My Handsome Police

My Handsome Police
Jalan-jalan pagi



Pagi menjelang. Pagi-pagi buta, Armell sudah membangunkan suaminya. Juga membangunkan Bryan dan Damar yang berada di penginapan Tante Ira.


" Bini lo kayak kurang kerjaan aja. Masih gelap gini udah nyuruh orang bangun. Hoaaaammm....." keluh Bryan ketika ia sampai di rumah ibu Armell dan bertemu Seno di depan rumah. Padahal dia masih sangat mengantuk. Meskipun ia sedang libur, tapi karena sudah kebiasaan, semalam ia tidur sangat larut. Ia membayangkan keesokan harinya akan bangun siang mumpung libur dan udara di kampung Armell sangat segar dan sejuk. Eh, tak tahunya, istri sahabatnya itu sudah ribut pagi-pagi buta.


" Gue ju.."


" Mau diajakin lari pagi sama mbak Mell..Biar om dokter sehat. Perutnya sixpack. Nggak buncit. Kan biasa tuh umur-umur kayak Abang sama om dokter ini perutnya gampang buncit. " seloroh Pipit yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah memotong omongan Seno.


" Eh, bocah...Gue ini nggak usah lari pagi kayak gini, hidup gue udah sehat. Perut gue nggak bakalan buncit. Gue ini rajin treadmill di rumah. " sahut Bryan.


" Ya kan di rumah om. Di sini nggak ada tuh nggak ada treadmill. Dan om di sini 2 hari kan? 2 hari aja nggak olahraga, berapa kalori tuh yang ngendap di tubuh?" sahut Pipit kembali. " Apalagi nih, yang di perut. " lanjut Pipit sambil menunjuk ke perutnya.


Seno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan sahabat dan adik iparnya.


" Udah siap semuanya kan? " tanya Armell yang baru keluar dari dalam rumah.


Seno langsung meraih pinggang istrinya ketika melihat istrinya berada di sampingnya. " Kita mau kemana? " tanyanya.


" Kita jalan-jalan aja muter kampung. " jawab Armell. " Yuk, keburu matahari makin tinggi. " ajaknya.


Lalu Armell berjalan lebih dulu keluar dari pekarangan rumah dan di susul oleh seno. Lalu Damar berada di belakang mereka. Menjaga mereka tentu saja karena ia adalah bodyguard nya Armell. Tapi Armell tidak tahu tentu saja kalau semenjak penculikan yang di alaminya terakhir kali itu, Seno menugaskan Damar untuk selalu berada di dekat Armell tanpa sepengetahuannya.


" Bang Damar, tungguin Pipit. " teriak Pipit yang sedikit berlari menyusul Damar. Dan Bryan, berlari kecil setelah Pipit.


Mereka berlari keliling kampung sesuai rencana Armell. Di pertengahan mereka jalan-jalan, mereka berpapasan dengan anak kepala desa yang juga sedang berlari pagi.


Melihat Armell, tentu saja Ulil berhenti dan menyapanya. " Armell..." sapanya.


" Eh, Ulil. Lagi jalan-jalan juga. " sapa Armell balik. Kebetulan saat itu, Seno sedang berada di sampingnya. Seno sedang ngobrol dengan Bryan di belakang.


" Iya. Kamu kapan datang? " tanya Ulil.


" Baru kemarin. " jawab Armell sambil tersenyum. Senyum yang selalu membayang di ingatan Ulil.


Seno yang melihat istrinya sedang berbicara dengan seorang laki-laki, menajamkan penglihatannya. Oh, dia langsung mengenali laki-laki itu. Ia segera berlari meninggalkan Bryan menghampiri istrinya.


Sampai di samping istrinya, Seno langsung merengkuh pinggang Armell posesif dan mengecup puncak kepala Armell. Armell terkejut tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu oleh suaminya. Tapi keterkejutannya tidak berlangsung lama karena ia segera menyadari apa yang membuat suaminya menjadi posesif seperti itu. Armell terkekeh tipis saat menyadarinya.


" Baby, kenapa kok tiba-tiba berhenti? " tanya Seno berpura-pura.


" Maaf, sayang. Ada teman aku lewat. Tidak enak kalau tidak menyapa. " sahut Armell.


Seno senang di saat seperti ini istrinya itu memanggilnya sayang. Ia mengulum senyumnya.


" Oh, teman kamu. Sepertinya aku juga mengenal temanmu ini. " ujar Seno sambil memandang Ulil. " Halo. Kalau tidak salah, anda anak kepala desa di sini ya? " sapa Seno sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Ulil menerima uluran tangan Seno dengan malas. " Halo juga. Iya. Saya anak kepala desa di sini dan teman dari perempuan yang anda peluk. Dan orang yang telah di ambil cintanya. " jawab Ulil ketus.


