
Maaf ya kak.... kemarin niatnya mau up 3 episode...tapi mulai dari kemarin malam masih di review terus..... eh, sekalinya selesai review, malah di tolak...jadi revisi lagi deh ...jadi gantinya, hari ini author up 4 episode deh .. Insyaallah...
_________________________________________________
Pagi menjelang
Armell dan Seno masih sama-sama bergelung di balik selimut. Masih sama-sama berada di alam mimpi. Kegiatan mereka semalam banyak menguras energi. Dan baru selesai setelah tengah malam.
Seno mulai bergerak dan menggeliat. Sepertinya ia terbangun terlebih dahulu. Ia membuka matanya perlahan sambil menyesuaikan dengan pencahayaan. Ia melihat dari jendela yang masih tertutup korden, matahari telah bersinar.
Ia kembali mengingat kejadian semalam. Ia memiringkan tubuhnya dan menghadap ke istrinya. Seno menyibak rambut Armell yang berada di pipi. Mengelus perlahan pipi Armell. Kemudian ia mendaratkan satu kecupan di dahi Armell.
Seno tersenyum bahagia. Senyuman itu tidak lepas dari bibirnya. Ia terus memandangi wajah polos nan cantik perempuan yang telah menjadi istrinya seutuhnya itu.
" Terimakasih. " ucapnya sambil kembali mengelus pipi Armell.
Seno rebahan dengan satu tangan menyangga kepalanya. Ia terus dan terus mengelus setiap inci wajah perempuan yang sepertinya sudah masuk ke dalam hatinya.
" Baby, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam hatiku secepat ini? Dulu aku menikahimu hanya karena kasihan melihat kau begitu menginginkan Arvin. Aku tidak pernah berpikir jika pernikahan kita akan terus berlanjut. Tapi kini, semua sudah berubah. Aku benar-benar menginginkan pernikahan ini. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. " ucap Seno kemudian ia meraih tangan Armell dan mengecupnya.
Armell tiba-tiba menggeliat. Tapi matanya masih enggan untuk terbuka.
" Bu, badan Mell capek banget. Pijitin dong Bu...." gumam Armell dalam tidurnya. Sepertinya Armell masih teringat kebiasaannya saat masih di rumah dulu. Jika badannya terasa capek karena habis bertanding, maka pasti pagi harinya ia akan meminta pijit sama sang ibu.
" Sepertinya kamu mengigau baby. Maaf ya aku udah bikin kamu kecapekan. " ujar Seno.
" Bu, tolong pijitin Bu .... punggung sama pinggang Mell rasanya mau patah. " gumam Armell kembali sambil membalikkan badannya sehingga membelakangi Seno. Ia pikir ada ibunya di sana. Jadi biar ibunya gampang waktu mijit, ia balik badan.
Seno tidak tega mendengar Armell yang mengeluh. Seno memasukkan tangannya ke dalam selimut, kemudian memijit perlahan punggung Armell.
( Seno sengaja tidak membuka selimut ya saat mijit... soalnya dia takut khilaf ðŸ¤)
" Sini Bu. " gumam Armell kembali sambil memegang tangan Seno dan mengarahkan ke pinggang.
Seno melakukan apa yang istrinya minta. Ia memijit pinggang Armell. ' Duh, baby. Pagi-pagi kamu udah bangunin si Martinez. Sabar Martinez. Nggak sekarang. Kamu nggak boleh egois. Pemilik sangkarmu sedang kecapekan. ' batin Seno.
" Pijitan ibu enak banget. Tangan ibu terasa beda. Terasa lebih mantap dari biasanya. " gumam Armell lagi.
' Dasar Armeeeelllll.....ya jelas beda dan lebih mantap lah. Kan ini tangan suami kamu....' jawab Seno dalam hati.
Kemudian Armell kembali terlelap. Seno tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Ia lalu bangun saat mendengar pintu kamar di ketuk.
Segera Seno mengenakan bathrope nya dan membuka pintu. Ternyata wanita paruh baya yang mengantarkan baju-baju mereka. Lalu Seno memberikan tips kepada wanita itu, dan membawa baju-baju mereka ke dalam.
Sampai di dalam, Seno memutuskan untuk mandi. Ia ingin berendam untuk melemaskan otot-ototnya yang juga terasa capek karena kegiatannya semalam.
Selama hampir satu jam Seno berendam dan mandi. Setelah selesai ia keluar dari dalam kamar mandi. Ternyata sang istri masih tertidur pulas. Seno tersenyum sambil menghampiri ranjang.
Seno duduk di sisi dekat Armell. Lalu ia mengecup kening, lalu pipi Armell.
" Bangun, baby. " ujar Seno.
" Mmmm...," Armell hanya menggeliat sedikit dengan mata yang masih terpejam.
" Baby, bangun...Udah siang loh. " ujar Seno kembali kemudian mengecup seluruh wajah Armell.
Armell mulai membuka matanya yang masih terasa berat karena merasa terganggu oleh ulah Seno.
" Bentar lagi. Masih ngantuk. " ujar Armell dengan suara serak.
" Udah jam 9 baby. Kamu nggak lapar? " tanya Seno sambil mengelus pipi Armell.
" Tapi masih ngantuk. " jawab Armell.
" Bangun dulu. Sarapan. Habis itu tidur lagi nggak pa-pa. " jawab Seno.
Armell mulai membuka matanya dengan sempurna.
" Iya udah siang. Masih hujan nggak mas? " tanyanya.
" Udah nggak. Udah panas malah. " jawab Seno.
" Ssshhhh.... Badanku kok sakit semua ya. Kayak habis tanding karate. " keluh nya.
