
Waktu makan malam telah lewat. Kini keluarga Adiguna sedang duduk santai di taman belakang sambil bersantai dan mengobrol.
" El, kamu masih punya satu janji sama papa. " ujar tuan Adiguna.
" Janji? " Seno nampak mengingat-ingat. " Janji apa pa? El lupa. "
" Kamu pernah janji sama papa, kalau kamu akan menerima perjodohan dengan gadis pilihan papa setelah satu tahun. Dan ini sudah hampir satu tahun dari waktu itu. " tuan Adiguna mengingatkan.
" Ha? " Seno nampak terkejut. Ia bahkan lupa jika pernah berjanji seperti itu ke papanya.
Dan jangan tanya dengan Armell. Ia langsung menatap tajam ke arah Seno. Senopun langsung menyadari tatapan itu.
' Mampus gue. Papa ini ada-ada aja. Apa nggak bisa ngomongin ini berdua aja? Marah lagi kan nih bini? Susah payah ngerayunya.....Heddeehhhh papa ......' umpat Seno dalam hati sambil melirik istrinya.
" Jangan pura-pura lupa kamu El. Jangan mentang-mentang sekarang kamu sudah punya istri, terus melupakan janjimu sama papamu. " tambah tuan Adiguna.
Nyonya Ruth yang sudah tidak bisa menahan senyumnya, beliau berpaling dan tersenyum lebar.
" Pa, bisa nggak jika bahasnya nanti? Atau kita bahas berdua aja? " pinta Seno.
" Kenapa kalau di bicarakan di sini ? Terus kenapa harus dibahas berdua? Biar aku nggak tahu gitu?" ujar Armell ketus.
" Nggak gitu, baby. " bujuk Seno.
" Pa, El itu baru baikan sama istri El pa. Bisa nggak, bahas hal-hal yang sensitif seperti ini ntaran aja? Ah..." protes Seno.
" Papa kan hanya bertanya. Kamu tinggal jawab, habis itu masalah selesai. Kalau kamu udah jawab, biar papa bilang ke calon istri kamu yang pilihan papa, kalau kamu nggak mau sama dia. " ujar tuan Adiguna dengan nada santai.
" Oke. El jawab. El menolak perjodohan itu. El udah punya istri. Lagian, papa sama mama kan cuma pengen El nikah kan? Terus kalian punya cucu, gitu kan? " jawab Seno dengan nada kesal.
" Oke. Berarti serius kan kamu nggak mau sama gadis pilihan papa? " tanya tuan Adiguna.
" fix iya. " jawab Seno tegas.
" Baik. " jawab Tuan Adiguna. " Lusi, dengarkan papa nak. Papa dulu pernah memintamu untuk menjadi menantu papa. Papa minta maaf nak, ternyata anak papa tidak mau menikah denganmu. " lanjut tuan Adiguna.
Reflek, Seno terbengong mendengar ucapan papanya.
" Jadi....Gadis itu Armell pa? " tanya Seno.
Tuan Adiguna mengangguk.
" Jadi mas nolak di jodohin sama Mell? " tanya Armell sambil cemberut.
" Ya mau lah. Kan sekarang kita juga udah jadi suami istri, baby. Kan itu dulu karena aku nggak tahu kalau gadis itu kamu. " jawab Seno.
" Alasan! " ketus Armell.
" Ha...ha...ha...." nyonya Ruth sudah tidak bisa menahan tawanya.
" Mama jangan ketawa. Anakmu ini sedang ada masalah. Bukannya bantuin malah ngetawain. " gerutu Seno.
" Papa juga ..Nggak usah nambahin masalah. Papa sama mama pengen cepat punya cucu kan? Kalau El di cemberutin melulu sama dia, papa sama mama akan lama punya cucunya. " ujar Seno sambil menunjuk ke Armell.
" Eh, anak nakal. Pernikahanmu sama Lusi itu tidak sah. Mana bisa kamu mau buat cuci buat papa sama mama. " protes tuan Adiguna.
