My Handsome Police

My Handsome Police
Ada sayapnya?



" Dok, boleh saya bawa pulang istri saya? Saya mau pulang ke ibukota. Kalau memang masih perlu rawat inap, sampai ibukota akan saya bawa ke rumah sakit langsung. " tanya Seno.


" Sebenarnya, istri anda harus beristirahat dulu di rumah sakit paling tidak sampai luka jahitnya mengering. Takutnya istri banyak gerak dan lukanya akan terbuka lagi. " ucap dokter.


" Saya akan diam dok. Biar lukanya tidak terbuka lagi. Soalnya kalau terbuka lagi dan di jahit lagi, mending saya diam sepanjang hari. " sahut Armell.


Seno tersenyum mendengar jawaban istrinya dan mengusap rambut Armell.


" Baiklah kalau begitu. Anda bisa membawa istri anda pulang. Jangan lupa untuk mengganti perbannya dua hari sekali. Jangan terkena air dulu lukanya. " ujar dokter.


" Baik, dok. " jawab Seno. Dokter lalu berlalu meninggalkan Seno dan Armell.


" Beb, aku tinggal dulu sebentar mengurus administrasi ya. " ucap Seno sambil mengelus pipi Armell.


" Mas, tengokin kak Stella dulu. Bagaimana keadaannya. " pinta Armell.


" Baby, udah ada tim medis yang ngerawat dia. " ujar Seno. Ia sebenarnya malas untuk bertemu dengan Stella.


" Kasihan dia. Nggak ada keluarganya juga kan di sini? Atau sekalian aja mas pindahin dia ke Jakarta. Biar dia ada yang jaga. " sahut Armell.


" Mau di sini, mau di Jakarta, bukannya sama aja? Siapa yang mau jagain dia kalau kita bawa ke Jakarta? Keluarganya ada di luar Jawa semua. " sahut Seno malas.


" Kan mas bisa terkadang nengokin. Nanyain apa yang dia butuhkan. " ujar Armell dengan polosnya. Membuat Seno ingin menggigit istrinya itu.


" Baby, aku heran sama kamu. Sebenarnya kamu itu cinta beneran nggak sih sama aku? " tanya Seno.


" Kok, jadi bahas itu? Ya cinta lah. Kalau nggak cinta mana mau di masukin Martinez punya kamu. " jawab Armell kesal.


" Kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu nggak pernah cemburu? " tanya Seno.


" Emang harus ya kalau cinta itu cemburu? "


" Ya iyalah baby. Kalau ada rasa cemburu, berarti ada rasa takut di tinggalkan. "


" Emang mas mau ninggalin aku? "


" Ya nggak. Kamu gimana sih? " Seno malah menjadi kesal sendiri.


" Mas, dengerin ya. Mell tuh sayang sama mas. Cinta sama mas. Banget malahan. Kalau rasa takut di tinggalkan, ya pasti lah. Mell takut mas pergi ke perempuan lain. Tapi ini masalahnya berbeda mas. Ini itu rasa kemanusiaan. Kasihan. Bukan saatnya Mell harus cemburu. " ujar Armell.


Seno tersenyum, " Baby, terbuat dari apa sih hati kamu ini. Kamu kan juga lagi sakit. Kenapa harus mikirin orang lain? Kalau aku harus menjaga seseorang, itu kamu baby. Bukan orang lain. "


Seno membawa Armell dalam dekapannya dan mengecup puncak kepala Armell. " Baby, kamu nggak usah khawatir sama Stella. Di sini banyak dokter dan perawat. Ada banyak yang jagain dia. Papa tadi sudah nyuruh Rezky untuk menghubungi keluarganya. Mungkin besok juga sudah sampai sini. "


Armell mengangguk. " Iya. Tapi paling tidak, lihatlah dia sebentar. Bagaimana keadaannya. Buat aku. " ucapnya.


Seno tersenyum, " Iya. Istriku yang wonder woman. " ia mengecup bibir Armell sekilas.


Lalu ia segera keluar untuk membereskan administrasi untuk Armell dan juga Stella. Setelah menyelesaikan semua administrasi, ia menjenguk Stella Sebentar. Karena Stella masih dalam pengaruh obat bius, jadi Seno hanya melihatnya sekilas, lalu menanyakan keadaannya ke suster yang merawatnya.


Dalam perjalanan pulang ke ibukota.


