My Handsome Police

My Handsome Police
Imun pagi



Pagi ini, Seno bangun lebih awal daripada istrinya. Setelah ia membuka matanya, hal pertama yang ia lakukan adalah menatap dalam-dalam wajah tenang dan nyaman sang istri yang berada dalam pelukannya. Lalu ia menghadiahi sebuah kecupan di kening Armell perlahan.


Seno hendak bangun, tapi begitu mengingat sesuatu ia urungkan. Ia kembali menatap sang istri. Dan benar sesuai dugaannya, istrinya mulai terbangun. Meskipun belum membuka matanya. Tapi tangannya sudah mulai meraba-raba sesuatu. Seperti mencari sesuatu.


Seno melihat arah tangan Armell bergerak. Lalu ia memejamkan matanya. Berdoa dalam hati. Semoga sesuatu yang ia khawatirkan tidak terjadi.


Semalam, Seno berpikir keras dan akhirnya dia memutuskan untuk mencoba membiarkan sang istri berbuat sesuai keinginannya. Seno akan melakukannya dengan rela asalkan itu bisa membantu meringankan morning sick yang di alami sang istri.


Seno menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menahan sesuatu saat tangan Armell mulai bermain di bawah sana. Seno mengerang. Sedangkan Armell yang merasa jika suaminya tidak menolak, melengkungkan bibirnya ke atas.


" Semoga pengorbanan Martinez kali ini tidak sia-sia. Anak Daddy, habis ini, jangan bikin mommy kamu muntah-muntah lagi, oke. " batin Seno dalam hati seolah berbicara dengan anaknya yang masih berada di dalam kandungan istrinya.


Armell membuka matanya lebar-lebar, lalu tersenyum menatap wajah Seno yang sedang menahan gairahnya. Dan itulah yang di inginkan Armell. Entah kenapa, ia sangat ingin melihat wajah suaminya yang sedang bergairah. Sungguh bumil yang satu ini benar-benar tega mengerjai suaminya.


" Oh, baby....." ujar Armell sambil mengerang, menutup matanya rapat-rapat dan sebelah tangan berada di atas kedua matanya.


Armell semakin senang melihat suaminya. Lalu ia beranjak bangun, lalu mencium bibir suaminya. Bukan mencium saja, tapi juga mel****nya. Dan Seno tentu saja segera membalas.


Armell semakin menggila. Ia membuka celana boxer suaminya. Lalu ia menunduk dan bermain di sana.


" Baby...." erang Seno sambil meremas sprei tempat tidurnya.


Mendengar suara merdu sang suami, Armell segera menghentikan aksinya. Ia duduk dan menatap wajah kemerahan sang suami yang sedang di landa gairah. Armell kembali tersenyum puas melihat wajah suaminya. Lalu ia menghadiahi sebuah kecupan di kening sang suaminya.


" Terima kasih, sayang. Atas paginya yang hot. " ucap Armell.


Seno membuka matanya dan menatap istrinya yang hendak turun dari tempat tidur. " Mau kemana, baby? " tanyanya.


" Ke kamar mandi. Mau mandi. " jawab Armell santai.


" Lalu, bagaimana ini? " tanya Seno sambil melihat ke arah bagian bawahnya yang masih terbuka dan menantang.


" Ya udah, di tutup lagi. Kan udah selesai. " sahut Armell enteng.


" Selesai? " tanya Seno sambil mengernyit tak percaya. " Cuma begitu saja? " lanjutnya.


Armell mengangguk.


" Tap....Baby...." Seno sepertinya mengerti dengan apa yang terjadi. " Jangan bilang kamu mengerjaiku. Kenapa cuma begini? Bukankah kemarin kamu bilang kamu ingin menyentuhku, dan aku menyentuhmu? Tapi aku belum sempat menyentuhmu, baby. " protes Seno.


" Itu kemarin, sayang. Hari ini keinginanku berubah. Aku hanya ingin melihat wajahmu yang sedang bergairah. " jawab Armell tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun.


" Apa? " Seno di buat melongok oleh keinginan ajaib sang istri.


" Kamu tahu mas, wajahmu yang sedang bergairah terlihat lebih tampan dan keren. Rasanya aku ingin mengabadikannya. Ah, kenapa tadi aku tidak memvideokannya. Seharusnya tadi aku mengabadikannya. Besok, aku pasti akan mengabadikannya. " ujar Armell sumringah sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pagi ini, Armell terlihat begitu segar. Tidak seperti pagi-pagi biasanya yang ia selalu mual dan muntah.


Melihat tingkah sang istri dan apa yang di katakan istrinya tadi, membuat Seno semakin terkejut. Bagaimana bisa istrinya berubah menjadi seperti itu karena efek kehamilannya.


" Baby, tunggu. " cegah Seno. Ia membenarkan boxernya lalu turun dari tempat tidur.


" Ada apa? Tidak usah menggendongku mas. Aku baik-baik saja pagi ini. Sepertinya pagi ini imun yang aku dapatkan sangat pas. " ujar Armell.


Seno menghentikan langkahnya. " Apa kamu tidak mual? Apa kamu tidak ingin muntah? " tanya Seno memastikan.


Armell menggeleng sambil tersenyum, " Sepertinya tidak mas. Perutku baik-baik saja pagi ini. Tidak ingin muntah. " jawab Armell sambil mengelus perutnya. " Sepertinya seperti yang aku bilang tadi, imun pagi ini sangat tepat. " lanjutnya.


