My Handsome Police

My Handsome Police
Bingung



Seno dan Bryan menjelaskan kondisi Armell saat ini. Semua keluarganya sama-sama terpukul. Nyonya Ruth merasa tidak bisa menjaga menantunya karena akhir-akhir ini Armell sering bersamanya.


" Ya Allah...Ini salah mama. Mama dengan gampangnya sering ajak mantu mama jalan-jalan kemana-mana. Mama nggak bisa jagain mantu mama. Mama nggak bisa jagain calon cucu mama. Hua.....Padahal Lusi sempat tinggal sama mama berhari-hari. Betapa bodohnya mama yang tidak tahu kalau Lusi sedang mengandung. Hua....." cerocos Nyonya Ruth sambil menangis meraung-raung.


Tuan Adiguna langsung menarik istrinya dalam dekapannya. " Sudah, ma. Mama jangan kayak gini. Kalau mama merasa seperti itu, papa juga merasa bersalah. Papa yang sudah bawa Lusi tinggal di rumah kita. " ujar Seno yang juga menitikkan air matanya.


Sedangkan ibu Armell hanya bisa menangis dan menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia yang paling merasa bersalah. Karena tidak memperhatikan anaknya. Ia bahkan sudah berbulan-bulan tidak melihat sang putri.


" Tante, Bryan minta sama Tante berdua, tolong jangan menangis di depan Armell. Dia butuh dukungan saat ini. Kita harus menjaga mentalnya. " ucap Bryan.


Nyonya Ruth dan ibu Armell langsung menyeka air mata mereka dan mengangguk.


" Sebaiknya kita kembali masuk. Nanti kalau tiba-tiba Lusi sadar dan kita tidak ada di sana, dia akan mencari kita. " ajak tuan Adiguna.


Lalu mereka semua masuk ke dalam kamar. Terlihat Armell masih enggan membuka matanya. Seno langsung duduk di kursi samping istrinya terbaring. Ia menggenggam erat tangan Armell. Lalu mengangkatnya dan mengecup punggung tangannya.


Waktu berlalu. Kini hari sudah gelap. Malam telah menyapa. Tapi tidak seorang pun yang beranjak dari kamar Armell. Mereka masih setia menunggu Armell sadar.


Perlahan, Seno merasa tangan Armell yang ada di genggamannya bergerak perlahan.


" Baby...." Panggil Seno. " Baby, kamu sudah sadar? "


Semua keluarga termasuk Bryan langsung menghampiri Armell.


" Armell sudah sadar? " tanya Bryan saat ia baru berada di dekat Armell.


" Tadi gue ngerasa tangannya gerak-gerak. " sahut Seno.


" Bentar, gue periksa dulu. " ujar Bryan. Ia lalu mengeluarkan stetoskop dari kantong jas dokternya. Ia mulai memeriksa detak jantung Armell, lalu memeriksa tekanan darahnya, terakhir melihat ke bola mata Armell.


" Semuanya normal. Dan kelihatannya dia memang sudah sadar. Kita tunggu sebentar lagi. Dia pasti segera membuka matanya. " ujar Bryan memberi tahu.


Dan benar saja. Tak lama dari itu, Armell mulai menggerakkan matanya. matanya terbuka perlahan sambil menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan itu.


" Baby .." panggil Seno sambil mengelus pipi Armell dan mengecup punggung tangannya.


Armell menoleh ke arah Seno, kemudian beralih menatap ke semua yang ada di ruangan itu. Lalu ia melihat ke seluruh ruangan itu. Ruangan yang terlihat asing baginya.


" Mas, aku di mana? " tanya Armell dengan suara lemah ke Seno.


" Kamu di rumah sakit, baby. "


" Aku kenapa? Kok di rumah sakit? " tanyanya lagi.


" Tadi kamu pingsan waktu habis wisuda. " hanya itulah yang bisa Seno katakan. Ia masih belum sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya ke istrinya.


" Pingsan? Kenapa? "


" Kamu kecapekan. " jawab Seno singkat.


" Udah, jangan banyak bicara dulu. Kamu harus banyak istirahat dulu. " potong Bryan. Ia mengerti posisi Seno.


Sedangkan mama Seno dan ibu Armell sedang mati-matian menahan air matanya supaya tidak menetes.


" Mas, haus. " ujar Armell lirih.


Seno mengangguk. Lalu ia bangkit dan mengambil minum yang ada di meja dekat sofa. Sebelum kembali ke Armell, Seno sempat mengusap matanya yang agak basah. Pipit yang melihatnya, segera menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Seno. Seno menjawab dengan mengangguk.


Seno segera kembali menghampiri Armell. Ia menyendok air dari gelas sedikit demi sedikit dan menyuapkannya ke Armell.


" Kamu juga harus makan, Mell. " perintah Bryan.


" Iya, baby. Kamu harus makan. Tadi siang kamu nggak sempat makan. Kamu mau makan sesuatu? Biar aku belikan. " ujar Seno lembut sambil mengelus pipi Armell.


Armell menggeleng lemah. " Mell nggak pengen makan apa-apa. "


" Tapi kamu harus makan Mell. " ujar Bryan.


" Aku belikan kamu makan. Sebentar. Sekalian aku juga belikan makan buat ibu dan yang lain. " ujar Seno lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu persetujuan dari istrinya.


Sampai luar kamar, Seno berjongkok. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Dan menangis sejadi-jadinya. Itulah alasan kenapa dia sangat ingin keluar dari kamar. Ia tidak tega melihat istrinya.


