
Armell kini berada di sebuah kamar. Ia masih belum sadarkan diri. Robert menaruhnya di sebuah kamar mewah dan di tidurkan di atas kasur king size. Dan Robert sendiri, duduk di kursi di dekat tempat tidur yang di tiduri Armell dengan satu kaki bertumpu di kaki yang satunya sambil terus memandang wajah cantik Armell yang masih tertidur.
" Mmm....Ssshhhh....." Armell mulai sadar. Ia mulai membuka matanya sedikit demi sedikit dan memegangi kepalanya. Memijat pelipisnya karena kepalanya terasa pusing.
Robert tersenyum tipis sambil mengusap-usap bibir dan dagunya memandang Armell yang sudah mulai sadar.
Armell membuka matanya dengan sempurna. Ia menatap ke sekeliling. Dan akhirnya ia mendapati sosok bule kampret yang ada di kursi dekat tempat tidurnya. Ia langsung bangun dari tidurnya dan duduk sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
" Hai, honey. " sapa Robert masih dengan posisi duduk di tempatnya.
" Heh, bule kampreto....Apa yang kamu lakukan padaku? " bentak Armell.
" Easy, honey. Aku hanya membuatmu tidur sebentar. " jawab Robert santai.
" Kamu bilangnya cuma bertemu. Nggak ada culik menculik kayak gini ya. " protes Armell.
" I am sorry, honey. Kalau aku tidak membuatmu tidur, kamu tidak akan mau ikut denganku dengan sukarela. By the way, apa kamu tidak ingin bertemu dengan baby Arvin? " ujar Robert.
" Di mana dia? Di mana anakku? " tanya Armell gusar.
" Oh, take and easy, honey. He is fine. Our son is fine. Kamu tidak usah khawatir. Aku merawat anak kita dengan baik. " ujar Robert sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri Armell.
" Anak kita...anak kita... Nggak usah ngaku-ngaku. Kapan kita menikah? Ngaku-ngaku anak kita. " gerutu Armell.
" Get soon, honey. We will get married as soon as possible. As you wish. " jawab Robert.
" OGAH!!!" sahut Armell tegas dengan suara yang lantang.
" Aku suka kamu yang galak seperti ini. " ujar Robert sambil mencolek pipi Armell. Tapi Armell langsung menghindar. Membuat aksi Robert gagal. Tapi ia malah tertawa.
" Cepat katakan di mana baby Arvin. " bentak Armell.
" Kamu mau melihat Arvin ? Sebentar. Akan aku suruh seseorang membawanya kemari. " ujar Robert lalu ia mengambil ponselnya dari saku kemejanya.
" Bawa baby'ku kemari. Sekarang. " perintah Robert ke seseorang.
Tak berselang lama, seorang wanita cantik membawa Arvin dalam gendongannya dan masuk ke dalam kamar.
" Halo, baby...." Sapa Robert ke Arvin lalu mengambil baby Arvin dari gendongan wanita yang membawanya. " Loot at that! She is your mom, right. " lanjutnya sambil membawa Arvin ke Armell.
Melihat Armell, baby Arvin terlihat sangat gembira. Ia lalu mengulurkan tangannya meminta gendong ke Armell. Robert lalu memberikan Arvin ke Armell.
" Halo, sayang..." sapa Armell sambil menciumi seluruh wajah Arvin.
" Mom..mom...mom..." ujar baby Arvin.
Wanita yang membawa Arvin tadi terlihat bertanya-tanya. Ia melihat aneh ke arah Armell. Arvin memanggilnya mom. Dan memanggil Robert Dad. Berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya.
" Oh, Ste sayang, kemarilah. " panggil Robert.
Wanita yang di panggil itu mendekat.
" Kau pasti penasaran dengan perempuan yang aku bawa kemari hari ini. " ujar Robert sambil mengelus pipi Stella.
" Sebaiknya kalian saling berkenalan. Karena kalian berhubungan dengan laki-laki yang sama. Dia adalah masa lalu. " ujar Robert menunjuk ke Stella. " Dan dia adalah masa kini. " tambahnya sambil menunjuk ke Armell.
Armell dan Stella sama-sama saling berpandangan. Mereka sama-sama tidak mengerti apa yang di katakan oleh Robert.
" Eh, bule kampreto, kalau ngomong yang jelas. " tandas Armell.
" Wait, honey. Kenapa dari tadi kamu memanggilku bule kampreto? Apa maksudnya? " tanya Robert dengan wajah bloonnya. Sedangkan Stella melipat bibirnya ke dalam menahan tawanya.
" But it's oke honey. No problem what you called me. Apapun kamu memanggilku, aku tidak masalah. Aku menyukainya. " ujar Robert pada akhirnya.
" Dasar bule sableng. " gumam Armell.
" Kita kembali ke topik kita. Stella, kamu masih ingat dengan mantan kamu Seno Adiguna? " tanya Robert.
Armell mengernyit mendengar nama suaminya di sebut oleh si bule kampreto.
" Ada dengannya? " tanya Stella.
" Dia..." Robert menunjuk Armell. " Dia adalah istri dari Seno Adiguna. Mantan kekasihmu. " lanjutnya.
Stella langsung memandang ke arah Armell. Ia terkejut, tapi ia berusaha untuk terlihat biasa saja.
' Jadi El sudah menikah? Lalu kenapa dan bagaimana bisa istrinya ada di tempat ini? ' tanya Stella dalam hati.
