
" Ada apa dengan istri kamu El? " tanya tuan Adiguna.
Ibu Armell, Nyonya Ruth, juga Fitria yang sedang menggendong baby Arvin langsung berlari menghampiri Seno.
" Nggak tahu pa. Tiba-tiba aja dia mengeluh perutnya sakit. Dan sekarang dia pingsan. " jelas Seno. " Rez ....cepat bukain pintunya. " pinta Seno ke Rezky yang hari itu menjadi sopir bagi Seno dan Armell.
Rezky buru-buru membukakan pintu untuk Seno yang sedang menggendong Armell.
" Ya Tuhan....Kamu kenapa nak? " gumam ibu Armell sambil menangis.
Seno membawa Armell masuk ke mobil dan memangkunya.
" Rez, kita langsung ke rumah sakit. Lo hubungi Bryan. " titah Seno.
" Baik tuan. " jawab Rezky sambil mengangguk.
" Bu, saya ikut mobil ini aja ya. Mau menemani nak Seno. Dia pasti sangat panik. " ucap ibu Armell ke Nyonya Ruth.
" Iya Bu. Biar Pipit sama Arvin ikut kami. " jawab Nyonya Ruth.
Lalu ibu Armell masuk ke dalam mobil. Seno meminta mertuanya itu duduk di depan di sebelah Rezky yang sedang menyetir. Tuan Adiguna dan yang lainnya juga segera masuk ke dalam mobil dan segera mengikuti mobil Seno.
" Baby, sadar baby...." panggil Seno menyadarkan Armell yang sedang pingsan sambil menepuk pelan pipi Armell.
Tapi Armell masih tidak bergeming.
" Baby, please.... Don't make me so scare....Please, wake up...." ucap Seno kembali. Kini matanya sudah mulai menggenang. Dunianya seakan runtuh melihat istrinya tidak sadarkan diri. Lebih sakit hatinya ketimbang saat Armell pingsan waktu penculikan dulu.
" Rez, cepat sedikit. " teriaknya ke Rezky.
Ibu Armell pun tak kalah panik. Beliau memegang tangan Armell sebelah kanan sambil menghadap ke belakang. Beliau juga menangis sesenggukan.
" Kamu kenapa nak? Kamu tidak pernah seperti ini. Kamu gadis yang kuat nak. " ujar ibu Armell.
Seno mengecup kening Armell cukup lama. Bahkan air matanya kini telah menetes.
" I love you, baby. Don't leave me. You must be oke. " bisik Seno.
Seno membenarkan posisi Armell di pangkuannya. Saat tangannya berada di bawah pantat Armell, ia terkejut karena ia merasakan tangannya basah. Lalu ia segera menarik tangannya dan melihat. Betapa terkejutnya ia saat melihat ternyata tangannya berwarna merah. Bercak darah dari Armell.
" Bu, kenapa pantat Armell berdarah Bu? " tanyanya ke ibu mertuanya dengan panik dan memperlihatkan tangannya yang ada bercak darah Armell.
" Ya Tuhan...Kenapa jadi seperti ini? " pekik ibu Armell.
" Baby, kamu kenapa? Apa mungkin Armell datang bulan Bu? " tanyanya kembali.
Ibu kembali menengok ke belakang ke arah kaki Armell.
" Masya Allah... Sepertinya Armell tidak sedang datang bulan nak. Lihat, darahnya banyak sampai ke kaki. Dia tidak pernah seperti ini kalau datang bulan." ibu Armell memberitahu.
" Rezky... cepetan. Injak gasnya. " teriak Seno menjadi lebih panik.
" Ini sudah ngebut tuan. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit. " ucap Rezky.
Dan benar saja, tak sampai Lima menit, mobil yang di kendarai oleh Rezky sudah memasuki halaman rumah sakit. Ia terus menghentikan mobilnya tepat di depan pintu UGD.
