My Handsome Police

My Handsome Police
Ke dokter



" Mbak Mell....." panggil Pipit dari ruang depan.


Armell yang ketika itu berada di kamar tidur menajamkan pendengarannya.


" Mas, aku kok kayak denger suara Pipit manggil ya. " ujar Armell.


" Perasaan kamu aja kali. Kalau Pipit kesini, dia pasti kasih kabar dulu ke kita. " sahut Seno.


" Mbak....Mbak Melll....." suara itu terdengar lagi.


" Tuh kan mas .." ujar Armell kembali.


" Sepertinya iya. " sahut Seno yang kali ini juga mendengar suara adik iparnya.


Armell bergegas turun dari tempat tidur.


" Baby, hati-hati. Pelan-pelan. Kamu lagi hamil. Kalau kamu susah di bilanginnya, mending kemana-mana aku gendong kamu lagi aja lah. " ancam Seno sambil menghampiri sang istri yang nampak terburu-buru pengen keluar dari kamar.


" Ada Pipit mas. " sahut Armell.


" Iya aku tahu. Tapi nggak perlu pakai buru-buru juga kan. Toh kalau itu emang Pipit, dia nggak akan kemana-mana. Tetep nunggu sampai kamu keluar. " ujar Seno.


" Iya ..deh iya..." jawab Armell. Kini ia beranjak dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan perlahan. Dan Seno mengikutinya dari belakang.


" Mbak....." seru Pipit kala melihat Armell muncul dari dalam kamarnya. Setengah berlari, Pipit menghampiri kakaknya. Lalu mereka saling berpelukan sesaat.


" Kangen banget mbak. Pengen lihat dedeknya juga. " ujar Pipit.


" Kan belum lahir dek. Masih di dalam perut. " sahut Armell.


" Maksud Pipit teh, pengen lihat perut mbak Mell gitu. " sahut Pipit.


Pipit mengalihkan pandangannya ke perut kakaknya setelah pelukan mereka terlepas. Ia tersenyum, lalu mengelus perut kakaknya yang udah mulai membuncit itu.


" Udah berapa bulan ini mbak? Kok perut mbak udah agak gedean. " tanya Pipit.


" Tiga bulan. Udah kelihatan buncit ya? " tanya Armell sambil mengelus perutnya. Lalu ia teringat sesuatu. Ia melihat ke arah pintu masuk.


" Kamu sama siapa kesininya? Ibu mana? " tanya Armell saat menyadari ia tidak melihat sang ibu. "


" Ibu dua hari lagi baru nyusulin kesini. Ibu bilang, besok mau ada janji sama temannya. Nggak enak kalau nggak di tepati gitu. Soalnya janjiannya udah lama banget. " sahut Pipit.


" Teman ibu siapa? "


Pipit mengendikkan bahunya. " Nggak tahu. Ibu cuma bilang, kalau temannya itu selama ini tinggal di luar kota gitu. "


" Eh, Lo kira gue sopir elu apa. Tas Lo nih. " terdengar suara bariton Bryan dari pintu masuk ruang tengah sambil menenteng tas milik Pipit.


Pipit menepuk jidatnya perlahan, " Oh iya. Lupa. He...he...he..." ujar Pipit lalu menghampiri Bryan dan mengambil tasnya dari tangan Bryan.


" Makasih ya Abang bule. " ucap Pipit.


" Hem. " sahut Bryan.


" Loh, kok ada dokter Bryan. Masuk dok. " sapa Armell.


" Kok Lo bisa bawa tas ipar gue? " tanya Seno.


" Iya bang. Tadi Pipit ketemu Abang bule di jalan raya deket terminal. " jawab Pipit.


" Adik Lo nih kecopetan katanya. Handphone nya hilang. " adu Bryan.


" Handphone kamu di copet di terminal?" tanya Armell.


Pipit mengangguk. " Pipit kejar copetnya nggak kekejar. Larinya kencang banget. Untung tadi di temuin sama Abang bule mbak. Kalau nggak, Pipit nggak tahu deh bisa sampai sini apa nggak. " ujar Pipit.


" Syukur deh kalau gitu. Makasih ya dok. " ucap Armell. " Kamu liburan nih ceritanya? " tanya Armell ke Pipit.


" Iya mbak. Pertengahan tahun ini. Habis tes kemarin. Terus libur dua minggu. Mau ngabisin liburan di sini. Mau nemenin mbak. Mbak pasti bisa. di rumah melulu nggak ada temen ngobrol. " ujar Pipit.


" Kakak kamu nggak sendirian. Abang nemenin tiap hari, tiap menit, tiap detik. " sahut Seno.


" Kerja lah. Dari rumah sambil nemenin Kakak kamu. Tapi ada kamu di sini Abang juga seneng. Paling nggak kalau Abang ada meeting dadakan, Abang nggak khawatir ninggalin kakak kamu sendirian. " ujar Seno.


