
Sore itu, Bryan pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja setelah menjalankan operasi terhadap pasien dengan waktu yang lumayan lama. Bryan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah padatnya ibu kota. Sambil mendengarkan alunan musik syahdu menemani sorenya kali ini.
Bryan menatap jalanan sambil sesekali melihat ke kiri dan ke kanan dengan ikut bersenandung mengikuti alunan musik. Sampai di satu titik ketika ia sedang melihat ke kiri dan ke kanan, matanya menemukan seseorang sedang berdiri dengan menggendong tas ransel yang sepertinya sangat penuh. Bryan lalu menghidupkan lampu sein kirinya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Masih di dalam mobil, Bryan menengok ke belakang memastikan benar tidaknya orang yang ia lihat tadi. Setelah menyipitkan matanya, baru Bryan yakin jika penglihatannya tidak salah.
" Ngapain tuh bocah ada di sini? " gumamnya setengah berpikir.
( Tahu dong kalian pasti kira-kira siapa yang di lihat sama Abang bule...)
Bryan melihat Fitria adik ipar dari sahabatnya sedang berdiri membungkuk, dengan kedua tangan yang berada di atas lututnya. Ia seperti sedang menahan lelahnya. Seperti habis di kejar anjing kalau Bryan bilang.
Bryan lalu menghidupkan lampu darurat, dan memindahkan persneling mobilnya ke posisi mundur. Lalu sambil menoleh ke belakang, Bryan memundurkan mobilnya sampai di hadapan Fitria.
Tiinnn....
Bryan membunyikan klakson mobilnya saat ia sudah berada di depan Fitria berdiri. Fitria nampak kaget sambil menggerutu. Bryan melengkungkan bibirnya sedikit.
Bryan menunggu Pipit mendekat. Tapi sepertinya Pipit malah bergerak mundur. Kembali Bryan membunyikan klaksonnya. Kini tidak lagi wajah terkejut yang tercetak di wajah Pipit. Tapi wajah ketakutan.
Akhirnya Bryan turun dari dalam mobil, lalu mengitari mobilnya dan mendekati Pipit. Pipit kembali berjalan mundur beberapa langkah karena ia takut ada seorang pria mendekatinya. Bisa saja sih Pipit menyerang laki-laki itu. Tapi ini ibukota. Bagaimana jika dia malah di hajar masa? Oh tidak.
Sepertinya Pipit tidak mengenali Bryan. Karena ketika itu, Bryan mengenakan kacamata hitam dan baju kerjanya. Kemeja yang di tekuk lengannya hingga ke siku, juga celana formal. Rambut yang di sisir rapi.
" Eh, bocah. " panggil Bryan.
Pipit menengadahkan kepalanya dan menatap laki-laki yang berada di hadapannya ini. Sebentar Pipit berusaha mengenali laki-laki yang ada di depannya.
Dan bruk ..
Pipit berlari dan menabrak tubuh Bryan keras sampai Bryan hampir tersungkur ke belakang. Untung saja pertahanannya kokoh. Pipit melingkarkan tangannya di pinggang Bryan erat sambil menangis.
" Om dokter....hu...hu...hu.... Syukurlah ada om dokter...." ucapnya di sela-sela tangisannya.
Bryan tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan tubuhnya terasa kaku. Kedua tangannya terangkat ke atas dengan wajahnya yang sedikit menunduk melihat ke arah perempuan yang berada di dadanya ini. Jantungnya kembali berdesir. Beribu umpatan keluar dari kepala Bryan.
Bryan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Setelah jantungnya agak tenang, ia memegang lengan Pipit sedikit.
" Hei, lepaskan aku, bocah. " pinta Bryan.
Tidak ada jawaban dari Pipit. Hanya Isak tangisnya yang masih sedikit terdengar. Ia juga tidak melepas pelukannya.
" Hei, aku bilang lepas. Kenapa kamu memelukku erat sekali? " ujar Bryan kembali.
" Hiks... Sebentar aja om....Masih nyaman ini ..Lima menit lagi deh..." sahut Pipit. " Eh, dua menit aja deh udah cukup. " lanjutnya.
Lalu Bryan terdiam beberapa saat sampai akhirnya Pipit melepas pelukannya. Pipit mengusap air mata juga ingusnya menggunakan punggung tangannya. Sedangkan Bryan nampak mengibas-ngibaskan kemejanya.
" Kau membuat bajuku basah oleh ingus mu dan membuatnya lecek juga. " protes Bryan masih sambil melihat kemejanya.
" Maaf. " sahut Pipit sambil mengulurkan tangannya untuk membersihkan kemeja Bryan yang memang sedikit basah di bagian dadanya karena air mata Pipit. Bukan ingus seperti yang di bilang Bryan ya guys....
