My Handsome Police

My Handsome Police
Penyakit berbahaya?



" Sebenarnya, ada apa dengan istri saya dok? " tanya Seno dengan tidak sabar.


Dokter Ratna menarik nafas dalam-dalam.


" Tuan, apakah sebelum ini istri anda sering mengeluh kesakitan di perutnya? " tanya dokter Ratna.


" Kalau sering atau tidaknya, saya kurang tahu dok. Karena istri saya tidak suka mengeluh mengenai apapun. Apalagi rasa sakit. Kalau tidak sakit yang amat sangat, ia tidak akan mengatakannya. Tapi pernah satu kali dia merasa kesakitan di bagian perut bawahnya. " jawab Seno.


" Apakah saat itu istri anda pernah memeriksakan kandungannya? "


Seno menggeleng. " Tidak dok. Karena ia selalu menolak kalau saya ajak ke rumah sakit. Ia bilang, rasa sakit itu efek menjelang datang bulan. "


Dokter Ratna mengangguk-angguk.


" Maaf tuan. Kami harus mengatakan hal ini. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim istri anda. Istri anda keguguran. " ucap dokter Ratna.


Seno agak terkejut. Ia belum begitu mengerti apa yang di katakan dokter Ratna.


" Saya....Saya tidak mengerti dokter. Janin? Keguguran? " ujar Seno sambil mengerutkan kedua alisnya sehingga alisnya yang tebal itu saling bertautan.


" Sen, apa lo nggak tahu kalau Armell sedang mengandung? " tanya Bryan.


" Ap-apa? Mengandung? Hamil? Armell hamil? " Seno semakin kebingungan. Ia memandang Bryan dan dokter Ratna bergantian.


Bryan dan dokter Ratna sama-sama mengangguk bersamaan.


" Dan dia....dia keguguran? " tanyanya kembali.


Kembali, Bryan dan dokter Ratna mengangguk bersamaan.


" Usia kandungannya 7 Minggu. Baru hampir 2 bulan. Tapi janinnya tidak tertolong. Saat sampai di sini, janinnya sudah luntur. " jelas dokter Ratna.


Hati Seno seperti di pukul dengan bogem besar. Hatinya sakit, dan terasa berat. Tak dapat ia elakkan, air matanya pun luruh. Ia mengusap wajahnya kasar.


Bryan menepuk perlahan pundak Seno untuk menenangkannya.


" Saya tidak tahu jika istri saya sedang hamil dok. Dan saya juga yakin sekali, istri saya juga tidak tahu jika dirinya sedang mengandung. " ujar Seno lemah.


" Lo harus kuat. Karena Lo harus kasih kekuatan ke istri Lo. " ucap Bryan.


" Apa yang menyebabkan istri saya sampai keguguran dokter? Setahu saya, akhir-akhir ini dia tidak melakukan kegiatan yang berlebihan. " tanya Seno.


" Kandungan istri anda sangat lemah tuan. Biasanya jika seorang perempuan mengandung dalam kondisi kandungan yang seperti ini, ia harus bedrest total sampai usia kandungannya mencapai 7 bulan." jelas dokter Ratna.


" Di kandungan istri Lo, ada luka. Yang membuat kandungannya melemah. " tambah Bryan yang seorang dokter spesialis dalam.


" Maksudnya? Apa dia mempunyai penyakit yang berbahaya dalam kandungannya? " tanya Seno.


" Bukan, tuan. Luka itu bukan penyakit. Tapi luka itu ada karena benturan yang sangat keras pada waktu sebelumnya. " ucap dokter Ratna.


" Benturan? " tanya Seno dengan mengerutkan alisnya.


" Lo ingat, dulu istri lo pernah di culik dan dia berkelahi dengan penculiknya itu? Yang sampai memar di mana-mana. " tanya Bryan. Seno mengangguk.


" Dulu gue nyuruh lo bawa dia ke rumah sakit untuk periksa lebih lanjut. Apa Lo bawa dia ke rumah sakit? " tanya Bryan kembali.


" Dianya nggak mau. Jadi gue nggak jadi bawa dia ke rumah sakit. " jawab Seno.


Bryan mengusap wajahnya. " Ketemu penyebabnya. Benturan yang terjadi di perut Armell saat itu, entah karena pukulan atau tendangan, menyebabkan kandungan Armell menjadi lemah. Jika saat itu kita langsung tahu, maka dia akan mendapatkan obat untuk menghilangkan luka itu. " jelas Bryan.


