
Di sinilah Armell sekarang. Di rumahnya di kampung. Kemarin sore, Armell meninggalkan rumah sakit, juga meninggalkan ibukota. Seno menyuruh orang kepercayaan dan sekaligus bodyguardnya yaitu Damar untuk mengantar istri, ibu mertua, serta adik iparnya pulang ke kampung halamannya.
Berat sejujurnya bagi Seno membiarkan istrinya pergi seperti itu. Tapi setelah menimang dan menimbang perkataan mama dan juga ibu mertuanya waktu di rumah sakit kemarin, Seno memutuskan akan mengijinkan istrinya pulang ke kampung bersama ibunya.
Dan di sinilah Seno sekarang. Setelah mengantar istrinya pergi, Seno enggan untuk pulang ke rumahnya. Ia memilih untuk pulang ke rumah besar. Di sini akan ada sang mama yang cerewet, juga sang papa yang jahil. Jadi ia tidak akan kesepian.
Seno menatap langit-langit kamarnya sambil sesekali mengusap matanya yang basah. Ia teringat akan wajah sedih sang istri saat mengetahui kalau ia keguguran. Ia teringat pandangan kosong sang istri saat di rumah sakit. Bahkan saat ia hendak pulang tadi, pandangan Armell masih sering kosong. Sakit, sedih. Itulah yang Seno rasakan sekarang.
Seno berusaha untuk memejamkan matanya. Hari telah larut. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sekuat apapun Seno berusaha memejamkan matanya, tetap saja ia tidak bisa tidur. Seno kembali membuka matanya. Ia beranjak duduk di tepi ranjang. Mengambil ponselnya. Ingin sekali ia melakukan video call dengan istrinya. Baru tadi sore mereka berpisah dengan istrinya, ia sudah begitu merindukannya.
Niat untuk menelepon sang istri, ia urungkan. Seno menarik nafas dalam-dalam. Ia merebahkan tubuhnya kembali. Berusaha untuk memejamkan matanya kembali. Tapi sia-sia. Ia tetap tidak bisa tidur. Akhirnya dia beranjak bangun, lalu mengambil ponsel juga kunci mobilnya, dan keluar dari kamar.
Ia berjalan cepat menuruni tangga, sedikit berlari melewati ruang tengah. Saat itu, sang mama yang sedang berjalan keluar dari dapur karena habis mengambil air minum, melihatnya.
" El...." panggil Nyonya Ruth. " Mau kemana kamu? "
Seno berbalik. " El,.,...El mau menyusul Armell ma. El nggak bisa seperti ini. El nggak sanggup ma. El harus ketemu Armell. " ucapnya terburu-buru.
" El, kamu lihat kan. Lusi itu masih belum siap untuk bertemu denganmu. Makanya ia menjauh dari kamu. Mama yakin, jika kamu kesana, dia juga tidak akan menemuimu. " Jawab sang mama.
" El tahu ma. Tapi sampai kapan? El nggak bisa kayak gini. El harus berusaha membawa Armell pulang ke rumah kami. El harus menunjukkan ke dia, kalau El sama sekali tidak menyalahkannya dengan apa yang sudah terjadi. " ungkap Seno.
" Tapi ini sudah sangat larut. Berangkatlah besok pagi El. " sahut sang mama
" Nggak ma. El nggak bisa tidur sebelum ketemu istri El. " ujar Seno.
" Lalu, kamu mau pergi sama siapa? Ini sudah larut malam. " tanya sang mama.
" Sendiri ma. Nggak mungkin El ajak Rezky. Dia besok harus ke kantor. Dia harus gantiin El di perusahaan. Damar, tadi dia sudah nganter Armell. Mungkin saat ini ia belum sampai rumah. " sahut Seno.
" Ya udah, kamu ajak Pak Wiryo. "
" Nggak usah ma. Kalau mama mau pergi-pergi gimana? Lagian ma, El di sana belum tahu sampai kapan. Berapa hari El bakalan di sana. Kasihan juga kalau El ajak orang lain. "
" But, El....Mom worry about you. "
" Ma, please, don't worry. Mama doain aja, semoga El bisa cepet bawa Mell balik kesini. " pinta Seno.
Nyonya Ruth memeluk Seno, " Mama pasti selalu doain yang terbaik buat kamu. Yang terbaik buat kalian. Mama juga sangat berharap, Lusi segera kembali bersama kita. " ucapnya sambil mengusap-usap punggung seno.