" Siapa bilang nggak sah. Kami menikah secara hukum negara dan agama. " jawab Seno tidak mau kalah.
" Tapi orang tuamu tidak memberi restu. " tambah tuan Adiguna.
" Yang penting orang tua Armell kasih restunya. Lagian papa sama mama kan dari awal emang niat jodohin El sama dia. Berarti secara tidak langsung, papa sama mama udah kasih restu dong. " elak Seno.
" Baby, kita pulang ke rumah kita aja yuk. Di sini banyak kuman dan virus. Bisa-bisa kalau lama-lama kita disini, pernikahan kita nggak akan seumur jagung. Seno Gael junior nggak segera launching. " ajak Seno sambil menarik tangan Armell.
Armell menarik kembali tangannya. " Mell masih mau di sini. Mell kerasan di sini. Daripada di rumah mas, sepi. Di sini ada mama. " tolak Armell.
" Baby......" rengek Seno.
" Ma, pa, Mell udah ngantuk. Mell pamit ke kamar dulu. " pamit Armell sambil mencium kedua pipi mama mertuanya.
" Iya sayang. Tidur yang nyenyak ya. Kalau ada serangga gede yang gangguin, kamu timpuk aja pakai sendal. " ucap sang mama mertua sambil melirik ke arah Seno.
Armell mengangguk sambil tersenyum. Kini ia menyalami dan mencium punggung tangan papa mertuanya.
" Tidur yang nyenyak. " ucap sang papa mertua sambil membelai rambut Armell.
Lalu Armell berlalu dan naik tangga menuju ke kamar yang ia tempati. Jangan lupakan Seno yang membuntutinya.
Sampai di kamar, Armell mengambil gaun tidur dan mengganti bajunya di kamar mandi. Seno hanya mengamati tanpa berkata apapun.
Tak lama kemudian, Armell keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur yang seksi dan menerawang tentu saja. Seno menelan salivanya susah payah. Selama ini ia tidak pernah melihat Armell memakai baju seperti itu.
" Baby, kamu sedang menggodaku? " tanya Seno dengan suara parau.
" Nggak. Ngapain godain mas. Kayak nggak ada kerjaan aja. " jawab Armell sambil berjalan menuju ke meja riasnya. Ia meraih kapas dan toner pembersih wajah. Sebenarnya Armell juga malu mengenakan itu. Tapi entah kenapa ia ingin sekali memakai baju itu malam itu.
" Nggak ya. Aku belum pernah melihat kamu pakai baju seperti itu. Sejak kapan kamu sering mengenakan baju seperti itu? " tanya Seno menyelidik.
" Semenjak tinggal di sini. Setiap malam Mell pakai baju kayak gini. " jawab Armell.
" Siapa yang mau kamu goda di sini? " tanya Seno.
Armell bangkit dari duduknya. " Mell nggak mau goda siapa-siapa. Mell cuma nyaman aja pakai baju kayak gini. Adem. Nggak ribet. Lagian ini juga yang beliin mama kamu. Kalau nggak aku pakai, namanya tidak menghargai pemberian orang tua. Emang kalau perempuan pakai baju kayak gini, itu artinya mau menggoda? Yang ada, kalau telanjang, itu baru menggoda namanya. "
" Kamu ya. Kalau di tanya, di kasih tahu, jawaaab aja..." Seno mendekap tubuh Armell dari belakang. Lalu mengendus leher Armell.
" Ihhh, geli tahu mas. " protes Armell
" Kamu harus bertanggung jawab, baby. " bisik Seno. " Kamu sudah menggodaku dan membangunkan Martinez. " tambahnya.
" Mas, ah...lepasin. " Ucap Armell sambil meronta mencoba melepaskan diri dari Seno.
