
Tepat pukul 1 siang, Seno , Armell, Bryan dan Damar sampai di tempat tujuan. Ketika itu, Armell masih terlelap di pangkuan Seno.
" Baby..." Seno mengelus pipi Armell. " Bangun, baby...Kita udah sampai. " lanjutnya.
Armell mulai menggeliat, dan membuka matanya perlahan. Lalu ia bangkit dari tidurnya.
" Oh, udah sampai. " ucapnya, lalu membuka pintu mobil dan segera keluar tanpa menghiraukan suaminya. Ia sudah sangat rindu dengan sang ibu.
Seno dan Bryan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Armell.
" Ayo kita turun juga. " ajak Seno sambil membuka pintu mobil. Seno turun dari mobil lalu berjalan menuju ke rumah minimalis mertuanya dan Bryan mengikutinya. Sedangkan Damar, memarkirkan mobilnya lebih menepi.
Tanpa mengucapkan salam, Armell langsung masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan ibunya di belakang. Karena ia yakin, di jam-jam segini, biasanya ibunya sedang sibuk mencatat barang-barang yang habis di tokonya yang di pasar.
" Ibu...." ucap Armell sambil memeluk ibunya erat.
" Astaghfirullah.....Kaget ibu. " protes ibu Armell.
" Maaf Bu...." sahut Armell sambil tersenyum.
" Armell? Beneran kamu ini? " tanya ibu tidak percaya ketika melihat putri sulungnya berada di hadapannya.
Armell mengangguk, " Iya lah Bu. Ini Mell. Mell kangen banget sama ibu .." Armell kembali memeluk ibunya.
" Ibu juga kangen. " ibu membalas pelukan putrinya.
Ibu melepas pelukannya, lalu bertanya, " Kamu sama siapa kesininya? "
Armell menepuk jidatnya, " Astaghfirullah, Mell lupa Bu. Sama mas Seno, dokter Bryan, terus bang Damar. Mell ninggalin mereka di mobil tadi. Habisnya Mell kangen banget sama ibu. "
" Ya udah, ayo kita susul mereka. " Ajak sang ibu. Lalu mereka berjalan beriringan menuju ke luar rumah.
Sampai di ruang tamu, mereka mendapati Seno, Bryan, juga Damar sudah duduk di kursi tamu.
" Mas, maaf..Mell sampai lupa ninggalin kamu. Karena saking senengnya mau ketemu ibu. " ucap Armell ketika menghampiri suaminya sambil mengecup pipi Seno.
Lagi-lagi, Bryan memandangnya jengah. " Yang kamu tinggalin bukan cuma suami kamu kali. Gue sama damar juga. Lo nggak mau kasih kecupan ke kita juga? " protes Bryan kesal.
" Nggak. " sahut Armell singkat.
Melihat ibu mertuanya, Seno lalu bangkit dari duduknya dan segera menyalami mertuanya dan mencium punggung tangannya. Juga dengan Bryan dan Damar.
" Duduk dulu. Wah, kok tumben datang kesini ada apa ini ya? " tanya ibu sambil ikut duduk di antara mereka.
" Armell bilang kangen sama ibu sama Pipit. Sama kampung juga Bu. Dan kebetulan Bryan sedang libur. Jadi pengen ikut sekalian. " jawab Seno.
" Bu, Pipit belum pulang sekolah? " tanya Armell sambil duduk bergelayut manja di lengan Seno.
" Paling seb...."
" Assalamualaikum...." sapa Pipit keras dari luar rumah terdengar, memotong ucapan sang ibu.
" Tuh anaknya. Panjang umur dia. Waalaikum salam..." ujar sang ibu.
" Waalaikum salam..." sahut semua yang ada di situ.
Pipit masuk ke dalam rumah sambil berjalan dengan pandangan ke belakang melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya.
" Bu, itu kayak mobil Abang polisi bukan? " tanya Pipit yang masih berada di depan rumah.
Karena matanya yang tidak melihat jalanan yang di lewatinya, ia menabrak pinggiran pintu rumahnya.
" Astaghfirullah....Nih pintu kebiasaan deh. Bilang kek kalau udah deket. Jadinya kan mata aku langsung lihat. " gerutu Pipit sambil menggosok pipinya yang sakit karena tertabrak kayu pintu.
Semua yang ada di ruang tamu itu terkekeh melihat tingkah adik Armell.
' Tuh bocah masih aja ceroboh. ' batin Bryan sambil memandang gadis berseragam putih abu-abu itu dengan tersenyum.
" Kok malah nyalahin pintu. Mata kamu itu yang meleng. Makanya kalau jalan lihat depan. " Armell menimpali.
Pipit langsung mencari sumber suara yang mirip suara kakaknya itu.
" Mbaaaakkkk....." pekik Pipit langsung segera menghampiri Armell dan memeluknya erat. " Pipit kangen....."
Cukup lama mereka berpelukan. Yang akhirnya di sudahi oleh Pipit.
" Loh, ramai toh? " ujar Pipit saat menyadari jika kursi di ruang tamunya penuh. Lalu ia menghampiri kakak iparnya dan menyalami serta mencium punggung tangan Seno. " Apa kabar abangku yang ganteng? " sapa Pipit.
