My Handsome Police

My Handsome Police
Akan aku hantui



Bertemu dengan Tri Suaka, bernyanyi bersama, sungguh pengalaman baru bagi seorang Armell. Jalan-jalan sepanjang sore menyusuri jalanan Malioboro, menikmati makanan khas dari Jogja yang membuat lidah bergoyang. Gudeg Jogja, bakpia Pathuk, getuk, wajik. Semua di coba oleh Armell.


Kini ia merasa sangat beruntung dan bersyukur mendapatkan suami seperti Seno. Mungkin jika suaminya bukan seorang Seno Adiguna, ia tidak akan bisa menikmati itu semua.


" Sayang, terima kasih banyak. Kamu sudah memberiku segalanya. " ucap Armell saat mereka berada di atas tempat tidur.


Saat ini mereka telah kembali dari acara babymoon di Jogja. Sekarang mereka sedang duduk saling berpelukan di atas tempat tidur dan bersandar di sandaran ranjang.


Seno mengecup puncak kepala Armell, " Karena aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu. " ucapnya.


" Aku juga sangat mencintaimu. Dan maaf, aku sudah banyak membuatmu susah. Dengan berbagai macam permintaanku yang konyol. Selama aku hamil, aku pasti jadi perempuan yang sangat menyebalkan. Iya kan mas? " ujar Armell.


Seno menggeleng, " Nggak. Semua perempuan hamil pasti juga seperti itu. Toh itu juga hanya beberapa bulan. Apa yang aku lakukan untuk kamu dan calon anak kita, tidak seberapa perjuanganmu mempertahankan dia di sini. " ucap Seno sambil mengelus perut Armell. " Kamu memberinya kehidupan di sini. Menjaganya. Kamu juga harus rela tubuhnya berubah, harus merasakan keinginan yang tidak bisa kamu tolak. Belum lagi ketika melahirkan nanti. Apa yang aku lakukan itu tidak seberapa, baby. " lanjutnya.


" Bukankah semua wanita juga akan melakukan hal yang sama? Mengandung, menjaganya di dalam sini. " ujar Armell sambil mengelus perutnya. " Melahirkannya, lalu membesarkan dengan kasih sayang. " lanjutnya.


Seno mengangguk sambil tersenyum, " Aku benar-benar salut dengan perjuangan seorang wanita. Aku jadi heran dengan laki-laki yang berani-beraninya mengkhianati istrinya. Hanya karena godaan duniawi. " ujarnya.


" Mas, boleh aku bertanya? " tanya Armell.


Seno mengangguk, " Mau tanya apa? " tanya Seno sambil membelai rambut panjang milik Armell.


" Seandainya nanti ketika aku melahirkan, dan terjadi sesuatu padaku, apa kamu akan mencarikan ibu baru untuk anakku? " tanya Armell dengan suara lirih.


Semakin mendekati hari melahirkan, hati Armell memang menjadi lebih melankolis. Ia takut, sudah pasti. Takut jika terjadi hal buruk ketika ia melahirkan. Lalu suaminya menikah lagi. Juga terkadang muncul rasa takut seandainya setelah anaknya lahir ke dunia dan ia tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya.


" Baby, kamu bicara apa? Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Semua pasti baik-baik saja. Dan kita akan membesarkan anak-anak kita bersama-sama. " jawab Seno lalu mengecup puncak kepala Armell cukup lama.


" Kan aku bilang seandainya mas. Jika hal itu terjadi. Apa kamu akan menikah lagi? " kini Armell mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


Seno kembali membelai rambut Armell. " Jangan pernah membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Sampai kapanpun, hanya kamu istriku. Aku tidak akan pernah menikah lagi. " jawab Seno dengan segala keseriusannya.


Tangan Armell kini bermain di dada Seno. Menggambar gambar abstrak di sana.


" Aku pegang ucapanmu. Jika sampai terjadi sesuatu dan aku tidak lagi di sampingmu, terus kamu menikah lagi, maka aku akan selalu menghantui istri barumu. Biar dia tidak betah jadi istri kamu. " ujar Armell sambil cemberut dan bibir yang agak di monyongkan.


Saking gemasnya, Seno mengangkat dagu istrinya, lalu di lumatlah bibir tipis milik Armell. Membuat Armell menjadi gelagapan karena terkejut.


Armell mendorong tubuh Seno menjauh sehingga tautan bibir mereka terlepas. " Huh...." Armell membuang nafas kasar.


Seno tersenyum sambil mengusap bibir Armell yang basah karena ulahnya. " Makanya kalau punya mulut, jangan di pakai ngomong sembarangan. Sudah aku bilang, tidak akan ada yang terjadi. Lagian aku juga takut kalau kau menghantuiku. " canda Seno.


" Ck. " Armell berdecak sambil memonyongkan bibirnya kembali dan cemberut.


