My Handsome Police

My Handsome Police
Hari H



Maaf ya kak.... episode yang sebelum ini udah author update dari semalam...tapi baru berhasil review dari pihak NT hari ini...


__________________________________________________


Siang itu, nyonya Ruth dan Seno sedang berada di kamar Armell. Menunggui Bryan yang sedang mengganti perban Armell.


" Ma, kak Lyla bilang, hari ini gaun pengantinnya mau di antar kesini. " ujar Armell.


" Iya. Kemarin dia juga udah bilang ke mama. " jawab sang mama.


" Maaf ya ma. Udah dekat hari H malah Armell nggak bisa bantu apa-apa. " ujar Armell dengan rasa sesalnya.


" Kamu tenang aja sayang. Semua sudah di bereskan sama Miss Wang. Yang terpenting, kamu pikirkan dulu kesehatanmu. " sahut mama Ruth sambil membelai rambut Armell. " Kami juga berencana mau menunda acaranya sampai kamu benar-benar sembuh. " lanjutnya.


" Nggak usah ma. Kita jalankan sesuai rencana aja. Mell baik-baik saja kok ma. Lagian undangan juga sudah menyebar. Acaranya juga masih 5 hari lagi kan? " sahut Armell.


" Baby, lengan kamu masih sakit. Kita tunda aja. " ujar Seno.


" Aku baik-baik saja kok mas. Lagian entar di sana Mell juga cuma duduk, terus berdiri sambil menyalami tamu aja. Yang sakit kan lengan kiri. " jawab Armell. " Udah nggak pa-pa kan dok? " tanya Armell ke Bryan.


" Sepertinya tidak masalah. Ini lukanya sudah agak kering. Armell mempunyai kulit yang bagus. Jadi penyembuhan lukanya bisa lebih cepat. " jawab Bryan.


" Terserah kamu saja sayang. " sahut sang mama.


💫💫💫


Hari H pesta pernikahan Seno dan Armell.


" Wah, cantik banget anak mama. " puji mama Ruth ketika memasuki kamar tempat Armell di rias.


" Makasih mama. " jawab Armell.


" Udah selesai semuanya ini? " tanya Nyonya Ruth ke penata rias.


" Sudah, Nyonya. " jawab sang penata rias.


Armell saat itu benar-benar terlihat sangat cantik. Ia seperti seorang putri dari negeri dongeng. Gaun berwarna peach panjang menjuntai dengan belahan dada rendah berbentuk V, manik-manik mutiara bertebaran di bagian dada sampai sekeliling perut dan lengan gaun yang panjang. Kepala di sanggul modern dan mahkota mutiara bertengger di kepala. Riasan wajah yang sedikit agak mencolok, membuat siapapun akan kagum melihat kecantikan Armell yang nyaris sempurna.


" Ma, apa sudah waktunya kita keluar? " tanya Armell.


" Sebentar lagi, sayang. Suamimu juga akan segera kesini. " sahut sang mama.


Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki yang sangat gagah dan tampan. Memakai setelan blazer yang senada dengan gaun yang di pakai oleh Armell. Armell menyunggingkan senyuman manisnya melihat ketampanan suaminya.


" Ma, di mana istriku? " tanya Seno berpura-pura tidak mengenali Armell.


" Mas...." sahut Armell sambil cemberut.


Seno tersenyum lalu menghampiri Armell. " Habisnya kamu sangat cantik sekali malam ini. Seperti tuan putri. Berbeda dengan Armell yang hampir tiap hari selalu memakai celana jeans dan sedikit lipgloss di bibirnya. " ujar Seno.


Armell memukul lengan Seno manja. Tapi lalu iapun tersenyum, " Suamiku juga sangat tampan sekali malam ini seperti seorang pangeran. " puji Armell.


Seno tersenyum lalu mengecup pipi Armell.


Plak


Nyonya Ruth memukul lengan Seno. " Ni anak main sosor aja. " nyonya Ruth terlihat kesal. " Entar bedak Lusi luntur, berantakan kena air liur kamu. " lanjutnya.


" Ih, mama apaan sih. Kayak nggak pernah muda aja. Maklum ma, pengantin baru. " ujar Seno membela diri.


" Pengantin baru apaan. Pengantin bangkotan iya. " sahut Nyonya Ruth.


Tok...tok ..tok...


" Masuk. " jawab Seno.


Dion nongol dari balik pintu, " Apa semua sudah siap? Sebentar lagi acara akan di mulai. "


" Sudah. Tunggu sebentar, mama bawa mereka keluar. " sahut Nyonya Ruth. Dion mengangguk. " Ayo kita ke aula. " ajak Nyonya Ruth.


Seno membantu Armell berdiri dari duduknya. Karena gaunnya yang menjuntai panjang, agak ribet jadinya. Tapi babang Seno selalu siaga untuk membantu.


" Baby, lenganmu baik-baik saja? " tanya Seno saat membantu Armell berdiri.


" Iya mas. Dokter Bryan kasih perbannya tebal. Jadi tidak akan terasa sakit jika kegesek-gesek. " jawab Armell sambil melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri Seno. Kini mereka sudah siap untuk berjalan.


Nyonya Ruth dan Dion berjalan di depan dan Seno juga Armell berjalan di belakangnya.


