
" Ada apa sih kak? Kok kelihatan penting banget gitu yang mau di bicarakan? " tanya Armell ke Ikke sahabatnya.
" Jadi gini Mell. Sudah beberapa hari ini, ada seorang perempuan yang kesini hampir tiap hari. Sepertinya dia nyariin kamu. " Ikke memberi tahu.
" Nyari aku kak? Siapa? Dan ada apa? " tanya Armell bingung.
" Pastinya sih nggak nyari kamu. Tapi dia nyari gadis yang nemuin baby Arvin di depan gerbang. " ucap Ikke.
" Hah? Maksudnya kak? " tanya Armell panik
" Kalau menurutku sih, kemungkinan dia ibu dari baby Arvin, Mell. Setiap kesini dia selalu bertanya dimana anaknya. " jelas Ikke.
" Ya Tuhan... bagaimana ini? Apa benar dia ibu kandung baby Arvin? Apa aku akan kehilangan baby Arvin kak? " tanya Armell dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus berpisah dengan baby Arvin.
" Semua belum pasti, Mell. Tapi terakhir dia kesini itu kemarin lusa. Ia datang dengan seorang bapak-bapak. Mungkin orang tua perempuan itu. Ia bilang ingin bertemu denganmu. Bagaimana Mell? Apa kamu mau menemuinya? " tanya Ikke.
" Mell nggak tahu kak. Mell bingung. Mell mau bicarakan masalah ini dengan mas Seno dulu. " jawab Armell dengan lesu.
" Dia meninggalkan no telepon. Sebentar aku ambilkan catatannya. Dia bilang, kalau kamu bersedia menemui mereka, kamu hubungi saja no itu. " ucap ikke. Kemudian ia berdiri mengambil secarik kertas di meja belajarnya.
Armell menerima kertas itu. Memandang dengan pikiran kalut pastinya.
" Sudah. Jangan terlalu di pikirkan. Kalau memang dia adalah ibu kandung baby Arvin, mau tidak mau kamu harus mengembalikannya. Iya kan? Toh kamu juga masih bisa menemuinya. Aku yakin, ibunya pasti akan tetap mengijinkan kamu menemui baby Arvin. Aku lihat sepertinya mereka orang yang baik. Apalagi kamu yang selama ini merawat serta menjaganya. " ujar Ikke.
" Semoga saja ya kak. " Armell berdoa.
Sebenarnya yang ada di pikiran Armell saat ini bukan hanya baby Arvin yang mungkin akan diambil kembali oleh orang tua kandungnya. Ia juga memikirkan nasib pernikahannya. Apakah pernikahannya juga akan berakhir saat baby Arvin sudah kembali ke orang tuanya? Armell menghela nafas berat.
" Kenapa Mell? " tanya Ikke saat memperhatikan Armell mendesah berat.
Armell menggeleng. " Entahlah kak. Tiba-tiba dada Mell nyesek rasanya. " ucapnya.
" Kenapa? Masalah baby Arvin, kita memang harus ikhlas jika ia di ambil kembali oleh keluarganya. Karena kita tidak memiliki hak apapun atas dirinya. " ungkap Ikke.
Armell kembali mendesah. " Bukan hanya itu yang aku pikirkan kak. Aku.... tiba-tiba saja aku takut kalau baby Arvin sudah tidak bersamaku, mas Seno juga akan meninggalkanku. Rasanya kok berat ya kak. " ujar Armell berterus terang.
" Kok bisa gitu? " tanya Ikke.
" Iya kan...Secara dulu mas Seno menikahi aku karena biar bisa mengadopsi baby Arvin kak. Sekarang kalau baby Arvin sudah tidak ada di antara kami, mungkin saja mas Seno menceraikan aku. " jawab Armell.
" Jadi ceritanya, sekarang kamu takut pisah sama dia? " goda Ikke sambil tersenyum. " Kamu jatuh cinta ya sama suami kamu? Waaahhh.... seorang Armell Lusinda Umma bisa jatuh cinta juga ternyata. " ledeknya.
" Iihhhh kak Ikke ... Apa-apaan sih. Gaje tahu nggak?" elak Armell sambil tersipu.