💫💫💫


Hari terus berganti. Kini usia kandungan Armell sudah hampir lima bulan. Tubuhnya semakin sehat berkat imun yang tiap pagi di berikan oleh suaminya. Semakin hari, Seno semakin terbiasa dengan keinginan istrinya yang selalu ada-ada saja. Bukan seperti wanita ngidam pada umumnya. Yang menginginkan suatu makanan di tengah malam. ( Belum saatnya itu, Seno. )


Hari ini adalah jadwal cek kandungan untuk Armell. Armell dan Seno sudah bersiap-siap. Sedangkan Pipit, yang kala itu datang ke rumahnya untuk liburan, kini sudah kembali ke kampung. Karena sekolah telah masuk kembali. Sang ibu juga sama. Beliau juga sudah pulang bersama Pipit. Ibu berjanji akan kembali ke rumah Armell saat Armell mau melahirkan.


Kini Armell dan Seno sudah tiba di rumah sakit. Mereka tidak perlu mengambil antrian lagi karena Seno meminta tolong Bryan untuk mengantrikannya. Tak berselang lama semenjak mereka duduk di bangku tunggu, nama Armell di panggil oleh suster. Lalu mereka segera bergegas masuk ke dalam ruangan.


" Selamat sore, tuan, nona. " sapa dokter Ratna.


" Sore dok. " sapa Armell dan Seno balik.


" Bagaimana kondisinya sekarang nona? Sepertinya semakin sehat ya. " tanya dokter Ratna.


" Iya dok. Alhamdulillah. Makan udah mulai enak. Mual udah nggak. " jawab Armell.


" Pernah merasa sakit seperti kram apa tidak perutnya? " tanya dokter Ratna kembali.


" Alhamdulillah nggak pernah juga dok. " jawab Armell.


" Kalau mengeluarkan flek kecoklatan? "


Armell menggeleng, " Nggak juga dok. "


" Syukurlah kalau begitu. Sepertinya kondisi kehamilan anda sudah baik-baik saja. Kita lihat bayinya kalau gitu. " ujar dokter Ratna. " Mari, saya periksa. " ajaknya.


Armell segera berdiri dan berjalan mengikuti dokter Ratna. Dan jangan lupakan Seno. Ia juga turut mengikuti istrinya.


Armell langsung tiduran di atas ranjang kala sampai di ruang periksa. Suster membantunya membuka baju atasannya sampai terlihat perutnya, lalu menutup kaki Armell dengan selimut.


Dokter Ratna menuangkan sedikit gel ke alat USG yang akan di gunakan untuk melihat isi kandungan Armell. Lalu menempelkannya pada perut Armell.


Dokter Ratna tersenyum saat melihat janin yang ada di kandungan Armell.


" Wah, janinnya sangat sehat ya non. Geraknya sangat aktif. Apa nona sudah pernah merasakan gerakannya? " tanya dokter Ratna sambil menoleh ke arah Armell sebentar.


" Iya dok. Beberapa hari ini, seperti ada yang gerak-gerak gitu di perut. " jawab Armell.


Dan Seno masih tetap asyik memandang calon bayinya dari monitor. Ia tersenyum melihat memang sepertinya bayinya itu sangat sehat.


" Usia tepatnya berapa Minggu ini dok? " tanya Seno.


" Kurang lebih ini sudah memasuki 20 Minggu ini tuan. "


" Apa di usia ini sudah terlihat jari-jari tangannya, kakinya, telinganya? " tanya Seno .


" Sudah, tuan. Jari, tangan, kaki, telinga, mulut, hidung, semuanya sudah terbentuk. Bahkan kukunya juga mulai tumbuh. Rambut juga. Janin di usia 20 Minggu itu berukuran sebesar buah pisang dengan panjang sekitar 25 cm dari kepala sampai tumit dan berat sekitar 315 gram. Dikarenakan janin yang semakin besar, ia akan menghabiskan banyak ruang di dalam rahim. " jelas dokter Ratna.


" Bahkan anda sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya juga. Apa anda ingin tahu bayi kalian laki-laki atau perempuan. " tanya dokter Ratna.


Armell segera menjawab, " Tidak dokter. Kami ingin ini menjadi kejutan saat dia lahir kelak. "


Dokter Ratna tersenyum, " Baiklah kalau begitu. Kalau misalnya anda ingin melihat bayi kalian lebih jelas, kalian bisa melakukan USG 4 dimensi. "


" Bagaimana baby? Mau melihat sekarang? " tanya Seno.


" Besok bulan depan aja lah mas. Lagian sepertinya anak kamu sedang malu. Lihat, dia menghadap ke belakang itu. Kita tidak bisa melihat wajahnya. " jawab Armell.


" Iya, Anda benar nona. Sepertinya bayi kalian belum ingin memperlihatkan wajahnya ke kalian. " sahut dokter Ratna.


" Nggak pa-pa dokter. Yang penting dia sehat. Dan perkembangannya normal. " ujar Armell sambil tersenyum.


Lalu pembicaraan antara Seno, Armell dan dokter Ratna terus berlanjut. Banyak yang di sarankan oleh dokter. Banyak juga pertanyaan yang di ajukan oleh Seno juga Armell. Dan yang membuat Seno dan Armell bernafas lega, sepertinya kandungan Armell sudah baik-baik saja. Sudah tidak perlu betrest lagi. Sudah bisa dan sudah di perbolehkan untuk keluar rumah melakukan aktivitas. Asalkan tidak terlalu berat.


***


bersambung