My Handsome Police

My Handsome Police
Baby blues



Tak terasa, satu minggu telah berlalu dari hari persalinan. Kini, Armell dan baby Dan sudah pulang ke rumah. Selama Armell berada di rumah sakit, Seno telah merombak kamar yang berada di sebelah kamarnya yang berada di lantai dua untuk baby Dan. Karena baby Dan masih sangat kecil, selain menaruh ranjang untuk baby Dan, Seno juga menaruh box bayi yang di belikan oleh mamanya di sana.


Tapi Armell menolak dengan keras tidur pisah dari baby Dan. Ia tidak tega membiarkan anaknya tidur sendirian. Anaknya masih begitu kecil. Meskipun Seno telah mengantisipasi membuat pintu penghubung antara kamarnya dan kamar baby Dan. Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, Seno pun mengalah. Dengan kesepakatan, jika siang hari maka baby Dan akan tidur di kamarnya. Dan ketika malam hari, baby Dan akan tidur satu kamar dengan mereka. Setelah baby Dan berusia empat bulan, Armell harus membiarkan baby Dan tidur di kamarnya sendiri. Armell menyetujuinya.


Bukan tanpa alasan Seno bersikukuh kalau baby Dan harus tidur di kamarnya sendiri. Baby Dan adalah seorang laki-laki. Jadi dia harus belajar menjadi pemberani. Jika dia tidur dengan orang tuanya, maka ia akan menjadi anak yang manja dan tidak mandiri.


Di sini lah mereka saat ini. Seno membantu Armell yang ingin buang air kecil. Dan itu sudah menjadi kebiasaan Seno. Setelah istrinya melahirkan tempo hari, Seno tetap menjadi suami siaga. Ia membantu istrinya dalam hal apapun. Membantu buang air, membantu mandi, mengobati bekas luka sehabis melahirkan, memasangkan pembalut, sampai mencuci dalaman Armell yang terkena darah.


" Mas, sudah satu minggu lebih, tapi kok masih perih aja kalau kena air pip** ya. Nggak seperti waktu Martinez masuk. Dia juga jumbo ukurannya. Tapi kalaupun perih, satu hari juga udah nggak. " keluh Armell yang masih merasa sakit bagian bawahnya jika kena air.


Seno yang mendengar ucapan istrinya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus menjawab bagaimana.


" Baby, Martinez dan kepala baby Dan tetap lebih besar kepala baby Dan. " jawab Seno pada akhirnya.


" Nggak ya mas. Aku baca artikel, terus lihat video di YouTube, bayi yang baru keluar dari rahim itu elastis. Kepalanya juga gitu. Jadi nggak sebesar setelah dia terkena udara luar. " sahut Armell.


" Iya tapi nggak lebih kecil dari Martinez juga. " kekeh Seno.


" Aku pengen lihat kayak apa. " ujar Armell sambil mengarahkan tangannya ke bagian bawah. Tapi Seno langsung melarang.


" Jangan di sentuh. " larang Seno.


" Iihhh, kenapa sih dari kemarin mas nggak bolehin Mell nyentuh? Mell cuma pengen tahu lukanya tuh gimana. Kok perihnya nggak hilang-hilang. " ujar Armell.


" Nanti infeksi kalau di sentuh. " jawab Seno sambil memegang tangan Armell.


Armell memandang Seno dengan tatapan curiga. Saat suaminya agak lengah, Armell segera menarik tangannya dari genggaman Seno dan mengarahkan ke bagian bawahnya.


Armell terkejut saat menyentuhnya. Ia mengernyit.


" Kok seperti ada jahitannya. " serunya. Ia lalu memandang Seno dengan pandangan penuh pertanyaan.


Seno berusaha mengalihkan pandangannya dari sang istri. Sepertinya apa yang ia sembunyikan akan terbongkar. Dan pasti akan ada api yang menyembur.


" Mas??? " panggil Armell kencang.


" Jangan keras-keras, baby. Nanti baby Dan kebangun. " ujar Seno.


Tapi Armell tidak peduli. Dia menarik celana Seno dan mengambil ponsel Seno yang berada di kantong celananya. Setelah berhasil mengambil ponsel suaminya, Armell segera mengaktifkan kameranya dan mengarahkan ke bagian bawahnya.


" Tuuuhhhh....Benerkan? Di jahit? Hiks.....Hua....Hua....Hua...." Armell menangis histeris.


" Baby, jangan nangis. " Seno mendekati Armell dan berusaha mendiamkan sang istri.


" Mas jahat. ! " pekiknya sambil memukul dada sang suami. " Kenapa mas nggak bilang kalau punyaku di jahit. " tambahnya.


