My Handsome Police

My Handsome Police
Bertemu Robert



Hari berganti. Tak terasa si baby Dan kini sudah berusia satu bulan. Armell sekarang sudah tidak selebay ketika baru melahirkan. Yang kala si kecil menangis, maka ia juga akan ikut menangis kejer.


Seno juga sudah mulai beraktivitas seperti biasa kembali. Karena sang ibu mertua juga adik ipar masih stay di rumahnya, maka ia lumayan tenang jika meninggalkan istri dan anaknya pergi ke kantor. Dan jangan lupakan sang mama dan papanya. Hampir tiap hari mereka datang ke rumah untuk berebut dengan Pipit juga besannya menggendong si kecil.


Seperti sore ini, sepertinya Pipit yang menang untuk menggendong si kecil. Bayi berusia satu bulan itu nampak tenang berada dalam pangkuan onty-nya. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengenyot jari-jarinya.


" Assalamualaikum...." sapa seseorang yang baru masuk ke dalam rumah. Siapa lagi tamu yang datang sore-sore begini dan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah kalau bukan si dokter bule.


" Waalaikum salam. " jawab semua yang ada di dalam rumah.


Dengan tersenyum tampan, ia masuk ke dalam rumah.


" Lik, biasa ya... bikinin gue kopi capuccino. " pintanya ke Lilik yang kala itu Lilik sedang menyajikan minuman untuk tuan Adiguna juga Nyonya Ruth.


" Siap pak dokter ganteng. Seperti biasa, tanpa gula. Karena yang bikin Lilik, biarpun tanpa gula, tetap manis. Benarkan pak dokter? " canda Lilik yang membuat tuan dan nyonya Adiguna menggelengkan kepalanya.


" Seratus buat elu, Lik. " sahut Bryan sambil mengacungkan jempolnya.


Kemudian Lilik meninggalkan ruang tengah dan pergi ke dapur. Sedangkan Bryan segera menghampiri Pipit yang sedang memangku si kecil sambil sesekali menggodanya. Bryan menghenyakkan pantatnya di sisi kosong sebelah Pipit.


" Wah, calon makmum gue lagi belajar mengurus bayi. Senangnya . " goda Bryan.


" Gue...gue..." seru Pipit tanpa melihat ke arah Bryan.


Bryan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, " Ups, sorry. Aku maksudnya. Calon makmum aku. "


" Kalau mau cari makmum, jangan di sini. Noh, di mesjid. " seru Pipit sambil mengarahkan dagunya ke arah luar.


" Jangan bicara seperti itu sama calon imam kamu. " ujar Bryan.


" Dihh, siapa juga yang mau punya imam kayak situ. Yang ada ntar ikutan nggak bener. Suka celap-celup. " sahut Pipit.


" Pipit...." seru sang ibu dengan nada mengingatkan.


" Habis dia nih bu...yang suka bicara asal. " bela Pipit kesal. Entah kenapa ia jadi kesal bawaannya jika ada Bryan. Tapi berbeda dengan Bryan. Ia akan sangat berbunga-bunga hatinya jika ada Pipit.


" Gimana sekolah kamu pit? Tinggal nunggu ijazah keluar ini? " tanya Nyonya Ruth.


" Iya ma. Katanya sih Senin depan harus ke sekolah untuk stempel tiga jari, terus besoknya baru ijazahnya di kasihkan. " jawab Pipit yang memang semenjak awal, tuan dan nyonya Adiguna menyuruhnya memanggil mereka papa dan mama seperti Armell.


" Berarti besok kamu pulang dong? " tanya Nyonya Ruth.


" Sepertinya sih gitu ma. Tapi paling cuma bentar. Habis ambil ijazah, Pipit balik kesini lagi. Sambil menunggu masuk kuliah, Pipit mau bantuin mbak Mell jagain baby Dan. " ujar Pipit.


" Jadi besok kamu pulang? " tanya Nyonya Ruth. Dan Pipit mengangguk.


" Berarti jeng juga ikut pulang besok? " tanya nyonya Ruth ke ibu Armell.


" Sepertinya tidak. Saya masih pengen disini. Masih pengen dekat sama baby Dan. Lagian Pipit pulang juga cuma beberapa hari saja. " sahut ibu Armell.


" Syukur deh kalau jeng masih di sini. Jadi rumahnya masih ramai. " sahut nyonya Ruth sambil menggenggam tangan ibunya Armell.


" Kalau gitu, Pipit pulangnya besok biar di antar. Sekalian di tungguin, biar kalau balik kesini nggak perlu naik bus. Takutnya entar di jambret lagi. " tukas nyonya Ruth.


" Iya ma. Rencananya mau di antar bang Damar. Kalau bang Damar nggak ada kerjaan mendadak. " sahut Pipit.


Mendengar nama Damar di sebut, suasana hati Bryan tiba-tiba berubah. Entah ada apa dan kenapa, ia sangat tidak suka Pipit bersama laki-laki lain. Apalagi itu adalah Damar. Karena sempat beberapa kali ia mendapati Pipit dan Damar sedang mengobrol dan saling tertawa bercanda.