" Beneran Mell. Kamu jatuh cinta ya sama suami kamu? " tanya Ikke dengan nada serius sekarang.
" Huh... Entahlah kak. Mell nggak tahu. Kak Ikke tahu sendiri kan, aku belum pernah jatuh cinta. Eh, pernah sih sekali. Tapi kan itu waktu aku masih kecil. Cinta monyet itu sih. Bukan cinta beneran. " jawab Armell.
" Kalau kamu nggak jatuh cinta sama suami kamu, terus kenapa kamu takut di ceraikan? " tanya Ikke asal.
" Yaaaa..... yang pasti aku takut jadi janda...Masak iya ada janda ting-ting ? Kan malu-maluin. " jawab Armell.
" Eh, kamu ini masak nggak tahu sih? Janda kan sekarang banyak di cari. Harganya mahal loh. Tuh, janda bolong harganya jutaan. Apalagi kalau jandanya masih buntet. He...he...he..." jawab Ikke.
" Ihhh kakak....Itukan tumbuhan. " protes Armell cemberut.
" Mell, aku tanya serius nih. Pernah nggak kamu ngerasa deg-degan atau ngerasa aneh saat di dekat suami kamu? " tanya Ikke dengan raut muka yang serius.
" Mmmm.... Sepertinya pernah sih. " jawab Armell setelah berpikir dan mengingat beberapa saat.
Ikke mengangguk kemudian bertanya kembali, " Pernah nggak kamu merasa takut kehilangan dia atau takut jika berjauhan sama dia? Tapi bukan karena kamu takut kalau jadi janda ting-ting loh ya. "
" Mmmmm....pernah sih kayaknya terpikir seperti itu. Secara sekarang aku banyak bergantung sama mas Seno. Kemana-mana sering berdua sama dia. Agak miris sih kalau harus kehilangan momen-momen seperti itu. " ucap Armell lirih sambil menunduk.
" Nah, terus kenapa kamu tidak belajar mencintai suami kamu? Bukan belajar sih menurutku. Karena aslinya, kamu itu sudah mencintai suami kamu. Menurutku, kamu tinggal menggali kembali perasaan kamu, terus kamu resapi, kamu rasakan biar kamu yakin jika kamu mencintainya. " ungkap Ikke.
" Hah... Entahlah kak. Meskipun aku mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku, sama juga bohong kan? Pernikahan ini juga akan berakhir juga. Jika aku mencintainya dan kita harus berpisah, bukankah akan lebih menyakitkan? " ucap Armell.
" Mell, jangan berpikir buruk sebelum kamu mencoba dan mengetahui kebenarannya. Sekarang aku tanya, bagaimana sikap suami kamu sama kamu? " tanya Ikke.
" Mas Seno ..baik sih. Dia perhatian banget sama aku. Dia banyak melakukan berbagai hal buat aku. Bahkan saat aku sakit, dia rela semalaman tidak tidur karena menjagaku. " jawab Ikke.
" Oke, terus pernah nggak dia berusaha mendekati kamu? " tanya Ikke kembali.
" Maksudnya kak? " tanya Armell balik.
" Pernah nggak dia mencium kening kamu mungkin. Atau mencium pipi kamu. Memeluk kamu? " tanya Ikke lebih spesifik.
" Jadi ceritanya, bibir kamu udah nggak perawan nih ya ..." goda Ikke.
Armell seketika menutup mulutnya saat ia menyadari telah cerita banyak.
" He...he...he..." Armell tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
" Jangan-jangan yang bawah juga udah bolong nih..." goda Ikke lagi.
" Ih, nggak ya kak. Kalau yang bawah jelas masih orisinil. " jawab Armell tidak terima.
" Mell, kalau menurutku sih, suami kamu sebenarnya cinta juga kok sama kamu. Cuma dia belum ngomong aja sama kamu. " Ikke memberikan pandangan dia.
" Bagaimana bisa? " tanya Armell.
" Setahuku nih ya Mell...Cowok itu pada dasarnya sama kayak cewek. Dia tidak akan dengan mudah mendekati cewek, apalagi sampai sosor-sosor, kalau dia nggak ada rasa. Kecuali kalau laki-laki b3jat ya...Dan aku lihat suami kamu bukan tipe laki-laki yang suka bermain perempuan. " ungkap Ikke.
