
...Hai kak.....Hari ini spesial day yah.... Merayakan popularitas novel ini yang hari ini mencapai 1 M, author kasih yang spesial untuk hari ini......
... author mau nulis yang para reader tunggu-tunggu dan selalu di tanyain .... apakah itu kira-kira?????......
...Simak terus episode ini.......
__________________________________________________
Seno dan Armell sampai di hotel dengan keadaan basah kuyup. Mereka tadi belum sempat membeli baju. Karena ternyata toko baju yang di bilang si pedagang sudah tutup. Mungkin karena hujan yang deras jadi toko itu tutup lebih awal.
Alhasil, mereka masuk ke hotel dalam keadaan basah kuyup. Bahkan baju atasan Seno yang tadi kering, sekarang sudah ikut basah juga. Seno menghampiri resepsionis.
" Selamat malam. " sapa Seno.
" Selamat malam, tuan. Ada yang bisa kami bantu? " sapa resepsionis balik.
" Saya mau membooking kamar disini untuk semalam. " ucap Seno.
" Mau kamar yang jenis apa tuan? " tanya sang resepsionis.
" Kasih kamar yang paling bagus di hotel ini. " jawab Seno.
" Baik tuan. Kamar terbaik kami di sini, ada yang menggunakan twin bed, ada yang menggunakan bed ukuran king. Mau yang mana kak?" tanya resepsionis.
" Yang single king size. " jawab Seno.
" Baik tuan, bisa pinjam KTPnya? " pinta resepsionis.
Seno langsung mengambil KTP dari dompetnya dan memberikannya ke resepsionis. Setelah mengentry data Seno, resepsionis memberikan sebuah kunci untuk kamar yang akan di tempati oleh Armell juga Seno.
" Maaf, apa di sekitar sini tidak ada toko baju selain yang di sebelah hotel itu? Kami butuh baju ganti." tanya Seno.
" Maaf tuan. Tidak ada. Toko itu satu-satunya yang ada di sini. Kalau mau, kami bisa membantu membeli pakaian online. Tapi ya memang harus menunggu juga karena hujan sangat lebat begini. Atau anda bisa memberikan baju anda yang basah kepada kami. Kami akan mencuci dan mengeringkannya. Besok pagi, saya pastikan baju anda sudah bisa di kenakan lagi. Untuk sementara anda dan istri anda bisa memakai bathrope yang ada di kamar. " jelas resepsionis.
" Oh, baiklah kalau begitu. Saya mau ambil opsi yang laundry aja. Nanti tolong ambil baju kami ke kamar. " ucap Seno.
Kemudian seorang bellboy mengantar Seno juga Armell ke kamar mereka yang berada di lantai tiga.
" Kamu cepetan mandi sana. Biar tubuh kamu tidak semakin kedinginan. " ucap Seno saat mereka telah masuk ke dalam kamar.
Armell mengangguk. Kemudian ia segera masuk kedalam kamar mandi dan mandi tentu saja. Selang beberapa saat, setelah ia selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrope dan rambut yang tergerai basah.
" Sudah mas. Mas juga buruan mandi. " ucap Armell memberitahu Seno yang semenjak tadi berdiri dekat kamar mandi. Karena dia tidak mungkin duduk karena bajunya basah.
Kemudian Seno cepat-cepat masuk dan melepas pakaiannya karena ia sudah merasa kedinginan.
Tok ..tok ..tok ..pintu kamar di ketuk.
Armell membukanya dan seorang wanita paruh baya berada di depan pintu.
" Maaf nona, tadi resepsionis bilang, tamu di kamar ini mau menggunakan jasa laundry. Saya pegawai bagian laundry. " jelas wanita paruh baya itu.
" Oh, iya.. Sebentar ya Bu, saya ambilkan. " ucap Armell lalu ia kembali masuk dan mengambil bajunya dan juga meminta baju Seno yang masih berada di dalam kamar mandi.
Setelah menerima baju Seno yang di selipkan dari pintu kamar mandi, Armell kembali ke depan untuk memberikan baju-baju itu ke pegawai laundry.
" Ini Bu. " Armell memberikan baju-baju itu.
" Baik, nona. Besok pagi, saya akan mengantar baju-baju ini kembali. " ucap pegawai laundry, kemudian ia berlalu.
Armell kembali menutup pintu dan masuk ke kamar. Lalu ia menyeduh teh hangat untuk dirinya dan juga untuk suaminya. Kebetulan tadi saat petugas laundry datang, ia sudah menghangatkan airnya. Jadi sekarang ia tinggal membuatnya.
Setelah tehnya jadi, pas Seno keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrope juga pastinya.
" Tehnya di minum dulu, mas. Mumpung masih hangat. " ucap Armell sambil menyerahkan segelas teh ke Seno.
" Makasih. " Seno menerimanya.
Kemudian mereka minum teh sama-sama dalam diam dan dengan pikiran mereka masing-masing.
Tiba-tiba mendadak suasana menjadi canggung. Seno yang dengan pikirannya kalau saat ini hanya bathrope yang menutup tubuh istrinya. Begitu juga dengan pikiran Armell yang mulai melayang.
Untuk menghindari kecanggungan, Armell berpindah tempat. Ia berjalan mendekati meja tempat ia menyeduh teh tadi. Ia meletakkan gelas tehnya di sana. Kemudian ia kembali mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang ia bawa dari kamar mandi tadi.
Seno datang dan mengambil alih handuk yang ada di tangan Armell.
