
" Huh! " Armell merasa kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa. Seno melihatnya dengan rasa kasihan tapi juga gemas.
" Em! " Armell mengulurkan salep dengan tangan kanannya ke arah Seno tanpa melihat wajah Seno. Sebenarnya ia malu untuk melakukannya, tapi di harus melakukannya.
Seno menerima salep itu, lalu bertanya, " Mau aku obati? "
Armell mengangguk. ' Bodo amat deh. Malu ya udah malu sekalian. Lagian dia juga suamiku. Sah-sah saja kalau dia melihat dan memegang tubuhku. ' batin armell memberontak. Armell menarik nafas dalam-dalam saat Seno berada tepat di depannya.
Dag Dig dug...bunyi jantung armell bertalu-talu.
Seno mulai mengoleskan salep di muka armell yang memar dengan lembut. Kemudian ia mengambil salep yang lain untuk mengobati luka di sudut bibir Armell.
" Ssshhhh...." Armell mendesis karena merasa perih saat cream obat itu menyentuh sudut bibirnya.
" Maaf. " ucap Seno, lalu ia kembali mengoles cream itu, sambil meniup perlahan sudut bibir Armell yang terkena salep cream.
Armell mengerjab-ngerjabkan matanya kala menyadari betapa dekatnya wajah Seno dengan wajahnya. Ia juga menahan nafasnya.Tapi hembusan nafas Seno terasa sejuk di bibirnya.
' Alamaaaakk.....Panggilin dokter jantung cepetan...... Jantung Mell mau copot iniiii......' teriak Armel dalam hati.
" Kamu tiduran aja yuk. Aku bantu. Biar aku ngolesin salepnya bisa merata. " suara Seno menyadarkan Armell dari lamunan ghoibnya.
" Hah. " Armell menghembuskan nafasnya. " Huh!. "
" Kamu kenapa? " tanya Seno .
" Heh? Eh, ng-nggak ... Nggak kenapa-kenapa. " jawab Armell gelagapan.
" Ayo berbaring dulu. " ucap Seno yang di jawabi anggukan oleh Armell. Seno lalu membantunya lagi dan lagi.
Setelah Armell berbaring, Seno mulai mengolesi tubuh Armell yang terluka, mulai dari betis, kemudian naik ke paha, dan kemudian tangan Seno hendak menyibak kemeja yang di pakai Armell.
" Eh, mas mau ngapain? " tanya Armell sambil mencekal tangan Seno yang sudah memegangi ujung bawah kemeja yang di pakai Armell.
" Kan mau oles luka kamu yang di perut, pinggang, terus punggung kamu. Kalau bajunya nggak di buka, terus gimana aku obatinya? " tanya Seno bermotif.
" Lah, mas Seno untung banyak dong. Lihat badan Mell? " ujar Armell dengan polosnya.
" Ya ntar gantian kamu lihatin tubuh aku. Jadi kamunya juga untung. Nggak cuma aku doang. " jawab Seno santai.
" Ih, ogah. Mell nggak untung juga nggak apa-apa. ," sahut Armell.
" Ya udah, sekarang mau kamu gimana? Jadi di obati nggak? " Tanya Seno sambil menegapkan kembali tubuhnya.
" Ya jadi. Tapi mas tutup mata. Mell malu tahu. " ucap Armell pelan.
" Pft! " Seno menahan tawanya. " Kalau aku tutup mata, terus aku salah pegang gimana? Kalau yang aku pegang itu sesuatu yang memang selama ini pengen aku pegang. " jawab Seno sambil menunjuk ke dada dan bawah perut Armell.
" Aaa....Tuh kan mesum...." pekik Armell.
" Ya terus aku harus gimana? Kalau aku tutup mata, kan aku harus pakai meraba-raba dulu tubuh kamu biar aku tahu bagian mana yang harus di obati. " jawab Seno sambil tersenyum lebar dan semakin senang untuk menggoda Armell.
" Ihhhh....Ya udah deh cepetan. Tapi matanya jangan kemana-mana ya. " ujar Armell.
" Iya, aku usahain. " jawab Seno masih sambil tersenyum. Sungguh pekerjaan paling menyenangkan baginya saat menggoda istri belianya.
" Tutup dulu kaki Mell pakai selimut biar Mell nggak berasa bugil. " pinta Armell.
Seno mengangguk, lalu menutup kaki jenjang Armell menggunakan selimut.
" Tutup mata kamu biar saat aku melihat tubuh kamu, kamu nggak merasa malu. " ujar Seno.
Armellpun mengikuti apa yang di bilang Seno. Ia menutup matanya rapat-rapat. Membuat Seno tersenyum tanpa suara. Karena Seno bilang hal itu hanya asal bilang saja. Tanpa membayangkan kalau Armell malah akan mengikutinya.
Bukan hanya Armell yang dag dig dug ser, si Seno pun sama. Bahkan perkutut si Seno kini ingin keluar dari sangkarnya. Ia ingin bersiul. Sering kali Seno melihat perempuan-perempuan seksi dengan baju yang seksi bahkan telanjang bulat saat ia sedang melakukan penggerebekan di night club, di rumah-rumah bordir, dan di tempat di mana para pekerja SS mangkal. Tapi perkututnya tidak pernah bereaksi sama sekali. Ia tetap pulas tertidur. Beda jika ia melihat sang istri. Baru ke buka sedikit saja, jangan tanya jika sang perkutut memberontak ingin keluar.