Setelah puas menangis, Seno beranjak dan pergi membeli makanan.


💫💫💫


Hari berganti. Pagi nan indah dan cerah menyapa. Semalaman Seno menemani sang istri di rumah sakit. Sedangkan mama dan papanya pulang saat hari telah larut. Dan ibu Armell juga Fitria di jemput oleh Rezky dan pulang ke rumah Seno. Sebenarnya ibunya enggan pulang semalam. Tapi Seno memaksanya untuk pulang.


Saat ia masih menikmati wajah tampan suaminya, Seno mulai membuka matanya perlahan.


Cup....Seno mengecup bibir Armell sekilas.


" Morning, baby. " ucapnya. Lalu ia bangkit dari duduknya. Ia turun dari ranjang.


" Sebentar lagi suster pasti kesini untuk membersihkan tubuhmu. " ucap Seno. " Aku mandi dulu sebentar. " tambahnya sambil berlalu dari hadapan Armell.


Sebenarnya Armell merasa aneh dengan tingkah suaminya yang seakan-akan selalu menghindar darinya.


" Mas, kamu kenapa? " tanya Armell saat Seno sudah selesai mandi.


" Aku? Aku nggak pa-pa. " jawab Armell.


" Bohong kamu mas. Pasti terjadi sesuatu. "


" Nggak ada, baby. "


Tok...tok ..tok...Pintu di ketuk dan tak lama masuklah seorang suster.


" Pagi Nyonya Armell..." sapa sang suster.


" Pagi, sus. "


" Di lap dulu badannya ya. " ujar sang suster lembut.


" Sus, boleh minta suami saya saja yang bantuin saya? " tanya Armell karena ia malu jika harus di bantu oleh suster itu.


Sang suster tersenyum lembut, " Boleh Nyonya. Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu. Nanti kalau sudah selesai panggil saya saja lagi. "


Lalu sang suster segera berlalu dari kamar itu. Seno yang tadi sudah senang karena ada suster, sehingga Armell tidak akan bertanya-tanya lagi kepadanya, kini sirna. Ia kembali berdua dengan Armell.


Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. Ia tahu jika istrinya itu sedang menatapnya tajam. Tapi tak di hiraukannya. Ia mulai membuka baju istrinya dan mengelap badan Armell perlahan. Seakan ia sedang membersihkan porselen yang apabila jatuh akan hancur berantakan.


Tak lama setelah Armell sudah bersih, tuan Adiguna dan yang lain tiba di sana. Seno bisa bernafas lega. Paling tidak jika ia memang harus mengatakan semuanya ke Armell sekarang, ada orang lain di sana. Karena ia tidak tahu akan seperti apa reaksi Armell jika tahu kondisinya.


" Selamat pagi, nak..." sapa ibu Armell sambil mencium kening Armell.


" Pagi, Bu. " jawab Armell tersenyum.


" Good morning, sayang. " sapa mama mertuanya sambil mengecup keningnya juga dan memeluknya.


" Morning, mama. " balas Armell sambil memeluk mama mertuanya juga.


" Pagi, anakku. " sapa sang papa mertua sambil mengecup kening Armell.


" Pagi, pa. " sahut Armell.


" Kakak...." sapa Fitria manja sambil merentangkan kedua tangannya.


Armell menyambut rentangan tangan Fitria. Lalu mereka saling berpelukan, " Anak manja. " ledek Armell.


" Pa, boleh Mell bertanya? " ujar Armell ke tuan Adiguna.


" Ada apa sayang? " jawab tuan Adiguna.


" Papa tahu, mas Seno sikapnya aneh ke Mell mulai dari semalam. Apa papa tahu kenapa mas Seno jadi seperti itu? " tanya Armell sambil melirik ke arah suaminya yang sedang berdiri di sebelah ibu Armell sambil bersedekap.


" Kenapa kok malah tanya ke papa? Kenapa tidak tanya langsung ke orangnya. Bukankah orangnya juga ada di sini? " ujar tuan Adiguna sambil membelai rambut Armell.


Seno langsung menatap tak percaya ke arah papanya. Bisa-bisanya sang papa memberi jawaban seperti itu ke Armell. Mati-matian dia sedari tadi malam menghindari pertanyaan Armell, eh ini malah sang papa yang menyerangnya. Sungguh papa yang tidak bisa di harapkan.


Tapi lain dari apa yang di kira Seno. Tuan Adiguna juga bingung bagaimana harus berbicara ke menantunya. Sungguh, menghadapi hal ini adalah sebuah dilema besar untuk tuan Adiguna. Seorang pengusaha ternama dan sukses, mati kutu karena masalah yang di hadapi menantunya. Ia tidak punya keberanian untuk berterus terang ke menantunya.


Ceklek


Semua mata mengarah ke pintu yang baru terbuka dari luar. Yang di tunggu-tunggu Seno sedari tadi akhirnya datang juga. Mereka adalah dokter Ratna juga Bryan. Tadi saat keluarganya baru sampai, Seno segera mengirim pesan ke Bryan kalau Armell sudah menuntut jawaban. Akhirnya Bryan membalas pesannya, jika ia juga sedang menunggu dokter Ratna tiba.


Dan di sinilah mereka semua berada. Saling sibuk dengan debaran jantung masing-masing. Tak elak, dokter Ratna pun seperti itu. Berhadapan dengan kasus seperti ini membuatnya agak ketakutan. Karena apa yang akan ia sampaikan bisa menjadikan trauma tersendiri bagi yang bersangkutan.


***


bersambung