" Dengarkan aku, baby. Tidak akan ada wanita manapun yang akan menggantikanmu di hatiku. Karena hatiku, akan selalu menjadi milikmu. Selamanya. " rayu Seno. " Daripada kamu memikirkan hal yang aneh-aneh, mending sekarang kita buat jalan lahir anak kita menjadi lebih lebar. Biar dia gampang keluarnya. " lanjutnya.


" Apaan sih mas. Sekarang perasaan yang mesum kamu deh. " protes Armell.


" Hei, aku hanya melakukan peranku. Aku hanya membantu anak kita saat lahir nanti. Bukankah dokter Ratna juga mengatakan kalau di saat kandunganmu sudah memasuki usia 8 bulan, kita harus sering-sering beraktivitas? Biar memudahkan proses melahirkan. " jawab Seno.


" Kamu selalu aja bisa menjawab. " protes Armell dengan tersenyum. " Dan pastinya, aku pasti akan termakan rayuanmu. Imanku tidak begitu kuat untuk menolakmu. " lanjut Armell.


" Kamu ya...." ucap Seno yang kemudian menyerang Armell. Tapi serangan yang ia berikan kepada sang istri, makin besar perut Armell, makin lembut serangannya. Tapi tetap membuat Armell mabuk kepayang.


Hampir jam setengah 11 malam, kegiatan mereka telah usai. Saling berpelukan dan berhadapan dengan tubuh yang sama-sama polos. Seno mengecup kening Armell berkali-kali.


Dan tak lupa, seperti biasa, setelah melakukan kegiatan enak-enak, Seno selalu mengucapkan cinta dan terima kasih.


" Terima kasih banyak, baby. Dalam kondisi kamu yang seperti ini, kamu masih tetap melayani suamimu dengan baik. " ucap Seno.


" Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk suamiku tercinta dan teristimewa. " jawab Armell sambil tersenyum manis.


" No, baby. Kamu sudah melakukan banyak sekali hal untukku. Sehingga membuatku selalu mencintaimu. Dan semakin mencintaimu. " ujar Seno. " I love you, baby. " ucap Seno.


" I love you too, sayang. " balas Armell.


" Sekarang, pakai kembali baju kamu, lalu tidur. Sudah malam. Ibu hamil tidak baik tidur terlalu malam. " titah Seno.


" Males. Gini aja lah. Udah ngantuk juga. Hoaaammm...." sahut Armell sambil menguap.


" Hei, nanti masuk angin. Perut kamu sudah menggelembung. Nanti kalau masuk angin, bisa tambah menggelembung. " seru Seno.


" Pakai selimut aja kayak gini. " Armell menaikkan selimutnya sampai ke dagu. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam selimut juga. " Sama aja. Udah ketutup badannya. " lanjutnya.


" No, baby. Sekarang bisa ketutup. Tapi nggak setelah kamu tertidur. Apa kamu nggak tahu bagaimana kamu jika sudah tertidur pulas. Selimut ini akan jatuh ke lantai. Dan tubuh kamu tidak akan tertutup apapun. " ujar Seno.


Dan Armell tersenyum mendengar ucapan suaminya. Karena memang benar adanya. Selimut yang terpasang itu sebentar lagi akan menjauh dari tubuhnya.


" Ayo bangun. Aku yang pakaikan baju kamu. " Seno mengangkat kepala Armell supaya Armell duduk.


" Memang harusnya begitu. Mas yang harus mengembalikan baju aku ke tempatnya semula. Kan mas yang lepas semuanya. " ujar Armell sambil dalam posisi duduk.


Seno memunguti baju-bajunya dan baju-baju istrinya yang tergeletak di lantai begitu saja.


" Berarti kamu juga harus memakaikan bajuku. " sahut Seno.


" Kok gitu? Ya nggak lah. Kan mas lepas sendiri baju mas. Bukan aku yang lepas. " jawab Armell.


Seno tidak menanggapi omongan Armell. Ia mulai hendak memakaikan baju istrinya. Ia memasukkan daster Armell dari atas kepala. Ia tidak memasang penutup dada istrinya karena ia sudah hafal jika sang istri tidak suka tidur dengan penutup dada.


Sebelum menurunkan daster istrinya sampai ke bawah, Seno menggoda sang istri dengan menoel pucuk dada Armell. Sehingga membuat Armell memekik.


" Mas..." pekik Armell sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya. " Nakal ih. "


" Nakal apaan. Tadi aja minta terus. " ledek Seno.


Armell tersenyum pelik. Lalu tanpa aba-aba, ia membalas menggoda suaminya dengan menoel Martinez. Dan membuat Seno balik memekik.


" Baby....Jangan macam-macam. Kalau dia sampai bangun lagi, kamu bakalan nggak jadi tidur. " ujar Seno.


Armell tertawa terbahak-bahak. " Makanya jangan suka usil tangannya. " ujar Armell sambil menurunkan dasternya dan kembali rebahan, menarik selimut sampai ke dada. Lalu ia memejamkan matanya dan Seno memakai bajunya kembali.


***


bersambung