Sungguh luar biasa pesona seorang Armell bagi seorang polisi yang bernama Seno Gael Adiguna ini. Beberapa kali Seno mengambil nafas dalam-dalam untuk menjinakkan sang perkutut. Tapi sang perkutut malah semakin memberontak.
" **** ! " umpat Seno kepada dirinya sendiri.
" Kenapa mas? " tanya Armell masih dengan mata tertutup.
" Ah, nggak .. nggak ada apa-apa. " jawab Seno gelagapan.
' Sabar Martinez....Kalau sudah waktunya, kamu juga pasti keluar dari sangkar dan masuk di tempat yang kamu inginkan. Sabar dulu... Sangkar emasmu, pemiliknya sedang sakit. Kamu harus tahu diri Martinez....." ujar Seno dalam hati sambil mengelus perkututnya.
" Masih lama? " pertanyaan Armell membuyarkan lamunan Seno.
" Sudah. Apa ada tempat lain yang kamu terasa memar tapi belum aku olesi obat? " tanya Seno.
" Mmmm.....a....ada..." jawab Armell bingung bagaimana mengatakannya. Sebenarnya dia enggan memberitahu, tapi tempat itu juga terkena pukulan kemarin.
" Mana lagi? " tanya Seno.
Armell kembali telentang. Karena tadi saat Seno mengobati punggungnya, Seno memiringkan tubuhnya.
" Di bahu. Sama....sama...di sini. " Armell memberitahu letak daerah yang mungkin memar.
Seno memelototkan matanya lebar-lebar saat melihat daerah yang di tunjuk oleh Armell. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam.
Seno menutup kembali bagian perut ke bawah Armell. Kemudian tangannya beranjak ke atas untuk membuka kancing kemeja yang di pakai Armell bagian atas.
Seno merasa tangannya gemetar saat membuka kancing-kancing tersebut.
' Ya Tuhan.... Cobaan atau Anugerah kah ini? ' tanya batin Seno.
Seno memang pernah melihat dada Armell. Tapi itu hanya sedikit yang menyembul ke atas. Dia juga pernah meremas-remasnya saat sang pemilik sedang tidur. Tapi hanya sekedar meremas dari balik baju. Sedangkan sekarang, ia akan melihatnya secara live, bahkan akan menyentuhnya.
Setelah kancing terbuka beberapa, Seno mulai mengoles bahu sebelah kanan Armell yang memang memar. Setelah dari bahu, pandangan Seno berpindah ke dada. Seno bagai teriris hatinya. Bahkan dada Armell juga memar membiru.
' Apa sebenarnya yang di lakukan Robert ke Armell Tuhan? Jangan bilang, Robert telah ...telah... melakukan kekerasan....Ah, tidak... tidak....' pikiran Seno mulai berkecamuk. Berbagai spekulasi miring menghampirinya. Tangannya mengepal kuat dengan mata memerah.
" Kenapa lama mas? Jangan di lihat lama-lama. Entar mas pengen lho...." ujar Armell menggoda Seno.
" Ck ! Kalau aku pengen, emang kamu mau ngasih? " jawab Seno sekenanya.
" Nggak. " jawab Armell jujur.
" Ya udah makanya diem. Ini juga baru mau di obati." ujar Seno dengan nada suara kesal. Kemudian ia segera mengobati memar Armell yang ada di tengah-tengah dada dan bahkan hampir separuh dada Armell memar. Seno melakukannya dengan cepat, dan setelah selesai, ia segera menaruh salep ke atas nakas.
" Udah. " ucapnya tanpa membantu Armell memasang kembali kancing kemeja Armell. Bahkan ia juga enggan untuk menatap wajah Armell.
Seno berlalu begitu saja dan masuk ke kamar mandi. Hatinya bergemuruh. Ia marah. Tapi ia tidak tahu marah kepada siapa. Apakah kepada dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga istrinya, atau marah sama Armell karena membiarkan tubuhnya di jamah laki-laki lain? Ataukah marah sama Robert yang telah meraba dan menjamah tubuh istrinya.
Seno menghidupkan shower kemudian berdiri di bawah shower. Membiarkan tubuhnya basah, bahkan pakaiannya juga basah karena ia tidak melepas pakaiannya. Ia berharap dinginnya air pagi itu, bisa mendinginkan hati dan pikirannya yang sedang panas. Bahkan karena marahnya, sang perkutut jadi kembali tertidur dengan sendirinya. Takut di sembelih oleh si pemilik Mungkin ðŸ¤
Sedangkan di dalam kamar, Armell di buat bingung dengan perubahan sikap Seno. Tadi suaminya itu masih baik-baik saja. Masih bercanda. Kenapa tiba-tiba terlihat marah tidak jelas seperti itu.
****
bersambung
...Authornya udah capek nulisnya untuk hari ini...sampai di sini dulu ya kak ..besok kita sambung lagi......