
" Mas nggak ngantor hari ini? " tanya Armell saat melihat suaminya pagi ini masih menggunakan pakaian santai. Padahal sudah hampir jam 7 pagi.
" Nggak. " jawab Seno singkat masih sibuk dengan ponselnya.
" Kok? Jangan bilang mas mau bolos. Mentang-mentang perusahaan milik sendiri. Ini kan masih hari Jumat. Besok baru weekend. " ujar Armell.
Mendengar istrinya yang mulai berpetuah, Seno menarik tangan Armell dan membawa tubuh Armell terduduk di pangkuannya.
" Hari ini, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat. Kamu pasti sangat suka. " sahut Seno sambil membelai rambut Armell.
Armell mengerutkan dahinya. " Kemana? " tanyanya.
" Rahasia. Sebaiknya sekarang kamu siap-siap. Bawa baju buat ganti 2 hari. " titah Seno.
" Kita perginya menginap? Kok bawa baju ganti segala. " tanya Armell.
Seno mengangguk. " Cepetan sana siap-siap. Aku juga mau siap-siap. Bentar lagi Damar pasti sampai sini. " ujar Seno sambil mendorong tubuh Armell untuk berdiri lalu menepuk pelan pantat Armell.
" Sama bang Damar juga perginya? " tanya Armell.
Seno mengangguk, " Kita perginya jauh. Kalau harus nyetir sendiri capek. " jawab Seno.
Armell manggut-manggut, lalu dia segera mengambil kopernya dan mengisinya dengan beberapa setelan baju. Juga mengambil beberapa stel baju suaminya. Setelah selesai, ia mengambil satu stel baju untuk ganti sekarang.
Seno terlihat sibuk dengan ponselnya saat Armell selesai mengganti bajunya. Sepertinya ada seseorang yang menghubunginya. Sedikit Armell mendengar pembicaraan itu
" Siapa mas yang mau ikut sama kita? " tanya Armell.
" Itu si Bryan. Dia bilang bete. Bosen di rumah sakit mulu. Pengen cari suasana baru buat weekend. Tadi dia ngajakin kita ke puncak. Tapi aku bilang aku sudah punya planning sendiri. Eh, dianya langsung ikutan. " jawab Seno. Armell hanya menjawab dengan ber-oh ria. " Kamu udah selesai siap-siapnya? ".
" Udah. Gantian mas sana. Aku udah siapin tuh baju gantinya. Berhubung aku nggak tahu kita mau kemana, jadinya aku pilihin baju yang netral aja. " ujar Armell.
" He em. " sahut Seno sambil berjalan mengambil baju di atas tempat tidur yang sudah di siapkan istrinya.
Selang beberapa saat, Seno sudah siap dengan bajunya. Ia melihat sang istri masih menunggunya di sofa.
" Ayo, baby kita turun. " ajak Seno.
Armell mendongak, lalu mengangguk. Seno mengambil koper berisi baju yang telah di siapkan sang istri. Menariknya dengan sebelah tangannya dan mengulurkan tangan sebelahnya lagi untuk menggandeng sang istri.
Saling bergandengan tangan, Armell dan Seno menuruni tangga. Di bawah ternyata Damar sudah menunggu. Dia sedang menikmati kopi yang di sajikan oleh Lilik tentu saja.
" Damar, udah lama? " sapa Seno saat melihat Damar.
Mendengar suara bosnya, Damar langsung berdiri. " Selamat pagi, tuan. " sapanya. " Saya barusan tiba tuan. "
" Kita tunggu Bryan dulu sebentar. Dia bilang mau ikut. " ujar Seno.
" Baik tuan. " jawab Damar sambil sedikit membungkuk.
" Oh iya, bang Damar pasti belum sarapan kan? " tebak Armell. " Sarapan dulu bang. Biar di siapin sama mbak Siti. "
" Duh, nggak usah non. Saya sudah sarapan tadi. " jawab Damar tidak enak hati.
" Bang Damar bohong nih. Bang Damar kan masih hidup sendiri. Jam segini pasti belum sarapan. Bentar biar Mell minta mbak Siti siapin sarapan buat bang Damar. " ujar Armell.
" Aduhh, non...."
💫💫💫
Kini mereka sudah dalam perjalanan. Armell dan Seno duduk di belakang. Damar mengemudi dan Bryan duduk di sebelah Damar. Meskipun perjalanan yang lumayan jauh dan lama, tapi mereka menikmatinya.