" Anda jangan berputus asa, tuan. Istri anda tetap bisa hamil lagi. Kami akan menerapi kandungan istri anda. Dengan bantuan terapi, vitamin, juga penyubur kandungan, insyaallah istri anda masih bisa hamil lagi. " jelas dokter Ratna.


Setelah berbincang banyak hal dengan dokter Ratna, kini Seno berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat inap Armell dengan di temani Bryan.


Bryan merangkul bahu Seno, "Lo harus kuat. Lo jangan putus asa. " ucap Bryan menenangkan Seno karena Seno terlihat hancur.


" Gue nggak sanggup, Bry. Ini semua karena gue. Andai gue nggak bermusuhan dengan Robert, maka Armell tidak akan mengalami hal ini. Gue suami yang nggak berguna, Bry....Gue nggak bisa jagain istri gue. " keluh Seno sambil terisak.


" Kalau lo mau menangis, menangis lah di sini, sekarang. Gue minta sama lo, jangan pernah menangis di depan istri lo. Lo harus kuat. Karena Armell butuh Lo. Sangat butuh lo untuk menguatkan dirinya dalam kondisi seperti ini. " ujar Bryan sambil menepuk-nepuk bahu Seno.


" Apa gue bisa Bry? Apa gue bisa ngadepin Armell? Dia pasti akan sangat kecewa. Ia pasti akan sangat bersedih. " ucap Seno sambil sesenggukan.


Bryan mengerti keadaan Seno saat ini. Sahabatnya itu pasti sangat hancur sekarang. Ia yang sudah bersahabat dengan Seno dari kecil, belum pernah ia melihat Seno menangis. Apalagi menangis sampai seperti ini.


" Lo pasti bisa Sen. Karena lo harus bisa. Demi Armell. Demi istri Lo. " ucap Bryan menguatkan.


" Lo ingat apa yang dokter Ratna tadi bilang kan? Lo bisa punya anak lagi. Asalkan istri lo mau ikut terapi dan melakukan pengobatan secara rutin. " ujar Bryan.


" Bry, apa gue nggak usah kasih tahu dia kalau dia keguguran? Jadi dia tidak akan terlalu bersedih. " ya Seno.


" Nggak bisa gitu Sen. Dia ibunya. Dia punya hak untuk tahu tentang calon anaknya. Selain itu, jika ia harus melakukan terapi, ia harus tahu kondisi dirinya yang sebenarnya. " jelas Bryan.


" Tapi gimana gue bilangnya ke dia? "


" Gue bakal bantuin lo buat jelasin. Kita juga akan meminta bantuan dokter Ratna juga. Dia yang lebih mengerti kasus istri Lo. " jawab Bryan.


" Sekarang Lo udah selesai nangisnya kan? Lo harus segera temui istri Lo. Keluarga lo yang lain juga pasti nungguin berita dari Lo. Sebaiknya kita kesana sekarang. " ajak Bryan.


Seno mengusap air matanya dan mengangguk. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kamar Armell.


Setelah naik ke lantai paling atas, dan sedikit berbelok kiri, akhirnya Seno dan Bryan sampai di depan kamar Armell.


Sampai depan pintu, Seno berhenti di depan pintu tidak langsung membuka pintu. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Baru setelah itu, ia membuka pintu itu. Lalu ia masuk ke dalam dengan Bryan berjalan di belakangnya. Kamar rumah sakit yang seperti kamar hotel bintang lima. Kamarnya luas, tempat tidurnya juga besar. Ada AC juga penghangat ruangan.


Ibu dan mama mertua Armell duduk di samping kanan dan kiri Armell yang sepertinya masih terlelap.


Seno mendekat, " Bagaimana kondisi Armell ma, Bu? "


" Masih seperti ini. Dia belum sadar. " jawab sang mama.


Seno menghampiri Armell. Dia mengecup kening Armell cukup lama. Kemudian melepaskan. Ia menatap wajah Armell yang pucat, lalu di elusnya pipi sang istri.


" Apa yang dokter katakan? " tanya tuan Adiguna.


Seno menoleh ke arah sang papa. Kemudian mama, juga ibu mertuanya bergantian.


" Kita bicara di luar. El akan menjelaskannya. " ajak Seno. " Pit, titip kakak kamu sebentar ya. " pintanya ke adik iparnya.


" Iya kak. " sambil berjalan menuju ranjang Armell dan duduk di samping ranjang menggantikan sang ibu.


Lalu Seno, Bryan, tuan Adiguna, nyonya Ruth, juga ibu Armell keluar dari ruangan.


***


bersambung