My Handsome Police

My Handsome Police
Arvin bertemu baby Dan



Hai....hai.... othor balik lagi...


Terus simak episode-episode pungkasan dari Armell dan Seno ya guys ... Soalnya ini sudah detik-detik akhirnya...


Happy reading


_______________________________________________


Oh iya, kalian sudah menyiapkan nama buat si kecil? " tanya Nyonya Ruth.


" Sudah dong ma. Sebelum dia lahir, kita udah siapin nama. Namanya Danique Francois Adiguna. Di panggilnya Daniq. " ucap Seno.


" Baby Dan? Bagus sekali namanya. " puji Nyonya Ruth sambil mengelus pipi baby Dan.


" Kami memilih nama itu bukan sekedar memilih. Danique kita ambil dari bahasa Belanda yang artinya adalah bintang pagi. Francois kita ambil dari bahasa Perancis yang artinya bertanggung jawab. Adiguna jelas harus ada karena dia adalah keturunan keluarga Adiguna. " jelas Seno.


" Kenapa harus mengambil dua bahasa? Kalau Belanda papa tahu karena mama kamu berasal dari Belanda. Lalu Perancis? " tanya tuan Adiguna.


" Papa lupa? Kami berbulan madu di Perancis. Dan baby Dan, menjalani proses pembuahan di sana. Jadi sudah pasti harus ada Perancis nya biar kita selalu ingat kalau baby Dan itu Made in Perancis. " tambah Seno.


" Ada-ada saja kamu ini El. " ujar sang papa.


Tok...tok...tok...( suara pintu di ketuk )


" Selamat sore ..." sapa seseorang yang baru membuka pintu.


" Arvin...." panggil Armell ketika ia melihat Arvin datang bersama sang mama.


Leora tersenyum sambil berjalan mendekat ke Armell. Mereka saling cipika cipiki saat Leora sudah berada di dekat Armell.


" Gimana keadaan kamu Mell? " tanya Leora.


" Alhamdulillah kak. Mell baik-baik saja. Halo, Arvin..." sapa Armell ke Arvin dengan menoel pipi Arvin.


Seperti biasa, melihat Armell, Arvin langsung berontak minta turun di dekat Armell sambil berceloteh, " Mommm.....Mommmm...."


" Sayang, mommy lagi sakit. Mom tidak bisa menggendongmu. " ujar Leora menenangkan Arvin.


" Tak apa kak. Turunkan dia di sini. Di sebelah Mell. Mungkin dia kangen sama Mell. Lama kan kita nggak ketemu. " ujar Armell sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dimana tadi Seno duduk.


" Arvin mau ikut mom? Sini sama Daddy...," ucap Seno. Lalu Seno mengambil alih Arvin yang sudah memajukan tubuhnya untuk di gendong oleh Seno.


Setelah berada di gendongan Seno sesaat, Arvin minta turun dari gendongan dan minta duduk di sebelah Armell.


Arvin seperti mengerti jika mommy tidak bisa menggendongnya. Ia hanya mengusap-usap pipi sang mommy sambil menciuminya beberapa kali. Membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa melihat tingkah menggemaskan Arvin.


Lalu perhatiannya teralihkan ke seorang bayi yang kini berada di pangkuan Nyonya Ruth. Arvin menunjuk ke baby Dan sambil memanggilnya, " Deeekkk.....ntu Deeekkk...."


" Iya sayang. Itu adik. Adiknya bang Arvin ya. " sahut Armell.


" Au deek....Nana..." ujar Arvin sambil menarik tangan Seno yang berada di pinggir ranjang. Arvin yang kini berusia 2 tahun, sudah bisa berbicara meskipun masih belepotan.


" Arvin mau lihat dedek bayinya? " tanya Seno. Dan Arvin mengangguk-angguk menggemaskan. " Oke, ayo Daddy gendong lihat dedek bayinya ya. " ujar Seno sambil mengangkat tubuh gemol Arvin.


" Deekk....." panggil Arvin. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi baby Dan.


" Pelan-pelan sayang. " ucap Seno sambil memegangi tangan Arvin dan di sentuhkan ke pipi baby Dan yang sedang tertidur pulas.


Arvin tertawa dengan mata berbinar melihat baby Dan. Lalu ia mulai berontak minta turun dari gendongan Seno. Seno menurunkan Arvin ke lantai. Lalu dengan semangatnya, Arvin mulai berceloteh lucu seolah mengajak baby Dan berbicara.


Karena Arvin di jaga oleh Pipit, Seno kembali mendekati sang istri.


" Mell, tuan , kemarin saya habis dari rutan. Robert minta untuk bertemu. Juga Arvin. " Leora mulai bercerita.


Seno dan Armell mendengarkan dengan serius.


" Mau apa dia ingin bertemu? " tanya Seno.


" Dia bilang, kangen dengan Arvin. Lalu saya membawanya kesana. Dan ternyata, di sana juga sudah ada pengacara dia. " lanjut Leora.


