
Sore itu, setelah mendapatkan ijin dari sang suami, Armell mengajak jalan-jalan baby Arvin. Ia di temani oleh Siti dan diantar oleh seorang sopir.
" Mbak Siti, kita makan aja dulu yuk. Sambil nunggu mas Seno jemput. " ajak Armell setelah selesai acara bersenang-senang sama baby Arvin.
" Makan dimana kita non bos? " tanya Siti.
" Kita ke food court sana aja yuk. " tunjuk Armell.
Lalu mereka bertiga dengan baby Arvin yang berada di dalam stroller dan di dorong oleh Siti, berjalan menuju food court.
" Mbak Siti, mau makan sekarang? " tanya Armell.
" Saya nanti saja non. Mau nyuapi baby Arvin aja dulu. Non bos kalau mau makan, makan saja dulu. " jawab Siti.
" Aku juga nanti aja lah. Nunggu mas Seno aja. Paling bentar lagi dia juga nyampai sini. Kita pesen minum aja dulu kalau gitu. Sama camilan. " ujar Armell. Lalu ia berdiri menuju salah satu tempat makanan untuk memesan minuman dan memesan makanan untuk Arvin.
Setelah beberapa saat, minuman yang ia pesan diantar oleh pelayan. Juga makanan untuk Arvin.
" Hai, honey..Lama kita tidak berjumpa. " sapa Robert sambil duduk di kursi di samping Armell.
Armell menoleh dan menatap jengah ke arah Robert.
" Kalau di sapa, di jawab dong honey. " ucap Robert kembali. Karena Armell hanya diam saja. Ia malas meladeni si bule kampret.
Robert memegang pundak Armell. " Honey...." panggilnya.
Armell segera menepisnya. Ia menggeser posisinya menjauh dari Robert.
" Nggak usah pegang-pegang ya. " ancam Armell.
" Wow honey. Aku merindukan sikap galakmu." bisik Robert di dekat telinga Armell. " Oh, hai baby..." sapa Robert ke Arvin sambil mencolek pipi Arvin. " Long time no see. You look so handsome, baby. " lanjut Robert sambil terus memandang baby Arvin.
" Nggak usah pegang-pegang anak aku. " Armell menepis tangan Robert yang sedari tadi mengelus pipi Arvin.
" Wow, easy honey ..." jawab Robert sambil mengangkat kedua tangannya.
" Jangan marah-marah. Aku hanya merindukan putraku. Aku juga punya hak atas dia. " lanjut Robert dengan pandangan tajam.
" Maksud kamu apaan sih? " tanya Armell. Sedangkan di sana Siti hanya diam bingung dengan orang yang ada di sebelah nona bosnya.
" To the point aja ya honey. Aku akan segera membawamu juga baby Arvin, pergi jauh dari sini. Aku tidak akan memberikan putraku kepada laki-laki lain. " jawab Robert.
" Gila ini orang ya. " ujar Armell.
" Aku tidak gila, honey. Aku katakan, dia adalah anakku. Anak kandungku. " ucap Robert tegas sambil menunjuk baby Arvin.
" Apa? " Armell terkejut. " Jangan asal bicara kamu. " ucap Armell marah.
" Aku tidak bercanda honey. Aku adalah ayah biologis dari anak kamu. Dan secara otomatis, kamu juga adalah milikku. Ibu dari anakku. " sahut Robert.
" Ngarang kamu. Tidak mungkin kamu adalah ayah kandung dari Arvin. " tolak Armell.
" Aku punya buktinya. " jawab Seno sambil mengeluarkan sebuah amplop. " Aku telah melakukan tes DNA untuk Arvin. Dan hasilnya dia memang anak kandungku. "
Armell mengambil amplop itu dan membukanya, lalu melihat hasilnya. 99,99% cocok. Ya Tuhan.... cobaan apa lagi ini.
" Bagaimana? " tanya Robert melihat Armell tercengang. " Kamu lihat kan? Arvin anak kita, honey. Aku tidak menyangka ternyata malam itu adalah kamu. Tapi aku senang dengan adanya malam itu. Aku melakukan dengan gadis yang benar. Gadis yang akhirnya mampu mencuri hatiku. Kau tahu honey, aku sangat bahagia ketika mengetahui hal ini. Akhirnya aku akan bisa memilikimu. " lanjut Robert dengan mata berbinar penuh cinta.
" Anda salah besar tuan jika menyangka kalau saya adalah gadis yang anda maksud. Karena saya belum pernah bertemu anda sebelum anda menculik saya dulu. " jawab Armell dengan bahasa yang formal.
