
" Papa ketawa ya karena ada yang lucu. " ujar tuan Adiguna. Lalu beliau berdiri. " Datang ke rumah nanti malam sepulang kerja. Papa pastikan, setelah dari rumah besar, kamu nggak akan kayak gini lagi. " ujar tuan Adiguna lalu keluar dari ruangan Seno.
" Papa aneh. " gumam Seno. Lalu ia berdiri dan kembali ke mejanya. Menghadapi setumpuk berkas-berkas yang harus ia pelajari dan berkas-berkas kontrak yang harus segera ia dealkan.
Sepanjang hari, Seno hanya memikirkan perilaku papanya tadi. Sikap tuan Adiguna terasa aneh bagi Seno. Beliau marah, tapi tidak dengan raut wajahnya. Raut wajah beliau terlihat santai. Bahkan terlihat tertawa semenjak tadi.
" Papa ini aneh. Mana mungkin setelah gue pulang dari rumah besar gue jadi bahagia? Yang ada gue babak belur ia karena nyonya besar Van Houten. " gerutu Seno sambil membolak-balikkan berkas yang ada di hadapannya.
" Mama pasti akan marah besar karena gue nikah nggak kasih tahu dia. Mana dia punya calon sendiri lagi. Duhhh....gimana ini????" Seno meraup wajahnya kasar. Tidak bisa konsentrasi, sudah pasti. Semuanya semakin berantakan.
" Eits...Tapi tunggu dulu. Kenapa papa tadi nggak marah tahu gue udah merid? Terus kenapa tiba-tiba minta gue datang ke rumah besar? Dan bilang kalau gue pasti baikan setelah pulang dari sana? " gumam Seno membolak-balikkan pikirannya.
Seno memicingkan matanya " Atau jangan-jangan....." Seno langsung beranjak berdiri.
" Jangan bilang mereka...." ujar Seno sambil setengah berlari keluar dari ruangan. Meninggalkan semua pekerjaannya. Meninggalkan setumpuk berkas-berkas yang baru selesai ia baca dan pelajari beberapa.
" Tuan mau kemana? Masih sore ini. " tanya Rezky saat melihat Seno keluar dari ruangan terburu-buru.
" Sepertinya gue tahu dimana bini gue. " ujar Seno.
" Oh ya? Apa saya perlu ikut tuan? " tanya Rezky kembali.
" Tidak perlu. Lo disini aja. Selesaikan kerjaan gue. Besok gue periksa. " ujar Seno sambil menepuk bahu Rezky dan segera meninggalkan Rezky.
" Alamat lembur deh ini. Istri hilang repot...Istri ketemu, repot juga...Nasib asisten...Kapan gue bisa jadi direktur kayak bos..." gerutu Rezky sepeninggal Seno.
💫💫💫
...Di rumah utama....
" Papa...Mama ....." teriak Seno memanggil orang tuanya saat ia sampai di dalam rumah besar.
" Ini anak. Datang-datang bukannya salam, malah teriak-teriak nggak jelas. " gerutu nyonya Ruth.
" Ma, El mau bicara. Penting. Papa mana? " tanya Seno masih dengan sikap emosinya.
" Salam dulu. " sahut Nyonya Ruth dengan nada tinggi juga sambil menyodorkan tangan kanannya untuk dicium oleh Seno.
Seno menerima uluran tangan sang mama dan mencium punggung tangannya.
" Udah ma. Sekarang papa mana? El mau bicara sama papa dan mama. " tanya Seno.
" Ada di dalam. " sahut Nyonya Ruth sambil berjalan masuk ke ruang keluarga.
Terlihat tuan Adiguna sedang asik membaca berita di tabletnya.
" Papa...." teriak Seno.
Tuan Adiguna melepas kacamatanya, " Kalau ngomong sama orang tua itu jangan teriak-teriak. Nggak usah pakai teriak, papa masih bisa mendengar suaramu. Ada apa? Kenapa jam segini kamu sudah kesini? Papa kan bilangnya nanti malam. " ujar tuan Adiguna santai.
" Duduk. Kalau mau bicara sama orang tua itu duduk. Jangan berdiri. " ujar sang mama.
Seno menghempaskan pantatnya di sofa kasar. Tuan Adiguna tersenyum miring. Ia yakin, kalau anaknya pasti sudah menyadari kalau istrinya, dialah yang menyembunyikannya.
" Sebaiknya papa cepat katakan, dimana Armell? " tanya Seno to the point.
" Armell? Siapa itu Armell? Pacar papa ya? " ucap Nyonya Ruth berpura-pura
" Mama nggak usah pakai pura-pura segala lah. Basi tahu ma. " sahut Seno kesal.
" Lha kan mama memang tidak tahu siapa itu Armell. " jawab Nyonya Ruth.
" Armell, istri El. " jawab Seno ketus.
" What? Your wife? You have a wife? " tanya Nyonya Ruth pura-pura terkejut.
" Gitu tuh ma. Kelakuan anak laki-laki kamu satu-satunya. " ujar tuan Adiguna enteng. " Dia udah nggak menganggap kita ada. "
" Kamu anggap mama udah mati gitu? Dasar kamu ya....." pekik Nyonya Ruth sambil menjewer telinga Seno.