Bryan mengusap wajahnya kasar. Ia harus membuat sebuah rencana supaya bukan Damar yang mengantar Pipit pulang.


" Wah, pada ngumpul nih. " ujar Armell yang baru datang dari arah tangga bersama sang suami. Ia sudah sehat kembali sekarang. Ia sudah bisa melakukan apa-apa sendiri. Ia terlihat baru selesai mandi.


" Gimana nih mommy baru? Masih mengalami baby blues? " tanya Bryan untuk menenangkan hatinya yang gelisah.


Di sambut tawa seluruh orang yang ada di sana. Armell duduk di sofa kosong. Di ikuti oleh Seno sang suami.


" Bagaimana pertemuan kalian dengan Robert tadi? " tanya tuan Adiguna. " Apa dia menginginkan yang macam-macam? " lanjutnya.


" Tidak pa. Dia hanya mengatakan kata maaf dan dia menyesali semua perbuatannya. " jawab Seno.


Flash back on


" Hai, " sapa Seno saat melihat Robert masuk ke dalam ruang khusus yang di gunakan untuk menemui seorang napi.


Robert tersenyum, lalu ikut duduk di hadapan seno. " Apa kabar kalian? " tanyanya.


Meskipun hatinya masih sangat mencintai Armell, tapi ia berusaha untuk tidak terpengaruh. Ia kini menyadari kalau tidak semua cinta harus memiliki.


" Alhamdulillah, kami baik. Bagaimana denganmu? " tanya Seno.


" Aku baik. Maaf, merepotkan kalian untuk bertemu. " ucap Robert.


" Tak apa. " jawab Seno. Armell sedari tadi hanya diam saja.


" Sepertinya Armell sudah melahirkan. " ucapnya menghilangkan kekakuan diantara mereka.


Seno dan Armell tersenyum sambil mengangguk.


" Selamat untuk kalian berdua. " ucap Robert kembali.


Robert menundukkan kepalanya sebentar, lalu menghadap Seno dan Armell kembali.


" Armell, maaf. I am so sorry for everything. Maaf karena aku pernah mengganggu hidupmu. Karena keegoisan cintaku, aku tidak memikirkan tentang kebahagiaanmu. Maaf juga aku telah menembakmu. Sungguh, aku tidak bermaksud menembakmu saat itu. " ucap Robert penuh dengan penyesalan. " Aku hanya ingin menakuti kalian. Aku tidak sadar kalau pelatuknya ketarik. " lanjutnya.


" Sudahlah tuan. Semua sudah berlalu. Yang penting anda sudah menyesalinya. Itu sudah cukup. " jawab Armell singkat. Seno menggenggam tangan istrinya erat.


" Terima kasih. Tuan Adiguna, aku juga minta maaf kepadamu. Karena selalu mengerecoki hidupmu. Maaf karena telah merebut kekasihmu dulu. Dan maaf, karena berusaha merebut istrimu darimu. " ucap Robert ke Seno


" Untuk yang telah berusaha merebut istriku, karena istriku sudah memaafkanmu, maka aku juga akan memaafkan. Tapi untuk mantan kekasihku, sepertinya anda tidak perlu meminta maaf. Karena itu suatu keberuntungan buatku. Dengan anda yang telah mengambilnya, maka aku bisa bertemu dan menikah dengannya. " ujar Seno sambil menatap Armell penuh cinta. Armell tersenyum manis untuk sang suami.


" Tuan, dan nona, mungkin aku akan berada di dalam sini sampai aku tua. Aku ingin meminta tolong kepada kalian." ucap Robert. Armell dan Seno saling menunggu, apa yang mau di minta oleh Robert.


" Aku titip putraku. Tolong, bantu Leora untuk mendidiknya menjadi anak yang berguna dan berhasil. Jangan sampai dia mengambil jalan yang salah sepertiku. " ucap Robert.


Armell dan Seno sama-sama tersenyum ke Robert. ' Tentu. Tentu kami akan mendidiknya. Karena Arvin, juga putra kami. Kami akan menyayanginya seperti kami menyayangi putra kami sendiri. " jawab Seno mantap.


Robert tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Flash back off


***


bersambung


Hai...hai....Tadi othor sedikit membahas tentang rencana si Abang bule kan ya....Jangan kalian tanyakan di sini ya ..


Terus cerita antara Pipit juga Damar....Jangan pula kalian tanyakan di sini...


Terus bagaimana Pipit pulang ke kampung halaman nantinya....Jangan kalian cari di sini...


Semua itu akan di jawab di lapak Bryan dan Pipit besok setelah cerita Seno dan Armell usai...


Tapi cerita Armell dan Seno tetep akan nyempil sedikit-sedikit di lapak Bryan dan Pipit...


Jadi kalian semua jangan lupa klik favorit...Biar kalian tahu jika othor sudah mulai menulis cerita Bryan juga Pipit.. Othor akan membuat pengumuman di lapak ini jika ceritanya udah ready ..Dan othor juga udah ready untuk menulis kembali pastinya 😊😊😊🥰🥰