My Handsome Police

My Handsome Police
Pingsan



Sampai di kantor pagi itu, Seno langsung mengerjakan pekerjaannya. Dan Armell, hanya duduk santai di sofa sambil menonton drakor kesukaannya. Atau kadang hanya memandang suaminya. Ketika melihat sang istri sedang asyik memandangnya, Seno hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Karena hampir setiap hari istrinya itu melakukan hal yang sama.


Hari itu agak sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Armell seperti kurang enak badan. Jam dinding baru menunjukkan pukul 10 pagi. Dan Armell sudah tertidur di atas sofa.


Keluar dari ruang meeting, Seno segera menghampiri istrinya yang sedang tertidur. Ia melihat wajah istrinya bertambah pucat. Seno mengecek suhu badan Armell. Tapi normal-normal saja.


" Baby....baby ..." Seno berusaha membangunkan istrinya dengan membelai lembut pipi istrinya.


Armell sedikit menggeliat sambil mengerang. Ia membuka matanya perlahan.


" Udah selesai meetingnya? " tanyanya sambil berusaha duduk. Tapi kepalanya terasa berat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berharap kepalanya akan menjadi lebih ringan.


" Kamu kenapa baby? " tanya Seno sambil duduk di sebelah Armell dan merangkul bahu Armell.


" Maaf ya mas. Mell ketiduran. " ucapnya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


" It's oke, baby. Tapi, apa kamu baik-baik saja? " tanya Seno khawatir.


" Nggak pa-pa. Cuma agak pusing aja. " sahut Armell sambil memijat pelipisnya.


" Kita pulang sekarang, oke. Sebentar, aku taruh dulu ini dulu di meja. " ujar Seno sambil menunjuk laptop yang ada di atas pangkuannya.


Baru saja Seno melangkahkan kakinya beberapa langkah, ia mendengar tas yang tadi di pegang oleh Armell terjatuh di bawah meja. Ia langsung menoleh ke arah Armell. Dan ternyata Armell sudah terjatuh pingsan.


" Baby...." pekiknya sambil meletakkan laptopnya di atas meja sembarangan. Ia langsung bergegas menghampiri Armell yang sudah terkulai lemas.


" Baby....baby....wake up...." ujar Seno membangunkan Armell dengan menepuk-nepuk pelan pipi Armell yang kini berada di atas pangkuannya.


" Baby, please. Don't make me scared. Wake up, baby. " panggil Seno. Tapi Armell masih tidak sadarkan diri.


" Rika....Rika...." teriak Seno memanggil Rika, sekretarisnya.


Ceklek


Bunyi pintu di buka dari luar.


" Ada apa tuan muda? " tanya Rika tergopoh-gopoh.


" Rika, tolong cepat suruh Rezky atau damar atau siapa saja menyiapkan mobil secepatnya. " ujar Seno dengan paniknya.


Rika melihat Armell yang sedang menutup matanya dan wajah pucat di pangkuan Seno. " Tuan, ada apa dengan nona muda? " tanyanya.


" Dia tiba-tiba pingsan, Rika. " jawab Seno masih sambil memegang kepala Armell.


" Ya Tuhan. Baik tuan. Saya akan segera mencari Damar atau siapa saja. " sahut Rika lalu ia segera berlalu.


Tak berselang lama, Rika kembali dengan berlari. " Tuan, sudah tuan. Damar sudah siap. " ujar Rika.


Seno mengangguk, lalu segera mengangkat tubuh Armell ke dalam gendongannya. Rika segera membuka pintu ruangan itu lebar-lebar.


" Hati-hati, tuan. Semoga nona muda tidak apa-apa. " ujar Rika sambil membuka pintu lebar-lebar. Seno hanya mengangguk.


Kemudian Seno sambil dengan langkah lebar, segera membawa Armell menuju lift. Rika mengikutinya. Ia membantu atasannya membuka pintu lift dan mengantarkan mereka ke bawah.


" Rika, kantor aku pasrahkan sama kamu dan Rezky. " pesan Seno


" Baik tuan. " jawab Rika sambil mengangguk.


Sampai di lantai bawah, Rika segera membuka pintu lift. Seno kembali membawa istrinya dengan langkah lebar. Semua karyawan yang melihatnya, menjadi ikut panik. Atasannya menggendong sang istri dengan tergesa-gesa dan istrinya itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Melihat bosnya sudah terlihat, Damar segera membuka pintu mobil. Seno segera masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Damar.


" Kita ke rumah sakit Bryan, Dam. " ujar Seno.


" Baik tuan. " sahut Damar


💫💫💫


Di rumah sakit, Bryan sudah menunggu dengan ranjang brankar di depan pintu UGD, karena tadi Seno telah menghubunginya.


Seno segera meletakkan istrinya di atas brankar saat ia sudah membawa Armell turun dari mobil.


" Bagaimana bisa bini Lo pingsan kayak gini? " tanya Bryan sambil mendorong brankar masuk ke dalam UGD.


" Gue juga nggak tahu. Dari tadi pagi mukanya sudah agak pucat. Tapi aku tanya dia bilang tidak apa-apa. " Jawab Seno sambil membantu mendorong brankar.


" Lo tunggu di sini. Semoga bini Lo nggak pa-pa. " pinta Bryan saat ia akan membawa Armell ke ruang penanganan.


" Tolong bini gue. Gue serahin dia ke elo. " pinta Seno sambil menghentikan langkahnya di depan pintu. Bryan mengangguk.


Tak berselang lama, Nyonya Ruth tiba di rumah sakit dengan tergopoh-gopoh.


" El..." panggilnya ketika melihat Seno duduk di bangku tunggu.


" Mama..." Seno bangkit dari duduknya.