" Ah, i-iya. " jawab Armell gugup mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
Seno menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut Armell. Kini ia mendekap erat tubuh Armell dari belakang. Membuat Armell terkesiap.
" Mas..." protesnya.
" Diamlah. Aku akan menghangatkan tubuhmu." sahut Seno.
' Kalau gini sih bukan menghangatkan tahu mas. Tapi bikin tubuhku semakin kedinginan. Tuh kan, jadi merinding gini. ' ucap Armell dalam hatinya.
Meskipun Armell merasa aneh dipeluk seperti ini, tapi ia diam tidak menolak. Lalu Seno melepas dekapannya dan memutar tubuh Armell sehingga menghadap ke arahnya.
" Aku akan menghangatkan tubuhmu dengan cara lain. " ucapnya sambil menyeringai.
Seno mendekatkan bibirnya ke bibir Armell. Ia mulai mencium bibir Armell lembut. Tidak ada penolakan maupun balasan dari Armell. Armell hanya memejamkan matanya. Pikirannya kemana-mana.
' Oh Tuhan, apakah harus malam ini? ' tanyanya dalam hati.
Armell teringat kembali omongan Ikke. ' Jangan biarkan suamimu melihat rumput tetangga, Mell. Kadang rumput tetangga lebih hijau loh. '
Kemudian bayang-bayang Mariana juga mampir. Ia merasa tidak nyaman. Ia tidak akan membiarkan suaminya jatuh ke pelukan perempuan lain.
" Baby, sekarang sudah ganti tahun. Kamu bilang kita unboxing kalau sudah ganti tahun kan. Apa sekarang kita sudah bisa melakukan the real unboxing? " bisik Seno di telinga Armell.
Armell menunduk. Antara iya dan takut. Iya karena ia takut kata-kata Ikke menjadi kenyataan. Dan takut jika akhirnya ia harus berpisah dengan suaminya.
Seno menariknya kedalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh Armell. Memberikan kekuatan dan keyakinan pada Armell.
Lalu ia melepas pelukan itu, tapi tetap memeluk pinggang Armell. Kini mata mereka saling berpandangan. Seno kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Armell. Ia mulai mencium bibir Armell. Karena tidak ada penolakan, Seno mulai ******* bibir Armell lembut. Kini Armell membalas ciuman suaminya.
Seno tersenyum dalam hati. Ia merasa mendapatkan lampu hijau. Ia menarik tubuh Armell semakin dekat dengannya. Sebelah tangannya menarik tengkuk Armell untuk memperdalam ciuman mereka.
Merasa semua terbalas, Seno semakin memberanikan diri untuk mempekerjakan tangannya. Ia mengelus punggung Armell, kemudian pinggang Armell meskipun masih terlapisi bathrope.
Dan terjadilah hal yang memang seharusnya terjadi sejak mereka menikah dulu. Armell menunaikan kewajibannya dan Seno mendapatkan haknya.
Akhirnya Seno bisa melihat pemandangan indah yang selama ini menghantui malam-malamnya.
Merasa badannya semakin panas dan bergelora, Seno melepas bathrope nya. Kini tubuh mereka sama-sama polos. Armell yang melihat tubuh suaminya, menelan salivanya dengan susah payah.
Seno tidak menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia menikmati seluruh tubuh Armell. Ia sengaja mengulur waktu yang cukup panjang untuk membuat Armell benar-benar menikmati pengalaman pertama mereka ini.
" Baby, boleh aku masuk sekarang? " tanya Seno meminta ijin.
Armell mengangguk. Dan Seno tersenyum. Juga Martinez.
Seno memasukkan Martinez perlahan. Ia tidak ingin terlalu menyakiti istrinya. Dan sepertinya Martinez mau di ajak bekerja sama.
" Mmmmpptt..." Armell membekap mulutnya menahan sakit.
Baru kepala Martinez yang masuk, Seno sudah hampir menyerah karena tidak tega melihat Armell yang menahan sakit. Ia akan mengeluarkan lagi kepala Martinez, tapi Armell menggeleng.
" Baby, kita lanjutkan besok. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan begini. " ujar Seno sambil memandang Armell.
" Mau sekarang, atau besok juga sama-sama sakitnya. Sekalian sekarang aja. Sakitnya udah kepalang tanggung. " jawab Armell lirih sambil menahan sakit.
" Kamu yakin? " tanya Seno. Armell mengangguk.
Seno mulai memasukkan Martinez lebih dalam saat melihat Armell sudah tidak begitu kesakitan.
Tes...tes ..tes...
Darah segar menetes saat Martinez berhasil masuk dengan sempurna. Sampai akhirnya lenguhan panjang Armell dan juga Seno terdengar. Martinez telah mengeluarkan seluruh kecebongnya di tempat yang tepat.
Mereka saling berpelukan saat kegiatan panas mereka usai, dan saling memejamkan mata tidur karena lelah.
***
bersambung
Segini dulu ya guys....Gimana? Udah puas dong ya... Karena author udah ngasih yang kalian mau selama ini ...Seperti Martinez...😄😄😄... yang juga sudah puas karena telah berhasil mengantarkan kecebong di tempat yang benar dan dengan selamat...
Tapi author juga minta maaf, karena ini cerita mengandung konten 21+, jadi proses review nya agak susah... berkali-kali di tolak guys ...sedih nggak sih??? Harus revisi dan revisi...jadinya ya cuma gitu aja ceritanya setelah di revisi... nggak bisa yang bikin baper banget....