" Ini bukan ingus ya om. Ini hanya air mata. " ujar Pipit sambil mengelus dada Bryan. Niatnya biar kemeja Bryan yang basah segera kering, tapi malah membuat Bryan makin menggila jantungnya.
" Udah, Minggiran tangan kamu. " ujar Bryan sambil menepis tangan Pipit. " Kamu ngapain di sini ? " tanya Bryan.
Pipit menyedot ingusnya sebelum menjawab pertanyaan Bryan.
" Ih, jorok. " ujar Bryan.
" Biarin. Daripada aku keluarin. Lebih jorok lagi. " sahut Pipit sambil mengusap-usap hidungnya.
" Sekarang jawab kamu ngapain di sini? " tanya Bryan kembali.
" Pipit mau ke rumah bang Seno. " jawab Pipit.
" Terus ngapain malah di sini? " tanya Bryan.
" Habis ngejar copet. " jawab Pipit. " Mau ke rumah mbak Mell, nggak tahu mesti naik bis kota yang mana. Mau naik taksi, nggak ada taksi lewat dari tadi. Sekalinya ada, eh...bawa penumpang. " lanjutnya.
" Gimana mau menghubungi mbak Mell atau bang Seno? Kalau handphone Pipit di jambret sama orang. " Sahut Pipit.
" Hp kamu hilang jadi ceritanya? "
Pipit mengangguk.
" Terus tadi kamu naik apa dari rumah? "
" Naik bis. "
" Emang ada bis luar kota yang lewat sini? Kok kamu turun di sini? "
" Turunnya ya di terminal lah om. Cuma karena ngejar copet yang ngambil hp Pipit, Pipit jadi sampai sini. "
" Terus, ketangkep copetnya? "
" Ya nggak lah. Larinya kencang banget. Kalau ketangkep, ngapain juga Pipit masih di sini. " tukas Pipit.
Bryan manggut-manggut. " Terus, seandainya tadi aku nggak lewat sini gimana? "
" Nggak usah berandai-andai deh om. Yang penting ada om di sini. Pipit seneng banget. Pipit bersyukur banget. Makanya tadi Pipit langsung peluk om dokter saat lihat om di sini. Kayak dapet durian runtuh. "
" Iya sampai nggak di lepas-lepas. " protes Bryan.
" He...he...he...habis terlanjur nyaman. Parfum om dokter juga wangi. He...he..." jawab Pipit sambil tertawa nyengir.
" Ya udah, ayo aku antar ke rumah ipar kamu. " ajak Bryan lalu membukakan pintu untuk Pipit. " Taruh tas kamu di belakang sini. " ujar Seno saat ia membuka kedua pintu mobilnya. Bagian depan juga belakang.
Pipit lalu menaruh tas ranselnya di jok belakang. Setelahnya, ia masuk dan duduk di jok depan. Nampak Bryan sudah duduk di jok kemudi. Ketika Pipit sudah duduk di jok, dan pintu juga sudah di tutup, Bryan menjulurkan sebuah botol.
" Tanganmu mana? "
" Om dokter mau ngapain? " tanya Pipit.
" Pakai hand sanitizer dulu sini. Biar kumannya pada mati. " ujar Bryan.
" Tangan aku bersih ya om. Aku tadi nggak pegang-pegang yang kotor. " elak Pipit.
" Ck. Tadi kamu habis elap ingus. Habis pegang-pegang apa-apa pas di dalam bis. Pasti ada kumannya. " ujar Bryan.
" Ishhh....Dasar pak dokter. " gerutu Pipit. Tapi ia juga mengulurkan kedua tangannya. Dan Bryan menyemprotkan hand sanitizer di atas kedua telapak tangan Pipit.
Setelah itu, baru ia mulai menjalankan mobilnya.
" Kamu kenapa manggil aku om lagi? " protes Bryan.
" Lah kan om juga manggil Pipit bocah. " tukas Pipit.
" Kapan? "
" Tadi. Jangan pikir Pipit nggak denger ya. Meskipun Pipit lagi panik, takut, tapi Pipit denger kok. IQ Pipit kan di atas rata-rata. " sahut Pipit.
Bryan tidak menyahuti. Ia terdiam beberapa saat. Memang benar tadi dia selalu memanggilnya bocah. Sampai tiba-tiba terdengar bunyi perut. Bryan melirik ke samping. Dan Pipit menampilkan deretan giginya yang putih.
" Laper, om. " ujar Pipit.
" Ck. Tapi ada syaratnya. Jangan panggil aku om lagi. " ujar Bryan.
" Siap, Abang bule. " sahut Pipit. " Yang penting Abang bule traktir Pipit di restoran yang mahal. Yang makanannya belum pernah Pipit makan. " lanjutnya.
" Hem. " sahut Bryan.
***
bersambung