" Ada apa dengan putriku? " tanya Nyonya Ruth.


Nyonya Ruth menepuk pundak anaknya, " Yang sabar. Istrimu pasti akan baik-baik saja. " ucapnya.


Seno mengangguk, lalu mereka duduk bersebelahan di bangku tunggu dalam diam dan perasaan was-was.


Beberapa menit berlalu. Nampak pintu kamar tindakan itu terbuka, dan seorang perawat keluar dari dalam.


" Maaf, keluarga pasien? " seru perawat.


" Saya suaminya, sus. " jawab Seno.


" Dokter Ratna ingin menemui anda di ruangannya." sahut sang perawat.


" Dokter Ratna? " tanya Seno memastikan. Untuk apa dokter Ratna ingin menemuinya.


" Iya, tuan. Mari saya antar. " ucap perawat.


Seno menoleh ke arah mamanya. Meminta pendapat.


" Pergilah. Biar mama yang di sini menunggu istrimu. " ucap Nyonya Ruth. Seno mengangguk lalu segera berlalu mengikuti perawat yang sudah berlalu terlebih dahulu.


" Silahkan masuk, tuan. " perawat mempersilahkan Seno masuk setelah membuka pintu ruangan dokter Ratna.


Seno masuk. Di sana ternyata tidak hanya ada dokter Ratna, tapi ada Bryan juga.


" Maaf, dok. Ada apa dokter meminta saya kesini? " tanya Seno tanpa basa-basi. Dokter Ratna tersenyum. Tidak ada raut wajah khawatir atau panik di sana.


" Duduklah dulu. Biar dokter Ratna menjelaskan. " pinta Bryan sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya. Seno menuruti. Ia duduk di sana.


" Saya tadi sudah memeriksa istri anda, tuan. " ujar dokter Ratna. Seno mendengarkan dengan seksama. " Apa akhir-akhir ini istri anda mengeluh tentang sesuatu? "


Seno terdiam sesaat sambil memutar otaknya mengingat kembali. " Sepertinya tidak dok. " jawabnya.


" Apa istri anda pernah mengatakan perutnya sakit? " tanya dokter Ratna kembali. Seno langsung menggeleng.


" Kalau hal-hal yang aneh mungkin? Mungkin istri anda mempunyai keinginan yang tidak bisa anda tolak? " tanya dokter kembali.


Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia teringat jika satu-satunya hal aneh yang terjadi terhadap istrinya adalah keinginan sang istri untuk bercinta dengannya. Istrinya selalu saja setiap saat mengajaknya bercinta. Tapi tidak mungkin ia mengutarakan hal itu di depan orang lain.


" Sebenarnya ada dok. Tapi ya... begitulah. " jawab Seno pada akhirnya.


Dokter Ratna tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa yang di sembunyikan oleh suami pasiennya. " Apa istri anda sudah datang bulan, bulan ini? "


Seno kembali mengingat, " Sepertinya belum dok. Sepertinya istri saya datang bulan itu ketika kami akan berbulan madu. "


" Wah, sepertinya program bulan madunya sukses nih. " ucap dokter Ratna.


Seno semakin tidak mengerti maksud dokter Ratna.


" Lo sukses ngurung bini Lo selama bulan madu. Bini Lo bunting. " ujar Bryan.


" Bunting.. Bunting...Lo kata bini gue kambing. " gerutu Seno kesal. Lalu tiba-tiba ia tersadar, " Apa Lo bilang tadi? Bini gue kenapa? " tanyanya histeris.


" Nona Armell saat ini sedang mengandung kembali tuan. Dan usia kandungannya saat ini 7 Minggu. " ucap dokter Ratna.


Tanpa berucap apapun, Seno memeluk Bryan erat.


" Wow....wow.... slow down, man. " ucap Bryan terkejut mendapat pelukan dari sahabatnya.


Seno melepas pelukannya lalu menoleh ke arah dokter Ratna kembali, " Beneran kan dok? " tanyanya.


" Iya tuan. " jawab dokter Ratna sambil mengangguk.


" Lo denger, bro. Gue mau punya baby. Dan Lo tahu, baby gue itu Made in Perancis. " ucap Seno dengan bangganya.


" Ck. Anak Lo bikin di Perancis aja Lo bangga gitu. Gue dong. Entar kalau punya anak, bukan cuma Made in Perancis. Tapi asli keturunan Perancis. " sahut Bryan tak kalah bangga. Karena dirinya memang asli keturunan Perancis. Kedua orang tuanya, asli orang Perancis.


" Maaf tuan, tapi ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. " potong dokter Ratna.


Seno kembali memfokuskan dirinya ke dokter Ratna.


" Nona Armell harus bedrest sampai kandungannya benar-benar sehat. Karena saat ini, kandungan nona Armell masih agak lemah. Memang sudah tidak selemah dulu, tapi kita tetap harus waspada. Nona akan kami rawat di rumah sakit agak lama. Kami harus banyak melakukan observasi. Paling tidak selama satu Minggu. " ujar dokter Ratna.


" Tidak masalah dok. Kalau perlu, istri saya biar di sini lebih lama. Sampai kandungannya benar-benar baik-baik saja. " ucap Seno. " Lalu bagaimana keadaannya sekarang dok? "


" Saat ini, nona Armell belum sadarkan diri. Nanti setelah ia sadar, kami akan langsung memindahkannya ke ruang rawat inap. Dan saya juga ingatkan, tuan juga harus ikut menjaga istri anda dengan ketat. "


" Iya dok. " jawab Seno dengan wajah sumringah.


Seno benar-benar sangat bahagia saat ini. Dan ia juga yakin, istrinya juga pasti akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini.


***


bersambung