
Armell mulai merasa bosan karena semenjak tadi ia hanya duduk di pelaminan. Ia mendekatkan tubuhnya ke Seno.
" Mas, bosen..." bisiknya di telinga sang suami.
" Sama, baby. " bisik Seno menjawab.
" Kita turun yuk. Menyalami tamu, ngobrol sama mereka. Sepertinya asyik. Di sana banyak teman kerjaku satu devisi waktu magang dulu. Pengen ngobrol sama mereka. Kangen. " ujar Armell.
" Tapi bagaimana dengan lenganmu? Kalau ketendang bisa sakit lagi. " sahut Seno.
" I am oke. Aku janji akan berhati-hati. " ujar Armell. " Lihat, di sana juga ada baby Arvin. Pengen main sama dia. " tambahnya.
Seno menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, mana mungkin dia bisa menolak.
" Tapi kamu harus selalu di dekat aku. Jangan jauh-jauh. " perintah Seno.
Armell mengangguk, " Iya. " jawabnya mantap sambil mengecup pipi Seno.
" Baby, jangan memancing.." keluh Seno. Tapi di jawab cengiran oleh Armell. Lalu Seno berdiri, mengulurkan tangannya ke Armell dan membantu Armell berdiri. Lalu ia membetulkan gaun pengantin Armell supaya istrinya itu tidak ribet jalannya.
Mereka berjalan turun dari panggung bergandengan. Seno berjalan perlahan mengimbangi langkah istrinya. Pertama-tama mereka menyapa para kolega bisnis Adiguna group yang duduk di bangku VIP. Berbicara sepatah dua patah kata. Lalu berlanjut ke kolega bisnis yang lain, dan akhirnya sampailah mereka di jajaran pegawai perusahaan.
" Mas, apa Mell boleh bergabung dengan mereka? " tanya Armell sambil menunjuk ke arah sekelompok teman satu devisinya dulu.
Seno mengangguk, " Tapi harus hati-hati. Aku antar kamu kesana. Setelah itu, aku mau ke teman-temanku. "
" Apa tidak apa-apa kalau aku tidak ikut menyapa teman-temanmu? " tanya Armell.
Seno tersenyum, " Tidak apa-apa. Kamu ngobrollah sama teman-teman kamu. " ujarnya sambil mengubah gandengan mereka dan memeluk pinggang Armell. Lalu mereka berjalan ke meja di mana teman-teman Armell berada.
" Hai semua. " sapa Armell.
Semua yang ada di meja itu menoleh ke arahnya.
" Hai...." sapa balik mereka bersamaan. Lalu mereka sedikit membungkuk memberi hormat ke seno. Seno membalas dengan seulas senyum.
" Baiklah, aku tinggal kamu bersama mereka. " ujar Seno. Dan Armell mengangguk. Lalu Seno berlalu dari sana.
" Boleh nggak ikut duduk di sini? " tanya Armell.
" Tentu saja. Duduklah. " sahut salah satu temannya. Ia menggeser duduknya. Dan lalu Armell duduk.
" Wah, nggak nyangka kamu sekarang jadi nona muda Adiguna. Menantu satu-satunya di keluarga Adiguna. " ujar salah satu temannya.
" Begitulah. Aku juga tidak menyangka jika aku ternyata menikah dengan putra tuan Adiguna. " sahutnya.
Lalu mereka terus mengobrol. Terkadang tawanya menyelingi obrolan mereka. Sesekali Seno menoleh ke arah Armell. Melihat istrinya terlihat sangat bahagia membuat hatinya sangat bahagia.
Setelah puas mengobrol dengan teman-teman kantornya dulu, Armell berdiri lalu berjalan menghampiri keluarga Abraham. Semenjak tadi, ia sudah sangat ingin menyapa si kecil Arvin yang sangat lucu.
" Hai, kak. " sapanya ke Leora.
Leora menoleh, " Hai, Mell. "
" Halo, tuan Abraham. " sapanya ke tuan Abraham.
" Halo, nona. " sahutnya dengan tersenyum.
" Halo, jagoan mommy. " sapa Armell sambil membungkukkan badannya mencium pipi gemol Arvin.
Seperti biasa, jika melihat Armell, maka baby Arvin pasti akan sangat senang. Ia mengulurkan tangannya meminta gendong ke Armell.
" Mom....mom...." panggilnya.
" Sayang, tangan mommy masih sakit. Arvin nggak boleh minta gendong dulu. " ujar Leora. Tapi Arvin malah semakin rewel.
" Sebentar sayang, karena mommy belum bisa gendong, di pangku aja gimana? Mommy duduk dulu, oke. " sahut Armell. Lalu ia duduk di sebelah Leora.
" Jangan, Mell. Nanti lengan kamu nggak sembuh-sembuh. " ujar Leora.
" Nggak pa-pa kak. Cuma mangku aja. " sahut Armell. " Sini sayang. " ujar Armell setelah ia duduk.
