
" Bang, Abang rencananya mau nginep disini? " tanya Fitria saat kakak iparnya menjemputnya di sekolah.
" Rencananya gitu. Tapi nggak mungkin juga kalau Abang nginep di rumah ibu. " jawab Seno sambil tetap fokus ke jalanan.
" Terus, Abang mau nginep di mana? Nggak mungkin kan Abang tiap malem tidur di mobil? Terus siangnya markir di depan sekolah Pipit. " sahut Pipit. " Tau nggak sih bang, temen-temen Pipit pada nyinyir. Mereka bilang gini, ' Eh guys, si Pipit, habis cuti satu Minggu, balik-balik jadi sugar baby. Jadi cem-ceman om-om '. Gitu loh bang. Anjlok dong pamor Pipit sebagai master of beauty di SMA Kedung Gender. " ujar Pipit.
Seno tersenyum tipis. Ia jadi ingat sang istri yang kalau bicara seperti adik iparnya ini. Ah, jadi makin rindu.
" Terus Abang harus nginep di mana? Abang lihat kemarin, deket sini nggak ada hotel. "
" Ya nggak ada lah bang. Di sini kan kampung. Abang kalau mau cari hotel, sono di kota. Kalau di sini adanya motel. "
" Ada motel di sini? Nggak pa-pa deh nginep di motel. Yang penting deket sama kakak kamu. "
" Dih, Abaaang.....Emang Abang mau, nginep di motel esek-esek? Yang ada ntar mbak Armell marah terus nggak mau di ajakin pulang sama Abang. " ujar Fitria kesel.
" Maksud kamu? Motel tempat begituan? "
" That's right, my bro. "
" Terus, Abang harus tinggal di mana? "
" Bentar-bentar...Pipit pikirkan dulu. " Pipit diam sejenak sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jarinya.
" Ada bang. Penginapan. Di rumah pak kades. Tapi ya gitu tempatnya. Jauh sama rumah abang. Terus, Abang harus siapin mental. Anak pak kades itu sobat ambyarnya mbak Armell. Dia partner sharing karate mbak Armell waktu masih SMA dulu. Dan setahu Pipit sih, dia suka sama mbak Mell. " ujar Pipit panjang lebar.
Ciiittt....Seno mengerem mobilnya mendadak.
" What? Di kampung ini ada yang suka sama Armell? " tanya Seno geram sambil memukul gagang stir mobilnya.
" Ya ada lah bang. Nggak cuma anak pak kades. Yang lain juga ada. Cuma yang sampai sekarang masih ngarepin mbak Mell itu ya anaknya pak kades. Dia kan belum tahu kalau mbak Mell udah merid. "
" Berarti aku harus siaga satu nih selama kakak kamu di sini. "
" Abang nggak usah cemburu. Dan nggak usah khawatir. Mbak Mell itu orangnya susah jatuh cinta. Sekalinya dia udah cinta, nggak gampang berpaling. Apalagi sekarang Abang udah menyandang status suaminya. Udah ngapa-ngapain juga ke mbak Mell. Pipit yakin 100%, mbak Mell nggak bakalan berpaling ke lain hati. "
Ada rasa sedikit lega di hati Seno saat mendengar omongan Pipit barusan.
" Terus jadinya gimana ini bang? Jadi nginep di penginapan milik pak kades apa nggak? "
" Ada tempat lain nggak? Males kalau di sana. " jawab Seno.
" Ciee..... takut kesaing ya??? " ledek Pipit.
" Ih, nggak ya. Abang cuma menghindari pertengkaran. Entar kalau Abang nginep di sana, terus si anak pak kades tahu kalau Abang ini suaminya Armell, terus dia ngajak berantem gimana? Nggak elegan kan jadinya. " elak Seno.
" Iya deh bang iya... Nggak perlu pakai ngotot juga. " sahut Pipit sambil menahan tawanya.
Seno menatapnya tajam. Tapi bukan Fitria namanya kalau takut mendapatkan tatapan seperti itu. Ia malah tersenyum cengengesan.
" Oh bang, Pipit ingat. Ada lagi yang biasanya menerima orang menginap. Letaknya juga nggak terlalu jauh dari rumah ibu. Tempatnya juga lumayan mewah. Tapi harganya, so pasti mehong. Soalnya yang punya tu ibu-ibu rempong yang di matanya hanya uang dan uang. "
" Nggak pa-pa kalau uang. Mahalnya seberapa sih? Nggak harus jual mobil juga kan? "
" Ya udah deh. Kuy, kita langsung ke lokasi. " ajak Fitria.
Seno mulai melajukan mobilnya lagi. Ia mengikuti navigasi dari adik iparnya. Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah yang terlihat paling mencolok di kampung itu.
Seno mengamati rumah itu dari dalam mobilnya, " Ini tempatnya? "
Fitria mengangguk. " Deket bang kalau dari rumah. Cuma selang empat rumah doang. Tuh, dari sini aja keliatan pagar rumah ibu. " Fitria menunjuk ke arah rumahnya. " Ya udah, yuk turun kak. " ajak Fitria.