" Common, honey. Mungkin kamu tidak ingat kejadian di hotel malam itu. Karena kamu sedang mabuk. " ucap Robert sambil mendekatkan dirinya ke Armell.
" Stop, tuan. Jangan dekat-dekat. Saya tegaskan lagi kepada anda, saya bukan perempuan yang anda maksud. Saya tidak pernah bermalam di hotel kecuali dengan suami saya. " jawab Armell lantang.
" Apa kamu tidak mengakui Arvin, honey. Dia itu anak kita. " desak Robert.
Armell menarik nafas panjang mulai jengah dengan Robert. " Dengar ya tuan, saya akan menjelaskan bagaimana Arvin menjadi anak saya. SAYA....," ucap Armell sambil menunjuk dirinya sendiri. " Menemukan Arvin ketika dia baru berusia dua bulan, di depan tempat kost saya. Kemudian saya mengambilnya dan membawanya ke kantor polisi. Karena tidak ada kejelasan tentang bayi itu, maka pihak kepolisian memutuskan untuk mengirim Arvin ke panti asuhan. Lalu saya mengadopsi Arvin dari panti asuhan dan mengangkatnya sebagai anak saya. Jadi tuan, tolong jangan berkhayal terlalu tinggi. " jelas Armell.
" Honey please. Jangan mengarang cerita kamu. Kita memang sama-sama dalam keadaan mabuk saat itu. Tapi aku tahu kita sama-sama menikmati malam itu. Dan aku juga tahu, kalau akulah yang pertama bagimu. Akulah yang pertama memilikimu seutuhnya. " ujar Robert sambil berusaha membelai wajah Armell. Tapi Armell segera menjauh.
" Maaf, tuan. Anda salah. Anda bukan yang pertama memiliki saya seutuhnya. Dan tidak akan pernah memiliki saya sampai kapanpun. Karena suami saya, IPTU Seno Gael Adiguna adalah yang pertama buat saya dan selamanya hanya akan ada dia. " ucap Armell tegas.
Robert mulai berang dengan ucapan Armell. Ia mengepalkan tangannya.
" Tuan Robert yang terhormat, jika anda tidak percaya kepada saya, silahkan anda selidiki lagi tentang baby Arvin. Bukankah Anda ahli dalam hal penyelidikan? Ayah kandung Arvin saja anda bisa mengetahuinya. Bahkan sekarang, baby Arvin sudah tidak tinggal bersama saya lagi. Ia sudah tinggal dengan ibu kandungnya. " ucap Armell tegas.
Kesabaran Robert telah habis. Tanpa berpamitan, ia pergi meninggalkan Armell begitu saja. Emosi telah menguasainya. Ia butuh ketenangan. Ia butuh pelampiasan.
Tak lama kemudian, Seno datang menghampiri Armell dengan wajah yang sedang berpikir jelas.
" Hai, baby. " sapa Seno sambil mengecup kening Armell.
" Mas. " sapa Armell balik.
" Baby, apa kamu habis bertemu seseorang? " tanya Seno sambil memicingkan matanya.
" Seseorang? " tanya Armell.
" Iya. Tadi di pintu masuk mall, aku sepertinya melihat Robert Downey. Ia terlihat sedang terburu-buru. " ucap Seno.
Armell menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Seno.
" Iya. " jawab Armell sambil mengangguk. " Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. " lanjut Armell sambil mengelus pipi Seno lembut menenangkan hati Seno.
" Kamu yakin? " tanya Seno memastikan.
" Hem. " Armell mengangguk. " Kalau mas tidak percaya, tanya saja sama mbak Siti. Mbak Siti juga ada di sini. " tambah Armell.
" Tapi kenapa dia masih menemuimu lagi? " tanya Seno kembali.
" Mas, " Armell memegang tangan Seno berusaha meyakinkan. " Aku tidak apa-apa. Dia hanya berbicara sama aku. Kita makan dulu, nanti di rumah, aku ceritakan semuanya. Aku janji. " ujar Armell.
Seno mengusap wajahnya kasar kemudian menarik nafas menetralkan emosinya. Lalu ia mengangguk.
" Kamu belum makan? " tanyanya ke Armell.
" Belum. " jawab Armell sambil menggeleng. " Kan nungguin mas. Mau makan bareng-bareng. Mbak Siti juga belum. " ucapnya.
" Baiklah, kita makan dulu lalu pulang. " ujar Seno dan Armell pun tersenyum. Ia selalu bisa mendinginkan suaminya yang sedang memanas.
***
bersambung