Arvin bertepuk tangan sambil loncat-loncat di gendongan mamanya saat Armell mengulurkan tangannya. Lalu Leora menaruh baby Arvin di pangkuan Armell. Karena lengan kiri Armell masih sakit, maka ia memegang dan memeluk Arvin dengan tangan kanannya. Ia mengecupi pipi juga puncak kepala Arvin berkali-kali.
Sungguh ia sangat merindukan baby Arvin. Karena setelah acara penculikan beberapa hari yang lalu, Armell sama sekali belum bertemu dengan baby Arvin.
" Bagaimana keadaanmu Mell? " tanya Leora. Ia memandang interaksi Armell dan putranya. Ia terharu melihat hubungan Armell dan putranya.
" Alhamdulillah kak. Sudah jauh lebih baik. " jawab Armell.
" Terimakasih ya Mell. Sekali lagi, kamu berkorban untuk putraku. " ujar Leora sambil memegang tangan Armell.
" Dia juga putraku kak. " sahut Armell sambil tersenyum dan mengelus punggung baby Arvin. Peluru yang ditembakkan oleh Robert saat itu, memang hampir saja mengenai baby Arvin jika Armell tidak segera memindah posisi baby Arvin. Dan alhasil, peluru itu menyerempet lengan Armell.
" Kak, aku harap kejadian kemarin tidak akan membuat trauma psikis pada Arvin. " lanjutnya.
" Semoga saja " sahut Leora.
Seno yang masih asyik berbincang dengan temannya, kembali melihat ke arah Armell berada tadi. Dan sekarang ia tidak mendapati Armell di sana. Sontak ia berdiri dan berpamitan dengan temannya.
" Sorry, gue tinggal dulu. " pamit Seno.
" Kemana lu? " tanya temannya.
" Nyari bini gue. Dia nggak ada di tempatnya tadi. " ucap Seno.
" Dasar bucin Lo. Emang mau kabur kemana bini Lo? Paling juga di sini-sini aja. " sahut temannya yang lain.
" Serah lo pada mau ngomong apa. " sahut Seno lalu pergi meninggalkan teman-temannya dan berjalan menuju ke tempat Armell berada tadi.
" Maaf, apa kalian tahu di mana istriku? " tanya Seno ke teman Armell.
" Oh, itu tuan. Tadi Armell..oh maaf, nona Armell kesana. " jawab salah satu teman Armell belepotan bingung harus memanggil Armell apa. Sambil menunjuk ke arah Armell berada saat ini.
" Baby, aku mencarimu. Kenapa berpindah tempat tidak bilang-bilang. " protes Seno.
Armell sedikit terkejut mendengar suara suaminya yang tiba-tiba berada di belakangnya.
" Maaf mas. Aku kangen banget sama baby Arvin. " jawab Armell.
Seno lalu menyalami tuan Abraham dan juga Leora. Menyapa mereka. Baru kemudian dia duduk di sebelah Armell.
" Halo, jagoan Daddy. " sapa Seno ke Arvin.
Melihat Daddy-nya berada di dekatnya, Arvin langsung berteriak kegirangan dan mengulurkan tangannya untuk meminta gendong Seno.
" Hmmm....kalau udah ada Daddy, mommy nggak kepakai deh. " ujar Armell pura-pura bersedih.
Seno mengambil alih baby Arvin. " Kangen sama Daddy ya? mommy di cuekin aja. " goda Seno sambil menciumi seluruh wajah Arvin. Membuat Arvin tergelak karena geli.
Kemudian mereka saling bercengkrama. Mengobrol bisnis, sedangkan Armell dan Leora mengobrol masalah perempuan.
Waktu terus berlalu. Tak terasa kini pesta itu telah usai. Semua tamu undangan sudah meninggalkan tempat itu. Kini tinggal keluarga Adiguna dan juga ibu dan adik Armell.
" Sayang, mama sama papa, mau pulang sekarang. Ibu dan Pipit akan ikut kami. Mereka mama minta menginap di rumah besar. " ucap mama Ruth.
" Iya ma. " jawab Armell.
" Kita mau nginep di sini aja malam ini ma. Armell juga pasti capek. Kalau harus pulang ke rumah, kasihan. " ujar Seno.
" Kasihan Lusi? Yakin kamu? Awas aja kamu malah bikin anak mama tambah kecapekan. " ancam nyonya Ruth.
" Ih, mama apaan sih. " protes Seno.
" Ya udah, yuk Bu. Kita pulang sekarang. Biar mereka bermalam pertama di hotel. " ujar Nyonya Ruth lalu menggandeng tangan ibu Armell. Seno dan Armell menunggu sampai keluarganya tak terlihat.
" Baby, ayo kita ke kamar. " ucap Seno sambil mengangkat tubuh Armell membawanya ke dalam gendongan.
" Aaa....." teriak Armell karena terkejut tubuhnya melayang. Ia langsung mengalungkan sebelah tangannya ke leher Seno.
" Mas, aku bisa berjalan sendiri. " ucap Armell.
" Aku tahu. Tapi kamu kan capek. Udah, diem aja. Dan nikmati. " sahut Seno kemudian mengecup bibir Armell sekilas.