Lalu mereka turun dari mobil. Fitria memencet bel rumah itu yang terpasang di gerbang. Seorang wanita paruh baya dengan perhiasan yang semua yang di punyai di pakai semua.
" Oh, Pipit. Ada ada Pit? " tanya wanita itu yang memang sudah mengenal Fitria.
" Bisa ijinkan saya masuk nggak tante? Kan nggak enak kalau bicara kayak gini. Tante di dalam, saya di luar gerbang. Kesannya saya kayak Sales kompor ini te. " ujar Fitria seenaknya.
" Kamu ini. Awas kalau udah Tante bukain pintu, tapi nggak penting yang mau kamu bicarakan. " ancam Tante itu sambil membuka gembok gerbangnya.
" Tante tenang aja. Pipit pastikan, Tante pasti langsung sumringah. " sahut Fitria sambil membantu Tante itu mendorong gerbang supaya gerbangnya terbuka.
" Ayo masuk Pit. Apa mau duduk di teras aja? Di lantai juga boleh. " ujar Tante itu. Yang ternyata memang sudah biasa bercanda kalau dengan Fitria.
" Hizzz tante...Masak iya Pipit duduk di lantai. Orang udah kayak super model gini kok suruh ngesot. "
" Kamu ini. Udah, ayo buruan, masuk ke DALAM rumah. Duduk di SOFA yang empuk. " ujar Tante itu sambil menekan di beberapa kata.
" He...he...he... makasih tante Ira yang cantik. " ucap Fitria.
Lalu Fitria masuk bersama dengan Seno. Dia mengatakan maksud kedatangannya ke rumah itu.
" Kalau menginap di sini, mahal loh nak. " ucap Tante ira.
" Tante nggak usah khawatir. Berapapun pasti akan di bayar sama abang saya. Abang saya ini richman " sahut Fitria.
" Saya akan bayar sesuai yang ibu mau. " tambah Seno.
" Baiklah. Kalau gitu, satu harinya 700.000. Itu udah termasuk ongkos bayar listrik, bayar air buat mandi. Tapi kalau makan, Tante tidak menyediakan. Dan kamarnya ber-AC lho. " jelas Tante Ira.
" Tidak masalah Bu. "
Dan deal lah mereka. Tante Ira menunjukkan kamar Seno yang ada di ruang depan rumah utama. Si yang punya rumah, seperti yang di bilang Fitria tadi, dia minta di bayar di muka. Membuat Fitria geleng-geleng kepala.
" Abang hari ini istirahat aja dulu. Jangan ke rumah hari ini. Nanti Pipit kabari Abang semua tentang mbak Armell. Bahkan kalau perlu, mbak Armell mau boker juga Pipit kasih tahu. " ujar Fitria saat tante Ira itu sudah tidak bersama mereka.
" Pit, di dekat sini, ada mall nggak? " tanya Seno.
" Abang ini kesini mau merayu mbak Mell biar mau balik, apa cuma mau jalan-jalan ke mall? Kalau mau ke mall, di ibukota kan banyak bang. Gede-gede lagi."
Pletak
Seno menjitak kepala Fitria. Membuat Fitria meringis kecil sambil mengusap-usap kepalanya.
" Abang tuh kesini buru-buru, jadi nggak bawa baju. Masak iya Abang pakai baju ini terus selama satu Minggu? " ucap Seno sambil menunjuk bajunya.
" He...he...sorry bang. Sini itu kota kecil bang. Jadi nggak ada mall. Kalau Abang mau beli baju buat ganti, besok ikut ibu ke pasar. Abang bisa beli baju di pasar. " ujar Fitria.
" What? Ke pasar? Nggak.... nggak...emang nggak ada gitu toko pakaian? "
" Ada bang. Tapi di kota. Abang kemarin pas kesini lewat kota kan? Jauh apa dekat? Jauh kan? Mending ke pasar aja...Deket. "
Seno lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan ribu dan di berikan ke Fitria.
" Nih, kamu ambil. Besok, kamu ikut ibu ke pasar, beliin abang baju. " ujar Seno sambil menaruh uang itu di atas telapak tangan Fitria.
" Diiihhh, kok jadi Pipit yang beli. Mana Pipit tahu ukuran baju Abang. Style Abang juga Pipit nggak tahu. "
" Udah, nggak usah bawel. Kamu kira-kira aja beli bajunya. Apapun yang kamu beli, abang pakai deh. Itu juga pasti ada kembaliannya. Kamu pakai aja buat beli baju juga atau buat jajan besok. " ujar Seno merayu adik iparnya.
" Wiiihhhh....Abang emang TOP....bilang kek dari tadi. " ujar Fitria cengengesan. " Ya udah deh, Pipit balik dulu ya bang. Assalamualaikum. " pamit Fitria.
" Waalaikum salam. "
Dan Fitria pun segera menghilang dari hadapan Seno.
***
bersambung
Cerita hari ini sekedar intermezo ya kak ...biar nggak mengandung bawang terus. Besok baru yang berbau bawang lagi ..😄😄