" Thank you, mom. You are the best. " sahut Seno sambil melepas pelukan mamanya. " El mau minta tolong ke mama, pamitin sama papa ya ma. Tolong bilang ke papa, maaf, El belum bisa urus perusahaan dengan baik. El janji ma, setelah masalah El ini selesai, El akan berusaha keras untuk perusahaan. "
" Iya, nanti mama sampaikan. Kamu hati-hati ya. Nggak usah ngebut. Kalau capek, berhenti, istirahat dulu. "
" Yes, mam. El pamit dulu. " pamit Seno dan nyonya Ruth mengantarnya sampai depan pintu keluar.
Seno segera membawa mobilnya meninggalkan pekarangan rumah besar keluarga Adiguna.
💫💫💫
Tepat saat mentari mulai bersinar di ufuk timur, Seno sampai di depan rumah Armell. Ia tidak langsung turun. Rumah itu masih nampak sepi dan terkunci dari dalam.
Ia hanya berdiam diri menatap rumah itu. Membayangkan jika saat ini ia sudah berada di dekat istrinya, tiba-tiba mata Seno terasa berat. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Tak lama kemudian, ia terbuai ke alam mimpi.
Fitria langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia mengurungkan niatnya untuk menyapu halaman depan rumahnya. Ia buru-buru masuk kedalam rumah dan menyusul ibunya yang sedang ada di dapur.
" Bu,...." Fitria memanggil ibunya sambil menepuk pelan bahu ibunya.
" Astaghfirullah haladzim.....Ini anak kebiasaan. Sukanya bikin ibunya jantungan. " omel ibunya.
" Maaf, Bu. Itu Bu, Pipit mau kasih tahu, ada bang Seno di depan Bu. " ungkap Fitria.
" Kakakmu di sini? " ibu tak kalah terkejutnya. Lalu segera ke depan untuk menemui menantunya. Fitria mengikuti dari belakang. Ibu celingak-celinguk mencari menantunya. Fitria ikut-ikutan celingak-celinguk.
" Bu, bang Seno masih ada di mobilnya. Dia tidur. " ucap Fitria dengan wajah cengonya.
Plak
Ibu memukul pundak Fitria. " Kenapa nggak bilang dari tadi? Mau ngerjain ibu? "
Ibu segera menghampiri mobil Seno.
" Kita bangunin nggak ya Pit? "
" Nggak tahu. Tapi kelihatan bang Seno capek banget Bu. Kita biarkan saja lah dulu biar dia istirahat. Lagian, kalau bang Seno kita suruh masuk dan tidur di dalam, gimana sama mbak Mell? " ujar Fitria.
" Kamu bener banget. Ya udah deh, kita tinggalin aja dulu. Biar dia istirahat. Kamu juga cepetan siap-siap mandi, berangkat sekolah. Kamu udah ijin berhari-hari loh. Ntar ketinggalan pelajaran terus kamu. " ucap sang ibu.
" Ibu tenang aja. Anak ibu ini otaknya encer, tinggal pinjam catatan teman, Pipit pelajari, bisa deh. " ujar Fitria dengan PDnya. Armell dan adiknya memang sama-sama cerdas.
Lalu ibu dan Fitria memilih untuk kembali ke dalam rumah. Sampai di belakang, mereka bertemu Armell.
" Ibu, darimana? " tanya Armell.
Ibu dan Fitria sama-sama terkejut. " Da-dari depan. Ini tadi kasih tahu Pipit, ibu suruh cepetan mandi. Kan harus berangkat sekolah. " jawab ibu gelagapan.
Melihat Armell berjalan menuju ke depan, ibu segera menghentikannya.
" Mau kemana Mell? " tanya ibunya.
" Mau ke depan Bu, cari angin. " jawab Armell.
" Eh, eh, eh...jangan dulu. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Di luar dingin. Kamu masuk ke kamar lagi aja. Nanti kalau udah agak siangan, baru keluar. " ucap ibunya
Tanpa bicara lagi, Armell mematuhi apa yang di bilang ibunya. Armell kembali ke dalam kamar.
Ibu sedikit melongok ke arah Armell. Memastikan Armell telah masuk ke dalam kamarnya.
" Pit, kamu cepetan mandi, terus siap-siap. Nanti kamu sekalian bangunin Abang kamu. Ajak dia kemana gitu. Kamu ajak sekolah juga boleh. " pinta ibunya.
" Siap nyonya besar. Pipit bakalan umpetin bang Seno. " jawab Fitria. Lalu ia segera pergi mandi.
***
bersambung