
" No, honey. Kami sangat menyayangimu. Kami sangat bahagia kamu sudah menjadi menantu kami. Mama tahu, El sudah bersalah. Ia bohong sama kamu. Tapi semua sudah terjadi. Bukankah kamu juga sudah sah menjadi istrinya? " ujar Nyonya Ruth.
" Nyonya, saya minta maaf. Saya hanya gadis kampung. Saya gadis dari keluarga miskin. Saya...saya minta maaf nyonya, tuan. Saya sudah berani masuk ke dalam keluarga ini. " ucap Armell dengan mata berkaca-kaca.
" No honey...No. Kami menyayangimu. Kami tidak pernah melihat seseorang dari keluarganya. Ataupun strata sosialnya. Semua orang, di mata kami itu sama. " ujar Nyonya Ruth.
" Lusi, jangan pernah kamu merasa minder kepada kami. Kamu juga tahu kan, sejak lama kami menginginkan kamu untuk menjadi menantu di keluarga ini. " sahut tuan Adiguna.
" Lagi pula, jika kamu ingin pergi dari pernikahan kamu, apa kamu tidak rugi? Anak nakal itu pasti sudah melakukan sesuatu sama kamu kan? Bagaimana kalau kamu hamil? " lanjut tuan Adiguna.
Daaaannn meronalah pipi Armell. Tuan Adiguna terlalu blak-blakan.
" Papa benar. Kalian pasti sudah melakukan itu kan? Kamu akan rugi besar jika kamu pergi dan meninggalkan pernikahanmu. Sedangkan anak nakal itu, tidak akan rugi apapun. Dia untung banyak malahan. Jadi sebaiknya, jangan pernah melepaskan dia. " tambah Nyonya Ruth memanasi.
Armell tersenyum. Tapi juga mengalirkan air mata. Air mata bahagia. Air mata haru.
" Don't cry honey...." ucap Nyonya Ruth sambil membelai pipi Armell mengusap air matanya.
Kali pertama Armell menangis saat ia sudah menganjak dewasa. Air mata yang selama ini ia tahan supaya tidak mengalir. Tapi hari ini, air mata itu keluar bukan karena kesedihan. Tapi karena kebahagiaan. Makanya kali ini Armell tidak menahan air mata itu.
" Common, give a big hug. " ucap Nyonya Ruth sambil merentangkan kedua tangannya.
Armell memeluk ibu mertuanya erat. " Makasih, mama. " ucapnya.
Nyonya Ruth tersenyum sambil mengusap punggung Armell.
" Papa nggak di peluk nih? " ujar tuan Adiguna.
Nyonya Ruth melepas pelukannya. " Peluklah papa kamu. " ucapnya.
Tuan Adiguna juga merentangkan kedua tangannya. Kemudian Armell memeluk tuan Adiguna. Tuan Adiguna mengelus kepala Armell. " Berbahagialah selalu, nak. Papa akan selalu mendoakan kalian. "
" Terimakasih, papa. " ucap Armell saat ia telah melepas pelukannya.
Tuan Adiguna tersenyum. " Sekarang, saatnya kita mengerjai anak nakal itu. "
Armell mengernyit. " Kok mengerjai mas Seno pa? "
" Iya. Kita kerjain dia. Pertama, karena ia telah berani membentak kamu. Dia marah-marah nggak jelas sama kamu. " ucap tuan Adiguna.
" Kok...." Armell kembali terkejut. " Kok papa tahu? "
" Tahu lah. Apa sih yang papa kamu ini nggak tahu. " jawab tuan Adiguna sambil terkekeh.
Armell manggut-manggut. Armell percaya kalau mertuanya ini bisa melakukan apapun. Bahkan tentang pernikahannya saja beliau tahu.
" Yang kedua, karena anak nakal itu telah berani menyembunyikan pernikahannya. Yang ketiga, anak nakal itu sudah berani membohongi kamu. Yang keempat, karena anak nakal itu telah berani membohongi orang tuanya. " tambah tuan Adiguna.
" Lalu, papa sama mama mau mengerjai mas Seno bagaimana? " tanya Armell.
" Kami akan menyembunyikan kamu di sini. Biar anak nakal itu kebingungan mencari kamu. " jawab tuan Adiguna.
" Tapi pa, mas Seno sedang marah sama Mell. Jadi nggak mungkin dia nyariin Mell. " ucap Armell tiba-tiba sedih.
" Mama yakin, sayang, dia pasti mencari kamu. Mama yakin, saat ini dia pasti sedang mencarimu. Dan membuat geger di rumah kalian. Karena dia pasti sudah menyadari kesalahannya. El itu memang kadang menyebalkan. Dia sering memakan masalah mentah-mentah. Tapi tidak akan lama. Karena otak cerdasnya akan mulai bekerja, dan dia akan menyadari kesalahannya. Percaya sama mama. " ujar Nyonya Ruth sambil menepuk-nepuk punggung tangan Armell.
Armell tersenyum. Ia senang keluarga barunya sangat menyayanginya.
