
" Mas, kenapa kamu pergi tanpa mendengarkan penjelasanku? Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Jika memang kamu marah, bukankah aku juga harusnya marah? Karena aku juga mengalami hal yang sama. Kenapa kamu tidak bisa berpikir jernih? Kenapa kamu lebih mempercayai orang lain daripada aku? " gumam Armell lirih sambil memeluk guling di atas tempat tidur.
" Aku juga marah mas melihat foto-foto mesra kamu. Tapi aku berusaha untuk selalu percaya sama kamu. Tidak bisakah kamu juga melakukan hal itu? " lanjut Armell.
Ia terus termenung meresapi setiap hal-hal yang terjadi di dalam pernikahannya. Meskipun hatinya sakit, matanya memanas, tapi seperti janjinya, ia tidak menitikkan air matanya. Air mata itu hanya menggenang di pelupuk matanya.
Tak sadar karena kelelahan berpikir dan badannya juga terasa tidak enak seharian ini, akhirnya Armell tertidur sambil memeluk gulingnya.
Sampai akhirnya pagi menjelang. Armell membuka matanya dan pagi itu, Armell pun masih tetap merasa tidak enak badan seperti kemarin. Bahkan pagi ini, kepalanya juga terasa begitu berat.
Setelah membuka matanya, Armell melihat ke sisi tempat tidur di sebelahnya. Dimana biasanya Seno tertidur. Tapi hasilnya nihil. Tempat itu masih sama seperti semalam ketika ia tiba-tiba tertidur.
Armell bangun dari tidurnya, dan melihat ke kamar mandi. Kondisi kamar mandi masih sama ketika semalam ia ke kamar mandi. Dan lantai kamar mandi itu terlihat kering. Berarti suaminya tidak mandi di situ. Armell masuk ke kamar mandi dan segera menggosok gigi dan membersihkan muka.
Setelah itu, ia keluar dari kamar. Menengok sekejap kamar baby Arvin. Kosong. Berarti Seno juga tidak ke kamar itu. Lalu Armell turun ke lantai satu. Ia berjalan menuju ke kamar tamu yang dulu sempat di pakai Seno. Kosong juga. Kamar mandinya juga kosong. Berarti Seno pun tidak menginjakkan kakinya di kamar itu.
Armell kembali ke ruang tengah. Ia menghenyakkan pantatnya ke sofa dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya. Kepalanya benar-benar terasa berat. Tubuhnya juga terasa lemas.
" Mbak Lilik......" panggil Armell.
Yang di panggil tidak kelihatan batang hidungnya.
" Mbak....Mbak Lilik....." panggil Armell kembali.
" Iya non....." jawab Lilik dari kejauhan sambil berlari kecil menghampiri istri bosnya.
" Ada apa non bos? " tanya Lilik setelah ia sampai di dekat Armell.
Armell menurunkan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup matanya.
" Non bos sakit? Kok kelihatan pucat gitu? " tanya Lilik khawatir.
" Cuma agak pusing aja mbak. Sama lapar kali. Mulai dari kemarin siang belum sempat makan. " sahut Armell.
" Non bos mau sarapan? Mau Lilik masakin apa? " tanya Lilik.
" Omelette mie aja mbak....kasih saus sambal di atasnya. Sampai di potongi tomat kalau ada. " jawab Armell.
" Oke deh. Sip. Lilik buatin sekarang. " jawab Lilik.
" Mbak, sama buatin juice alpukat bisa? Tapi jangan pakai susu coklat. Pakai vanila aja. " tambah Armell.
" Mbak, masih pagi lho ini. Beneran mau juice? " tanya Lilik memastikan.
" He em. Pengen soalnya. " jawab Armell.
" Iya deh Lilik bikinin. " sahut Lilik. Kemudian Lilik berbalik dan hendak kembali ke dapur.
" Mbak, lihat mas Seno nggak? Aku bangun tadi kok aku cari udah nggak ada. " tanya Armell.
" Nggak tuh non. Lilik malah dari kemarin nggak lihat tuan bos. Ada kerjaan dadakan mungkin. " jawab Lilik.
" Oh, ya sudah. " jawab Armell. Ia kembali menyandarkan kepalanya. Dan Lilik berlalu pergi ke dapur.
💫💫💫
" Ma, anak laki-lakimu bikin masalah. " ujar tuan Adiguna.
" Dia udah bikin menantu kesayangan kita pergi dari rumah. " jawab tuan Adiguna.
" What? Oh God ...." nyonya memekik terkejut.
