
Hari berganti. Hari ini, hari ke sebelas Armell dan Seno melakukan honeymoon. Hari ini Armell merengek minta di ajak ke menara Eiffel lagi. Karena kemarin ia belum sempat berfoto-foto di sana. Tapi sayang, Seno dalam mode merajuk saat ini.
" Mas ....." rengek Armell. Seno tidak menanggapi. Ia masih sibuk dengan ponselnya.
" Mas ...ayo ...." ajak Armell sambil duduk di sofa depan Seno duduk dengan tidak sabar. Seno masih tetap tidak bergeming.
" Mas ....Udahan dong marahnya. Kan aku juga udah minta maaf. Maaf ...." ucap Armell. Dan masih dengan posisi yang sama. Seno masih belum bergeming.
Seno memang sedang kesal dengan istrinya. Ia merajuk. Karena kejadian tadi malam. Karena ulah istrinya yang sudah mengerjainya habis-habisan. Sudah menunggu Armell mandi dalam waktu yang lama, di tambah lagi kembali dia kena prank.
Bagaimana tidak, ketika si Martinez sedang on fire,. tiba-tiba Armell meninggalkannya begitu saja untuk mandi. Dengan sabar si Martinez menunggu sampai Armell selesai mandi, meskipun hampir satu jam lamanya ia menunggu. Eh, tiba-tiba Armell bilang kalau dia lapar. Dengan sangat berat, Seno memakai bajunya dan mengajak istrinya keluar untuk makan malam.
Masih dengan Martinez yang on fire, ia makan malam dengan gelisah tentu saja. Karena Martinez sudah memberontak. Armell yang melihat tingkah Seno, malah menahan senyumnya. Ia tahu ada apa dengan suaminya itu.
Setelah makan malam usai dan mereka kembali ke kamar, lagi-lagi Armell menggagalkan niatnya. Armell meminta sesuatu yang harus di cari oleh Seno dan itu adanya di supermarket. Dengan sangat terpaksa, Seno memenuhinya. Mencarikan apa yang di minta istrinya.
Dan lagi-lagi dirinya di prank oleh Armell. Sampai di kamar, ia justru mendapati istrinya sudah tertidur pulas. Bahkan sangat pulas. Seno berusaha membangunkan, tapi Armell tidak bergeming. Akhirnya, dengan terpaksa dan berat hati, Seno masuk ke dalam kamar mandi dan menenangkan Martinez dengan tangannya sendiri.
Semenjak semalam, Seno jadi mendiamkan sang istri. Membuat Armell kalang kabut. Sudah berkali-kali semenjak bangun tidur pagi ini ia meminta maaf, tapi Seno tetap saja diam.
" Mas...! " pekik Armell tiba-tiba. Membuat Seno sedikit terkejut. Seno menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar. Lalu ia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
" Beneran nih mas nyuekin aku? Ya udah, sana mending pulang aja ke Indonesia. Tinggalin aku di sini. Aku mau jalan-jalan sendiri ke Eiffel. " ancam Armell. Ia berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur. Ia mengambil tasnya yang berada di atas tempat tidur.
Lalu ia melirik ke arah Seno sekilas. Tapi masih tetap tidak ada pergerakan dari sang suami. Armell berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya menuju pintu kamar.
" Kamu pikir aku nggak berani pergi sendiri. Sedikit-sedikit aku juga bisa bahasa Inggris. Awas aja entar bingung nyariin aku. " gumam Armell.
Armell mulai menekan tombol kunci untuk membuka pintu kamarnya. Dan ceklek...
pintu itu terbuka.
" Armell...." teriak Seno. Armell terkejut dengan suara keras suaminya. Jika sudah manggil istrinya dengan nama, itu berarti ia benar-benar sedang marah.
Armell terdiam tidak jadi keluar.
" Masuk! " perintah Seno tanpa melihat ke arah Armell. Armell masih diam di tempatnya tadi.
" Aku bilang, MASUK! " teriak Seno kembali. Kali ini ia menatap tajam ke arah Armell. Nyali Armell tiba-tiba menciut melihat tatapan mata suaminya. Belum pernah suaminya marah seperti itu.
Armell kembali masuk ke dalam dan kembali menutup pintu. Ia berjalan perlahan mendekati suaminya sambil meremas kedua tangannya.
" Duduk! " perintah Seno sambil menunjuk sofa yang ada di depannya. Perlahan, Armell meletakkan pantatnya ke sofa tanpa berani melihat ke arah suaminya.
" Kamu ya. Masih kurang kamu bikin aku khawatir? Sekarang masih mau pergi seenaknya. " ujar Seno dengan suara baritonnya. Dengan nada marah tentu saja.
Armell yang baru kali ini melihat suaminya marah-marah, hanya bisa menunduk. Tidak berani menjawab dan berbicara.
" Kenapa diam saja? Kenapa tidak menjawab? " tanya Seno masih dengan suara ketus.
" Maaf. Habisnya mas di ajakin diem aja. " jawab Armell pelan masih dengan menunduk.
Melihat istrinya ketakutan karena ulahnya, Seno menahan tawanya. Ia melipat bibirnya ke dalam. Hadduh, Seno.....Kamu kembali mengerjai istrimu ternyata. Mana bisa sih, Seno benar-benar marah sama istrinya.
" Kenapa menunduk terus dari tadi? Nggak mau lihat wajahku? " tanya Seno.
Armell menggeleng. Perlahan ia mengangkat wajahnya melihat ke arah suaminya. Seno menampakkan wajah garangnya. Dan itu membuat Armell kembali menunduk. Takut dengan suaminya tentu saja.