Seno terkekeh mendengar sapaan adik iparnya. " Alhamdulillah, Abang sehat. " jawabnya.
" Eh, ada om dokter juga. Halo, om. " sapa Pipit ke Bryan.
" Ck. " Bryan berdecak mendengar Pipit menyapanya dengan memanggilnya 'om'. Tapi tak urung dia menerima uluran tangan Pipit untuk bersalaman.
" Eh, ada bang Damar juga. Apa kabar bang? " sapa Pipit ke Damar. Lalu mereka saling bersalaman juga. " Makin gagah aja bang Damar. " puji Pipit sambil terkekeh.
' Manggil gue om. Giliran manggil dia ' bang '. Pakai muji-muji segala. ' gerutu Bryan kesal.
" Non Fitria bisa aja. " sahut Damar tak enak hati dengan candaan adik ipar bosnya.
" Udah sana, cuci tangan. Terus sekalian bikinin minum buat tamunya. " titah sang ibu.
" Siap ibuku yang cantik. " sahut Pipit dengan semangatnya.
Lalu Pipit segera masuk ke dalam. Dan ada sepasang mata yang entah kenapa, selalu memandang setiap gerak Pipit. Dan akhirnya pandangan itu terputus karena dinding yang menghalangi.
Lalu mereka kembali mengobrol banyak hal. Setelah mencuci tangan, berganti pakaian, juga membuatkan minuman untuk Seno dan yang lainnya, Pipit juga ikut bergabung.
Obrolan mereka berlangsung hingga sore menjelang. Tak terasa, jam menunjukkan pukul 3 sore. Adzan ashar berkumandang dari masjid dekat rumah Armell.
" Wah, udah sore ternyata. Sebaiknya kalian istirahat dulu. " ucap ibu. " Eh, aduh... karena kalian datang nggak ngasih kabar dulu, ibu belum sempat beresin kamar depan. Gimana ini ya? " ucap ibu panik.
" Ibu nggak usah bingung. Nanti dokter Bryan sama bang Damar, nginap di rumah Tante Ira aja. " sahut Armell.
" Di tempat yang kemarin aku menginap itu? " tanya Seno. Dan Armell mengangguk. " Ya udah kalau gitu, ayo gue anter ke sana. Tantenya cantik loh Bry. " goda Seno.
" Emang lo kata gue doyan sama tante-tante. " protes Bryan.
" Mas, jangan asal loh. Tante Ira bukan jendes loh. Dia itu punya suami. Cuma suaminya kerja di luar kota. " sahut Armell.
" Jadi nggak ada suaminya di rumah? Terus emang nggak pa-pa kalau ada laki-laki yang menginap di rumahnya? " tanya Bryan memastikan.
" Om dokter tenang aja. Tempat Tante Ira emang udah biasa buat menginap orang meskipun suaminya nggak di rumah. Jadi so far, nggak ada masalah sih. Kecuali kalau tiba-tiba entar malam om dokter masuk ke dalam rumah diam-diam, terus kalian ketahuan warga. Baru tuh heboh. Langsung deh keluar di berita pagi lambe nyinyir, Tante cantik ketahuan lagi selingkuh sama om-om bule ganteng. " sahut Pipit.
Cethak
Bryan menyentil dahi Pipit.
" Aduh, om dokter....sakit. " pekik Pipit. " Jangan mentang-mentang om ini tahu caranya ngobatin orang, terus dengan seenaknya menganiaya orang lain ya. " lanjut Pipit.
" Udah ah...Kok malah jadi ribut. Entar berjodoh loh. " canda Armell.
" Ihhh, amit-amit deh.... Amit-amit si jabang bayi. " ujar Pipit sambil menggetok-getok kepalanya. " Pipit masih normal. Pipit masih suka yang seger-seger. " lanjutnya.
Bryan kesal dengan jawaban Pipit. Ia hendak menyentilnya lagi tapi keburu Pipit menjauh sambil menjulurkan lidahnya. Memang begitulah Bryan dan Pipit kalau sudah bertemu. Entah kenapa dan semenjak kapan hubungan mereka jadi seperti itu.
" Pit, kamu anterin dokter Bryan sama bang Damar ke tempat Tante Ira. Bilang sama Tante Ira, mereka menginap dua malam. " titah Armell.
" Oh iya, ini uang buat sewa untuk Damar. " sahut Seno sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan dan memberikannya ke Pipit. " Kalau Bryan, kamu minta sendiri ke dia. Dia bakalan bayar sendiri. Duitnya banyak. " lanjutnya.
" Iya. Gue juga nggak bakalan minta di bayarin sama elu. " sahut Bryan ketus. Lalu keluar dari rumah dan mengambil tasnya yang masih di mobil.
" Dek, itu tadi uang yang di kasih sama mas Seno, itu buat bayar penginapan di tempat Tante Ira. Buat bang Damar sama dokter Bryan juga. Cukup kan? " ujar Armell.
" Kayaknya cukup sih mbak. " jawab Pipit sambil menghitung uang yang ada di tangannya.
" Minta kortingan kalau perlu. " tambah Armell.
" Siap. Ya udah, Pipit anterin mereka dulu. " ujar Pipit.
***
bersambung