Entah kenapa, hati Armell terasa berbunga-bunga. Meskipun hanya mendengar pendapat dari Ikke, tapi saat dia membayangkan jika Seno mencintainya, membuatnya berasa melayang di udara.
" Heh! Kok malah bengong sih? " tegur Ikke karena Armell malah melamun.
" Eh... Nggak bengong kok. " elak Armell.
" Ck. Kamu ini. Maklum yah yang sedang jatuh cinta." goda Ikke.
" Terus Mell harus gimana dong kak sekarang? " tanya Armell yang memang tidak berpengalaman soal cinta.
" Ya yang seperti aku bilang tadi. Kamu selami hati kamu, beneran cinta nggak sama suami kamu. Terus kamu juga perhatikan, apa suami kamu juga cinta sama kamu atau nggak. Kalau dia nggak cinta sama kamu, buat dia jatuh cinta sama kamu. " jawab Ikke.
" Gimana kak caranya? " tanya Ikke.
" Ya ..kasih dia perhatian. Tunjukkan kalau kamu sayang sama dia. Kasih tuh bibir kamu kalau dia pengen. Jangan kasih kendor lah pokoknya. Kalau perlu, kalau dia mau, kamu kasih lah tuh yang bawah. " ujar Ikke sambil menunjuk bagian bawab tubuh Armell dengan dagunya.
" Emang harus seperti itu ya? Ihhhh.... jangan-jangan kakak udah pernah nih kayaknya kok berpengalaman banget. " goda Armell.
" Enak aja. Masih orisinil ini mah. Aku tuh bukannya berpengalaman, tapi kan kamu udah sah jadi istri mas Senomu. Udah halal. Berarti kan udah halal juga buat di apa-apain. Dan di ajak ngapa-ngapain." jawab Ikke.
" Eh, satu lagi aku mau kasih tahu kamu. Kalau laki-laki pengen, itu harus di layani. Jangan di tolak terus. Yang ada nih, laki kamu bisa cari milik tetangga. Laki-laki kalau udah pengen tapi nggak di kasih tuh nyesek loh. Bisa terkena darah tinggi. Dia butuh pelampiasan. Kalau yang di rumah nggak mau ngasih, ya dia cari di luar. Gimana kalau seandainya dia mendapat yang lebih wuihhh di luar. Ingat kan pepatah, rumput tetangga lebih hijau. Jadi kamu jangan pernah kasih kendor. Jangan sampai dia ngerasain yang di luar. Jangan sampai dia tahu rumput milik tetangga. " ujar Ikke.
" Harus ya gitu? " tanya Armell dengan polosnya.
" Harus. " jawab Ikke penuh penekanan.
Tok ..tok...tok ..
" Ke....Ikke....." panggil seseorang.
" Iya...." jawab Ikke dari dalam kamar.
" Ada yang nyariin tuh. " ucap yang di luar.
" Siapa? " tanya Ikke.
" Nggak tahu. Cowok lo mungkin. " jawab yang di luar.
" Kak Ikke punya cowok baru? Wahhhh... pajaknya nih di tunggu. " goda Armell.
" Apaan sih. Ya udah bentar, aku keluar dulu. " jawab Ikke.
Ikkepun keluar dari kamar melihat siapa tamunya.
Selama beberapa menit Armell menunggu di dalam kamar. Tapi Ikke tidak juga kembali. Tiba-tiba sebuah pesan masuk.
📩 Aku udah mau sampai tempat kost kamu. isi pesan dari Seno.
📩 Iya. Mell siap-siap tunggu di luar. jawab Armell.
Armell membenahi tasnya. Memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kemudian ia menyisir rambutnya. Setelah rapi, ia keluar dari kamar Ikke dan berlalu keluar. Saat sampai di depan kost, Armell terkejut akan sesuatu.
" Bang Rezky????" ucap Armell saat mendapati Rezky, asisten suaminya berada di rumah kost itu sedang menemui Ikke sahabatnya.
***
bersambung