My Handsome Police

My Handsome Police
Jadilah istri yang baik



" Hei, bule kampreto.. Sebenarnya apa sih maumu? Kenapa harus menculikku lagi? Kalau kau mau senjata yang dulu di sita sama pihak kepolisian, kamu salah jika menculikku lagi. Karena suamiku sudah bukan polisi lagi. Jadi dia tidak bertanggungjawab. " bentak Armell.


" Tenang, honey. Aku sudah tidak menginginkan senjata itu lagi. Karena aku lebih menginginkanmu. " sahut Robert santai.


" Kamu itu oon atau gimana sih? Sudah aku bilang berkali-kali, aku sudah menikah. Aku ini perempuan bersuami. Jangan gila anda ya! Masak iya anda yang seorang bule mafia mau jadi pebinor. Anda mau di tertawakan sama tikus? He..." ujar Armell sambil tersenyum mengejek Robert.


" Dengar honey. Aku tidak masalah jika harus menyandang sebagai pebinor atau apapun itu. Asalkan kamu bersamaku. Kamu tahu, karena aku sangat menginginkanmu, aku harus menculik anakku sendiri. Ha ..ha...ha...gila kan? Aku juga bingung kenapa aku menjadi gila seperti ini. " ujar Robert.


" Tuan Downey, tolong, lepaskan saya. " pinta Armell.


" Ha...ha ..ha... Melepaskanmu? Setelah semua usaha yang aku lakukan? No, honey. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Besok, aku akan membawamu ke tanah kelahiranku. Bersama Arvin tentunya. " ujar Robert.


" Aku mencintaimu, nona Armell. Aku sangat mencintaimu. Dengar, aku tahu kamu habis kehilangan bayimu. Aku tahu kalau rahimmu lemah. Aku tidak masalah dengan itu. Aku tidak menuntutmu untuk memberiku anak. Karena kita sudah memiliki Arvin. Dia akan menjadi anak kita. Asalkan kamu bersamaku, aku tidak masalah dengan apapun. " lanjut Robert.


" Dasar orang gila!!" bentak Armell. " Dengar, aku tidak akan sudi menjadi milikmu. Lebih baik kau bunuh aku daripada aku harus hidup sama kamu. " lanjutnya. Ia mulai merasa takut sekarang. Ia sangat berharap, suaminya segera menemukannya. Ia tidak mau di bawa keluar negeri. Ia tidak mau berpisah dengan suaminya.


Sedangkan di balik pintu, Stella mendengar semua pembicaraan Robert dan Armell. Ia tidak menyangka jika Robert akan segila itu. Ia kini benar-benar menyesal telah meninggalkan Seno dan memilih Robert.


Stella mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah selesai mengetik pesan, ia segera pergi dari depan pintu dan masuk ke kamar Arvin.


" Tenang, dan bersabarlah honey. Persiapkan dirimu untuk keluar negeri besok pagi. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kau tinggal naik pesawat bersamaku. " ujar Robert ke Armell.


Lalu Robert keluar dari kamar meninggalkan Armell di kamar itu sendiri.


Di tempat yang lain.


" Siallll.." teriak Seno mengumpat.


" Rupanya Robert ini memang orang yang licik tuan. " ujar Rezky.


Seno, Damar, Rezky, dan beberapa anak buahnya juga anak buah tuan Abraham, sedang mengecek lokasi yang di tunjukkan oleh alat pelacak yang terpasang di kalung Arvin. Tapi sepertinya Robert telah mengetahui keberadaan alat pelacak itu. Kalung Arvin di tinggalkan di meja sebuah kamar di sebuah apartemen. Tidak hanya kalung yang tergeletak di sana, tapi alat pelacaknya juga tergeletak di sebelahnya.


" Ya Tuhan, kemana aku harus mencari istriku??" teriak Seno seperti kehilangan semangat hidup.


" Bersabarlah nak. Istrimu perempuan yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja. Dia pasti akan kembali kepadamu. " ujar tuan Adiguna yang tiba-tiba berada di belakang Seno, menepuk pundak Seno.


Tiba-tiba ponsel Seno berbunyi. Sebuah pesan masuk.


📩 Kalau kau ingin bertemu istrimu, datanglah ke jln. XY blok A no 55 di Bogor. Sekarang, atau akan terlambat.


" Pa, ada yang mengirim pesan. " Seno menunjukkan pesan itu ke tuan Adiguna.


" Kita cek dulu. Pesan ini asli atau hanya untuk mengelabui kita. " sahut sang papa.


Lalu tuan Adiguna segera menelepon anak buahnya yang jago di bidang IT. Ia meminta anak buahnya itu mengecek alamat itu dan memeriksa cctv yang berada di daerah itu.


" Bersabarlah sebentar. Kita harus hati-hati dalam mengambil langkah. Jangan gegabah. Jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan kita. " ujar tuan Adiguna ke Seno.


Selang 10 menit kemudian, tuan Adiguna mendapat telepon dari anak buahnya yang tadi.


