
" Bukalah ponselmu. Kamu lihat. Aku benar apa tidak. " ujar Alex.
Armell segera mengambil ponselnya di tas. Membuka kunci ponselnya dan jleb.....
Seketika hidup Armell terasa runtuh. Tubuhnya tiba-tiba lemas seperti tak bertulang. Air mata mulai menggenang. Ia tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
Armell berdiri dari duduknya. Ia keluar dari cafe itu secepatnya. Alex segera menyusul Armell keluar. Bahkan untuk membayar tagihan makanan mereka ia meninggalkan uang di meja sambil berteriak ke waiters untuk mengambilnya. Ia tidak peduli lagi jika uangnya terlalu banyak ia tinggalkan.
" Armell....." teriak Alex memanggil Armell. Tapi yang di panggil tetap berlari.
Armell memperhentikan sebuah taksi yang lewat.
" Mell...." Alex berhasil meraih tangan Alex.
" Maaf Lex. Udah sore. Aku harus segera pulang. " pamit Armell. Ia masih menahan tangisnya. Ia tidak ingin meneteskan air mata. Apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan air matanya menetes. Karena kalau sampai air matanya menetes, berarti ia sudah kalah dengan kehidupan. Dan dia tidak menginginkan itu.
" Mell, maafkan aku jika apa yang aku katakan malah justru melukaimu dan membuatmu bersedih." pinta Alex.
" Aku baik-baik saja Alex. Jangan khawatir. Aku tidak terluka ataupun bersedih. Karena aku, percaya dengan suamiku. Dia tidak akan melakukan hal sekeji itu. Aku yakin, foto itu hanya rekayasa. Siapapun yang memberikan foto-foto itu kepadamu, aku yakin dia sengaja ingin merusak rumah tanggaku. " jawab Armell sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Entah dari mana kekuatan yang di miliki Armell hingga dia bisa berucap seperti itu.
Alex menghela nafas sambil memejamkan matanya menunduk. Ia tidak menyangka jika Armell punya rasa percaya terhadap sang suami begitu besar. Ia juga melihat cinta yang begitu besar di mata Armell untuk suaminya. Ia kalah. Tidak seharusnya ia berniat memisahkan Armell dengan suaminya.
" Aku antar kamu pulang. " ucap Alex.
" Tidak usah. Terima kasih. Aku tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman dengan suamiku. Seperti hal yang tadi. " Armell menolak dengan halus.
" Tapi kamu yakin kamu tidak apa-apa? Wajahmu masih pucat. " Alex terlihat begitu khawatir dengan Armell.
" Aku baik-baik saja, Alex. Aku harap, setelah ini, kita akan terus berteman. Sebaiknya kamu mencari gadis yang lebih baik dari aku. Dan berbahagialah. Karena akupun akan bahagia. " ujar Armell. " Aku pulang dulu. " pamitnya.
" Baiklah. Hati-hati di jalan. " ucap Alex. Armell mengangguk, lalu ia masuk ke dalam taksi.
Di dalam taksi Armell merenung sambil menahan rasa sakit di perutnya. Perutnya terasa kram. Tapi Armell merasa hanya karena ia akan datang bulan seperti biasa.
Armell mengambil ponselnya, lalu membuka kembali foto-foto yang di kirimkan oleh Alex tadi. Ia mengamati dalam-dalam foto itu. Ia mencoba mencari sesuatu dari foto itu. Mungkin saja ada keganjilan. Karena ia merasa tidak ingin mempercayai foto itu. Ia tetap ingin mempercayai suaminya.
Armell mencoba berpikir realistis. Ia tidak ingin menggunakan emosinya untuk menyelesaikan masalah ini. Karena emosi hanya akan membawa dirinya dalam kesalahpahaman. Kalau ia di tanya sekarang, ia merasa sakit di hatinya tentu saja. Siapa sih yang tidak akan sakit hati melihat suaminya berpelukan mesra dengan perempuan lain? Tapi ia tidak ingin termakan rasa itu.
Akhirnya, setelah meneliti dengan seksama, Armell menemukan keganjilan. Bukan editan. Ia yakin foto itu asli. Bukan rekayasa. Tapi yang aneh, foto itu terlihat foto lama. Penampilan Seno sedikit berbeda dengan Seno yang sekarang. Tubuhnya juga tidak segagah yang sekarang.
Armell mengerti sekarang. Foto itu, Armell yakin, kalau foto itu berasal dari masa lalu suaminya. Armell merasa sedikit lega. Meski di hatinya masih terasa ada luka. Hatinya masih terasa perih. Walaupun foto itu adalah foto Seno dengan mantan kekasihnya, tapi melihat Seno yang begitu mesra menatap kekasihnya, membuat hati Armell berdenyut.
Armell yang belum pernah dekat dengan cowok manapun, merasa takut. Kalau dulu Seno pernah semesra itu dengan perempuan lain dan kemudian mereka berpisah, bagaimana jika hal itu juga terjadi dengan dirinya.
