My Handsome Police

My Handsome Police
Cerita



" Biasa aja dok. Anggap saja kita lagi main di rumah hantu kayak yang ada Ancol. Muka mereka juga sama aja. " jawab Armell.


Seno juga hanya melongo saja. Sungguh fantastis istrinya ini.


" Armell lanjutin lagi ya ceritanya. " ucap armell. Seno dan Bryan mengangguk. Menunggu hal baru apalagi yang mereka dapati dari seorang Armell.


" Terus ternyata, ada penjahat yang buntuti Mell. Ya udah, Mell ajak berantem tuh penjahat ubur-ubur. " lanjut Armell.


" Penjahat ubur-ubur? " tanya Seno.


" Hm. " Armell mengangguk. " Dia punya tato nih di lengan, gambarnya mirip ubur-ubur. Ya udah mell panggil dia penjahat ubur-ubur. " jawab Armell.


Seno dan Bryan langsung tertawa terbahak-bahak.


" Penjahat itu yang semalam kamu tendang sampai pingsan, bukan? Soalnya aku denger kamu panggil dia penjahat ubur-ubur. " tanya Seno.


Armell mengangguk mantap. " Iya. Gedek banget sama dia. Gara-gara dia Mell sampai di culik. Udah gitu, di sana dia ngerjain Mell mulu. Nih, memar-memar yang di tangan, di pipi, di toel-toel mulu sama dia. Kan tambah sakit jadinya. " jawab Armell cemberut.


" Pantesan semalam kamu kelihatan dendam banget sama dia. " ucap Seno.


" Terus kamu berantem sama dia pas mau di culik itu? " tanya Bryan penasaran.


" Iya lah. Tapi seharusnya dia kalah. Eh, malah tiba-tiba temen-temennya datang, terus Mell di bekap pakai kain yang sepertinya kain itu di kasih bius. Ya udah deh, Mell pingsan. Eh, bangun-bangun, sudah di tengah gudang. Terus di depan Mell ada cowok. Ganteng sih, tapi menakutkan. " lanjut Armell bercerita.


" Jadi, yang nyulik kamu ganteng nih ceritanya? " tanya Seno sinis. Bau-bau kecemburuan nih.


" Iya, ganteng. Wajahnya bule. Namanya juga bule. Robert... Robert...ah, Mell lupa. Yang pasti dia bilang, dia teman lama mas. Mau nuker Mell sama barang dia yang di bawa mas gitu pokoknya. " jelas armell polos tanpa merasa kalau suaminya sedang cemburu.


" Jadi kamu suka sama dia? " tanya Seno kembali.


" Ya nggak lah. Gila apa. Amit-amit deh kalau Mell suka sama dia. " ucap Armell sampai menggetok-getok kepalanya perlahan-lahan.


" Terus kenapa kamu bilang dia ganteng? Gantengan siapa dia, atau aku? " tanya Seno kesal.


" Ya....emang dia ganteng. Kan bukan berarti kalau Mell nggak suka sama seseorang, berarti Mell harus bilang dia jelek kan? Sama mas, dulu Mell juga bilang mas itu ganteng. Tapi ngeselinnya nauzubillah. " jawab Armell.


" Berarti kamu nggak suka sama aku? Aku ngeselin, gitu? " tanya Seno. Bryan menyaksikan perdebatan mereka dengan diam. Ia telah selesai membalut kaki Armell.


" Ya kan dulu mas emang ngeselin. " jawab armell.


" Terus sekarang, masih juga gitu ngeselin? " tanya Seno kembali.


" Iyaaaaa.... Sekarang udah mendingan. Nggak terlalu. " jawab Armell apa adanya.


" Mendingan? Nggak terlalu? Maksudnya? " tanya Seno geram.


" Iya mendingan. Berarti belum benar-benar nggak ngeselin. Tahu kenapa? Karena mas suka sosor sembarangan kayak soang. " jawab Armell.


" Pfft...." Bryan yang mendengar kata-kata Armell yang terakhir menahan tawanya.


" Nih ya mas, kalau ada nih yang nanya ke Mell, ' Mell, kamu takutan mana, hantu apa suami kamu? ' Mell bakalan langsung jawab tanpa mikir lagi...' Ya suami Mell lah. ' gitu. Mell takut karena suami Mell mesum. Suka sosor-sosor. " jawab Armell yang malah membuat Seno tidak berkutik.


" Ha..ha...ha..." kali ini Bryan tidak bisa menahan tawanya lagi. " Mampus Lo. " ucap Bryan ke Seno tanpa mengeluarkan suara.


" Ah, udah...udah...terusin lagi ceritanya. Nggak usah bahas yang itu. Bikin tambah kesel aja. " ujar Seno.


" Ya kan mas tadi yang nanya-nanya. Ya Mell jawab dong. " jawab Armell.


" Udah ..udah .. lanjut aja cerita kamu. Kalau kamu pas berantem sama penjahat ubur-ubur menang, kenapa hampir seluruh badan kamu penuh luka lebam? " tanya Bryan menyudahi perdebatan suami istri itu.


" Karena Mell kesel tuh sama Robert, Mell tantangin aja dia. Mell ajak berantem. Eh, di ladenin beneran sama dia. Udah gitu, dia bikin kesepakatan. Eh, bukan kesepakatan namanya, orang dia aja yang mutusin. Dia buat aturan, kalau Mell menang lawan dia, dia bakal lepasin Mell dan nggak akan jadiin Mell sandera lagi. Tapi kalau Mell kalah, dia mau Mell menemaninya semalam suntuk. Mell harus melayani dia. " cerita Armell berapi-api.