Rezky turun dan cepat-cepat membukakan pintu untuk Seno. Setelah pintu terbuka, tanpa menunggu bosnya turun, Rezky segera masuk ke dalam UGD dan memanggil suster.
Suster segera keluar dari ruangan dengan mendorong brankar. Ketika suster sampai di depan pintu, pas ketika itu Seno keluar dari dalam mobil dengan menggendong Armell.
" Tolong istri saya sus. " ucap Seno sambil meletakkan Armell di atas brankar.
" Kenapa bini lo Sen? " tanya Bryan yang baru tiba di depan UGD.
" Gue nggak tahu. Lo tolongin dia, Bry...Gue mohon sama lo. Dia ngeluarin darah banyak. " mohon Seno.
" Darah? " Bryan melihat ke arah kaki Armell. Benar sekali darah itu mengalir dari sela-sela kaki Armell.
" Suster, ayo segera bawa pasien ke dalam. Dan tolong hubungi dokter obygyn secepatnya. " suruh Bryan.
Lalu mereka segera mendorong brankar itu dan masuk ke dalam ruang UGD. Seno memegang tangan Armell erat seolah enggan berpisah. Sedangkan anggota keluarga yang lain mengikuti mereka dari belakang.
" Kenapa istri gue Bry? Kenapa lo manggil dokter obygyn? " tanya Seno sambil ikut mendorong brankar itu.
" Gue belum yakin. Semoga aja nggak seperti dugaan gue. " jawab Bryan ambigu.
" Bry...bilang sama gue...Apa dugaan Lo? " tanya Seno tidak puas dengan jawaban Bryan.
" Nanti gue jelasin. Yang penting sekarang nanganin bini Lo. " ujar Bryan.
" Lo tunggu di sini. " ucap Bryan saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang tindakan.
" Gue ikut. " ujar Seno tak mau melepas genggaman tangannya.
" Ya nggak boleh lah lo masuk. " tolak Bryan jengah.
" Bry, tolong. Biarin gue ikut masuk. Gue mau nemenin Armell. " rayu Seno dengan suara yang lirih.
" Bry ...."
" Sen, percaya sama gue. Kita akan berusaha memberikan yang terbaik buat istri Lo. Lo harus bisa percaya. " ujar Bryan sambil menepuk pundak Seno.
Tapi Seno masih keberatan. Ia masih tetap ingin ikut menemani istrinya.
" El, kamu mau istri kamu cepat di tangani apa nggak? " bentak tuan Adiguna yang juga panik.
" Bryan, cepat bawa menantuku ke dalam. Berikan perlakuan terbaik dari rumah sakit ini. " titah tuan Adiguna.
Bryan mengangguk, lalu cepat-cepat membawa Armell masuk ke dalam ruang tindakan. Tak berselang lama, datanglah seorang dokter lagi, dan juga terus masuk ke dalam.
Seno dan yang lainnya menunggu di luar. Tuan Adiguna, istrinya, serta ibu Armell dan adik Armell, duduk di kursi tunggu depan ruang tindakan. Sedangkan Seno, ia tidak berhenti berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan itu.
Terlihat dari wajahnya, Seno begitu sangat mengkhawatirkan istrinya. Ia selalu memanjatkan doanya semoga istrinya baik-baik saja. Sesekali ia mengusap wajahnya kasar, lalu berkacak pinggang, berdiri tepat di depan pintu. Lalu sesaat kemudian menaruh kedua tangannya di daun pintu. Berharap Armell bisa merasakan kalau ia tak sendiri.
Keluarga yang lain juga diam semua. Mereka berdoa di dalam hati mereka masing-masing. Nyonya Ruth dan ibu Armell yang sama-sama tidak bisa menahan air mata mereka sing berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Dan Pipit, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu sambil sesenggukan.
Untuk baby Arvin, tuan Adiguna menyuruh Rezky mengantarnya kembali ke rumah keluarga Abraham. Kondisi yang tidak memungkinkan jadi terpaksa baby Arvin di antar pulang sore itu juga.
