
Hari berganti. Hari ini, mentari bersinar dengan cerahnya. Tidak seperti hari kemarin yang enggan muncul di permukaan bumi. Mentari hari ini, pastinya secerah hati dan wajah Armell.
" Mas...." panggil Armell dengan wajah berbinar.
" Mas...." panggilnya kembali. Dengan perut yang buncit dan mengenakan daster kesayangan, Armell berjalan agak kesusahan mencari keberadaan sang suami.
" Maa"
" Iya. " potong Seno yang muncul dari arah garasi.
Armell tersenyum manis melihat suaminya telah menampakkan dirinya. Hati Seno mulai was-was kala istrinya tercinta memasang wajah seperti itu. Karena biasanya, istrinya mempunyai keinginan yang dahsyat.
Dengan berjalan susah payah, ia menghampiri suaminya. Lalu mengamit lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.
" Ada apa? Hem? " tanya Seno lembut. Meskipun ia tahu kalau jawaban istrinya pasti luar biasa untuknya, tapi jika tidak di tanya maka akan semakin runyam urusannya.
" Pengen jalan-jalan. " jawab Armell sambil berbisik.
Seno mengecup puncak kepala Armell. Gemas rasanya. Ia yang sedari melihat raut wajah istrinya sudah sport jantung, kini bisa bernafas lega. Ternyata sang istri hanya ingin jalan-jalan. Tidak susah, menurut Seno.
" Ya udah. Kita siap-siap. Masak iya kamu mau pakai daster kayak gini jalan-jalannya? " sahut Armell.
" Mas nggak usah khawatir. Semua sudah aku siapin dalam koper. Tinggal kita ganti baju aja. " jawab Armell.
" Ha? Apa? Kok pakai koper segala. Kamu pengen nginap di hotel? " tanya Seno.
" Oh iya. Mell belum bilang jalan-jalan kemana ya. " ujar Armell sambil menepuk jidatnya.
" Kemana? " hati Seno sudah mulai was-was kembali. Jangan bilang istrinya itu pengen jalan-jalan ke menara Eiffel. Karena sejak beberapa hari yang lalu, istrinya itu suka sekali nonton video seputar Eiffel.
" Pengen jalan-jalan ke Malioboro. " ujar Armell sambil tersenyum manis.
Doeng......Seno seperti kejatuhan martil kepalanya.
" Ha? " Seno terkejut.
" Mau ke Jogja. Jalan-jalan malam di Malioboro. Terus makan gudeg Jogja, sama beli bakpia Pathuk. " jawab Armell.
" Jauh loh beb. Kalau kamu pengen nginap di hotel, kita ke hotel yang dulu buat resepsi pernikahan kita aja. Kamu suka kan sama hotel itu? Nanti malam kita jalan-jalan ke kota tua. " rayu Seno.
" Nggak mau. Maunya ke Jogja. Naik pesawat. " ujar Armell.
" Tapi baby...Kamu lagi hamil besar loh ini. Kan nggak boleh naik pesawat kalau lagi hamil. " ujar Seno.
" Yang nggak bolehin kan kamu mas. Kalau hamil udah 6 bulan lebih boleh kok naik pesawat. Lagian aku juga sehat-sehat aja. Kalau emang nggak boleh, kenapa kok si Rizky Billar ajak Lesti babymoon. Ke Turki loh malahan. Jauh kan? Tapi aku cuma ngajaknya ke Jogja. Sekalian babymoon di sana. " sahut Armell.
" Ini nih gegara keseringan nonton konten di YouTube. Ngapain juga si Billar pergi babymoon di jadiin konten segala. " gerutu Seno.
" Kenapa? Mas lagi nggak punya duit ya? Soalnya mas nggak kerja berbulan-bulan, terus nggak di gaji sama papa? Kalau gitu, Mell telpon papa deh. Bilang ke papa kalau Mell mau ke Jogja tapi mas nggak punya duit. Pasti di kasih deh sama papa. " ujar Armell. Lalu ia hendak berlalu kembali masuk ke kamar.
Seno mencekal lengannya sebelum ia berjalan terlalu jauh. " Mau kemana? " tanyanya.
" Mau ke kamar. Ambil handphone. Mau telpon papa. " sahut Armell enteng.
Seno menarik nafas dalam-dalam. " Baby, bukan masalah uang. Kalau cuma ajak kamu ke Jogja, terus tinggal di sana sampai dua bulan juga bisa. Duit aku cukup. "
" Eehh, Mell nggak mau lama-lama di Jogja nya. Cukup 3 hari aja. Kalau sampai dua bulan, entar lahiran di sana dong. Baby'nya Made in Perancis, tapi brojolnya di Jogja gitu? Nggak ah. " sahut Armell.
" Hadduh..." Seno berkacak pinggang melihat tingkah istrinya.
" Ya udah, nggak usah mengeluh terus. Ayo cepetan kita berangkat. Keburu siang. Entar keburu nggak ada pesawat yang terbang. " ujar Armell. Tapi Seno masih tidak bergeming.
