My Handsome Police

My Handsome Police
Pingsan



Hai kak....Semua reader'sku.... Nggak terasa, cerita Armell sama Seno sudah hampir di akhir episode....Masih beberapa episode lagi sih....Tapi sepertinya tidak sampai 15 episode lagi deh 🤭🤭


Terus di simak sampai akhir ya guys.....


______________________________________________


Kandungan Armell sudah semakin mendekati hari kelahiran. Menurut dokter, hpl nya akan tiba satu Minggu lagi. Sudah hampir dua Minggu ini Seno sama sekali tidak pernah meninggalkan Armell. Kalau di waktu-waktu yang lalu terkadang ia masih menengok ke kantor meski hanya sesaat, atau keluar untuk meeting dengan klien. Tapi sekarang ia benar-benar tidak ingin meninggalkan istrinya barang satu menitpun.


Tentu saja Armell merasa semakin bahagia. Meskipun ia kadang terbersit rasa takut di hatinya mengingat hari melahirkan tinggal menunggu hari, tapi karena adanya perhatian full dari sang suami, Armell menjadi lebih rileks.


Sang mama mertua, yakni nyonya Ruth juga setiap hari datang ke rumah mereka. Beliau tidak ingin kehilangan momen saat-saat menantu tersayangnya akan melahirkan cucunya. Terkadang tuan Adiguna juga menyambangi rumah mereka. Beliau juga berusaha memberikan semangat untuk sang menantu.


Yang membuat rumah menjadi lebih ramai lagi, ibu dan juga adik Armell, Pipit juga ada di rumah itu. Sesuai janji ibu sebelumnya kalau beliau akan selalu berada di dekat Armell saat Armell menunggu hari menjelang persalinan.


Pipit yang kebetulan sudah selesai ujian dan tinggal menunggu ijasah di terbitkan, ikut ibunya ke ibukota. Di sana, ia juga ikut memberikan semangat untuk kakaknya.


" Sayang, bagaimana perasaan kamu sekarang? " tanya nyonya Ruth. Saat ini semua sedang berkumpul di ruang tengah setelah selesai makan malam.


" Agak takut sih ma. " sahut Armell. Seno yang duduk di sebelahnya, segera menggenggam tangannya erat menyalurkan kekuatan.


" Mbak Mell harus kuat. Kita ini sudah biasa kena pukulan, tendangan, sudah sering merasakan luka. Jadi untuk melahirkan, pasti mbak Mell juga pasti kuat. " sahut Pipit.


Armell tersenyum sambil mengangguk. Semua yang ada di situ juga ikut tersenyum.


" Jangan takut, sayang. Semua perempuan pasti mengalaminya. Dan mama yakin, kamu perempuan yang kuat. " ujar nyonya Ruth sambil tersenyum. " Kami semua akan selalu menemanimu. Memang sakit saat melahirkan. Tapi rasa sakit itu akan segera hilang saat kamu melihat malaikat kecilmu. " lanjutnya.


" Iya ma. " jawab Armell.


" El, kamu harus menemani istrimu besok saat persalinan. Peran suami sangat penting saat itu. Kamu bisa menjadi sumber kekuatan untuk istrimu. " ujar sang mama.


" Pasti lah ma. " sahut Seno.


" Dan...jangan sampai pingsan karena takut kalau melihat istrimu melahirkan. " tambah nyonya Ruth sambil melirik ke arah suaminya. Tuan Adiguna yang merasa menjadi objek, berpura-pura tidak mendengar. " Seperti seseorang. " tambah nyonya Ruth.


" Papa nggak takut ma saat itu. Berapa kali papa bilang, papa cuma geli dan jijik kalau lihat darah. " protes tuan Adiguna tanpa sadar. Lalu beliau langsung menutup mulutnya dengan tangannya saat menyadarinya.


" Apa? Papa pingsan waktu nemenin mama ngelahirin El? " tanya Seno.


Tuan Adiguna mengeleng.


" Iya ..Papa kamu tuh El. Cemen. Masak yang sakit mama, kok yang pingsan papa. " ledek Nyonya Ruth.


Seno langsung terbahak-bahak. Sedangkan tuan Adiguna menatapnya tajam. Armell langsung mencengkeram tangan suaminya untuk memperingatkan supaya suaminya segera berhenti tertawa.


Seno langsung menghentikan tawanya saat merasakan tatapan tajam dari istrinya.


" Sayang, kalau mau melahirkan kan sakit tuh. Kamu harus membagi rasa sakit mu dengan suamimu. Kamu tarik aja rambut suamimu yang kenceng. Itu bisa mengurangi rasa sakit kamu. " ujar sang mama.


" Gimana bisa di tarik ma. Orang rambutnya cepak pendek gini. " sahut Armell sambil mengelus rambut Seno yang memang sangat pendek. Seno memang masih suka dengan potongan rambut ketika ia masih menjadi polisi dulu.