" Mas, tunggu deh. Ini kok kita lewat sini? " tanya Armell sambil memperhatikan jalanan yang mereka lalui. " Jangan-jangan....Kita mau ke kampung halaman Mell ya? " tebak Armell dengan mata berbinar sambil memandang suaminya.
Seno tersenyum tipis dan mengangguk.
" Beneran? Kita mau ke tempat ibu? " tanya Armell kembali.
Seno mengangguk.
" Wahhhh.....asyik....Mas tahu banget kalau Mell kangen banget sama ibu. Kok mas nggak kasih tahu dari kemarin sih? Kalau tahu dari kemarin kan Mell bisa beliin oleh-oleh buat ibu, Pipit, teman-teman Mell di kampung, sama tetangga juga. " ujar Armell.
" Namanya juga kejutan, baby. Kalau masalah oleh-oleh kamu nggak usah khawatir. Bagasi tuh udah penuh sama oleh-oleh. Kalau masih kurang, ntar kita berhenti di kota. Belanja lagi. " sahut Seno.
" Nggak usah sih. Tapi .. Makasih banyak ya sayang..." cup...cup...cup... ucap Armell sambil mencium pipi Seno berkali-kali. Lalu memeluk Seno karena saking senangnya ia akan bertemu sang ibu kembali.
" Cuma di pipi nih? Sini dong. " ucap Seno sambil menunjuk bibirnya.
Dan cup....satu kecupan di lanjut dengan ******* mampir di bibir Seno. Seno agak terkejut dengan perlakuan istrinya. Karena biasanya istrinya akan marah jika ia mencium bibirnya dan ada orang lain di sana. Tapi ini malah Armell sendiri yang dengan senang hati mencium bibirnya, bahkan **********.
Tapi rasa terkejut itu tak berlangsung lama karena namanya juga si Seno. Mana pernah dia melewatkan kesempatan langka seperti ini. Iapun membalas ******* bibir Armell.
" Ehm...ehm...." Bryan berdehem. Membuat Armell dan juga Seno menghentikan aktivitasnya.
" Gangguin aja Lo. " ucap Seno kesal.
" Habisnya Lo berdua nggak tahu diri banget. Yang di sini nih orang ya. Bukan patung. " sahut Bryan.
" Lagian siapa juga yang nyuruh lo ikut. Resiko Lo ya. " tukas Seno.
" Makanya dok...Jangan kelamaan jomblo. Nikah sana. Enak loh dok, nikah itu. Bisa enak-enakan tiap hari. Bisa ngerasain surga dunia yang halal. " sahut Armell.
" Ck. Nih orang berdua sama aja. " umpat Bryan.
" Kesal kan dok? Kalau lihat orang lagi mesra-mesraan? Soalnya dokter pengen ikut mesra-mesraan, tapi sayangnya, nggak ada lawannya. " tambah Armell.
Sedangkan Seno yang sudah menahan tawanya semenjak tadi, akhirnya keluar juga. Ia tertawa terbahak-bahak. Jangan tanya bagaimana wajah Bryan sekarang. Ia sangat kesal. Kalau tidak ingat jika perjalanan mereka sudah terlanjur jauh, ia pasti meminta untuk kembali pulang saja.
" Kalian ini emang pasangan serasi ya. Pantes aja kalian berjodoh. Otaknya sama-sama mesum. Sama-sama kayak kompor meleduk. " umpat Bryan.
" Kesal kan dok? " tanya Armell. " Sayang, kita panasin aja lagi. Biar habis ini, dokter Bryan langsung cepat cari istri. " ujar Armell sambil menangkup wajah Seno. Lalu menempelkan kembali bibirnya ke bibir suaminya. Bahkan **********.
Gila emang. Seorang Armell yang polos, kini otaknya sudah terkontaminasi. Semenjak beberapa hari belakangan ini, ia seperti tidak punya malu lagi untuk bermesraan dengan suaminya. Sedangkan Seno, tentu saja ia senang melihat kemajuan sang istri. Ia malah semakin di buat gemas.
Melihat pemandangan di belakangnya, membuat Damar memerah mukanya. Siapa yang berciuman, siapa yang malu. Sedangkan Bryan menjadi semakin kesal di buatnya.
Armell melepas ciumannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ia menaruh kepalanya di pangkuan sang suami. " Mell ngantuk mas. Entar kalau udah sampai, bangunin ya. " pinta Armell sambil memejamkan matanya.
" Tidurlah. " sahut sang suami sambil membelai lembut rambut sang istri. Hingga tidak perlu menunggu lama, Armell sudah terbuai dalam mimpi.
***
bersambung