
Tak terasa sudah 10 hari lamanya Armell dan Seno berlibur berhoneymoon.
" Mas, hari kita ke Montmartre ya. Terus belanja oleh-oleh. Bosen di kamar terus. " ujar Armell sambil cemberut.
" Dari mana kamu tahu Montmartre? " tanya Seno sambil menyesap kopinya.
" Mbah Google lah. Siapa lagi. Orang aku juga belum pernah ke Perancis. Baru kali ini. Gitu aja kena jebakan Batman. " gerutu Armell.
" Kena jebakan apa baby? " tanya seno.
" Jebakan Batman. " ujar Armell.
" Kok jebakan Batman. Di mana emang ada Batman. Batman kan cuma tokoh dalam film. " ujar Seno sambil terkekeh.
" Tuh, yang barusan bicara. " ujar Armell tanpa mau melihat ke arah suaminya. Karena kali ini Armell benar-benar sedang sangat kesal dengan suaminya.
" Aku? " tanya Seno sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Hem. "
" Kok bisa kamu bilang aku Batman? Dan udah kasih jebakan? " tanya Seno semakin tidak mengerti.
" Iya ... habisnya mas bohongin aku. Bilangnya ngajak liburan, honeymoon ke Perancis. Jalan-jalan. Ini apa? Kita di sini sudah 10 hari, tapi mas ngajakin jalan-jalan cuma 3 hari. Sisanya mas cuma mengurungku di dalam kamar. Nggak pagi, nggak siang, nggak malem, cuma di ajakin gituuuuu melulu. " cecar Armell.
" Ya gini yang namanya honeymoon baby. Memang harus banyak di habiskan di dalam kamar. Biar baby'nya cepet kecetak. " sahut Seno santai.
" Kalau cuma gitu aja, kenapa mesti jauh-jauh ke Perancis? Di rumah juga bisa. Nggak ngabisin duit banyak lagi. " elak Armell.
" Kan kalau bener kecetak baby'nya, jadi Made in Perancis. Bukan Made in Tanah Abang. " jawab Seno.
" Emang mas mau bikin anaknya di tanah Abang? Di tengah pasar gitu? Made in Tanah Abang...Bisa aja kamu mas jawabnya. "
" Ya nggak lah. Emang mau show bikin anaknya? Pakai di lihatin orang banyak?" protes Seno dengan nada tidak suka.
" Lah kok marah...Kan mas sendiri tadi yang bilang kalau bikin anaknya di rumah, sama aja Made in Tanah Abang. Hah, kok jadi ngeributin Made in mana sih. " gerutu Armell. " Pokoknya nanti aku mau jalan-jalan. Titik. Kalau nggak, kita di sininya di tambah lagi. Nggak jadi pulang besok. Kan mas juga janji mau ajak ke menara Eiffel lagi sebelum pulang. " tambah Armell.
" No problem. Kita tambah lagi honeymoon nya. Jadi sebulan sekalian. Jadi anak kita besok bener-bener Made in Perancis. " sahut Seno yang senang menggoda istrinya.
" Ihhhh....Nyebelin tahu nggak ah. Terserah kalau mas nggak mau ajak Mell jalan-jalan. Mell mau jalan-jalan sendiri. Siapa tahu dapet kenalan bule asli Perancis. Jadi bisa bikin anak yang asli Perancis. Bukan cuma labelnya aja yang Made in Perancis. " sungut Armell sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
" Baby...." protes Seno sambil hendak menarik tangan Armell tapi tidak sampai keburu Armell masuk ke dalam kamar mandi. " Baby, awas aja kalau sampai kamu berani melakukannya. " teriak Seno dengan nada tinggi.
Sedangkan Armell di kamar mandi malah cekikikan. " Makanya jangan suka nge-prank orang. Kena batunya kan? " gumam Armell di dalam kamar mandi.
💫💫💫
" Gimana? Udah puas kan jalan-jalannya? " tanya Seno saat mereka telah tiba kembali ke hotel.
Sampai di kamar hotel, Armell langsung menjatuhkan dirinya telungkup di atas tempat tidur. Dan tidak ada jawaban dari Armell saat Seno bertanya. Yang terdengar malah dengkuran halus dari sang istri. Mengetahui hal itu, Seno hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tanpa suara.
Ia tahu, istrinya memang kurang tidur dan kelelahan saat berada di Perancis. Karena ia terus mengajaknya playing a game , tidak peduli itu pagi, siang ataupun malam. Bahkan sempat ia melakukannya selama hampir 24 jam. Ia hanya memberikan istrinya waktu untuk makan dan minum. Gila memang. Tapi Seno berpikir jika sudah pulang nanti, maka akan sangat sulit mendapatkan waktu seperti ini.
Seno mengulum senyum mengingat kebodohannya. Ia bahkan sangat menyesal saat tadi ia melihat sang istri yang begitu bahagia saat sedang jalan-jalan meskipun udara sangat dingin. Ia berjanji, jika hari ini, termasuk malam ini, ia akan membiarkan istrinya beristirahat dan melakukan apapun yang diinginkannya.