" Ell....." panggil Nyonya Ruth ke anaknya. " Duduk lah nak. " pintanya. Seno tidak bergeming. Ia tetap berjalan mondar-mandir.
" Apa kamu nggak capek nak? Sini, duduk lah bersama kami. " pinta mamanya kembali.
Seno menggeleng. " Nggak ma. El mau di sini. Jika Armell memerlukan El, El bisa langsung masuk ke dalam ma. " jawab Seno dengan suara yang tidak bersemangat sama sekali.
Tuan Adiguna berdiri dan menghampiri anaknya. Ia menepuk pundak Seno.
" Kamu harus kuat. Istrimu pasti baik-baik saja. Papa yakin itu. " ucap sang papa menguatkan Seno.
" Semoga pa. " sahut Seno.
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, akhirnya pintu yang sedari tadi di tunggui Seno terbuka dari dalam.
Terlihat Bryan keluar dari dalam ruangan itu dengan raut wajah yang tidak terbaca dan bingung. Sedangkan dokter yang tadi masuk belakangan, belum keluar dari ruangan itu.
" Bryan..." panggil Seno.
Semua keluarga ikut berdiri dan menghampiri Bryan.
" Bagaimana dengan Armell? Dia baik-baik saja kan? Dia nggak kenapa-kenapa kan? " tanya Seno dengan banyak pertanyaan.
" El, sabar. Biar Seno menjelaskan. " ucap tuan Adiguna sambil memegang pundak Seno.
" Tuan, Seno...Armell Alhamdulillah sudah baik-baik saja. Cuma dia belum sadarkan diri. Bukan sadar dari pingsan, tapi dia belum sadar karena masih dalam pengaruh obat bius. " Bryan mulai menjelaskan.
" Syukurlah. " ucap mereka semua bersamaan.
" Lalu, apa yang menyebabkan menantuku tadi kesakitan bahkan sampai pingsan? " tanya tuan Adiguna.
" Untuk masalah itu, saya belum tahu dengan jelas, tuan. Sebentar lagi dokter obygyn keluar dan akan menjelaskannya. " jawab Bryan.
Dan benar saja, tak lama kemudian seorang dokter perempuan keluar dari dalam ruangan itu.
" Ini dia dokternya. " sebut Bryan.
" Bisa saya bicara dengan suami Nyonya Armell? " tanya sang dokter yang bernama Ratna.
" Saya suaminya dok. " sahut Seno.
" Baik tuan. Anda bisa ikut saya ke ruangan saya sebentar. Dan untuk keluarga yang lain, silahkan di tunggu sebentar, Nyonya Armell akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap. " ujar dokter Ratna.
" Saya urus ruangan untuk istri saya dulu dok. " ujar Seno.
" Sudah, papa yang akan urus yang di sini. Kamu ikut dokter saja. Jangan khawatir. " ucap tuan Adiguna.
" Ambilkan kamar yang terbaik pa. " pinta Seno.
" Pasti. Papa akan pesankan semua yang terbaik untuk istri kamu. " jawab sang papa.
" Dokter Bryan, ikutlah dengan kami. " pinta dokter Ratna.
Bryan mengangguk, " Ayo Sen. " ajaknya ke Seno
Lalu mereka mengikuti dokter Ratna ke ruangannya. Sebenarnya Bryan sudah tahu apa yang terjadi pada diri Armell. Tapi ia tidak bisa mengatakannya ke Seno. Jadi biarlah dokter yang bersangkutan langsung yang menjelaskannya.
***
bersambung
...Author pengen curhat dikit nih sama reader semua... Hari ini , sebenernya author kurang bersemangat buat nulis......
...Karena apa? Karena dua hari ini, viewer author turun drastis...Jadi syediiihhh kan ya??? Mau nulis kayak susah ide gitu...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...