" Mas.." panggil Armell setengah berteriak. " Mau nggak di ajakin ke Jogja? Kalau nggak mau ya udah. Mell berangkat sendiri. " ucapnya dengan kesal. lalu dengan langkah cepat ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
" Baby, kita pergi ke Jogja. Tapi setelah aku bertanya kepada dokter Ratna. " ujar Seno lembut. Armell sudah akan mengganti bajunya.
Mendengar suaminya berucap seperti itu, Armell menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah suaminya, dan mengangguk tipis.
Melihat suaminya hendak keluar dari kamar, Armell mencegah. " Mas mau kemana? "
" Mau telpon Bryan. Biar di hubungkan sama dokter Ratna. " sahut Seno.
" Telponnya di sini aja. Mell juga mau dengar. Mell nggak mau di bohongi ya. Kalau mas telponan di luar, bisa aja mas nyuruh dokter Ratna bilang nggak boleh. " seru Armell.
Seno membuang nafasnya kasar. ' Bumil satu ini memang istimewa. Tidak bisa di kerjai. ' batin Seno.
Seno lalu menghubungi Bryan dan meminta tolong kepadanya untuk menanyakan ke dokter Ratna, apakah istrinya itu boleh bepergian keluar kota dan naik pesawat apa tidak. Dan Armell mendengarkan dengan seksama keterangan dari dokter Ratna tanpa melewatkan sedikitpun.
💫💫💫
Dan di sinilah sore Seno dan Armell. Armell mengamit lengan Seno sambil berjalan-jalan di sepanjang jalan Malioboro. Armell nampak bahagia sekali. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Berhenti jika ada sesuatu barang yang menarik. Maka dia akan langsung meminta suaminya untuk membelikannya.
" Habis ini, kamu mau kemana? Langsung mau makan di gudeg Jogja? " tanya Seno saat hari sudah menjelang malam dan waktunya makan malam.
" Makan gudeg-nya besok siang aja. Aku pengen ke cafe yang ada Tri Suaka. " ujar Armell.
" Siapa lagi itu Tri Suaka? " tanya Seno karena bingung.
" Itu loh. Yang lagi viral. Suaranya bagus banget. Pengen denger lagi Mendung Tanpo Udan di nyanyiin Trisna sama Nabila. " tambah Armell.
" Baby, aku bener-bener nggak tahu siapa mereka. Nggak kenal sama mereka. " seru Seno.
" Makanya gaul dong mas. Sama berita-berita terkini dan kekinian. Jangan cuma berita bisnis aja yang di simak. " protes Armell.
Seno menghela nafas. Ia tidak mungkin menang melawan sang istri. " Ya udah, sekarang letak cafenya di mana? Kita kesana. " ajak Seno.
" Ya mana aku tahu. Kan aku bukan orang Jogja. " sahut Armell enteng.
' Duuuhhh.... Untung bini gue. Kalau nggak, udah gue tuker tambah. Tadi bilangnya gaul, tahu berita terkini dan kekinian. Lah kok sekarang bilangnya nggak tahu letak cafenya di mana. ' jerit Seno dalam hati.
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Lalu sekarang gimana? " tanyanya.
" Kok malah nanya. Ya...cari informasi kek dimana cafe yang biasanya Tri Suaka manggung. Tuh, Abang becak banyak. Mungkin aja mereka tahu. Gitu aja kok pakek nanya sekarang gimana. CEO, mantan polisi, masak tanya hal sepele aja nggak bisa. " jawab Armell sambil menggerutu. Ia berlalu kemudian duduk di bangku panjang yang ada di taman dekat Malioboro.
Ingin rasanya Seno berteriak. Saat ini, ia ingin memarahi seseorang. Tapi tidak mungkin ia memarahi istrinya. Bisa-bisa sang istri akan menangis kejer. Dan lagi-lagi, ia yang akan susah.
Seno menyusul istrinya. " Kamu di sini dulu. Aku tanya sama orang-orang letak cafe yang kamu maksud itu dimana. Jangan kemana-mana. " perintah Seno.
Armell tersenyum manis sambil mengangguk. Lalu Seno mulai bertanya ke orang-orang yang sepertinya asli orang Jogja.
Cukup lama Seno berkeliling untuk bertanya. Dan akhirnya dia mendapatkan alamat cafe itu. Lalu ia kembali ke tempat istrinya, yang sebelumnya ia memesan taksi online dari aplikasi yang ada di ponselnya.
Menunggu 10 menit, taksi online yang ia pesan tiba. Armell dan Seno kemudian masuk ke dalam taksi itu.
" Bang, anterin ke cafe tempat Tri Suaka manggung. Abang tahu kan ya? " tanya Armell sebelum Seno sempat mengatakan tujuan mereka ke sopir.
" Oh, tahu mbak. Tahu banget malah. Karena Tri Suaka yang sekarang lagi viral, cafenya juga ikut terkenal. " jawab sang sopir.
Armell nampak tersenyum puas. Ia melirik ke arah suaminya sambil tersenyum meledek. Nggak perlu muter-muter tanya ke banyak orang, ia langsung bisa ke cafe yang ia mau. Seno hanya bisa berteriak dan mengumpat dalam hati.
***
bersambung