My Handsome Police

My Handsome Police
Nge-date



Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian itu. Seno menjadi lebih berhati-hati dengan Mariana. Ia tidak ingin kecolongan lagi seperti kemarin. Armellpun sudah tidak begitu murung. Ia sudah mulai bisa menerima jika baby Arvin memang harus kembali ke keluarga aslinya. Tapi ia tetap selalu berhubungan dengan Leora. Bahkan setiap dua hari sekali, ia akan menyambangi rumah keluarga Abraham untuk melihat baby Arvin.


" Baby, hari ini kamu ada acara apa tidak? " tanya Seno saat mereka selesai dengan sarapannya.


" Mmmm..... Sepertinya tidak. Kenapa memangnya?" tanya Armell.


" Kau bersiap-siaplah. Aku mau mengajakmu jalan-jalan hari ini. Seharian penuh kita akan bersenang-senang. " ujar Seno.


" Mmmm..... ngajakin nge-date nih ceritanya..." canda Armell.


" Bisa di bilang begitu. Jadi ayo segera bersiap. Keburu siang. " ajak Seno.


" Okeh ..." jawab Armell sumringah sambil menautkan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf O.


Ia segera bangkit dari duduknya dan membereskan bekas makan mereka. Ia terlihat sangat senang karena suaminya mengajaknya jalan-jalan. Baru kali ini, sang suami berinisiatif mengajaknya jalan berdua.


" Beb, pakai celana sama t-shirt aja yang santai. " Seno memberitahu.


Armell mengangguk. Setelah meletakkan piring-piring kosong bekas sarapannya dan Seno di tempat cucian, Armell segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamar untuk ganti baju.


Sedangkan Seno sudah siap dengan celana pendeknya dan t-shirt juga. Dan jaket yang sudah melekat sempurna di tubuhnya.


Tak lama kemudian, Armell turun sudah dengan celana dan t-shirt nya, juga tas kecil yang ia selempangkan di bahu.


" Jaketnya mana? " tanya Seno saat melihat Armell mendekatinya.


" Harus pakai jaket juga? " tanya Armell sambil memperhatikan Seno yang juga sudah mengenakan jaket.


" He em. " jawab Seno sambil mengangguk. " Sana ambil jaket dulu. " suruh Seno. " Sekalian bawa karet. " lanjutnya.


Armell balik badan untuk mengambil jaket dan karet dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena masih bingung kenapa suaminya menyuruhnya mengambil jaket dan karet. Bukannya akan jadi gerah ya kalau jalan-jalan pakai jaket. Pikir Armell.


Beberapa saat kemudian, Armell sudah kembali turun dengan mengenakan jaketnya. Ia menghampiri Seno.


" Nih, karetnya. " kata Armell sambil menyodorkan sebuah karet ke Seno.


Seno menerima karet itu, kemudian ia memutar tubuh Armell sehingga membelakanginya. Dengan lembut, ia merapikan rambut Armell dan menguncirnya.


" Udah beres. Ayo kita berangkat. " ajak Seno lalu menggandeng tangan Armell.


" Kita mau kemana sih mas? Kok harus pakai jaket, terus rambutku harus di kuncir juga. " tanya Armell.


Seno tidak menjawab. Ia terus menarik lembut tangan Armell sampai luar rumah. Dan setelah sampai halaman rumah, terjawablah semua pertanyaan Armell.


" Kita naik motor jalan-jalannya? " tanya Armell antusias saat sebuah motor sport terparkir di halaman rumah.


Seno mengangguk. " Nggak masalah kan sekali-sekali kita naik motor? " tanya Seno sambil mengambil helm untuk Armell.


" Nggak masalah banget mas. Aku malah lebih suka naik motor daripada naik mobil. Sudah lama aku nggak pernah pakai motor. Wiiihhhh pasti seru. " jawab Armell.


Seno memakaikan helm ke Armell. Armell sebenarnya ingin memakainya sendiri, tapi Seno tidak membiarkannya.


" Makasih. " ucap Armell saat helm sudah terpasang cantik di kepalanya.