Seno dan Armell duduk di jok belakang. Dan Rezky mengemudikan mobilnya. Sedangkan tuan Adiguna setelah mengetahui keadaan menantu kesayangannya baik-baik saja, ia kembali terlebih dahulu ke Jakarta bersama Dion. Karena istrinya selalu menghubungi menanyakan keadaan Armell.


" Bang Rezky, maaf ya..Mell ngerepotin terus. " ucap Armell.


" Tidak masalah nona. " sahut Rezky.


" Makasihnya cuma sama Rezky nih? Sama aku nggak? Aku udah gendong kamu juga lho tadi. " tukas Seno.


" Iya .iya .. Terima kasih banyak my Handsome husband. " ucap Armell lalu mengecup pipi Seno sekilas.


Seno membalas kecupan Armell. Lalu mereka saling berpandangan dan tersenyum.


" Hoammm...." Armell menguap.


" Kamu ngantuk? " tanya Seno. Armell mengangguk. Lalu Seno menggeser duduknya ke tepi. " Tidurlah. " ucapnya sambil membaringkan tubuh Armell dan membawa kepala Armell ke pangkuannya. Armell tersenyum lalu ia menutup matanya. Rasanya nyaman sekali. Seno membelai lembut rambut Armell sampai Armelll tertidur pulas.


Seno juga ikutan tertidur. Karena hari memang sudah larut malam dan siang tadi ia tidak bisa istirahat sama sekali karena panik dan bingung mencari istrinya.


Tak terasa perjalanan sudah hampir dua jam mereka lalui. Sebentar lagi mereka akan segera sampai rumah. Armell terbangun karena ia merasa tidak nyaman. Ada yang basah yang keluar dari bagian bawahnya. Ia lalu bangkit dari tidurnya.


" Ssshhh...." Armell mendesis karena lengannya terasa sakit. Sepertinya pengaruh obat biusnya sudah hilang. Seno yang merasa ada pergerakan dari orang yang berada dalam pangkuannya ikut membuka matanya.


" Kenapa baby? Sakit lengannya? " tanya Seno sambil memegang tangan Armell.


" Sedikit. " jawab Armell. " Mas, bisa minta tolong? Tolong ambilin tisu. " pinta Armell.


Seno lalu meraih tisu yang ada di dekat jok depan. Lalu memberikannya ke Armell. Armell menerima tisu itu lalu memasukkan tangannya ke dalam celananya. Ah, sepertinya dugaannya benar. Ia datang bulan.


" Kenapa baby? " tanya Seno.


" Bang, bisa minta tolong, nanti kalau ada toko atau supermarket berhenti sebentar? Ini kan udah mau sampai rumah. " pinta Armell.


" Iya nona. "


" Mau ngapain ke supermarket? Kamu lapar? " tanya Seno.


Armell menggeleng. Lalu ia mendekatkan tubuhnya ke Seno, " Nanti tolong mas beliin pembalut ya? " bisik Armell.


" Pembalut? Pembalut buat luka kamu? " tanya Seno.


" Ck! Bukan. " sahut Armell.


" Lalu? "


" Sepertinya aku datang bulan. Jadi belikan pembalut buat datang bulan. Di rumah persediaan habis. " bisik Armell kembali.


Seno mengangguk sambil tersenyum, " Ohhh..."


" Kamu tunggu di sini. Biar aku aja yang keluar. " ujar Seno. Armell mengangguk. " Oh iya, merk-nya apa? " Tanya Seno karena ia memang tidak mengerti masalah begituan.


Lalu Armell menunjukkan salah satu merk pembalut yang biasa ia pakai. Setelah tahu merk-nya Seno segera turun dan masuk ke dalam supermarket. Tak berselang lama, Seno kembali keluar dengan membawa sakantong plastik besar yang isinya pembalut semua. Membuat Armell menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi ia tidak memprotes. Karena percuma saja ia protes. Toh, sudah terlanjur di beli juga.


Setengah jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi, sampai di depan rumah Seno dengan selamat. Seno lalu menggendong Armell dan membawanya langsung ke kamar.


" Mau ganti baju di sini, apa di kamar mandi? " tawar Seno dengan Armell yang masih dalam gendongannya.


" Kamar mandi aja. Sekalian mau bersihin yang di bawah. " ucap Armell.


Lalu Seno membawanya ke kamar mandi. Ia mendudukkan Armell di atas closet yang tertutup. Lalu ia mengambil handuk, juga bathrope. Lalu keluar dari kamar mandi untuk mengambil pembalut.


" Baby, bisa berdiri kan? " tanya Seno. Armell mengangguk. Lalu ia berdiri.