" Lalu? "


" Apa termasuk semua usaha ilegalnya? Karena setahuku, dia itu seorang bos mafia di negara asalnya. " ujar Seno.


Leora menggeleng, " Tidak. Dia bilang dia hanya akan memberikan semua hartanya yang legal. Untuk bisnis ilegalnya, ia menyerahkan ke orang kepercayaannya untuk di kembalikan ke negara. "


" Baguslah kalau begitu. Sepertinya dia sudah insaf. " ujar Seno.


" Semoga saja. " sahut Leora.


" Wah, sekarang Arvin menjadi baby billioner ya. Kekayaan Robert sangatlah banyak. Dan dia tidak memiliki keluarga yang lain. Lalu, siapa yang akan menjalankan semua bisnisnya? Apa nona sendiri? " tanya Seno.


" Tentu saja tidak, tuan. Saya tidak akan mampu. Robert meminta supaya tangan kanannya selama ini untuk tetap bekerja di perusahaan. Jadi ya sekarang, saya di bantu oleh tangan kanannya itu. Setelah Arvin berusia 20 tahun, mau tidak mau, dia harus mengurus semuanya sendiri. Itu yang diinginkan oleh Robert. Robert bilang, dia juga menitipkan Arvin ke tangan kanannya itu. " jelas Leora.


" Baguslah kalau begitu. "


" Oh iya, dia juga menitip pesan kepada saya. Robert sangat ingin bertemu dengan Armell. Dia bilang, sekali saja. " ujar Leora.


Armell memandang suaminya. Senopun sama. Lalu ia tersenyum.


" Insyaallah, besok kalau Armell sudah sehat kembali, aku akan mengajaknya menemui Robert. " ujar Seno.


Armell langsung kembali menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia heran kok suaminya membiarkan dia menemui Robert?


Seno tersenyum, mengerti dengan tatapan mata Armell. " Baby, aku tahu seperti apa hatimu. Kamu tidak akan menyimpan dendam kepada siapapun. Dan aku yakin, kamu pasti penasaran. Kenapa Robert masih ingin menemuimu. " ujar Seno dengan tersenyum.


" Beneran boleh? " tanya Armell.


Seno mengangguk, " Aku akan mengantar dan menemanimu. " ujar Seno sambil mengusap puncak kepala Armell.


Ceklek....( bunyi pintu kembali di buka dari luar )


" Selamat sore..." sapa suara bariton seseorang.


" Sore..." sapa kembali orang-orang yang ada di situ.


" Wah, ada tamu rupanya. " ujar Bryan ketika melihat Leora dan Arvin.


Leora tersenyum simpul dan sedikit mengangguk. Bryan berjalan mendekati Armell.


" Gimana kabar mommy baby Made in Perancis? Sudah sehat? " tanya Bryan..


" Alhamdulillah, sudah dokter Bryan. Dan terima kasih karena sudah membantu baby Dan lahir. " ucap Armell sungguh-sungguh.


" Sama-sama. " ujar Bryan balik. " Kok baby nya di panggil baby Dan? Sudah kalian kasih nama? " tanya Bryan.


" Sudah dong dok. Namanya Danique Francois Adiguna. Keren kan namanya. " jawab Armell.


" Keren sih tapi sayangnya kurang sedikit. " seru Bryan dengan santainya.


Armell dan Seno mengernyit. " Kurang apa dok? " tanya Armell.


" Seharusnya kalian juga menambahkan nama belakangku di nama anak kalian. Apa kalian lupa, aku yang membantunya lahir. " ujar Bryan.


" Tidak perlu itu. Nama Lo ntar bikin rusuh. " sahut Seno kesal


" Dasar Lo nggak tahu terima kasih. Kalau nggak ada gue, anak Lo mana mau brojol. " seru Bryan.


" Lo kan udah lihat punya bini gue. Udah lebih dari cukup itu. " sahut Seno masih kesal. Kesal kenapa harus sahabatnya yang seorang Casanova itu yang membantu proses persalinan istrinya.


" Serah elo deh. Gue mau lihat ponakan gue yang Made in Perancis dulu. " kelakar Bryan dan kemudian ia beranjak dari sisi ranjang Armell menuju baby Dan yang berada dalam pangkuan Nyonya Ruth.


Leora, yang semenjak tadi berada di dekat Bryan, bernafas dengan lega. Karena semenjak Bryan berada di sampingnya, nafas Leora seolah tercekat di tenggorokan. Sudah semenjak bertemu dengan Bryan di pesta resepsi Seno dan Armell dulu, Leora menaruh hati ke Bryan.


Bryan mendudukkan pantatnya di sebelah Pipit yang sedang memangku Arvin. Sesekali Leora mencuri pandang ke Bryan.


Beda dengan Leora yang menjadi salah tingkah dan jantungnya berdetak kencang saat ada Bryan, Pipit beda lagi. Dia langsung kesal. Karena Bryan selalu mengganggunya.


***


bersambung