Armell menyandarkan kepalanya di jok penumpang sambil memegang perutnya yang masih terasa sedikit sakit.
Setelah beberapa waktu, sampailah taksi yang Armell tumpangi, di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Armell segera membayar ongkos taksi dan keluar dari dalam taksi. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, ia melihat mobil Seno sudah terparkir di sana. Ia menghela nafas berat dan berjalan masuk ke dalam rumah.
" Darimana kamu jam segini baru pulang? " suara bariton Seno mengejutkan Armell.
" Assalamualaikum..." sapa Armell.
" Aku tanya sama kamu, dari mana kamu? " tanya Seno dengan nada suara dingin.
Seno menarik nafas dan menghembuskannya, " Wassalamu'alaikum salam. "
" Nah, gitu kan enak. " sahut Armell.
" Sekarang jawab pertanyaanku. " pinta Seno masih dengan nada suara dingin dan datar.
" Dari kampus mas. Tadi pagi kan aku udah pamit sama mas. " jawab Armell.
" Ngapain tadi di kampus? " tanya Seno kembali.
" Maju dosen. Seperti biasa. " jawab Armell.
" Yakin hanya itu? " tanya Seno.
Armell mengernyitkan dahinya. Ia semakin bingung dengan sikap suaminya. Kenapa suaminya hari ini berbeda dari biasanya. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya dia yang marah karena foto-foto Seno?
" Maksud mas apa sih? Mending ngomong yang jelas deh. Nggak usah pakai pertanyaan jebakan. Jadi berasa kayak narapidana. " sahut Armell yang sudah mulai jengah dengan sikap suaminya. Armell menghempaskan tubuhnya di sofa.
" Siapa laki-laki yang bersama kamu tadi? " tanya Seno.
" Laki-laki? " Armell semakin bingung.
" Iya. Laki-laki yang membuatmu ketawa ketiwi. Laki-laki yang terlihat sangat dekat denganmu. Apa dia pacar kamu? " tanya Seno kembali.
" Pacar? Pacar darimana? Aku nggak punya pacar. Bukankah aku sudah sering bilang sama mas. Lagian, aku tuh udah punya suami. ngapain masih punya pacar? " jawab Armell santai.
" Oh ya? " Seno memicingkan matanya sambil tersenyum meledek. " Lalu tadi ngapain pakai makan berdua? Nggak langsung pulang? "
" Cuma makan cake doang. Temenku yang ngajakin. Dia bilang khawatir karena aku terlihat pucat. Lalu dia mengajakku makan. Itu aja mas. " jawab Armell.
" Oh ya? Emang suami kamu nggak bisa ngasih kamu makan sampai laki-laki lain yang kasih kamu makan? Berdua lagi. BERDUA. " ucap Seno dengan nada naik satu oktaf.
" Mas...."
" Apa masih kurang apa yang aku kasih ke kamu? Apa masih kurang uang yang setiap bulan aku kasihkan ke kamu? " potong Seno. " Semua perempuan sama saja. Hanya harta yang mereka pikirkan. Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh dengan seorang pria. Mereka hanya bersungguh-sungguh dengan pria yang kaya raya. " ucap Seno dengan emosi yang meluap.
" Mas..." pekik Armell.
" Kenapa? Nggak terima? Aku tahu siapa laki-laki itu. Dia anak seorang dewan pusat. Dia juga pewaris tunggal keluarga Wiradmaja. Keluarga kaya raya. Kamu diam saja dia mendekatimu. Meskipun kamu tahu kalau kamu sudah punya suami. " ucap Seno sambil menunjuk ke muka Armell.
" Aku tahu aku hanya seorang polisi dengan kedudukan yang rendah. Tapi tidak bisakah kamu menghargaiku sebagai seorang suami? Tidak bisakah kamu sudah merasa cukup dengan apa yang aku berikan? Dan menerimaku apa adanya? Tidak bisakah kamu tidak memandang harta? " lanjut Seno masih dengan menggebu-gebu.
" Mas, kamu bicara apa? Siapa yang tidak menghargaimu? Aku bukan hanya menghargaimu, tapi aku juga menghormatimu sebagai seorang suami. Aku tidak pernah memandang seseorang dari hartanya. Akupun sama terhadapmu. Aku tidak mempermasalahkan apa pekerjaanmu, mas. " jawab Armell dengan tak kalah menggebu.
" Semua perempuan sama saja. Kamupun sama. Harta, harta, harta saja yang ada di pikiran kalian. " bentak Seno.
Dan tanpa mendengarkan penjelasan Armell, Seno berlalu begitu saja dari hadapan Armell. Ia pergi keluar dari rumah. Ia membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah.
Armell mendesah. Ia kembali duduk di sofa, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan memijat pelipisnya. Ia merasa kepalanya terasa berat.
***
bersambung