Kali ini Seno tidak bisa menahan tawanya. Ia tergelak. Ia tertawa terbahak-bahak. Mendengar suaminya tertawa terbahak-bahak, Armell memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya kembali.
Melihat suaminya tertawa, Armell memicingkan matanya. Ia bisa bernafas lega saat ia melihat suaminya. Ia tahu sekarang jika suaminya sedang mengerjainya. Lagi, dan lagi.
Armell berdiri dari duduknya dan menghampiri Seno. Ia memukuli Seno dengan bantal sofa.
Bug...bug...bug...
Armell cemberut. Lalu memukul bahu suaminya keras.
" Aww, baby... sakit. Kejam sekali kamu sama suamimu. " keluh Seno.
" Mas jahat. Udah ngerjain aku. Awas, lepas. " ujar Armell sambil berusaha berdiri. Tapi saat ia sudah berdiri, Seno kembali menarik pinggangnya. Dan alhasil, sekarang Armell berada di pangkuan Seno.
" Lepas. " pinta Armell sambil memberontak. Tapi bukannya melepas, Seno malah semakin mengeratkan pelukannya di perut Armell. Karena Armell duduk di pangkuannya menghadap ke depan dan membelakanginya.
" Maaf. " ucap Seno di balik punggung Armell.
" Mas jahat. Udah ngerjain aku. Aku udah takut banget lihat muka mas yang kayak tadi. " ujar Armell.
" Makanya kamu jangan suka bepergian sendiri kayak tadi. " sahut Seno.
" Habisnya mas nggak mau di ajakin ke Eiffel. Mas diam aja sedari tadi pagi. " curhat Armell.
" Habisnya kamu juga sih, bikin aku bete. " sahut Seno.
" Bete? " Armell memiringkan sedikit tubuhnya supaya bisa melihat suaminya.
" Hm. " sahut Seno.
" Kok bisa? Soal yang semalam? Karena mas pulang habis beliin camilan aku, akunya malah ketiduran gitu? Kan dari tadi pagi aku juga udah minta maaf. " elak Armell.
" Bukan itu yang bikin aku kesel jadi males ngomong sama kamu. " sahut Seno.
" Lalu apa? " tanya Armell pura-pura tidak tahu.
" Kamu nggak mau tanggung jawab setelah membangunkan gajah yang lagi tidur. " ujar Seno ketus.
" Pfffttt. " Armell menahan bibirnya supaya tidak tertawa.
" Udah gitu, pakai jebakan Batman lagi. Bilangnya pengen camilan. Eh di bela-belain nahan Martinez biar nggak kabur dengan susah payah, balik-balik malah kamunya tidur. Pules lagi. Di bangunin nggak bangun-bangun. Udah kayak orang pingsan. Jadinya aku harus memuaskan si Martinez pakai tangan aku sendiri. " tukas Seno.
" Salah siapa dong, yang bikin aku langsung tidur saat ngerasain enaknya berada di atas kasur. Salah siapa coba yang udah nggak ngebiarin aku buat istirahat selama hampir satu minggu ini. Nggak enak kan kalau di kerjain? Makanya jangan suka ngerjain orang. " balas Armell.
" Jadi ceritanya semalam kamu sengaja gitu bangunin gajah aku? Terus setelah dia bangun, kamu kabur? Gitu? " tanya Seno.
" Iya. Balas dendam ceritanya. Habisnya mas udah sering banget nge-prank aku. " sahut Armell.
" Nakal kamu ya. Awas aja aku hukum kamu. " ujar Seno sambil membalik tubuh Armell dan merebahkannya di atas sofa, lalu menindihnya.
" Hukum aja. Paling hukumannya mas ajak enak-enakan. Nggak nolak malah. Asal nggak di penjara. Eh, tapi kalau di penjaranya sama mas seumur hidup juga mau. Apalagi kalau hukumannya buat nemenin mas, selalu mendampingi mas selamanya. Aku bakalan terima hukuman itu dengan lapang dada. Janji deh, nggak bakalan naik banding. " ujar Armell sambil mengelus pipi Seno
Dan inilah yang membuat Seno tidak bisa marah ataupun kesal kepadanya terlalu lama. Jika sang istri sudah mengeluarkan kata-kata romantisnya, maka Seno akan langsung luluh.
Seno mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya. Pagi menjelang siang penuh kehangatan. Seno ******* habis bibir Armell. Membuat Armell hampir kehabisan udara. Armell mendorong tubuh Seno menjauh dan melepas ciuman mereka.
" Mas, ke Eiffel. Pengen foto-foto. Enak-enaknya kita lanjutin nanti malam aja. Ya? Please...." pinta Armell dengan puppy eyes nya.
Kalau sudah begini, tidak mungkin Seno menolak. " Ck. " Seno berdecak tapi tak urung dia bangun dari atas tubuh istrinya. " Ayo... " ajaknya.
" Asyik.... Suamiku emang ter-the best. " sahut Armell sambil mengacungkan jempolnya.
" Tapi awas kalau entar malam nge-prank lagi. " ancam Seno.
" Siap, pak komandan. " jawab Armell sambil memberi hormat ke Seno. " Tapi satu ronde aja. Oke? Besok di lanjut lagi habis sarapan. Kita terbang sore kan? Hitung-hitung penutup acara honeymoon kita. " lanjut Armell sambil mengerlingkan matanya.
Lalu Seno segera mengambil jaketnya dan jaket Armell karena istrinya itu selalu saja lupa dengan jaketnya.
***
bersambung