" Mama harus segera nyusulin mantu kita. Kasihan dia ma. Mama ajak kesini. Kita umpetin mantu kita di sini. Biar anak nakal itu tahu rasa. Biar nggak asal marah-marah aja. " ujar tuan Adiguna.
" Memang masalah mereka apa pa? Bukannya mereka baru ya baikannya. " tanya nyonya Ruth.
" Salah paham ma. Ada yang mengadu domba mereka dengan tujuan biar rumah tangga mereka berantakan. " jawab tuan Adiguna.
Nyonya Ruth mengernyitkan dahinya. " Siapa pa? "
" Biasa ma, pelakor. Mama tahu sendiri kan, pelakor itu selalu ada di mana-mana. Bahkan di novel aja ada pelakornya. Kalau nggak ada pelakornya, author nya bilang, nggak seru. " ujar tuan Adiguna.
" Papa ini kok malah ngomongin novel. Serius ini pa..." sahut istrinya kesal.
" Papa juga serius, mama.....El dapet kiriman foto dari seseorang yang isinya itu foto menantu kita dengan salah satu temannya. Tapi orang itu mengedit foto Lusi sebelum mengirimkannya ke El. Alhasil, El nya salah paham. Terus marah-marah nggak jelas ke istrinya. Anak kamu itu polisi, tapi kok nggak bisa berpikir panjang. " umpat tuan Adiguna kesal dengan anaknya.
" Sedangkan menantu kita, lebih bisa berpikir jernih. Ia juga mendapatkan foto El dengan mantan kekasihnya. Tapi Lusi masih bisa berpikir waras dan tetap mempercayai anak sableng itu. " lanjut tuan Adiguna. " Huh! Kesal papa sama anak sableng itu! " keluh tuan Adiguna.
" Dasar anak itu ya.... Perasaan mama dulu waktu hamil nggak nyidam yang aneh-aneh deh. Ck! " keluh nyonya Ruth juga. " Siapa pelakornya pa? Mau mama pites tuh perempuan. "
" Mama tenang saja. Papa sudah suruh Dion membereskan serangga yang mau mama pites itu. " jawab tuan Adiguna sambil tersenyum menyeringai.
Benar apa yang di bilang tuan Adiguna. Beliau telah menyingkirkan si kutu Mariana. Ia di pecat dari kepolisian dengan tidak hormat dalam waktu satu hari. Papanya yang bahkan seorang perwira tinggi di kepolisian tidak bisa membela anaknya. Ia hanya bisa diam saja.
Setelah di pecat, Mariana di kirim ke Zimbabwe. Diasingkan di sana. Ia tidak diijinkan pulang kembali ke tanah air sebelum usianya 50 tahun. ( Ngerix kan guys....)
" Sekarang mama mending cepetan jemput mantu kita. Sebelum dia kabur. " ujar tuan Adiguna.
" Iya. Mama siap-siap dulu. " ucap istrinya.
" Mama mau siap-siap gimana lagi? Mama ini udah cuantik banget lho. Mending langsung capcuss aja deh. " sahut tuan Adiguna.
" Iya, papa yang kadang juga ngeselin kayak anaknya. Mama ambil tas dulu. " ucap Nyonya Ruth sambil berjalan meninggalkan suaminya.
Flash back on
Setelah menghabiskan sarapannya, Armell segera mandi dan bersiap. Ia membawa beberapa potong baju dan di masukkan ke tas ranselnya.
Ia berencana pergi dari rumah itu untuk beberapa hari. Ia tidak bermaksud menjadi istri durhaka. Yang meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Tapi ia hanya ingin memberikan rasa jera ke suaminya yang selalu berpikir menggunakan emosinya daripada otaknya.
Armell akan pergi dari rumah, dan akan menunggu Seno mencari dan menjemputnya. Biar suaminya menyadari akan kesalahannya.
Di samping itu, Armell juga masih merasa perih di hatinya melihat foto-foto kemesraan Seno dengan mantan kekasihnya. Meskipun itu hanya masa lalunya. Masa lalu yang tidak pernah Seno ceritakan kepadanya.
Ia berharap, Seno segera sadar dari kesalahannya. Selain itu, Armell juga ingin memastikan perasaan Seno terhadapnya. Apakah Seno juga mencintainya seperti dirinya yang mencintai Seno? Sedangkan Seno belum pernah menyatakan perasaannya kepada dirinya.
***
bersambung
...Satu pelakor telah tersingkirkan guys..... Tinggal pebinor nya ....Semoga juga cepat tersingkirkan......