My Handsome Police

My Handsome Police
Gempa bumi



" Baby, kamu sudah bangun? " tanya Seno ketika ia baru membuka matanya di pagi hari berikutnya. Ia melihat sang istri sudah terbangun. Matanya sudah berbinar bak mentari pagi.


" Morning, honey. " sapa Armell dengan tatapan manja.


" Oh, baby....Kenapa kau juga membangunkan Martinez. Common, baby...Biarkan dia tidur damai. " keluh Seno saat ia menyadari apa yang di lakukan oleh tangan istrinya.


Armell lalu melepaskan tangannya dan wajahnya berubah menjadi cemberut. Ia pun merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi sang istri.


Seno mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya. Sungguh ia menjadi sangat dilema. Sebenarnya ia suka istrinya seperti ini. Jika saja kondisi Armell tidak semenakutkan saat ini, ia akan dengan senang hati melayani ***** sang istri. Karena iapun juga merindukannya. Tapi lagi-lagi ia harus ingat jika kandungan istrinya sangat rentan.


Seno menghela nafas berat, " Baby...." panggilnya.


Armell tidak bergeming. Sekarang malah terdengar suara isakan lirih dari Armell.


Kembali Seno menarik nafas dalam-dalam. Ia sedikit bangkit dan memiringkan tubuhnya menghadap Armell.


Drama pagi perempuan hamil di mulai...👏👏👏


" Baby...Kok nangis??" tanya Seno panik ketika melihat istrinya berderai air mata.


Armell menepis tangan Seno yang akan menghapus air matanya.


" Baby, maaf...I am so sorry...Jangan nangis, oke..." ujar Seno.


" Mas jahat. " seru Armell sambil menoleh ke arah Seno sebentar. Lalu ia kembali menangis sesenggukan.


" Baby, aku kenapa? Aku ada salah apa? Apa semalam aku mendengkur? Atau aku semalam menindih tubuhmu? " tanya Seno kebingungan.


" Dasar nggak peka!! Aku kan lagi hamil mas...Mas kalau nggak peka jadi suami, mending keluar sana. " usir Armell masih sambil sesenggukan.


Seno menepuk jidatnya, lalu menggosoknya. " Ya Tuhan.... Apalagi ini??" gumam Seno.


" Baby please ..Tell me..Aku sudah melakukan kesalahan apa? Biar aku bisa memperbaikinya? " tanya Seno kembali dengan sedikit kesal. Pagi-pagi bukannya mendapatkan morning kiss, malah dapat santapan kemarahan.


" Aku kan cuma pengen pegang itu aja. Kenapa nggak di bolehin? Itu juga karena anak kamu yang mau. Dulu aja mas juga sering nyuri-nyuri pegang-pegang aset aku. Tapi aku nggak marah. Kenapa sekarang aku pengen pegang punya kamu tapi kamu marah-marah? " ujar Armell dengan polosnya. Ia mengusap air mata dari pipinya.


Seno kembali menepuk jidatnya perlahan. Jadi sedari tadi yang membuat istrinya marah-marah, terus nangis-nangis, karena ia tidak memperbolehkan istrinya itu memegang Martinez.


" Baby, bukannya begitu. Bukannya aku nggak boleh. Tapi kalau kamu pegang, dia akan bangun. Sedangkan dokter bilang, aku tidak boleh menyebabkan goncangan di perut kamu. " jelas Seno.


" Maksudnya apa? " tanya Armell dengan tampang bloonnya. " Aku kan cuma megang aja. Kenapa kok bisa buat goncangan? Emang bisa bikin gempa bumi ya? "


" Duh, istriku.... Maksudnya, kalau kamu pegang Martinez terus dia bangun, bukankah kita harus membuatnya tidur kembali? Dan kamu juga tahu kan bagaimana caranya membuat Martinez tidur kembali. " jelas Seno.


Tiba-tiba Armell membekap mulutnya, lalu bangkit dari tidurnya, " Mmm....Hoek...."


Seno langsung segera mengangkat tubuh Armell dan di bawa ke kamar mandi. Sudah beberapa pagi ini, semenjak pagi waktu itu, Armell selalu muntah setiap pagi hari.


Dengan telaten, Seno memijat tengkuk istrinya yang sedang muntah-muntah. Lalu membersihkan bekas muntahan juga membasuh wajah istrinya. Setelah itu, ia mengangkat kembali tubuh lemas Armell ke kamar dan di rebahkan di atas tempat tidur.