" Dan kau, honey...Dia adalah mantan kekasih suamimu. Stella Maris Wijaya. " Robert menunjuk ke Armell. Dan Armell langsung memandang ke arah Stella.
' Apa dia adalah masa lalu mas Seno yang membuatnya trauma dengan perempuan? ' tanya Armell dalam hati. ' Tunggu, wajahnya.... tidak asing. Oh, aku ingat. Dia itu ..wajah itu, sama dengan wajah gadis yang bersama mas Seno di foto yang di tunjukkan Alex dulu. '
" Sekarang, berikan Arvin kembali. Dia harus segera tidur siang. " ujar Robert sambil mengambil Arvin secara paksa. Lalu ia memberikannya kembali ke Stella.
" Bawa dia ke kamar. Tidurkan dia. " perintah Robert ke Stella. Stella tidak berani membantah titah dari bos mafia itu. Ia mengambil Arvin, lalu membawanya keluar.
Di tempat lain di waktu yang sama.
" Rez, kita ke rumah keluarga Abraham. Mungkin mereka punya petunjuk. " ajak Seno ke Rezky.
" Baik tuan. " jawab Rezky sambil mengangguk.
Lalu mereka segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke kediaman keluarga Abraham. Selang 40 menit, sampailah mereka di rumah keluarga Abraham.
Tuan Abraham yang kebetulan hari itu sedang ada di rumah, menyambut mereka dengan ramah.
" Selamat siang, tuan. " sapa Seno.
" Selamat siang, tuan muda Adiguna. Silahkan duduk. " tuan Abraham mempersilahkan mereka untuk duduk.
" Kok tumben siang-siang anda datang kemari. " ujar tuan Abraham.
" Tuan, apa nona Leora ada di rumah? " tanya Seno.
" Ada. Sebentar saya panggilkan. " kemudian tuan Abraham masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama, tuan Abraham kembali bersama dengan putrinya.
" Selamat siang, tuan Seno. " sapa Leora.
" Selamat siang, nona. Maaf siang-siang mengganggu istirahat keluarga ini. " sahut Seno.
" Ah, tidak apa-apa tuan. Ada yang bisa saya bantu? " tanya Leora.
" Nona, apa benar Arvin sedang bersama dengan Robert Downey saat ini? " tanya Seno langsung.
" Iya, benar tuan. Dia menjemput baby Arvin kemarin. " jawab Leora.
" Nona, apa Robert sering membawa baby Arvin seperti ini? "
" Tidak tuan. Biasanya dia hanya datang kesini untuk melihat baby Arvin. Tapi kemarin, dia memaksa untuk membawa Arvin bersamanya. Awalnya saya sudah menolaknya tuan. Tapi dia mengancam. Jadi mau tidak mau, akhirnya saya membiarkan dia membawa Arvin. " jelas Leora.
Mendengar jawaban Leora, Seno mengusap wajahnya kasar.
" Robert menggunakan baby Arvin untuk membawa Armell. " ujar Seno.
" Apa? " Leora dan tuan Abraham terkejut.
" Pagi tadi dia menghubungi istri saya. Dan memakai Arvin supaya Armell mau menemuinya. Dan sekarang, saya kehilangan kontak dengan Armell. Saya tidak bisa menghubunginya. Sepertinya Robert menculiknya kembali bersama baby Arvin. " jelas Seno.
" Ya Tuhan...." ujar Leora.
" Nona, apa nona tahu kira-kira kemana dia membawa Arvin? " tanya Seno.
" Saya tidak tahu tuan. Dia tidak mengatakan apapun. Bahkan ketika saya bertanya, dia tidak menjawab. " jawab Leora.
" Leora, bukankah papa pernah memberikan Arvin sebuah kalung? " tanya tuan Abraham.
" Iya, pa. "
" Apa kalung itu kamu pakaikan? " tanya tuan Abraham.
" Iya pa. " Leora mengangguk.
" Sebentar tuan, saya ambil laptop. Saya dulu menaruh alat pelacak di kalung itu. Semoga saja alat pelacaknya masih berfungsi. " ujar tuan Abraham. Lalu ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengambil laptop.
Setelah mengambil laptop, beliau kembali ke ruang tamu. Ia membuka laptop itu di sana. Membuka aplikasi yang menghubungkan dengan alat pelacak yang ada di kalung Arvin.
" Dapat tuan. Terakhir, alat pelacak itu menunjukkan kalau Arvin berada di sebuah apartemen di daerah XX di Jakarta Selatan. " ujar tuan Abraham.
" Boleh saya melihat lokasinya tuan? " tanya Seno.
" Silahkan. " jawab tuan Abraham sambil memberikan laptopnya ke Seno.
Lalu Seno dan Rezky melihat lokasi alat pelacak itu.
" Kita segera kesana tuan. Biar saya hubungi Damar. Mungkin dia bisa sampai di sana terlebih dahulu. " ucap Rezky. Seno mengangguk.
" Tuan, kami mohon pamit dulu. " ujar Seno.
" Iya, tuan Adiguna. Saya juga akan turut mengerahkan anak buah saya untuk mencari Arvin juga nona Armell. " jawab tuan Abraham.
" Terimakasih banyak, tuan. " sahut Seno.
Lalu Seno dan Rezky segera berlalu dari kediaman keluarga Abraham. Dan tuan Abraham juga segera menghubungi orang-orang kepercayaannya.
***
bersambung