
Nyonya Ruth memasuki rumah dan langsung menuju ruang tengah. Berharap menantu kesayangannya ada di sana sedang menonton TV. Tapi setelah sampai di ruang tengah, bukannya sang menantu yang ia temui. Tapi justru putra semata wayangnya.
Nyonya Ruth mengernyitkan dahinya melihat putranya seperti sedang ada masalah. Putranya terlihat sedang melamun dengan raut wajah penuh kesedihan.
Nyonya Ruth mendekati Seno yang sedang duduk termenung di sofa ruang tengah.
" El..." panggilnya. Tapi yang di panggil sepertinya tidak mendengar. " El...." panggilnya kembali dengan menepuk pundak Seno pelan.
Seno nampak terkejut, " Mama..." ucapnya sambil memaksakan untuk tersenyum.
" Kamu kenapa? Hem? " tanya Nyonya Ruth sambil duduk di sebelah Seno.
Seno menggeleng, " Nggak kenapa-kenapa ma. " jawabnya sambil menghela nafas berat.
" Jangan bohong sama mama. I know. Kamu sekarang sedang tidak baik-baik saja. " ujar sang mama.
" Beneran ma. El baik-baik saja. " kekeh Seno.
" Kamu kalau baik-baik saja, ngapain termenung sendirian di sini? Di mana istri kamu? " tanya Nyonya Ruth sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
" Di kamar ma. " jawab Seno lirih.
" Kamu ada masalah dengan istri kamu? Kalian bertengkar? " selidik sang mama.
Seno kembali menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan menarik nafas dalam-dalam.
" Ma, apa El salah sudah menikahi Armell? " tiba-tiba Seno membuka suara yang membuat mata mamanya membulat karena terkejut.
" What do you talking about? " pekiknya.
" Ma, El serius. El bertanya ke mama. " ujar Seno lirih sambil memejamkan matanya.
" El, kenapa kamu berpikir seperti itu? Darimana datangnya pemikiran ngelantur seperti itu? " tanya Nyonya Ruth. Tapi tidak mendapat jawaban dari Seno. Hanya helaan nafas yang terdengar.
" El, apa kamu menyesal menikahi Lusi? Apa kamu sudah tidak mencintainya? Kamu bosan sama dia? " cecar sang mama.
" Ma, nggak mungkin El bosan sama dia. El sangat mencintainya. Sangat mencintainya ma. Melebihi diri El sendiri. El sama sekali tidak pernah menyesal menikah dengan Armell. " jawab Seno tegas.
" Lalu kenapa kamu bertanya seperti tadi ke mama? Hati-hati kamu El. Jika sampai Lusi mendengarnya, dia pasti akan sangat sedih. " timpal sang mama.
" Ma...." panggil Seno ke mamanya. Kini ia mengubah posisi duduknya, tidak lagi menyandar di sofa. Seno menunduk.
" El merasa, setelah menikah dengan El, hidup Armell penuh dengan penderitaan. " ucap Seno dengan suara berat dan bergetar.
" Maksud kamu? " tanya Nyonya Ruth sambil mengernyitkan dahinya.
Seno meremas tangannya. " Karena menjadi istri El, dia pernah di culik ma. Oleh seseorang yang punya dendam sama El. Ia harus melewati hari penuh ketegangan. Ia harus mendapatkan pukulan dan tendangan. Mama tidak melihat bagaimana keadaannya saat itu. Ia terluka ma. Hampir di seluruh tubuhnya. " Seno menghela nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
" Lalu ia harus kehilangan janinnya karena kejadian itu membuat kandungannya bermasalah. Ia sangat menderita ma. " mata Seno berkaca-kaca.
" Lalu ia harus kembali merasakan penculikan. Dan ia bahkan terkena tembakan. " air mata Seno mulai menetes.
Nyonya Ruth menepuk pelan punggung Seno. Ia tahu semuanya itu. Ia tahu apa saja yang di alami menantunya.
" Dan sekarang ma, setelah ia hamil kembali, ia juga harus menderita. Ia tidak bisa kemana-mana. Bahkan ia tidak boleh melakukan apapun karena kandungannya yang lemah. Dan setiap pagi, ia harus muntah-muntah sampai ia kehilangan tenaganya. Dan El...El hanya bisa melihatnya ma. El nggak bisa melakukan apa-apa untuk Armell. El nggak berguna ma. " tangis Seno kian menjadi.
" El...semua itu sudah takdir. Bukan karena menikah denganmu, lalu Lusi mendapatkan penderitaan itu. Itu cobaan, sayang. Tuhan pasti sangat menyayangi istrimu, makanya Dia memberikan cobaan yang berat ke istrimu. " ujar Nyonya Ruth.
