My Handsome Police

My Handsome Police
Gajah



" Ibuuuuuu......" pekik Armell sambil kembali menggenggam erat tangan ibu juga mama mertuanya.


" Sakit lagi baby? " tanya Seno yang masih jongkok di hadapan istrinya.


Armell mengangguk. " Tapi pengen pipis. " ucapnya sambil menahan rasa sakit.


" Ya udah, pipis aja. Nggak pa-pa. " sahut Seno sambil memegang lutut Armell.


Plak


Nyonya Ruth memukul lengan Seno. " Kamu gila? Menyuruh istri kamu pipis di sini? Mana mungkin istri kamu bisa pipis di celana??? Dasaaaarrr....Gimana kamu mau memajukan perusahaan kalau kamu b3g0 kayak gini???" umpat Nyonya Ruth geram.


Seno menepuk jidatnya. " Oh iya ma. Sorry. Lupa. Efek panik ini ma. " ujar Seno.


" Ya udah buruan kamu gendong istri kamu bawa ke kamar mandi sana. " titah sang mama.


Seno langsung berdiri dan mengangkat tubuh Armell perlahan dan segera ia bawa masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Ibu juga mertua Armell mengikuti mereka dari belakang.


Dalam gendongan Seno, Armell mengalungkan kedua tangannya erat ke leher Seno dan mencengkeram erat kerah kemeja Seno karena perut juga pinggangnya masih terasa sakit. Bahkan tanpa sadar, Armell sempat menggigit bahu Seno yang membuat Seno memekik seketika.


" Aauuu...." pekik Seno sambil menghentikan langkahnya sesaat karena terkejut mendapati istrinya menggigit bahunya.


" Kenapa El? Apa Lusi ngompol? " tanya nyonya Ruth. " Udah nggak tahan sayang? " lanjutnya bertanya ke Armell sambil membelai rambut Armell.


Armell hanya mampu menggeleng.


" Bahu Seno di gigit ulat ma. Untung ulatnya cantik. " jawab Seno sambil kembali berjalan.


Sampai di kamar mandi, Seno menurunkan Armell di atas closet yang sudah di buka oleh ibu Armell penutupnya.


" Apa dia pengen pipis karena ketubannya rembes ya jeng? " tanya ibu Armell ke besannya.


" Bisa jadi ya jeng. " sahut nyonya Ruth semakin panik.


" Ibu, mama, mas, tunggu di luar aja. Mell mau pipis dulu. " pinta Armell.


" Iya, mama sama ibu tunggu di luar kalau gitu." sahut nyonya Ruth.


" El temenin dia ma. " ujar Seno yang tidak akan meninggalkan istrinya sendiri. Armell tidak mampu membantah.


" Nanti kamu cek, istri kamu beneran pipis atau nggak. Ah, maksud mama, kamu lihat nanti yang keluar itu air seni biasa, apa ada lengket-lengketnya. " pinta sang mama. Dan Seno mengangguk.


Ibu juga mama mertua Armell segera keluar dan menutup pintu. Lalu Seno segera membantu istrinya membuka ****** ******** dan melihat air yang di keluarkan oleh Armell.


" Gimana El? Lengket apa nggak cairannya? " tanya Nyonya Ruth ke Seno saat melihat putranya itu keluar dari kamar mandi dengan menggendong Armell.


" Biasa ma. " jawab Seno.


" Alhamdulillah..." jawab ibu Armell dan nyonya Ruth bersamaan.


" Masih sakit Mell? " tanya ibu Armell.


" Sekarang nggak Bu. Hilang sakitnya. " jawab Armell.


" Ya udah, kita bawa Lusi ke rumah sakit aja sekarang. Papa bilang semua sudah oke. " ujar nyonya Ruth.


Seno mengangguk dan kembali melangkah membawa Armell ke mobil. Di luar rumah, nampak Damar sudah menyiapkan mobil dan di parkir tepat di depan pintu. Sedangkan Lilik dan Siti serta Pipit berdiri berjajar di samping pintu. Rezky juga sudah ada di sana dengan membawa sebuah mobil juga yang akan di tumpangi tuan Adiguna dan yang lainnya.


Melihat bosnya terlihat dengan menggendong istrinya, Damar segera membukakan pintu.


" Sudah, nyonya besar. " jawab Lilik dan Siti bersamaan.


Seno membawa masuk Armell ke dalam mobil. Lalu ia juga masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Armell. Ibu Armell juga masuk ke dalam mobil lewat pintu samping. Ia juga duduk di samping Armell. Nyonya Ruth juga masuk ke dalam mobil dan duduk di jok samping sopir. Di samping Damar yang akan menjalankan mobilnya.


Tuan Adiguna dan Pipit, masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Rezky. Karena seperti itulah rencananya. Sesuai dengan gladi bersih yang mereka lakukan hari sebelumnya.


Setelah semua masuk kedalam mobil, Damar menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah yang di ikuti oleh mobil yang dikendarai oleh Rezky.