" Sama-sama. " jawab Seno sambil memakai helm nya sendiri. " Kamu bisa bawa motor sendiri? " tanya Seno sambil mengancingkan helmnya.


" Bisa. Tapi yang matic. Kita mau jalan-jalan kemana? " tanya Armell.


" Nanti kamu juga akan tahu. Semoga saja kamu suka. " ucap Seno.


' Pasti suka lah. Kan jalan-jalannya sama kamu mas. ' ucap Armell dalam hati sambil tersenyum tipis.


( Cie...cie... sepertinya si Armell udah mulai bucin nih. )


Kemudian Seno naik ke atas motor, lalu menghidupkan mesin motornya. Diikuti Armell yang juga naik ke atas motor di belakang Seno. Armell ingin memegang pinggang Seno. Tapi karena ia masih merasa canggung dan malu, akhirnya ia hanya memegang jaket suaminya.


Seno yang merasa Armell tidak segera berpegangan kepadanya tapi malah hanya memegang ujung jaketnya, berinisiatif menarik kedua tangan Armell dan di lingkarkan ke perutnya. Alhasil, tubuh Armell menempel sempurna di punggung Seno.


" Pegangan tuh di sini. " ucap Seno. " Kalau cuma pegangan di jaket, ntar jatuh. " lanjutnya sambil tersenyum tipis.


Armell mengangguk. Lalu Seno mulai menjalankan motornya keluar dari pekarangan rumah. Motornya mulai meliuk-liuk di jalanan ibukota setelah keluar dari kompleks perumahan miliknya.


Setelah melewati padatnya jalanan ibukota, sampailah mereka di sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Yang di kelilingi oleh taman berbagai macam bunga yang di tata sedemikian indahnya.


Armell terpesona dengan pemandangan di sana saat motor yang mereka tunggangi berhenti di tempat parkir.


" Wuahhh..... indahnya. Bunganya banyak banget. " ucap Armell dengan mata yang berbinar.


" Suka? " tanya Seno sambil turun dari motornya. Ia melepas helmnya, kemudian ia melepas helm yang di kenakan Armell.


Armell mengangguk. Lalu mereka berjalan masuk ke halaman gedung yang di tanami banyak macam bunga.


" Kita masuk. " ajak Seno sambil menggandeng tangan Armell.


" Sebenarnya ini adalah tempat wisata edukasi. Masing-masing lantai, ada ciri khasnya sendiri-sendiri. Lantai satu ini, untuk semua jenis bunga. Semua jenis bunga dari seluruh dunia, ada di sini. " jelas Seno.


" Ada ya tempat seperti ini di ibukota? Aku kok baru tahu sekarang. " ucap Armell.


" Tempat ini tidak di buka untuk umum. Hanya lembaga-lembaga atau sekolah-sekolah yang mengajukan untuk melaksanakan wisata edukasi yang boleh masuk kesini. Itupun melalui screening yang ketat. " jawab Seno.


" Mas kok bisa tahu tempat ini? Terus kita juga bisa masuk begitu saja di tempat ini? " tanya Armell sambil memandang ke arah Seno.


Kali ini Seno agak kesulitan menjawab. Tidak mungkin ia mengatakan kalau tempat itu adalah miliknya. Milik keluarganya kan?


" Mmm.... Karena tempat ini milik sahabatku. Dan ia mengijinkanku membawamu kesini. Aku tahu banyak tentang tempat ini, karena dulu aku sering kesini dengan temanku itu. " jawab Seno.


" Oohhh...." sahut Armell. Ia kembali menikmati pemandangan di sekitar.


Lalu mereka naik ke lantai dua, di sana Armell melihat berbagai macam jenis burung dari berbagai negara. Mereka berkicau dengan indah. Lalu mereka naik dan terus naik hingga akhirnya mereka sampai di lantai teratas. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan seluruh ibukota. Mereka juga bisa menikmati berbagai macam bunga yang berwarna warni yang ada di halaman gedung itu.


" Wuahhh .... indahnya...." puji Armell.