Seno mengepalkan tangannya. Pikirannya semakin menjadi-jadi. Ia berpikir Armell pastilah kalah melawan seorang Robert. Dan akhirnya Mell melayaninya. Bayangan Robert yang mencumbu Armell berkelebatan di pikirannya.


Bryan yang melihat perubahan muka Seno, menyadari apa yang terjadi. Karena sore tadi, Seno sempat menelepon dan menceritakan kecurigaannya. Bryan menepuk pelan pundak Seno menenangkannya.


" Terus???" tanya Bryan ke Armell.


" Terus, akhirnya kamu menang apa kalah? " tanya Bryan. Sedangkan Seno hanya diam saja menunggu jawaban dari Armell. Karena ia tahu, Robert tidak akan sebegitu mudahnya melepas gadis yang membuatnya tertarik.


" Ya.... hampir kalah sih... Hampir ya...bukan udah kalah... Untung saja, pas Mell mau tumbang, ada tuh anak buahnya masuk, terus kasih dia kabar entah apa itu, terus dia buru-buru pergi dari gudang itu. Dan akhirnya, Mell terselamatkan dari laki-laki mesum itu. Tapi ya, kalaupun Mell kalah, Mell nggak bakalan mau di jadikan PSK sama dia. Mending Mell mati aja. Terus beberapa jam setelah itu, mas Seno datang nyelametin Mell. " lanjut Armell.


Akhirnya Seno bernafas lega. Ia menghela nafas panjang. Ia telah salah menuduh yang tidak-tidak ke istrinya. Padahal istrinya itu telah berusaha mati-matian mempertahankan kehormatannya sebagai seorang perempuan.


" Tuh, lo denger cerita bini lo. Jangan asal tuduh. Jangan asal curigaan. Yang jadinya salah paham. " ujar Bryan sambil menepuk pundak Seno.


" Ck! " Seno berdecak.


" Hoaaammm...." Armell menguap. " Ups. Maaf. Kebablasan. " ucap Armell sambil menutup mulutnya.


" Udah ngantuk? " tanya Seno.


Armell mengangguk.


" Ya udah, aku antar ke kamar dulu. " ucap Seno sambil berdiri dari duduknya.


Armell kembali mengangguk. Lalu ia berpamitan ke Bryan, " Dokter Bryan, Mell ke kamar dulu. Ngantuk banget soalnya. "


" Iya. Kamu istirahat saja. " jawab Bryan. " Oh iya, Mell, kamu ngerasa perut atau dada kamu terasa sakit nggak? Selain karena memar ya. " tanya Bryan.


Armell nampak berpikir sambil mengernyit.


" Maksud aku, mungkin perut kamu kayak kram atau semacamnya. " lanjut Bryan.


" Mmm....tadi sih perut Mell bagian bawah sini nih dok, agak cenut-cenut di dalam. Kayak kalau mau mens gitu. Tapi lebih sakit lagi. " jawab Armell sambil menunjuk perut bawahnya.


" Sebaiknya kamu periksakan ke rumah sakit aja. Takutnya ada efek yang nggak baik ke depannya. " saran Bryan.


" Lihat besok aja lah dok. " Jawab Armell.


" Ya udah, istirahat sana. " ujar Bryan.


" Gue anterin bini gue ke kamar dulu. Lo jangan pulang dulu. Kita ngobrol-ngobrol dulu bentar. Lama juga kan lo nggak main kesini. " ujar Seno. Dan di jawabi anggukan oleh Bryan.


Kemudian Seno menggendong Armell ala bridal style.


" Mas, mau cium Arvin dulu. " pinta Armell.


Seno mengangguk, lalu membawa Armell ke kamar tamu di mana baby Arvin tidur. Yah, selama dua hari ini di rumah itu, baby Arvin tidur di kamar tamu di temani Lilik. Rencananya, besok pagi, Seno mau membersihkan kamar kosong yang ada di sebelah kamarnya untuk di jadikan kamar baby Arvin. Dan kebetulan, besok baby sitter untuk baby Arvin juga sudah datang.


Seno mendorong perlahan pintu kamar tamu karena pintunya belum tertutup rapat. Itu artinya, Lilik belum tidur.


" Yah, baby'ku udah bobo. Kakak mau cium. " ucap Armell.


" Kok kakak sih? Dia ini anak kamu loh. Masak akunya di panggil Daddy, kamu di panggil kakak? Ya harus mommy lah. " protes Seno.


" Berasa tua mas. " jawab Armell.


" Baby, kalau baby Arvin terbiasa panggil kamu kakak sampai besok dia udah gede, terus ada orang panti tahu, bisa fatal lho akibatnya. " ucap Seno tak mau kalah.


Armell nampak berpikir. Dan akhirnya dia mengalah. " Iya deh. Mommy....Mom...he...he..he...lucu..." ucapnya. " Turunin bentar mas. Mommy mau cium baby'ku. " lanjutnya.


Seno tersenyum dan menurunkan Armell di dekat baby Arvin tertidur. Kemudian ia mengecup kening juga pipi baby Arvin.


" I love you, baby'ku. Mimpi indah ya. " ucap Armell pelan. Kemudian mengecup keningnya lagi.


" Udah. " ucap Armell ke Seno yang sedang memperhatikannya.


Seno kemudian mengangkat kembali Armell, dan di bawa ke kamarnya di lantai dua.


***


bersambung