" Dasar anak nakal kamu ya. " nyonya Ruth pura-pura marah sambil memukuli El dengan bantal sofa. " Anak gadis mana yang sudah kamu hamili Ellll? Mama nggak pernah ngajarin kamu ngamili anak gadis orang di luar nikah. " cerocos Nyonya Ruth sambil memukul lengan Seno dengan tangannya.
" Huh, tangan mama sakit. " keluh nyonya Ruth sambil menggosok-gosok tangannya. " Lengan apa talas Bogor itu? " gerutunya.
" Mama sama papa nggak usah akting lagi deh. El udah tahu, kalau papa sama mama udah tahu El nikah. Bahkan kapan El nikahnya, papa sama mama juga pasti udah tahu. " ujar Seno kesal.
" Jangan asal tuduh ya? " protes sang mama.
" El nggak nuduh, mama. El bicara fakta. Fakta ma. Seorang tuan Adiguna tidak mungkin tidak tahu apa yang di lakukan dan apa yang terjadi terhadap anak laki-laki satu-satunya. Benar kan tuan Adiguna? " ujar Seno sambil melirik ke arah papanya.
Tuan Adiguna langsung tertawa terbahak-bahak. " Anak kamu ternyata masih pintar dan cerdas ma. " pujinya.
" Ck ! " Seno berdecak.
" El, kenapa kamu tidak bilang ke mama atau papa kalau kamu mau menikah? Toh kita tidak akan melarangnya. " ujar nyonya Ruth dengan suara melembut.
" Maafkan El ma. " ucap Seno sambil menunduk. " El udah salah sama mama dan papa. El pikir pernikahan El tidak akan berlangsung lama. Karena El tidak berpikir kalau El bisa jatuh cinta sama dia dengan mudah. Saat itu, El berpikir semua perempuan itu sama. El tidak bisa percaya dengan perempuan. " ujar Seno.
Nyonya Ruth menepuk pundak Seno perlahan. " Mama sudah pernah bilang sama kamu. Tidak semua perempuan sama seperti Stella. Yang hanya karena uang, akan meninggalkanmu. "
" Iya ma. Mama benar. El baru tahu sekarang. " sahut Seno.
" Lalu, kenapa istri kamu bisa sampai pergi dari rumah? " tanya tuan Adiguna.
" Papa juga pasti sudah tahu. " sahut Seno.
" Papa cuma nggak habis pikir sama kamu. Kenapa hanya karena foto-foto yang nggak jelas asal-usulnya sampai kamu tega-teganya menuduh istrimu sendiri. Berarti kamu belum bisa mempercayai istri kamu." ujar tuan Adiguna. " El, faktor penentu utamanya haromonisnya sebuah rumah tangga adalah kepercayaan. Kalau dalam rumah tangga kamu, kamu tidak bisa menanamkan kepercayaan, yang ada rumah tanggamu akan cekcok terus. Lama-lama bubar. " lanjutnya.
Seno hanya bisa diam.
" Apa kamu sudah pernah menyatakan cintamu ke istrimu? " tanya tuan Adiguna kembali.
Seno menggeleng lemah.
" Kamu bilang kamu mencintainya. Tapi kenapa kamu tidak menyatakannya? " ujar tuan Adiguna.
" Perempuan itu butuh kepastian El. Butuh pengakuan. Butuh deklarasi. " tambah Nyonya Ruth.
" Apa tidak cukup hanya dengan tindakan ma? " tanya Seno.
Nyonya Ruth menggeleng. " Kita butuh kejelasan. Pernyataan cinta itu sangat di butuhkan oleh kami. Mama dulu juga gitu. Pas papa belum bilang cinta, mama pasti marah-marah nggak jelas. " ujarnya.
" Sebaiknya segera kamu temukan istri kamu, lalu bilang kalau kamu mencintainya. Dan cobalah untuk saling percaya satu sama lain. " saran tuan Adiguna.
" Apa kamu sudah tahu siapa yang mengirim foto-foto istri kamu itu? " tanya sang mama.
Seno mengangguk. " El sudah tahu. Tapi baru mau El lenyapkan, papa sudah bertindak duluan. " protes Seno ke papanya. Karena ia yakin papanya yang sudah mengirim Mariana ke Zimbabwe.
" Nunggu kamu lelet. Kelamaan. " sahut sang papa.
" Udah, mending kamu istirahat dulu sana ke kamar kamu. Kamu pasti capek. Nanti makan malam di sini. Biar bibi siapin makan malam untuk kita. " pinta mamanya.
" Tapi El harus mencari istri El ma." sahut Seno. " Oh iya..." Seno menepuk jidatnya. " El kesini kan mau tanya sama papa, dimana papa umpetin istri El pa?" tanya Seno ke papanya.
Tapi bukannya menjawab, tuan Adiguna hanya mengendikkan bahunya.
" Pa..."
" Udah, kamu dengerin mama. Istirahat dulu sana di kamar. Look at your face. You like a ghost. Mata kamu ada lingkaran hitamnya tuh. " ujar mamanya tak terbantahkan.
" Ck ! " Seno berdecak. Tapi tak urung, ia juga beranjak berdiri dan berjalan menuju lift rumahnya dan naik ke lantai atas. Tak di pungkiri, ia memang mengantuk. Dan capek juga tentu saja.
***
bersambung