Karena hari sudah menjelang malam, Seno masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sangat ingin mandi. Karena meski udara sangat dingin, tapi berjalan-jalan sepanjang hari membuat badannya terasa tidak nyaman. Seno mengisi bathtub, lalu merendam dirinya dengan sabun aroma terapi seperti yang di gunakan Armell waktu itu.
Ia masuk ke dalam bathtub, lalu memejamkan matanya dan menikmati wangi dari aroma terapi itu. Sampai tanpa sadar, ia malah tertidur.
Kamar terasa gelap saat Armell membuka matanya perlahan. Sepertinya hari sudah malam. Armell langsung bangun dari tidurnya saat menyadari kalau hari telah malam. Ia mengedarkan pandangannya dalam gelap mencari suaminya.
" Mas ..." panggilnya sambil berdiri dari duduknya. " Mas ....Mas ...." panggilnya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Lalu ia membuka pintu kamar mandi. Siapa tahu suaminya tertidur di dalam kamar mandi.
" Mas..." panggil Armell sambil melongoknya kepalanya ke dalam kamar mandi.
" Udah bangun kamu? " tanya Seno dari dalam kamar mandi yang saat itu sedang mandi di bawah guyuran air shower.
Mata Armell mengikuti arah suara. Dan ..." Aaaaaaa....."
Brak
Setelah berteriak, Armell langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras. Jantungnya berdegup kencang. Meskipun sudah sangat sering ia melihat tubuh polos suaminya, tapi itu dalam keadaan penuh dengan gairah. Pikirannya tidak benar-benar sadar. Tapi melihat suaminya dalam kondisi seperti itu dan dalam keadaan dirinya yang 100% sadar, membuatnya salah tingkah dan malu.
Sedangkan dari dalam kamar mandi, terdengar Seno tergelak melihat tingkah istrinya.
Tak berapa lama, Seno keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di bawah pinggangnya.
" Kenapa di tutup lagi pintunya baby? " goda Seno. " Masih malu? Bukankah setiap hari kamu sudah menyaksikannya? Bahkan kamu menikmati tubuh telanjangku. " tambahnya.
Tapi Armell tidak merespon. Jika ia merespon, maka ia yakin, suaminya akan semakin senang menggodanya. Ia pura-pura sibuk memilih-milih baju.
Tapi yang namanya Seno, tetap saja tidak akan berhenti begitu saja. Ia malah mendekati istrinya. Menempelkan tubuh depannya ke tubuh belakang Armell. Lalu ia mengecup leher jenjang sang istri. Tak berhenti di situ, tangannya kini sudah melingkar di atas perut Armell. Armell masih tidak bergeming. Seno memindahkan salah satu tangannya ke atas dada Armell. Membuat Armell sedikit terkejut.
" Jantungmu berdetak begitu kencang, baby. " bisik Seno di telinga Armell. Hembusan nafas yang keluar dari mulut Seno, membuat jantung Armell semakin tidak karuan. Tapi Armell berusaha menahan gejolaknya. Ia memejamkan matanya, mengumpulkan kekuatannya.
' Sial. Dia selalu saja menggodaku. Dan dia selalu menang. Tapi kali ini, aku harus menang. Aku harus bisa membalasnya.' ujar Armell dalam batin.
Armell membalikkan badannya, lalu mendorong tubuh kekar Seno ke belakang sampai Seno telentang di atas ranjang. Senyum kemenangan terbit dari ujung bibir Seno. Ia merasa telah berhasil membuat istrinya menginginkannya.
Seno lalu menelentangkan kedua tangannya. Menikmati sentuhan sang istri. Armell tersenyum menyeringai melihatnya. Lalu ia menyibak handuk yang melilit di pinggang suaminya. Sumpah, jika di tanya, Armell akan bilang sangat malu sekali ketika melakukan hal ini. Tapi ia ingin membalas mengerjai suaminya.
Seno melihat ke bagian bawahnya saat merasa ada tangan halus yang meraba Martineznya. Sial. Kali ini ia malah yang menjadi tidak tahan. Apalagi Martinez tidak bisa di ajak kerjasama. Seno yang semula mengajak Martinez untuk beristirahat hari ini, malah menjadi bumerang. Martinez ingkar. Ia malah meronta dan menegang.
Armell tersenyum licik saat ia tahu Martinez sudah dalam keadaan on fire. Ia lalu menarik tangannya kembali. Lalu berjalan menuju ke lemari, mengambil pakaiannya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi sambil dengan senyuman tertahan. Seno hanya memandang Armell yang berjalan mondar-mandir di hadapannya dengan pandangan yang berkabut gairah.
Saat Armell sudah berada di dalam kamar mandi, Seno mendengar istrinya itu tertawa terbahak-bahak. Ia baru menyadari jika ia sudah di kerjai oleh istrinya. Ia lalu memandang Martinez nya yang sudah siap tempur. Ia menggeram.
" Awas kamu baby... Lihat saja nanti malam. Aku tidak jadi membiarkanmu tidur nyenyak malam ini. " gumamnya dengan wajah piasnya.
***
bersambung