" Sekali lagi saya minta maaf kalau mungkin dulu saya tidak sempat meminta maaf karena telah mengambil perempuan yang anda sukai. Maaf, tapi dia lebih memilih saya. " sahut Seno tak kalah ketus dan pedas.


Sedangkan tak jauh dari mereka, Bryan menghampiri Pipit yang menyaksikan pertandingan sengit antara anak pak kades dengan kakak iparnya.


" Ha? " Pipit sedikit terkejut dan menoleh ke arah Bryan. " Dia anak kepala desa di sini. " jawabnya.


" Apa Seno mengenalnya? Sepertinya mereka sedang dalam pembicaraan yang tidak enak. " ujar Bryan masih sambil melihat ke arah Seno dan Ulil.


Pipit mengangguk, " Tentu saja bang Seno mengenalnya. Dia itu cinta mati sama mbak Mell. Bahkan dia sekarang sedang menunggu mbak Mell jadi janda. " jawabnya.


" Wuihhh, sadis bener. Dia nyumpahin sahabat gue cepet mati dong. " ujar Bryan.


" Nggak gitu juga kali om. Dia berharap mbak Mell itu cerai sama suaminya. " jawab Pipit.


Dan terlihat, Seno juga Armell mulai kembali berjalan meninggalkan Ulil yang masih menatap Armell meskipun hanya punggungnya.


" Permisi. " sapa Bryan saat melewati Ulil. Lalu mereka kembali berlari pagi.


Setelah acara lari pagi versi Armell usai, Pipit langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Karena hari itu hari Sabtu. Sedangkan Bryan dan Damar langsung kembali ke tempat penginapan untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Bryan langsung ke tempat ibu Armell. Niatnya mau meminta Pipit menemaninya jalan-jalan di daerah itu. Bryan sangat tertarik dengan daerah itu. Ia ingin mengenal tempat itu. Menurutnya, daerah itu sangat unik. Udaranya sejuk, segar karena berada di daerah pegunungan.


" Terus Pipit sekolah naik apa dong mbak? " tanya Pipit yang terlihat sudah mengenakan seragam sekolahnya.


Tepat saat itu, Bryan masuk ke dalam rumah. " Apa nih pagi-pagi udah heboh? " tanya Bryan.


" Nih, kebetulan ada dokter Bryan. Dok, bisa minta tolong anter Pipit ke sekolah kan? " tanya Armell.


" Ha? Dia? " tanya Pipit. " Duh, mbak... Pipit di antar sama bang Damar aja deh. " ujar Pipit.


" Damar baru mau mandi. Lo kalau mau nungguin lama. " jawab Bryan sambil mengambil pisang goreng hangat yang ada di atas meja.


" Yah..." keluh Pipit sambil melihat jam tangannya. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 7.


" Udah sih dek. Dianter dokter Bryan aja. " sahut Armell.


" Ck. Entar Pipit di katain Sugar baby lagi dong mbak. Dulu pas di antar bang Seno ke sekolah, seluruh sekolah menggosipkan Pipit. Mereka bilang, Pipit nggak berangkat sekolah berhari-hari, eh giliran berangkat, dianter sama om-om. " keluh Pipit.


" Pfffttt..." Armell menahan tawanya. Ia menoleh ke arah suaminya, " Kamu di katain om-om mas? Masak iya sih kamu kayak om-om yang sugar Daddy gitu? " goda Armell.


" Itu sih dasar temannya Pipit aja. Padahal aslinya mereka tertarik sama aku. Orang waktu aku keluar dari mobil pas jemput dia nih, teman-temannya pada caper. Pada minta kenalan. " ujar Seno.


" Terus kamu mau di ajakin kenalan? " tanya Armell yang sudah berubah raut mukanya menjadi kesal.


" Ya nggak lah, baby. Masak iya aku mau kenalan sama cabe-cabean. Masih seksian kamu dong beb. Udah seksi, cantik, makin pintar aja kalau di ranjang. " ujar Seno sambil mengelus manja pipi Armell. Dan blush..memerahlah pipi Armell.


" Ayo gue anterin Lo sekolah. " ucap Bryan dengan tiba-tiba menarik tangan Pipit dan di bawanya keluar dari rumah. " Lo masih di bawah umur. Nggak baik buat perkembangan Lo lihat tingkah kakak sama ipar Lo. " lanjutnya sambil menarik tangan Pipit.


Bryan membuka pintu mobil dan menyuruh Pipit masuk ke dalam mobil. Setelah Pipit masuk, Bryan mulai menjalankan mobilnya.


***


bersambung