" Maaf, baby. Aku cuma nggak mau kamu takut. Kamu kan baru habis melahirkan. Kamu juga takut sama jarum jahit kan. " ujar sang suami.


" Kalau udah tahu aku takut jarum, kenapa masih di jahit? " tanya Armell sambil sesenggukan.


" Baby, punyamu harus sedikit di sobek biar anak kita bisa keluar. " jawab Seno.


" Apa? Di sobek? Hua....Hua...Jadi lebar dong mas punyaku...Nanti kalau jadi lebar, kamu jadi nggak enak. " seru Armell.


" Tapi kalau di jahit gini, jadinya jelek. Punyaku jadi bergelombang. Jadi ada benangnya. Punyaku jadi nggak enak di lihat. Ntar mas jadi nggak ***** sama Mell. " ujar Armell.


" Baby, look at me. Apapun adanya dirimu, aku tetap ***** sama kamu. Dengar baby, bukan hanya itumu yang membuatku *****. Kamu senyum aja aku Martinez udah on. " canda Seno. " Udah, nggak usah nangis. Masak nggak malu sama baby Dan? " lanjut Seno sambil menyeka air mata Armell.


Mulai saat ia mengandung, Armell memang agak berubah. Hatinya menjadi lebih sensitif. Ia akan mudah murah, menangis. Padahal dulu ia sangat anti untuk menangis. Dan setelah ia melahirkan, sepertinya sifat itu terbawa.


" Udah selesai kan buang airnya? " tanya Seno. Armell mengangguk sambil bibirnya manyun cemberut. Seno tersenyum gemas melihat istrinya yang seperti itu. Ia jauh lebih mencintai istrinya yang seperti ini. Istrinya sekarang bisa bersikap manja dengannya.


Saat Seno akan menggendongnya, Armell menolak. " Mell mau jalan sendiri. Kalau keenakan di gendong terus, yang ada kaki Mell jadi manja. " ujar Armell.


Armell berdiri dari atas kloset pelan-pelan. Karena bagian bawahnya masih terasa agak perih sambil berpegangan pada bahu suaminya.


Perlahan Armell berjalan dengan di bantu suaminya keluar dari dalam kamar mandi. Sampai di kamar, ternyata baby Dan sudah bermain dengan jari-jari tangannya yang ia masukkan ke dalam mulutnya. Ludahnya sudah belepotan di sekitar mulutnya. Tapi bayi itu tidak menangis meskipun ia sendirian.


Melihat anaknya bermain sendirian, Armell kembali menitikkan air matanya. Seno di buat bingung oleh sikapnya.


" Baby, kenapa lagi? Kenapa kamu malah menangis? " tanya Seno.


" Tuh kasihan baby Dan sendirian. Kalau dia jatuh gimana ? " serunya sambil berjalan mendekati ranjang.


Seno hanya menggelengkan kepalanya. Istrinya sekarang menjadi lebih cengeng.


' Kenapa dia jadi begitu lebay? Hal kecil saja akan membuatnya menangis. ' batin Seno.


Merasa ada mommy-nya datang, baby Dan mulai merengek. Dengan perlahan, Armell mengangkat tubuh gembul baby Dan.


" Lapar ya sayang? Mau nen? " tanya Armell ke bayi yang belum mengerti bahasa manusia itu.


Lalu Armell membuka kancing bajunya sebelah atas, dan mengeluarkan salah satu gunung kembarnya. Ia mulai menyusui bayinya. Baby Dan begitu menikmati ASI yang berasal dari mommy-nya.


Seno ikut duduk di depan Armell yang duduk memangku si kecil sambil bersandar pada sandaran ranjang.


" Anak Daddy kalau udah ngenyot gitu betah ya. Daddy bakalan kalah ini. Daddy bakalan nggak dapet jatah. Semua di minta sama baby. " ujar Seno sambil menoel-noel pipi baby Dan. Dia juga terkadang menggoda baby Dan dengan menarik pucuk gunung kembar milik istrinya dari mulut baby Dan. Membuat baby Dan menangis.


Dan tentu saja sang mommy ikut menangis sambil memukul tangan jahil suaminya.


" Anaknya biar minum dulu. Jangan di gangguin. " bentaknya sambil menangis.


" Maaf, baby. Terus kamu kenapa ikutan menangis? " tanya Seno bingung.


" Habisnya kesel sama mas. " pekik Armell.


' Ya Tuhan, kenapa istriku menjadi semakin sensitif begini? ' tanya Seno dalam hati.


Seno yang di penuhi pertanyaan di otaknya, mengambil ponselnya dan menuliskan pesan ke sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Bryan.


Hanya satu kata yang di tulis Bryan sebagai jawaban atas pertanyaan Seno, " Baby blues. "


***


bersambung