Setelah naik lift ke lantai 7, sampailah mereka di kamar yang tadi di gunakan untuk merias Armell. Masuk ke kamar, Seno menutup pintu kamar dengan kakinya. Membawa istrinya ke ranjang, lalu mendudukkan istrinya di tepi ranjang.
Seno membuka blazer yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Meletakkannya di sofa. Lalu ia melepas dasi dan kancing kemeja bagian atas. Menggulung lengan sampai ke siku. Armell memandang ke arah Seno dengan senyuman. Ia tidak menyangka jika ia menikah dengan seorang laki-laki yang begitu tampan dan perhatian. Dan sangat mencintai dirinya tentu saja.
" Baby, kenapa memandangku seperti itu? " tanya Seno sambil melangkah mendekati Armell.
" Hm? Karena suamiku begitu tampan. " sahut Armell dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Lalu ia menghadiahi satu kecupan di bibir Seno.
Seno tersenyum, lalu membelai pipi Armell lembut. Ia berjongkok di depan Armell.
" Baby, terima kasih karena setia mendampingiku sampai saat ini. " ucapnya lalu mengecup punggung tangan Armell.
Armell meraih wajah Seno, memandang matanya lekat, " Aku juga berterima kasih, karena mas sudah sangat mencintaiku, selalu bersabar kepadaku, dan menerimaku apa adanya. " ucapnya sambil mengelus pipi Seno.
Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Armell. Memberikan ciuman penuh kehangatan di bibir tipis milik Armell. Menarik tengkuk Armell untuk memperdalam ciumannya. Armellpun membalas ciuman itu dengan menggebu.
Lalu Seno teringat akan satu hal. Lengan istrinya belum benar-benar sembuh. Ia tidak mau malah semakin melukai istrinya jika ia bertindak lebih. Seno melepas pagutannya dengan berat hati.
" Hari ini, sampai sini saja baby. Aku tidak mau kehilangan kendali. Aku takut akan melukai lenganmu. Waktu kita masih panjang untuk menghabiskan malam-malam yang romantis. " ujar Seno kemudian ia mengecup kening Armell.
Armell tersenyum. Ia begitu bersyukur mendapatkan suami yang tidak hanya tampan dan kaya raya tentu saja. Tapi Seno juga begitu perhatian dan peduli kepadanya.
Seno menyatukan kening mereka beberapa saat. Sambil menetralkan desiran gairahnya.
" Baby, aku bantu melepas mahkota putrimu. " ucapnya sambil melepas mahkota yang ada di kepala Armell. Dengan penuh kehati-hatian, ia melepas mahkota itu, lalu meletakkannya di atas meja. Lalu melepas sanggul rambut istrinya perlahan, takut jika rambut Armell ikut ketarik.
" Baby, mau sekalian lepas gaunnya? " tanya Seno. Armell mengangguk. Lalu ia berdiri. Seno mulai melepas resleting gaunnya. Perlahan, ia menanggalkan gaun pengantin milik istrinya. Karena sudah terbiasa jika suaminya melepas pakaiannya, kini Armell sudah tidak malu-malu lagi jika harus berpolos-polos di hadapan suaminya. Karena semenjak ia mendapat luka tembak kemarin, Seno selalu membantunya mandi, dan lain sebagainya.
Setelah gaun itu terlepas, Seno mengangkat tubuhnya dan masuk kedalam kamar mandi. Karena Seno tahu dan sudah hapal ritual istrinya sebelum berangkat tidur, yaitu buang air kecil dan menggosok gigi.
Setelah semua ritual selesai, Seno mau mengangkat kembali tubuh Armell tapi Armell menolak. Ia memilih berjalan kaki kembali ke kamar.
" Mas, aku masih bisa jalan. Biarkan aku berjalan sendiri. Lebih baik mas bebersih dulu, terus kita istirahat. " ucap Armell.
Akhirnya Seno menurutinya, membiarkan Armell berjalan keluar ke kamar sendiri. Dan ia segera mandi dan berganti pakaian.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Armell sudah berada di atas tempat tidur dengan berbalut selimut. Tapi belum tertidur. Karena ia menunggu sang suami.
Seno naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Armell. Menarik tubuh Armell mendekat, menaruh lengannya di bawah leher istrinya, lalu mengecup kening istrinya beberapa saat.
" Bagaimana lengan kamu? Apakah sakit? " tanya Seno.
Armell menggeleng, " Lenganku baik-baik saja. Dokter Bryan benar. Dengan membalutnya tebal, maka akan mengurangi resiko terkena gesekan. "
" Besok kita minta Bryan mengganti perbannya lagi. Sekalian melihat lukanya bagaimana. " ujar Seno.
Armell mengangguk.
" Ya udah, sekarang kita tidur. Kamu pasti capek banget. " Ujar Seno kembali.
" Iya. " jawab Armell, lalu ia mengecup bibir Seno sekilas. " Malem. Have a nice dream. "
" Have a nice dream too, honey. "
***
bersambung
Episode spesial... Part-nya panjang ya kak... meskipun cuma up 1 episode, jika part-nya panjang gini, semoga kalian cukup puas...
Happy reading....