" Nanti mama masuk dulu bersama papa untuk menyambut tamu. Lalu papa akan memberikan sedikit sambutan. Baru setelah kalian di panggil, kalian keluar. " ujar Nyonya Ruth.


" Siap, ratu. " sahut Seno membuat Nyonya Ruth sedikit berbalik badan dan memberikan tatapan tajam ke anaknya. Sedangkan Seno malah memberikan cengirannya.


Lalu mereka kembali berjalan.


" Ternyata ribet banget pakai high heels. Tadi aku udah merayu penata riasnya untuk mengganti sepatu yang hells-nya agak pendek. Tapi mbaknya nggak mau. " gerutu Armell.


" Baby, nggak lucu kan kalau kamu pakai gaun kayak gini terus pakai sepatu sneaker? " sahut Seno. " Kamu pegang terus tangan aku. Pasti nggak bakalan jatuh. " lanjutnya.


Kini sampailah mereka di dekat pintu masuk aula. Tuan Adiguna sudah menunggu mereka di sana. Nyonya Ruth lalu berdiri di samping tuan Adiguna dan melingkarkan tangan kanannya di lengan tuan Adiguna.


Setelah MC memanggil tuan Adiguna, maka tuan Adiguna langsung masuk ke dalam aula bersama dengan Nyonya Ruth. Lalu mereka menyapa semua tamu yang sudah hadir.


Setelah menyapa para tamu, tuan Adiguna dan nyonya Ruth naik ke atas panggung dan memberikan sedikit sambutan di sana. Tuan Adiguna mengatakan tujuan mengundang segenap para pegawainya dan teman-teman bisnisnya. Tuan Adiguna mengatakan jika beliau akan memperkenalkan secara resmi putra semata wayangnya yang akan menjadi penerus bisnis raksasa Adiguna group.


Riuh terdengar suara dari teman-teman bisnis tuan Adiguna yang memang belum mengenal putra dari tuan Adiguna. Mereka bertanya siapakah penerus dari kerajaan bisnis keluarga Adiguna. Beberapa teman bisnis tuan Adiguna yang saat itu datang bersama dengan putrinya, saling berbisik. Mereka harus bisa mengenalkan putri mereka dengan putra tunggal tuan Adiguna.


Lalu tuan Adiguna juga mengumumkan jika mulai bulan depan, anaknya itu akan menggantikan posisinya sebagai CEO dari Adiguna group. Riuh tepuk tangan pun terdengar.


Sang sekretaris Seno, si Desi, dengan sombongnya mengatakan ke orang-orang yang ada di sekitarnya, jika tuan muda Adiguna adalah calon suaminya. Dan otomatis dia adalah calon nona muda di keluarga Adiguna.


Dan saatnya tuan Adiguna mengumumkan berita terakhir dan yakin, berita yang akan membuat semua gadis yang mengharapkan menjadi nona muda Adiguna akan pingsan.


" Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Pada kesempatan ini, saya juga akan memperkenalkan satu orang lagi anggota keluarga Adiguna yang juga sangat penting dalam keluarga kami. Dia adalah pasangan hidup putra semata wayang saya. " ucap tuan Adiguna.


Setelah mendengar itu, dengan PDnya si Desi maju ke depan panggung. Seolah-olah, tuan Adiguna akan menyebutkan namanya.


" Sebenarnya pesta ini adalah pesta yang saya buat untuk mereka. Pesta ini adalah pesta untuk merayakan pernikahan mereka. Seharusnya pesta ini sudah saya adakan hampir satu tahun yang lalu. Karena putra saya sudah menikah hampir satu tahun yang lalu. Tapi karena satu dua hal, maka kami memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahan di lain waktu. " lanjut tuan Adiguna.


Si Desi yang sudah berada di barisan paling depan, mendengar apa yang di katakan tuan Adiguna, tubuhnya langsung terhuyung. Berikut juga teman-teman bisnis tuan Adiguna yang berniat mengenalkan putrinya. Mereka merasa kalah sebelum bertanding.


" Saya akan memperkenalkan putra dan menantu saya kepada anda semua. " ucap tuan Adiguna.


Dan pintu masuk aula ballroom itupun terbuka lebar. Terlihat di sana, sepasang anak manusia yang saling bergandengan terlihat sangat tampan dan cantik.


" Siap, baby? " tanya Seno sebelum mereka melangkah.


Armell menarik nafas dalam-dalam, lalu mengangguk. Dan hal itu di sambut senyuman oleh Seno. Lalu mereka berjalan perlahan masuk ke dalam ballroom. Semua mata memandang mereka dengan rasa takjub. Mereka melihat putra tuan Adiguna yang begitu tampan dan gagah, bersanding dengan seorang perempuan yang cantik bak putri.


Saat sampai di atas panggung, tuan Adiguna dan nyonya Ruth menyambut mereka dengan pelukan. Dan jangan tanya bagaimana wajah si Desi saat melihat perempuan yang mendampingi sang pujaan hatinya.


" Itu kan perempuan yang kemarin datang ke kantor. Jadi, dia ...dia istri tuan Seno? Ah, gilanya aku dengan tak tahu diri memperkenalkan diriku sebagai calon Nyonya Seno. " gumamnya. Dan seketika wajahnya memucat.


***


bersambung