Seno menghampiri dan memeluk pinggang Armell dari belakang. Armell sedikit terkejut. Tapi kali ini, Armell tidak berniat menolak. Ia menikmati pelukan Seno. Seno tersenyum tipis saat mengetahui Armell tidak menolaknya. Ia merasa bahagia.


" Wah, ada tempat pacuan kuda juga? " tanya Armell sambil melihat ke bawah.


" He em. " jawab Seno sambil meletakkan dagunya di bahu Armell. " Mau naik kuda? " tanyanya.


" Boleh? " tanya Armell sambil menoleh ke arah Seno.


Deg


Jantung Armell terasa habis lari maraton. Mendapati wajah Seno berada begitu dekat dengannya.


" Boleh. " jawab Seno mengangguk. " Mau turun sekarang? " tanyanya.


Armell langsung mengangguk-anggukkan kepalanya senang. Kemudian Seno kembali menggenggam tangannya. Mengajaknya turun dengan menggunakan lift. Kalau tadi waktu naik mereka menggunakan eskalator.


" Kamu berani kan naik kuda? Nanti di jaga sama jokinya. " ujar Seno.


" Berani dong. " jawab Armell.


Dua orang joki membawa dua kuda untuk Armell juga Seno. Seno tersenyum melihat Armell yang terlihat sangat bahagia. Hatinya begitu sejuk meski hanya melihat wajah cerah istrinya.


Armell naik ke atas kuda di bantu oleh Seno. Lalu Seno naik ke kudanya sendiri. Seorang joki menuntun kuda yang di naiki Armell. Sedangkan Seno karena ia sudah ahli dalam menunggang kuda, ia tidak perlu joki lagi.


Setelah satu kali putaran, tiba-tiba Armell meminta berhenti.


" Mas, nggak seru. Pengen naik kudanya yang cepet. Kayak gitu. " ucap Armell sambil menunjuk ke arah joki yang sedang melajukan kudanya cepat seperti sedang berlomba.


" Nggak boleh. Kamu belum bisa kalau seperti itu. Bahaya. " jawab Seno.


" Ihhh....tapi pengen nyoba. " sahut Armell cemberut.


" Iya, tapi bahaya baby. Kudanya itu kuda beneran. Kalau kamu belum terbiasa, kamu tidak bisa menaklukkan, nanti dia bisa tiba-tiba marah dan tidak terkendali. " jelas Seno.


" Tapi pengeeennn...." jawab Armell sambil terus memperhatikan joki itu.


" Ya udah boleh. Tapi naik kudanya sama aku. Aku yang pegang kendali kudanya. Kita lari kencang seperti itu. " ucap Seno.


" Emang mas bisa? " tanya Armell sambil menatap ke arah Seno.


" Bisa lah. " jawab Seno kemudian ia turun dari kudanya dan membantu Armell turun dari kuda yang semenjak tadi di tungganginya.


Setelah Armell turun, kini Seno membantu Armell naik ke kuda yang tadi di tungganginya. Kemudian setelah Armell naik, Seno ikut naik dan duduk di belakang Armell.


Kini mereka duduk dengan saling berdekatan. Bahkan tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Kini bukan hanya jantung Armell yang berdetak kencang. Tapi Seno pun demikian.


" Ehm .." Seno berdehem menetralkan jantungnya. " Kamu siap? " tanya Seno.


" Em. " jawab Armell sambil mengangguk.


Kemudian Seno mulai melajukan kudanya. Mula-mula perlahan, dan lama-lama kuda itu melaju dengan kencang. Karena merasa agak takut, Armell memegang erat tangan Seno yang sedang memacu kuda.


💫💫💫


" Bagaimana Yon, perkembangan hubungan anakku dan menantuku? " tanya tuan Adiguna.


" Sepertinya sudah mulai ada kemajuan tuan. Mereka terlihat agak dekat setelah mereka tinggal bersama. " jawab Dion.


" Syukurlah. " sahut tuan Adiguna.


" Bahkan saat ini mereka sedang berada di taman edukasi kita, tuan. Tuan muda sedang mengajak nona Lusi jalan-jalan. Sepertinya mereka sedang berkencan. " lanjut dion.


Tuan Adiguna menyunggingkan senyumannya.


***


bersambung