
Hari ini seperti biasa Armell di kampus sampai sore. Hari-harinya banyak ia habiskan di perpustakaan kampus. Karena ia harus segera menyelesaikan skripsinya. Dan Alhamdulillah, sekarang skripsinya sudah sampai pada bab terakhir yaitu bab lima.
Sampai rumah, ia langsung mandi karena saat ia sampai rumah hari sudah sore. Tak lama setelah ia mandi, terdengar deru mobil masuk pekarangan rumah. Seno ternyata juga sudah sampai rumah dengan di antar oleh Rezky.
" Good evening, baby. " sapa Seno saat ia memasuki ruang tengah dan menemukan istrinya baru saja turun dari tangga. Lalu ia mengecup kening Armell.
" Sore juga. Katanya mau lembur? " tanya Armell.
" Nggak jadi. Tiba-tiba saja kangen sama kamu jadi malas lembur. " jawab Seno sambil tersenyum tipis.
" Ck. Sukanya gombal sekarang. Polisi apaan sukanya menggombal. " sahut Armell.
" Aku hanya bisa menggombal kepadamu, baby. " jawab Seno.
" Bentar. Di lanjut nanti aja acara gombalnya. Aku ke dapur dulu buatin mas minum. Mau kopi atau apa? " tanya Armell.
" Kamu duduk sini ajalah. Biar Lilik atau Siti yang buatin minum. " ujar Seno.
" Hmmmm....." sahut Armell sambil menggelengkan kepalanya. " Aku juga pengen kali mas, melayani suamiku yang baru pulang kerja. Bikinin minum, atau apa kek. Emang istri mas Lilik atau Siti? Kok minta minumnya sama mereka terus. " ucap Armell yang kemudian berlalu ke dapur tanpa menunggu komentar dari suaminya.
Armell ke dapur untuk membuatkan minum untuk sang suami. Saat ia sedang mengaduk kopi di meja dapur, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
" Ya Allah mas. Ngagetin aja. " ujar Armell sambil mengelus dadanya. " Untung tinggal mengaduk kopi. Coba kalau tadi pas menyeduh air. Bisa lompat tuh panci. " lanjutnya.
" Kan aku tadi bilang, aku kangen sama kamu. Eh, malah kamu nyelonong pergi. " jawab Seno sambil menaruh dagunya di atas bahu Armell.
" Kan aku lagi buatin kopi buat mas. " jawab Armell.
" Tapi aku tadi belum bilang kalau aku mau minum kopi loh. " jawab Seno sambil mengendus leher istrinya.
" Ish...Geli mas ..." pekik Armell.
Seno semakin mengeratkan pelukannya. " Aku kangen, baby. " sambil mengecup leher jenjang Armell.
" Baby, aku mau minum susu. " ucap Seno sambil berbisik di telinga Armell.
" Hem? Susu? " tanya Armell sambil menoleh ke samping sehingga ia bisa melihat wajah Seno. " Kan udah terlanjur jadi kopinya. " lanjutnya sambil menunjuk kopi yang ada di depannya.
" Kopi pakai susu juga boleh. " jawab Seno pelan sambil terus mengecup leher juga pipi Armell bergantian dan kini tangannya sudah menjalar ke atas.
" Mas! Tangannya! " pekik Armell sambil memukul tangan Seno yang nakal.
" Aku tadi kan bilang mau minum susu, baby. " ujar Seno.
" Ya bentar. Aku buatin dulu. Mas minggir dikit, aku mau ambil susunya dulu. " jawab Armell.
" Tapi aku nggak mau susu yang itu. Aku maunya susu yang langsung dari pabriknya, baby. " ucap Seno. " Aku maunya susu milik kamu. " bisik Seno.
" Ihhhh....mas jorok ah...." ujar Armell sambil tersenyum.
" Beneran, baby. Aku kangen sama kamu. Udah lima hari loh aku puasa. Pengen buka sekarang. Martinez lapar, baby. " rengek Seno.
" Martinez... Martinez...Si Sabri aja kenapa namanya. " ledek Armell.
" Biar keren lah. Kalau Sabri itu kan nggak keren. Padahal milikku itu keren loh. Putih keturunan bule, gagah, mancung. Keren lah pokoknya. Kamu kan juga udah kenalan. Udah ketemu meskipun baru lima kali. Kalau namanya Sabri, pasti item, dekil, kecil. " jawab Seno membela Martinez nya.
" Enam kali sih. Salah kamu mas ngitungnya. " sahut Armell.
" Kamu hitung juga ya? " tanya Seno dan Armell hanya tersenyum. " Baby, lampu lalulintasnya udah hijau belum? "
Armell menggeleng, " Masih kuning. " bisiknya.
" Kok masih kuning. Lama sekali baby. Kan udah lima hari." protes Seno.
" Lima hari? Mas hitung? " tanya Armell excited segitunya sang suami terhadapnya.
" Ya aku hitung lah. Kok lama sekali beb? Aku udah pengen banget ini. " jawab Seno dengan suara *****.
" Halah, dulu aja nggak kepengen? Kenapa sekarang jadi gampang pengen sih? " tanya Armell.
" Hmmmm....jadi, selama ini mas nakal ya " Armell kini membalikkan badannya menghadap Seno. " Mas ternyata udah berani *****-***** aku pas aku lagi tidur? Pantesan aja aku seperti sedang bermimpi begitu tiap malam. Ternyata tangan nakal suamiku yang sedang menjelajah. " lanjutnya. Seno hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Niat hati ingin merahasiakannya selamanya malah mulutnya sesumbar begitu mudahnya. Dasar muluuuut.... Tidak bisa di ajak bekerja sama.