" Belum lagi kalau dia melahirkan nanti ma. Pasti sangat sakit. El melihatnya di ponsel perempuan melahirkan. Prosesnya bikin El ngeri ma. " sahut Seno.
" Semua perempuan pasti mengalami hal itu. Itulah perjuangan seorang ibu yang tidak bisa di lakukan oleh seorang laki-laki. Makanya, ada pepatah bilang, surga berada di telapak kaki ibu. Karena seorang ibu harus bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya. " jawab mamanya.
Lalu beliau melepas pelukannya. " Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuknya. Cintai dia melebihi cintanya kepadamu. Beri dia kasih sayang, beri dia perhatian yang lebih. Sekecil apapun itu, lakukan untuk isttimu. Buat dia bahagia sebagai ganti penderitaannya selama ini. Mama yakin, Lusi bahagia menjadi istrimu. " ujar Nyonya Ruth sambil menggenggam tangan putranya.
" Sekarang mumpung istrimu sedang hamil. Perempuan hamil itu butuh banyak perhatian. Perempuan hamil itu banyak maunya. Bukan dia sengaja melakukannya. Tapi itu juga keinginan bayinya. Turuti apa yang ia mau. Maka kamu akan sedikit mengurangi kesakitannya. " lanjutnya.
Lalu Seno nampak berpikir setelah mendengar ucapan mamanya.
" Ma, El mau cerita ke mama. Tapi mama jangan tertawa. " pinta Seno.
" Hem? Cerita apa? Mam janji nggak akan tertawa. " jawab sang mama.
" Tadi pagi, Armell bilang pengen ma. Mama ngerti kan, pengen yang El maksud. " Seno memulai ceritanya.
Nyonya Ruth mengangguk, " Lalu? "
" Dokter bilang, kami tidak boleh melakukannya dulu sekarang. Katrina kandungan Armell masih rentan. Jadi tadi El melarangnya untuk... itulah ma. " lanjut Seno. " Mama tahu, dia langsung marah-marah dan tiba-tiba dia kembali mengalami morning sick. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Dan badannya menjadi lemas. "
Nyonya Ruth menahan senyumnya karena ia menjadi teringat bagaimana ketika ia mengandung Seno dulu.
" Setelah muntah-muntah, Armell bilang, jika sebelumnya El memperbolehkan tangannya menyentuh El, dia pasti tidak akan muntah-muntah. Konyol kan ma? " lanjut Seno.
Nyonya Ruth menggeleng-gelengkan kepalanya. " Tidak ada yang konyol jika seorang perempuan sedang hamil. Semuanya bisa saja benar. Kamu saja yang keterlaluan. Kenapa kamu tidak mengijinkannya? Toh istrimu pasti tahu batasan dan tidak akan meminta lebih. Karena dia juga tahu bagaimana kondisi kandungannya. "
" Kalau El mengijinkannya, sudah pasti El tersiksa ma. El pasti sakit kepala. " protes Seno.
" Kamu ini. Baru saja nangis-nangis karena tidak tega melihat istri kamu menderita. Kamu menyesal karena tidak ada yang bisa kamu lakukan. Giliran ada yang bisa kamu lakukan, eh kamu tolak gitu aja. El, semua itu perlu di coba. Siapa tahu Lusi benar. Setelah ia melakukan apa yang dia mau, ia tidak lagi muntah-muntah. Kalau dia nggak mual, mama yakin dia pasti bisa menelan makanan. Tubuhnya akan berisi kembali. " tukas sang mama.
" Tapi kan...."
" Kamu lihat kan perjuangan istrimu untuk memberikan anak untukmu? Bagaimana perjuangan dia saat jadi istri kamu? Masak kamu cuma tersiksa gitu aja udah takut duluan. Lembek kamu!" ledek sang mama.
" Ck. " Seno berdecak. Tapi ia juga berpikir, apa yang di bilang mamanya ada benarnya.
Seno terkejut mengingat sesuatu. Ia melihat jam dinding.
" Ya Tuhan...El lupa ma. El ada janji ketemu klien jam 10. Dan ini udah jam 9. El titip Armell dulu ya ma. " ucap Seno sambil bangkit dari duduknya. Nyonya Ruth mengangguk.
" Eh, tapi ..Apa Armell nggak marah kalau El tinggal ya? Secara tadi pagi dia marah sama El. " ujar Seno.
" Lihat istrimu ke dalam. Siapa tahu dia udah bangun. Pamit ke dia. Mama yakin, dia pasti ngerti kalau kamu ada pekerjaan yang nggak bisa di gantikan. " ujar sang mama.
Seno lalu berlalu ke dalam kamar melihat apakah istrinya sudah bangun atau belum. Sekalian berganti baju.
***
bersambung