" Kan emang kamu habis tanding. Tapi bukan di atas samsak. Tapi di atas ranjang. " sahut Seno.
" Maksudnya? " Armell bertanya sambil memicingkan matanya ke Seno.
" Kamu lupa baby? Semalam kita habis bertanding di atas ranjang. " jawab Seno sambil tersenyum tipis.
Armell mengerjab-ngerjabkan matanya memproses jawaban Seno. Kemudian ia membuka sedikit selimutnya. Lalu ia segera menutupnya kembali. Kini ia menutup tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya.
" Kenapa di tutup seperti itu? Ntar engap loh. Nggak bisa nafas. " goda Seno sambil menahan senyumnya.
" Jadi beneran, semalam kita unboxing? " tanya Armell dari balik selimut.
" Jadi semalam itu nyata? Kejadian? Aku nggak mimpi? " tanya Armell kembali.
" Iya baby...." jawab Seno sambil memaksa Armell menurunkan selimutnya.
Armell kembali menarik selimut itu sampai menutupi kepalanya.
" Baby, Jangan ditutup. Kamu nggak bisa nafas nanti. " ujar Seno sambil menarik selimut yang di pakai Armell.
" Malu. " ucap Armell pelan.
" Kenapa mesti malu baby? Bukankah tadi pagi kamu malah memintaku memijitnya? " ujar Seno.
" Memijit? " tanya Armell sambil membuka selimutnya sehingga kini terlihatlah kepalanya.
Seno mengangguk.
" Memijit apa? Ah, nggak deh. Mas ngarang pasti. " sahut Armell.
" Beneran. Kamu malah yang bawa tangan aku ke pinggang kamu, terus ke punggung kamu, terus naik lagi...sampai ke dada kamu..." goda Seno.
" Bo'ong....." sahut Armell.
" Beneran. " kekeh Seno.
Armell terdiam sambil mencoba mengingat.
" Aaaahhhhh......" Armell memukul-mukul Seno dengan guling. " Ketahuan bohongnya. Aku tadi sepertinya hanya minta di pijit di punggung, iya... pinggang, iya...tapi kalau dada....idiiiihhhhh.... nggak deh ..." bela Armell.
" Ha...ha ..ha .." Seno tertawa terbahak-bahak sambil menangkap guling yang di gunakan Armell untuk memukulnya.
" Baby, katanya malu? Tapi kok di lihatin gitu .." goda Seno kembali saat ia melihat selimut yang di pakai Armell melorot.
" Aaaahhhhh....." pekik Armell sambil membenarkan selimutnya.
" Udah, udah...mandi sana...terus kita sarapan...aku udah lapar. Emang kamu nggak lapar? Semalam habis berolahraga? " ujar Seno sambil berdiri menuju kamar mandi sebelum terkena amukan Armell lagi.
Seno masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Armell pasti akan membutuhkan air hangat untuk berendam. Secara seperti itu hasil yang ia peroleh saat ia browsing di internet cara mengatasi rasa sakit setelah unboxing.
Merasa airnya sudah cukup, Seno kembali ke kamar. Saat sampai di kamar, ia melihat Armell mendesis kesakitan dan agak susah turun dari tempat tidur. Seno segera menghampiri dan mengangkat tubuh Armell.
" Hei, ngapain?? " pekik Armell.
" Bawa kamu ke kamar mandi. Kamu kan susah berjalan gitu. Sakit juga kan? " ujar Seno sambil berjalan membawa Armell ke kamar mandi.
" Jangan macam-macam. " ancam Armell sambil menutup dada dan bawah perutnya.
" Iya. Kamu tenang aja. Aku punya hati. Aku tahu kamu masih sakit. Nggak mungkin aku minta lagi. Emang kayak yang di novel-novel gitu, habis tahu rasanya terus minta lagi dan lagi sampai beronde-ronde..." ucap Seno.
Seno memasukkan Armell ke dalam bathtub yang telah ia isi dengan air.
" Berendam dulu. Biar capeknya agak mendingan. Juga sakit di itu kamu. " ujar Seno. " Baju kamu tadi aku taruh di situ. " lanjutnya sambil menunjuk baju Armell yang ada di meja.
Lalu Seno keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya. Sampai kamar, Seno kembali tersenyum mengingat kelakuan istrinya juga mengingat yang terjadi semalam.
Setelah setengah jam, Armell keluar dari kamar mandi. Ia berjalan dengan masih agak susah.
" Makan yuk. Aku udah pesenin. " ajak Seno sambil menunjuk makanan yang ada di meja.
Armell mendekat dan duduk di kursi.
" Mas, kalau kita pulangnya agak nantian bisa? " tanya Armell.
" Kenapa emangnya? Kamu beneran masih ngantuk? " tanya Seno sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Armell menggeleng. " Kita kan pakai motor, itu pasti sakit kalau di pakai naik motor. Ini aja pakai celana nggak nyaman rasanya. " rengek Armell.
Seno tersenyum dan mengusap rambut Armell.
" Iya. Kita pulang nanti kalau kamu sudah baikan. Kalau perlu kita menginap lagi aja di sini. Besok baru kita pulang. Kita tunggu sampai sakitnya bener-bener hilang. " tukas Seno.
" Mas kan besok harus kerja. " ujar Armell.
" Nggak pa-pa. Sekali-sekali ambil cuti. " jawab Seno.
" Makasih. " ucap Armell.
" Sama-sama. Seharusnya aku yang bilang makasih. Karena kamu telah menjaganya untukku, dan memberikannya untukku. " ucap Seno sambil membelai pipi Armell.
***
bersambung
Maaf ya kak....up nya telat....biasalah kalau ada ++ pasti proses review nya lama...