banget sih. " sahut Armell.


" Syukurlah kalau kamu suka. " ucap Seno.


Armell beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari dapur.


" Mau kemana baby? " tanya Seno.


" Mau tidur lagi. Kenyang terus ngantuk lagi. " sahut Armell sambil menguap.


" Hei. Kamu baru selesai makan. Jangan terus tidur. Nggak baik buat pencernaan kamu. Lagian ini sudah sore. Sebaiknya kamu mandi. Nanti malam baru tidur lagi. " tukas Seno.


" Ck. Tapi aku masih mengantuk. " sahut Armell sambil cemberut.


Seno bangkit dari duduknya lalu menghampiri Armell.


" Sebaiknya kamu duduk dulu di sofa. " ujar Seno sambil mendorong tubuh Armell perlahan dan di arahkan ke ruang tengah. " Nonton TV dulu. Biasanya kamu suka nonton drakor. " ujar Seno.


" Emang boleh? Biasanya kan mas nggak suka kalau aku nonton oppa-oppa Korea yang ganteng itu. Mas pasti terus marah-marah. " tanya Armell.


" Kali ini boleh. Aku nggak bakalan marah. Aku cariin channel kesukaan kamu. " tukas Seno sambil mengarahkan remote ke televisi layar datar lebar yang ada di depannya.


Armell tersenyum sumringah. Hilang sudah rasa kantuknya. Ia begitu antusias menunggu suaminya yang memilihkan channel TV untuknya.


" Eh, mas. Jangan channel yang itu. Aku mau nonton yang udah tamat aja. Kalau nonton yang on going suka kesel. Habisnya lagi seru-serunya, eh malah bersambung. Nonton yang di VIU aja. " seru Armell.


Tanpa menjawab, Seno segera mengganti Chanel TV itu ke aplikasi VIU. Dan setelah masuk ke aplikasi itu, muncullah drakor-drakor di sana.


" Yang itu mas. " Armell menunjuk ke salah satu drama. " Yang main oppa Cha Eun Wo. " lanjutnya.


" Yang mana sih beb? Aku mana tahu Cha Cha yang mana. " tanya Seno saat ia kebingungan mencari drakor yang di maksud istrinya itu.


" Cha Eun Wo, mas. Bukan Cha Cha...Emang coklat. Yang itu loh...." ujar Armell. " Bukan....Bukan yang itu. Kalau itu pemainnya nggak ganteng. " lanjutnya.


" Lalu yang mana? Lagian, mana ada sih laki-laki yang lebih tampan dari suamimu ini. " seru Seno.


" Ih, narsis. " ledek Armell. " Yang itu loh. Itu tuh... Judulnya tadi ada True apa gitu. " lanjutnya.


" Yang ini? " tanya Seno saat ia menemukan satu judul drakor yang ada True nya.


Armell mengangguk dengan semangat. Lalu ia menikmati menonton drakor itu sambil sesekali heboh melihat aktor tampan Cha Eun Wo. Yang membuat suaminya kesal.


" Ihhhh..... gantengnya....." puji Armell. " Mas, itu tuh yang namanya Cha Eun Wo. Ganteng kan? "


" Ck. Masih gantengan aku kemana-mana. " sahut Seno nggak terima istrinya mengatakan laki-laki lain ganteng.


" Ck. Mas nggak asyik ah. Udah sana, aku mau nonton sendiri. Kalau kamu di sini, moodku jadi anjlok. " seru Armell.


***


bersambung