Dan berhasil. Armell cepat-cepat berlari dan naik ke ranjang, kemudian menutup seluruh tubuhnya. Seno tersenyum menyeringai, lalu menyusul Armell naik ke atas ranjang dan masuk ke selimut yang sama dengan Armell.
" Aku tidak akan melepaskanmu malam ini, baby. Aku sangat merindukanmu. Apalagi Martinez. Dia juga sangat merindukan sarangnya. " ujar Seno.
" Geli mas....Awas...minggir...." protes Armell dari dalam selimut.
Weeekkk ( suara baju di robek )
Seno mengeluarkan salah tangannya dari dalam selimut dan membuang baju yang di pakai Armell tadi. Dan baju itu telah terbelah menjadi dua. Dan setelah itu, celana dan kaos yang tadi di kenakannya juga ia lempar keluar. Terakhir, ia melempar segitiga Bermuda dua buah.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara-suara surga dari dalam selimut.
" Ahhh....maaass...... emmmmtt...."
" I love you, baby. I love you. You make crazy....Ahhh... Martinez coming, baby. Bersiaplah. " ujar Seno.
Dan jleb...
" Aaaahhhhh....."
Teriakan nikmat terdengar dari dalam selimut. Ranjangpun ikut bergoyang dan berderit. Mereka saling melepaskan rindu.
Sampai tiba-tiba...
" Auuu......" tiba-tiba Armell menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.
Seno yang terkejut langsung menghentikan kegiatannya.
" Baby, what happen? " tanya Seno sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka.
Armell masih terlihat meringis menahan sakit sambil memegang perut bagian bawah.
" Baby, kamu kenapa? Perut kamu sakit? Apa aku terlalu kasar? " tanya Seno panik.
" Perutku kramm mas....Sshhh..." jawab Armell.
" Ya Tuhan...Maaf baby. Karena terlalu merindukanmu aku jadi menyakitimu. " ujar Seno sambil mengeluarkan Martinez dari sangkarnya. Kemudian ia mengusap perut Armell. Sedikit demi sedikit, rasa sakit itu mereda.
" Maaf, mas. Mell jadi merusak suasana. " ujar Armell merasa bersalah saat rasa sakit di perutnya menghilang.
" No, baby. It's oke. Kita bisa melakukannya lagi next time. " sahut Seno sambil mengecup kening Armell dan masih sambil mengelus perut Armell.
Seno tertidur dengan Armell dalam pelukannya. Dengan tangan kanannya di bawah kepala Armell.
" Perutku, akhir-akhir ini memang sering kram. Padahal sebelumnya tidak pernah. Rasanya sangat sakit. " keluh Armell. Ia sekarang sudah mulai berusaha terbuka dengan suaminya.
" Besok kita ke rumah sakit. Kita periksa, ya? " anak Armell.
Armell menggeleng. " Tidak perlu mas. Mungkin karena aku mau datang bulan. Biasanya memang sakit saat akan datang bulan. Cuma bedanya, yang ini lebih sakit. Mungkin juga karena pintunya sudah tidak utuh. Udah berlubang. " lanjutnya sambil tersenyum cengengesan.
Seno memencet hidung istrinya, " Kamu ya sekarang sudah lebih berani ngomongnya. Hem? "
" He...he...he...Kan mas yang ngajarin. " sahut Armell.
" Ya sudah, tidur yuk. Besok pagi kita pulang ke rumah kita. " ujar Seno.
Armell menggeleng, " Tapi aku masih mau di sini. Aku mau kita di sini. "
" Nggak bisa. Kita pulang besok. Kamu tahu sendiri gimana papa sama mama. Mereka ngerjain kita terus yang ada. " tolak Seno senewen.
" Dua hari. Habis itu kita pulang. Ya....ya...ya...Please...." pinta Seno sambil menunjukkan puppy eyes nya.
" Ck! Iya deh iya...Apa sih yang nggak buat kamu? " jawab Seno sambil kembali mengecup kening Armell.
***
bersambung