" Oh iya ya. Kalau gitu, cakar aja tangannya. " tambah nyonya Ruth.


Kali ini Seno menggelengkan kepalanya mendengar ajaran sang mama pada istrinya. " Mama ini malah kasih saran yang buruk. " protes Seno.


Dan tuan Adiguna kini balik tertawa ke Seno. " Bener apa kata mama kamu, Lusi. Memang suamimu ini harus di ajak saling berbagi. Biar dia juga merasakan rasa sakit yang kamu rasakan. " ujarnya.


" Baby, sudah malam. Ayo kita ke kamar. Kamu harus istirahat. " ajak Seno supaya ia bisa segera terlepas dari gangguan kedua orang tuanya.


Sedangkan Pipit dan ibunya hanya menyimak pembicaraan keluarga besannya sambil sesekali tersenyum.


Armell mengangguki ajakan suaminya. Seno lalu membantuku untuk berdiri. Karena ketika perutnya semakin membesar, Armell makin kesulitan untuk bergerak.


" El, sebelum istrimu melahirkan, pastikan kukunya pendek. Kalau kamu tidak ingin tanganmu hancur. " ujar sang papa sambil melirik ke arah istrinya. Sepertinya dulu, beliau mengalaminya 😄😄.


" Baby, apa kuku tanganmu panjang-panjang? " tanya Seno sambil memperhatikan kuku jari tangan Armell.


" Mell nggak suka manjangin kuku kok. Jadi mas tenang saja. Nggak bakalan sampai di jahit kok tangannya. " jawab Armell sambil tersenyum penuh arti.


Lalu mereka kembali berjalan menuju ke kamar mereka.


" El, jangan mengerjai istrimu lagi. Kasihan istrimu kalau setiap malam kamu ajak olahraga. " teriak Nyonya Ruth.


Seno dan Armell saling menatap mendengar teriakan Nyonya Ruth. Tapi dengan tatapan yang berbeda. Armell dengan tatapan kemenangan. Sedangkan Seno dengan tatapan sendunya.


💫💫💫


Tengah malam, Armell terbangun. Ia merasa nyeri di pinggangnya. Seperti rasa nyeri ketika ia akan datang bulan. Armell duduk.


" Apa aku mau melahirkan? Atau hanya kontraksi palsu? " gumamnya. Ia turun dari ranjang. Tadi ia terbangun selain karena tiba-tiba perutnya sakit, ia juga ingin buang air kecil. Karena setelah kandungannya berusia 7 bulan, ia memang sering ke kamar mandi.


Ia berjalan mondar-mandir sebentar. Dan ternyata rasa sakit itu hilang. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dan membuang air kecil.


Setelah membuang air kecil, Armell kembali ke kamar. Tapi rasa sakit itu kembali datang, tapi tidak sesakit yang tadi. Lalu Armell teringat ia pernah mendengar jika perempuan akan melahirkan, sebaiknya di buat jalan-jalan biar cepat membuka jalan lahir.


Armell berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia melihat suaminya bergerak berpindah posisi. Tangannya meraba-raba sisi ranjang sebelahnya. Setelah merasa tidak ada istrinya di sampingnya, Seno membuka matanya.


Seno mendapati Armell sedang berjalan mondar-mandir.


" Baby, kamu kenapa? " tanya Seno sambil bangun dari tidurnya.


Armell menggeleng. " Nggak pa-pa mas. Tadi kebangun mau buang air kecil, terus tiba-tiba perutku agak nyeri. " sahut Armell.


" Kamu mau melahirkan baby? " tanya Seno langsung berdiri dan menghampiri Armell.


Armell tersenyum. " Nggak tahu mas. Tapi kalau emang mau melahirkan, rasanya pasti lebih sakit dari ini. Sekarang itu cuma agak nyeri gitu. Mungkin kontraksi palsu aja. " sahut Armell.


" Bagian mana yang sakit? " tanya Seno.


Armell menunjuk ke perut dan pinggangnya. Lalu Seno membelai dan mengelus perut juga pinggang Armell bergantian. " Kita ke rumah sakit aja ya? " tanyanya kemudian.


" Sepertinya ini memang kontraksi palsu deh mas. Ini sudah nggak terasa kok. Udah nggak sakit. Mungkin anak kita mau di elus sama Daddy-nya. " sahut Armell.


" Ya udah, kalau gitu, ayo balik ke ranjang. Kamu tidur lagi. Masih tengah malam. Nanti aku elus perut sama pinggang kamu biar nggak sakit. " ujar Seno.


Armell mengangguk. Ia mengikuti sang suami yang berjalan menuntunnya ke tempat tidur. Ia merebahkan kembali tubuhnya miring di atas ranjang. Lalu Seno ikut merebahkan tubuhnya juga menghadap ke Armell. Lalu tangannya dengan lembut mengelus perut dan pinggang Armell bergantian. Sampai akhirnya Armell kembali tertidur.


***


bersambung