Setelah Armell berdiri, Seno jongkok di depannya hendak membuka resleting celana Armell. Armell segera menahan tangan Seno.


" Mas mau ngapain? "


" Buka celana kamu. Katanya mau ganti baju. Kalau nggak aku bantuin, emang bisa buka dan ganti baju sendiri? " tanya Seno sambil mendongak melihat Armell.


Armell lalu melihat keadaan dirinya. Tangan kirinya terbalut dan di tali dengan lehernya sehingga ia tidak bisa menggerakkan tangannya dengan bebas. Tentu saja ia tidak bisa melakukan apapun sendiri sekarang. Akhirnya ia melepas pegangannya di tangan Seno.


Membiarkan Seno membantunya melepas pakaiannya dan menggantikannya. Armell menoleh ke sembarang arah karena ia masih merasa malu jika dengan sengaja dan dalam keadaan sadar seperti sekarang, ia harus bertelanjang bulat di depan suaminya.


Seno membuka satu persatu pakaian Armell sambil menyunggingkan senyumnya.


" Kenapa mas senyum-senyum begitu? " tanya Armell.


" Kalau senyum tandanya bahagia, senang. " jawab Seno sambil membuka baju atasan Armell secara perlahan karena khawatir mengenai lengan Armell yang terluka.


" Bahagia kenapa? "


" Ya bahagia. Karena kamu sudah datang bulan. Jadi aku tidak perlu berlama-lama lagi puasanya." sahut Seno. Kini ia membuka penutup dada Armell. Armell mengapit dadanya, menutupi dengan sebelah tangannya.


" Kenapa di tutup? Udah biasa aku lihat juga. " ujar Seno sambil sibuk melepas ****** ***** mengelap membersihkan tubuh Armell.


" Takutnya mas jadi *****. " ucap Armell sekenanya.


" Di tutup aja ***** kok. " sahut Seno sambil tersenyum. Sengaja ia menggoda istrinya.


" Ck. "


" Baby, mau sekalian ganti baju tidur kan? " tanya Seno. Armell mengangguk. Lalu Seno keluar dan mengambil baju tidur milik Armell.


" Baby, aku tidak mengambilkan br@. Bukankah kalau malam kamu tidak suka memakainya? " tanya Seno. Armell mengangguk.


" Berarti pakai ****** ***** aja dulu. " ujar Seno sambil kembali berjongkok di depan Armell.


" Mas, pembalutnya belum. "


" Ha? Pakai pembalut? Di sini? "


" Ya iyalah. Kalau nggak pakai pembalut, nanti sprainya merah semua. " jawab Armell.


" Terus, pakainya gimana? " tanya Seno sambil kembali berdiri.


" Mas ambilin pembalutnya satu. " Seno melakukan instruksi istrinya. " Terus buka plastiknya. Kalau udah, tempelin ke ****** *****. "


" Gini? " tanya Seno menunjukkan hasil pekerjaannya.


Armell mengangguk. " Terus, kertas yang di wing-nya di lepas, wing-nya di tempel ke belakang. " lanjut Armell.


" Wing? Sayap? Ada sayapnya? " tanya Seno heran.


" Ada. Ini. " sahut Armell sambil menunjuk sayapnya.


" Oh...he..he..he..." lalu Seno mengikuti instruksi Armell kembali. " Begini? " tanyanya.


" He em. Nggak miring kan masangnya? "


Seno meneliti kembali. " Sepertinya nggak. " jawabnya.


" Ya udah, cepetan pakaiin. Buru dingin. " pinta Armell.


Seno kembali berjongkok dan memakaikannya ke Armell.


" Ribet juga jadi perempuan ternyata. " ujar Seno.


" Hem. " Armell mengangguk. " Nanti ****** ***** yang kotor tadi taruh aja di pojokan sana. Besok Mell cuci. "


" Udah, nggak usah di pikirin. Ntar biar aku cuci. " sahut Seno sambil memakaikan baju tidur Armell.


" Jijik mas. Kan ada darahnya. " ujar Armell.


" Emang kenapa? Darah istri sendiri ini. Udah, nggak usah di pikir. Nah, udah selesai. Ayo, ke tempat tidur. " ujar Seno sambil mengangkat kembali tubuh istrinya.


" Mell bisa jalan sendiri lho mas. "


" Kali ini, biarkan suamimu ini memanjakanmu. Oke? " sahut Armell sambil mengecup bibir Armell.


***


bersambung


Baper nggak guys....Pengen juga nggak di perlakukan seperti itu sama suami???? Author aja nulisnya sambil terbaper-baper...