" Kita ke alamat tadi sekarang. Istrimu juga Arvin memang ada di tempat itu. Anak buahku mendapatkan cctv di tempat itu. Ayo, segera bergerak. " tuan Adiguna memberitahu sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku kembali.


Lalu mereka semua berangkat ke Bogor sore itu juga. Seno bersama damar dan Rezky. Tuan Adiguna bersama Dion tentu saja. Tuan Abraham juga berangkat ke Bogor bersama Leora dan anak buahnya setelah mendapatkan kabar dari Seno.


Tuan Adiguna membawa banyak pasukan terlatihnya. Sedangkan Seno, di bantu oleh Alif dan pasukan premannnya.


💫💫💫


Malam tiba. Tepat pukul 7 malam, rombongan Seno tiba di lokasi. Tanpa menunggu aba-aba lagi, mereka langsung menempatkan diri di sekeliling tempat Robert menyekap Armell dan Arvin karena mereka adalah orang-orang terlatih. Kini tempat itu telah di kepung oleh orang-orang keluarga Abraham dan Adiguna.


Setiap ada orang Robert muncul, maka mereka akan segera menghabisinya tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Stella yang sekilas melihat orang-orang yang bukan anak buah Robert, meyakini kalau itu adalah orang-orang Seno, mantan kekasihnya, langsung mengendap-endap keluar dari kamar Arvin dengan Arvin dalam gendongannya dan masih dalam posisi tidur. Ia lalu masuk ke dalam kamar Armell.


" Nona.." panggil Stella.


" Kak..." sapa Armell. Ia langsung berdiri. Mengambil Arvin dari gendongan Stella.


" Kak, maafkan aku. " ucap Armell.


" Kenapa nona meminta maaf? " tanya Stella sambil mengernyit.


" Maaf, karena aku mengambil mas Seno dari kakak. " ujar Armell.


" Hei, jangan mengatakan seperti itu. Kau tidak mengambil El dariku. Akulah yang telah meninggalkan El. Jadi wajar jika El berpindah hati kepadamu. Dengarkan aku nona, jangan sampai kau membuat kesalahan sepertiku. Jangan pernah tergoda laki-laki hanya karena hartanya. " ujar Stella sambil membelai rambut Armell.


" El adalah laki-laki yang baik. Dia laki-laki yang setia. Jika dia sudah mengatakan cinta kepadamu, berarti hanya kamulah yang ada di hatinya. Apalagi jika dia sudah menjadikanmu istrinya. Kamu adalah perempuan yang beruntung. Jagalah El dengan baik. Teruslah bersamanya. " lanjut Stella sambil mengelus pipi Armell.


Armell mengangguk. Ia terharu. Ia tidak menyangka jika mantan kekasih suaminya akan berbicara seperti itu.


" Kak, boleh aku memelukmu? " tanya Armell. Dan Stella mengangguk, lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar.


" Jadilah istri yang baik untuk El. Maka dia pasti akan menjadi suami yang baik. " nasehat Stella sambil mengelus punggung Armell.


" Tapi bagaimana ini kak? Si bule kampret itu akan membawaku keluar negeri besok. Jika saja dia tidak turut menculik Arvin, maka aku akan lebih mudah untuk melarikan diri. " ucap Armell saat pelukan mereka terlepas.


" Ayo, kita keluar dari sini sekarang. Suamimu sudah menjemputmu. " ujar Stella.


" Apa? Benarkah kak? " tanya Armell berbinar-binar.


Stella mengangguk. Lalu mereka saling bergandengan keluar dari dalam kamar dengan mengendap-endap.


" Mau kemana kalian? " suara bariton Robert terdengar saat Stella membuka pintu depan.


Mereka langsung berhenti melangkah.


" Biarkan mereka pergi Robert. Sudah cukup kamu menghancurkan El dengan mengambilku. Aku mohon, jangan ambil istrinya. " ujar Stella sambil menutup Armell dengan badannya.


" Jangan ikut campur urusanku. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Bawa Arvin. " bentak Robert.


" Tidak! " teriak Stella.


Lalu ia menggandeng tangan Armell dan membawanya keluar dari pintu rumah itu.


" Berhenti kataku!!" teriak Robert. Tapi Stella tidak mendengarkan. Ia tetap membawa Armell keluar dari rumah.


Dari kejauhan, Seno melihat Armell sedang menggendong baby Arvin dan tangannya di tarik oleh seorang perempuan. Ia menyipitkan matanya. Karena ia merasa mengenali perempuan itu.


" Pa, itu Armell sama baby Arvin. " ujar Seno.


" Iya. Tunggu, kenapa dia bersama Stella? Dan kenapa Stella menarik tangan Armell seperti itu? " ujar tuan Adiguna.


" El akan kesana, pa. " ucap Seno.


Tuan Adiguna menarik tangan Seno yang hendak berlalu. " Jangan gegabah. Tunggu sebentar. "


Kemudian terdengar teriakan dari dalam rumah, " Stella..Aku bilang berhenti!!" teriak Robert.


Stella masih tetap berjalan bersama Armell. Ia tidak menoleh sama sekali ke belakang.


Dan tiba-tiba...


Dor....dor...dor....


***


bersambung