" Syukurlah kalau begitu. " ucap Seno.


Armell lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.


" Baby, tunggu..." teriak Seno kembali.


Armell kembali menghentikan langkahnya, " Ada apa lagi mas? " tanyanya sambil menoleh ke arah suaminya.


Seno berjalan mendekat. " Ayo kita mandi. Aku juga mau mandi. " ajak Seno sambil merangkul bahu Armell.


" Mas, jangan macam-macam ya. Ingat pesan dokter, nggak boleh ada goncangan. " ujar Armell sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. Lalu mendorong pelan dada Seno.


Armell menggeleng, " Sekali nggak, tetap nggak. Mell mau mandi sendiri. Biar nggak pakai lama. Kalau lama-lama, entar masuk angin. "


Lalu ia berjalan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


" Beb, lalu bagaimana dengan ini? " tanya Seno sambil menunjuk Martinez.


" Emang kenapa? " tanya Armell pura-pura bloon. Ia kini sudah memegang pintu kamar mandi dan hendak menutupnya.


" Kamu sudah membangunkannya, baby. Jadi kamu harus bertanggung jawab untuk membuatnya tidur kembali. " sahut Seno.


" Urusan membangunkan, emang aku ahlinya. Tapi kalau untuk menidurkan, mas sepertinya lebih ahli. " jawab Armell lalu segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Setelah berada di dalam kamar mandi, Armell tertawa terbahak-bahak.


" Baby...." teriak Seno memprotes sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Tapi Armell tetap saja tertawa di balik pintu kamar mandi.


" Oh, ****. Kamu sepertinya dikerjain oleh pemilik sangkar emasmu Martinez. " umpat Seno sambil memandang ke bawah.


Sedangkan di dalam kamar mandi, tiba-tiba Armell berhenti tertawa. Karena tiba-tiba ia mempunyai keinginan yang lain. Oh, sungguh anaknya ini luar biasa. Sepertinya sang calon baby-nya kasihan dengan sang Daddy.


Armell tiba-tiba merasakan gejolak ingin mengajak suaminya mandi bersama. Ia merasa ingin bersenang-senang di dalam kamar mandi. Karena selama ini, ia dan suaminya tidak pernah bersenang-senang di dalam kamar mandi.


" Oh, ya Tuhan...Apa ini karma karena tadi aku sudah berani menolak ajakan Suamiku? " gumamnya sambil mondar-mandir. Ia ingin memanggil suaminya, tapi ia masih terlalu gengsi.


Tapi semakin di tahan, keinginan itu semakin membesar. Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba kaki Armell melangkah ke dekat pintu, dan tangannya mengulur membuka knop pintu. Setelah pintu terbuka, ia melongokkan kepalanya ke luar kamar mandi.


Armell melihat sang suami sedang tidur telentang dengan satu tangannya menutup wajahnya. Terlihat di sana, Martinez masih belum tertidur. Bahkan si Martinez semakin tegak berdiri.


" Sayang....." panggil Armell pelan. Ia masih tetap berada di balik pintu. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Karena tubuhnya sudah polos.


Seno tidak bergeming. Ia tidak mengindahkan panggilan istrinya. Ia yakin kalau istrinya akan kembali mengerjainya.


" Saayaaanggg....." panggil Armell lagi dengan suara sedikit keras. Seno masih saja diam.


" Mass..... Tidur ya???Tapi sepertinya nggak mungkin deh. Mana mungkin kamu bisa tidur kalau bawah perut kamu masih tegak gitu. Masss....." teriak Armell.


" Ck. Ada apa lagi? " tanya Seno sedikit kesal.


" Sini. " ajak Armell sambil melambaikan tangannya.


" Nggak. Kamu paling mau ngerjain aku lagi. " sahut Seno sambil hendak kembali menutup matanya.


" Mas ih. Sini.... Beneran ini. Nggak ngerjain. " teriak Armell.


Seno tidak bergeming. Ia tetap memejamkan matanya kembali. Sekarang Armell menjadi lebih nekat. Dengan tubuhnya yang polos dan perut yang sedikit terlihat membuncit, Armell keluar dari kamar mandi dan menghampiri Seno.


" Mas. " Armell menggoyang-goyangkan tubuh Seno.


Seno membuka matanya sedikit. " Oh ya salam....Apa lagi ini. Kenapa dia kemari dengan tubuh polos seperti itu? " pekik Seno dalam hati.


Seno menarik nafas dalam-dalam. Gejolak yang tadi coba ia redam dengan susah payah, kini malah semakin menjadi. Tubuh Armell dengan perut sedikit buncit itu membuat Armell semakin seksi di mata Seno.


Seno membuka matanya saat Armell menggoyang tubuhnya kembali. " Ada apa? Kamu ngapain telanjang gini kesini? Jangan bilang mau nge-prank lagi. " seru Seno.


Armell menggeleng sambil tersenyum dan memperlihatkan puppy eyes nya. " Mau ngajakin kamu mandi. Tadi katanya pengen mandi berdua. Ayo...." ajak Armell sambil menarik tangan Seno.


Seno yang seperti kucing di kasih ikan pindang, langsung berdiri dan mengangkat tubuh polos Armell dan di bawa ke kamar mandi.


Beneran hanya mandi ya guys. Nggak lebih dari mandi. Mereka hanya berendam bersama di dalam bathtub menggunakan sabun aroma terapi yang di beli Seno saat berbulan madu dulu. Selebihnya, Armell hanya membantu Martinez untuk tidur kembali.


***


bersambung