" Oh...Mell baru ngeh nih... Jangan-jangan pas waktu itu, leher, punggung aku sering merah-merah, yang aku pikir di gigit kutu, kutunya mas nih. " ujar Armell sambil menatap tajam Seno.
Seno menyeringai. " He...he...he... Kebutuhan beb. Tapi cuma pegang-pegang sama elus-elus dikit. Nggak lebih dari pegang, elus, sama cium. " bela Seno. Kini ia seperti seorang pencuri yang tertangkap.
" Nakal kamu ya mas ..." ujar Armell sambil memukul-mukul suaminya.
Seno menangkap kedua tangan Armell. " Tapi aku begitu cuma sama kamu. Aku bicara jorok juga cuma sama kamu. Aku bilang kangen juga cuma sama kamu. Dan aku pengen itu juga sama kamu. " ucap Seno sambil menatap mata Armell serius.
" Apalagi setelah aku merasakan enaknya sama kamu. Jadi pengen terus. Mungkin rasanya kayak orang yang kecanduan narkoba. Kalau udah pengen, nggak bisa di tahan. " tambah Seno.
" Mas nyamain aku sama narkoba? " tanya Armell.
" Iya. Kamu adalah narkobaku. Yang selalu menjadi candu bagiku. Rasa kamu mungkin lebih nikmat dari pada obat-obatan terlarang itu. Jadi heran sama orang-orang yang pada nyandu obat-obatan terlarang. Mending nyandu sama perempuan. Lebih enak rasanya. Nggak pakai di tangkap polisi lagi. " Seno meraih Armell dalam dekapannya.
" Tapi kalau nyandunya sama selingkuhan juga bisa di tangkap. Terus sama perempuan-perempuan di night club. Mas juga sering menangkap kan? " ujar Armell sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Seno.
" Berarti mereka bodoh. Memilih nyandu sama selingkuhan. Atau nyandu sama PSK. Udah mahal, nggak higienis lagi. Bisa kena penyakit kelamin. Enakan nyandu sama yang halal. Di jamin bersih, higienis. Anti penyakit. " jawab Seno.
Seno meraih bibir Armell dan di ciumnya dengan penuh rasa rindu. Armellpun ikut meresapi dan membalas setiap ******* dari Seno. Ciuman yang panas untuk rasa rindu mereka yang beberapa hari tidak tersalurkan.
" Aaaaa.....Aduuuhhhh pak boooosss....non booooss....mata Lilik kalian perawanin ini ....." pekik Lilik yang tidak sengaja melihat adegan hot secara live di dapurnya saat ia baru memasuki dapurnya. Ia langsung menutup matanya rapat-rapat.
Seno dan Armell yang sedang di mabuk rindu, terkejut dengan suara cempreng Lilik yang sedang berteriak di dekat mereka.
" Ngagetin aja kamu Lik. " protes Seno.
" Maaf tuan bos. Habisnya Lilik kaget ada streaming hot live lagi di dapur. " jawab Lilik.
" Terus sampai kapan kamu mau merem terus kayak gitu? Belajar jadi si buta dari gua hantu kamu? " ujar Seno.
" Udah selesai streamingnya? " tanya Lilik sambil membuka sedikit sebelah matanya.
" Oh, udah selesai. " ucapnya ketika mendapati Seno dan Armell sudah berdiri agak berjauhan. " Makanya tuan bos, sama nona bos, kalau mau yang enak-enak, di kamar aja sana. Biar nggak keganggu. Lilik juga nggak terganggu batinnya juga. " protes Lilik.
" Kamu ini. Udah ayo beb. Kita tinggalin si buta ini sendirian. " Seno merengkuh pinggang Armell dan menariknya sehingga Armell ikut berjalan di sampingnya.
" Mas, aku kangen sama baby Arvin. " rengek Armell.
" Mau ke rumah tuan Abraham? " tanya Seno.
Armell mengangguk dengan semangat.
" Ayo mas. Cepetan mandi. Kita jemput baby Arvin. " ucap Armell.
" Kok jemput? Kan kita hanya jenguk doang. " sahut Seno.
" Mell pengen tidur sama baby Arvin. Kangen. Udah hampir satu bulan dia nggak nginep di sini. " rengek Armell.
" Tapi aku juga kangen sama kamu, baby. Kalau Arvin nginep di sini, yang ada kita tidurnya bertiga. Kalau nggak gitu, kamu yang ikut tidur di kamar Arvin. " protes Seno.
" Ihhh, mas ah...Kan lampunya juga masih kuning. Belum hijau. Belum boleh di apa-apain juga. Biasanya lampu hijaunya nyala setelah tujuh sampai delapan hari loh. " jelas Armell.
" Dua hari lagi? Oke, berarti Arvin nginep di sini dua hari aja ya. Pokoknya kalau lampunya udah hijau, kita antar baby Arvin pulang. Kalau nggak, dia biar masih nginep di sini, tapi kalau malam, waktunya kamu nemenin aku. " ujar Seno.
Armell mengangguk.
" Janji? " tanya Seno memastikan.
" Iya janji. " jawab Armell pasti sambil memperlihatkan ibu jari dan telunjuknya.
***
bersambung