" Sekarang, hari sudah sore. Mending kamu mandi, beres-beres barang kamu, nanti habis magrib kita makan malam bersama. " ujar Nyonya Ruth.
Armell mengangguk.
" Bi Tuti....." panggil Nyonya Ruth ke salah satu ARTnya.
Bi Tuti segera datang. " Iya, nyah. "
" Bi, ini istrinya El. Tolong antar dia ke kamar El. " pinta Nyonya Ruth.
" Lusi bi. " nyonya Ruth menjawab.
" Mari silahkan non Lusi. " bi Tuti mempersilahkan.
Kemudian Armell diantar ke kamar Seno di rumah itu. Kamar Seno di rumah itu jauh lebih besar dari kamar Seno yang ada di rumahnya sendiri. Kamar itu tampak rapi dan bersih. Meskipun lama tidak di tempati yang punya, tapi kamar itu tetap bersih dan nyaman.
Armell merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa sedikit lelah. Tak selang berapa lama, ia tertidur.
Di rumah Seno
Seno pulang di siang hari. Ia langsung masuk ke kamarnya. Kamarnya nampak bersih. Ia masih mencium bau parfum istrinya. Senyuman tersungging di sudut bibirnya.
Seno menghela nafas dalam-dalam. Ia menyesal telah memarahi Armell tanpa melihat fakta-fakta yang jelas. Ia telah termakan hasutan dari Mariana. Siang ini ia ingin segera pulang dari kantor untuk bertemu dengan istrinya. Untuk meminta maaf. Tapi sepertinya sang istri sedang tidak ada di rumah.
Seno merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa sangat mengantuk. Karena semalam ia tidak tidur karena mencoba mencari tahu tentang foto-foto yang ia dapatkan. Ia juga sempat menemui Alex Wiradmaja.
Seno tertidur hingga petang menjelang. Ia bangun. Kamarnya masih gelap. Ia mengernyit. Apakah Armell belum pulang? Ia bergegas bangun, cuci muka, kemudian turun ke lantai satu.
" Baby......Beb....." panggil Seno sambil menuruni tangga.
Di ruang tengah zonk. Seno pergi ke taman belakang. Juga tidak ada istrinya. Ia ke dapur, kosong juga. Seno menjadi panik. Kemana istrinya berada.
" Liiiiikkkk....Liliiiikkkk.....Sitiiiiiiii......" panggil Seno.
Lilik dan Siti datang dengan tergopoh-gopoh. " Iya pak bos. " ucap mereka bersamaan.
" Kemana istriku? " tanya Seno langsung.
Lilik dan Siti saling berpandangan. Kemudian kembali memandang Seno sambil menggelengkan kepala mereka bersamaan.
Seno meremas rambutnya yang cepak. " Bagaimana kalian bisa tidak tahu? Kalian kan di rumah terus. " teriak Seno.
Lilik dan Siti sama-sama menunduk. Mereka takut melihat majikannya yang marah besar.
" Apa istriku tidak bilang sama kalian dia akan kemana? " tanya Seno kembali.
Mereka kembali menggeleng bersamaan.
" Non bos pergi semenjak pagi tuan. Tadi pagi non bos sempat tanya ke Lilik, tuan bos kemana? Apa semalam tidak pulang? Gitu. Lilik jawab kalau tuan bos tidak pulang semalaman. " cerita Lilik. Seno mengusap wajahnya kasar.
" Maaf tuan bos. Non bos juga terlihat pucat. Waktu Lilik tanya, dia bilang kepalanya pusing. Katanya mungkin karena kemarin tidak makan. Terus tadi pagi minta Lilik untuk buatin omelette mie sama saus pedas. Juga minta di buatin juice alpukat. Katanya dia pengen banget makan itu. " lanjut Lilik.
" Oh iya tuan bos, tadi pagi saya melihat pas non bos pergi, dia membawa tas ransel. Dan sepertinya isinya penuh. " ucap Siti.
Mendengar hal itu, Seno segera berlari menaiki tangga dan menuju ke kamarnya. Sampai kamar, ia membuka lemari baju istrinya. Ia kembali mengusap wajahnya kasar. Baju istrinya tidak sebanyak biasanya. Itu berarti Armell membawa baju ketika pergi tadi pagi.
Seno berjalan menuju nakas. Ia mengambil ponselnya. Menscroll layar ponselnya mencari nama istrinya. Setelah menemukan, lalu ia menghubungi istrinya.
Tut...Tut....nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.
Mbak-mbak operator yang menjawab. Seno mengulang kembali. Masih sama. Operator yang menjawab. Kemudian ia mencari keberadaan Armell melalui aplikasi pelacak di ponselnya. Lagi-lagi zonk. Sepertinya Armell mematikan ponselnya.
Seno mencengkeram erat ponselnya, lalu melemparnya ke atas tempat tidur.
" Kemana kamu baby? Di mana kamu? " teriak Seno.
" Maaf. Maafkan aku baby. Maaf karena sudah marah-marah nggak jelas sama kamu. " ucap Seno lirih.
***
bersambung
Bingung kan Lo? Apa kata para reader aku? Kamu pasti bingung nyari istri kamu....Rasain....