Mulai keluar dari area komplek perumahan, jalanan nampak lengang. Tidak ada satupun mobil ataupun motor yang melintas. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di tepi jalan tiap selang 1 kilometer, dan beberapa orang berpakaian serba hitam yang berada di dekat mobil menghadap ke jalan.


" Kok tumben jalanan sepi banget mas? " tanya Armell sambil melihat ke kanan-kiri ketika perutnya tidak terasa sakit.


" Papa sudah menyuruh anak buahnya untuk mengevakuasi semua kendaraan yang lewat dan yang akan lewat di jalanan yang akan menuju rumah sakit. " sahut sang mama mertua. Membuat Armell dan ibunya terkejut. Begitupun Seno yang tidak mengetahui jika papanya akan bertindak sejauh ini.


" Harusnya papa tidak perlu sampai seperti ini ma. Kan kasihan orang-orang yang mau melewati jalanan ini. " sahut Armell.


" Kamu tahu bagaimana macetnya jalur ke rumah sakit jika siang hari begini kan sayang? Papa hanya membersihkannya sebentar. Nanti kalau kita sudah lewat, jalanan akan di buka kembali. Jarak rumah kamu ke rumah sakit itu sudah cukup jauh. Kalau di tambah kena macet, akan semakin lama kita di perjalanan. " sahut sang mama mertua.


" Kenapa nggak sekalian minta kawalan dari kepolisian? " gumam Seno.


" Hei, itu seharusnya tugas kamu. Kamu kan mantan polisi. Gimana sih kamu El? Kenapa baru dapet ide itu sekarang? " protes nyonya Ruth.


" Ck. " Seno hanya mengomentari dengan decakan.


" Aahhhh....Ssssshhhh...." Armell tiba-tiba memekik kesakitan kembali. Perut dan pinggangnya terasa nyeri kembali. Dan ini lebih sakit dari saat di rumah tadi.


Semua langsung panik kembali. Tangan Armell yang sebelah kiri meremas baju ibunya, lalu yang sebelah kanan meremas paha suaminya kencang. Membuat Seno sedikit meringis. Tapi tak urung, ia mengarahkan tangannya untuk mengelus perut dan pinggang Armell bergantian.


" Dam, ayo lebih cepat . Jangan sampai cucuku lahir di dalam mobil. " ujar nyonya Ruth.


" Iya, Dam. Kan nggak keren kalau seorang keturunan Adiguna lahir di dalam mobil. Padahal buatnya aja udah jauh-jauh ke Perancis. " sahut Seno. Dan spontan membuat Armell semakin meremas pahanya sambil memelototkan matanya ke arah Seno.


" Aaauuu.... Sakit,baby. " pekik Seno.


" El, kamu ini. Cuma di pegang gitu aja teriak. Coba bayangin jadi istri kamu. Kesakitan kayak gitu. Bayangin juga gimana sakitnya istri kamu saat gajah kamu itu masuk ke kandangnya waktu pertama kali. Cukup istri kamu aja yang teriak. Kamu nggak usah ikut-ikutan teriak. " ujar Nyonya Ruth membuat suasana menjadi lebih santai dengan perkataannya.


" Mama ini kan nggak tahu sakitnya di remas kayak gini. Untung kuku istriku pendek-pendek. " seru Seno.


" Masih untung yang di remas Lusi itu paha kamu. Coba kalau yang di remas gajah kamu. " ujar Nyonya Ruth. Membuat ibu Armell tersenyum tipis mendengar percakapan anak dan mama itu.


" Istriku tahu ma. Ini itu aset dia juga. Kalau gajahku di remas dan mati, dia juga rugi. " jawab Seno. Membuat Armell tiba-tiba tertawa. Saat sakitnya sudah kembali mereda.


" Baby, kau membuatku terkejut. Apa hilang lagi sakitnya? " tanya Seno.


Armell mengangguk masih sambil tertawa. " Mama benar. Seharusnya aku meremas gajah kamu mas. Biar kamu nggak bisa mesum. " ujar Armell.


" Kamu akan rugi baby. Karena kamu tidak bisa berolahraga malam. " sahut Seno.


Melihat suasana agak tenang, Damar mengurangi sedikit kecepatan mobilnya. Dan hal ini berlangsung beberapa kali. Saat tiba-tiba sakit menyerang, maka Damar akan menambah kecepatan mobilnya. Dan di saat Armell tidak merasakan sakit, maka akan terjadi percakapan-percakapan unfaedah di dalam mobil itu hanya untuk menghibur Armell supaya Armell tidak takut dan tegang menjelang persalinan.


Sampai di sini, semua masih berjalan sesuai rencana. Mulai dari rumah, jalanan yang sepi, percakapan yang membuat Armell tidak merasa tertekan. Semuanya benar-benar sesuai rencana. Meskipun semua orang sama-sama merasa panik dan tegang menjelang kelahiran keturunan Adiguna, tapi mereka berusaha membuat suasana santai di sekeliling sang calon ibu.


***


bersambung