Hampir setiap pagi hingga siang menjelang, tubuh Armell akan lemas tak bertenaga. Seno menyeka keringat yang mengucur di pelipis Armell.


Seno mengernyit, " Kok aku? " tanyanya.


" Kalau mas tadi mau aku pegang-pegang, pasti aku nggak mual. " jawab Armell.


Seno menghela nafas berat. Apalagi ini. Aneh-aneh saja ibu hamil satu ini. Masak iya, setiap pagi Seno harus menahan gejolak yang tak tersampaikan.


" Baby, aku akan tersiksa jika kamu pegang." keluh Seno.


" Mas pikir, aku nggak tersiksa? Harus muntah-muntah terus, badan lemes kayak gini. Kamu tahu mas, sehabis aku buka mata, nafsuku meningkat. Aku ingin menyentuh kamu, ingin di sentuh juga. Aku pengen menghabiskan pagi hangat sama kamu. " ujar Armell dengan nada kesal tapi lirih.


" Tapi kan dokter nggak boleh kita berhubungan, baby. " kilah Seno.


" Aku tahu itu. Makanya, aku cuma pengen nyentuh mas. Juga pengen di sentuh. Yang penting bisa merasakan sensasinya. Nggak sampai jauh-jauh. " ujar Armell.


" Baby..."


Armell segera memotong omongan Seno, " Aku mau tidur lagi sebentar. "


" Baiklah. " jawab Seno mengalah. Ia menaikkan selimut sampai ke dada istrinya. Lalu mengelus perut Armell yang sudah agak menggelembung. Karena usia kandungannya sudah 11 minggu.


Cup. Seno memberikan satu kecupan di kening Armell, lalu satu kecupan lagi di perut Armell. " Sehat-sehat terus, anak Daddy. " ucapnya.


Tak lama Armell sudah kembali ke alam mimpi. Dan memang seperti itu kebiasaan Armell setiap pagi. Ia akan bangun setelah badannya sudah tidak terasa lemas. Tubuhnya juga agak kurus sekarang karena ia tidak bisa makan banyak. Jika makanan yang ia makan tidak sesuai porsi, maka ia akan memuntahkan kembali semua makanannya.


Setelah istrinya kembali tertidur, Seno masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Di dalam kamar mandi, Seno terus berpikir. Apa benar jika ia memenuhi keinginan istrinya, maka istrinya itu tidak akan mengalami morning sick seperti ini?


Sebenarnya Seno sangat sedih ketika melihat istrinya yang setiap pagi harus tersiksa memuntahkan semua isi perutnya. Dan berakibat badannya menjadi sangat lemas. Seno berpikir, kenapa kehamilan istrinya ini membuat istrinya menderita.


Seno menghidupkan shower lalu membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower.


Setelah selesai mandi, Seno kembali ke dalam kamar. Ia melihat istrinya masih tertidur. Ia mengambil baju ganti, lalu berjalan menuju ke meja kerja yang sengaja ia taruh di dalam kamarnya. Supaya ia bisa selalu menjaga istrinya. Ia tidak ingin kejadian di pagi waktu itu terulang lagi. Saat istrinya memanggil, ia tidak mendengar. Dan membuat istrinya harus tergeletak lemas di dalam kamar mandi. Ia membuka laptop, mengecek email yang masuk.


Setelah membuka email, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya, lalu berjalan keluar dari kamar. Di luar, Seno segera menghubungi Rezky untuk menanyakan tentang email yang masuk tadi.


Ada seorang klien yang meminta bertemu dengannya. Dan tidak mau di wakilkan. Maka Seno menjadi semakin bingung. Ia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian.


Seno berjalan ke dapur. Mengambil minuman dari dispenser.


" Oh, pak bos. " sapa Siti. " Sudah bangun. Mau Siti buatin apa nih pak bos? Kopi, teh, atau susu hangat? " tanya Siti.


" Kopi aja Ti. Nanti tolong antar ke ruang tengah ya. " jawab Seno. Siti mengangguk, lalu segera mengambil cangkir untuk membuatkan teh.


" Tolong minta Lilik buatin sandwich, tapi jangan pakai keju. Pakai tomat, selada, terus saus pedas. Oh iya, kasih telur. " pinta Seno. Entah kenapa, pagi ini ia sangat ingin makan makanan itu. Rasanya, air liurnya hampir menetes saat membayangkan makanan itu.


" Baik, pak bos. " jawab Siti. Lalu Seno segera keluar dari dapur berjalan menuju ke ruang tengah.


***


bersambung