
Hari terus berganti. Hanya kurang dua hari saja Armell akan melaksanakan wisuda. Ia sudah membeli kebaya yang akan ia pakai waktu wisuda besok. Sang mama mertua tentu saja ikut andil dalam memilih baju itu.
Ibu dan adiknya juga datang dari kampung. Seno menyuruh Damar untuk menjemput mereka. Armell sangat bahagia karena bisa bertemu dengan ibu dan adiknya. Ia berterima kasih kepada suaminya untuk kejutan ini.
" Mbak Armeeeeellllll........." panggil Fitria saat ia memasuki rumah Seno dan Armell.
Armell yang saat itu sedang duduk santai sambil menonton TV di buat terkejut karena mendengar suara adiknya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Di sana ia mendapati Fitria juga ibunya. Dan suami tercinta berada di belakang mereka dengan senyum manisnya.
" Pipit......"
" Mbak....Pipit kangen...." Fitria berhambur ke Armell dan memeluk erat tubuh Armell. Armellpun membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
" Mbak juga kangen...." ucap Armell.
Kemudian mereka saling melepas pelukan mereka. Armell mengamati adiknya dengan seksama.
" Adik mbak udah ABG ya sekarang. Udah punya pacar ini pastinya. " goda Armell.
" Mbak apaan sih. " jawab Fitria malu-malu.
Kini Armell memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca. " Ibu...." Armell menghambur ke pelukan ibunya. " Mell kangen Bu...." ucapnya.
" Ibu juga kangen Mell. " jawab ibunya. Kemudian Armell mencium pipi ibunya.
" Bagaimana kabar kamu? " tanya ibu.
" Alhamdulillah, Mell baik Bu. " jawab Armell. " Ibu bagaimana? "
" Alhamdulillah, ibu juga baik. " sahut ibu sambil tersenyum dan mengelus pipi Armell. " Makin gemuk aja kamu. "
" Masak sih Bu? " ujar Armell sambil memegang kedua pipinya.
" Ibu sama Fitria kok bisa sampai sini? Kemarin ibu bilang nggak bisa kesini waktu Mell kasih tahu kalau lusa Mell mau wisuda. Ibu bilang kalau udah ada suami yang dampingi. " ucap Armell cemberut.
" Iya, maaf. Ibu pengen kesini sebenarnya. Tapi cari tiket susah. Eh, nggak tahunya, suami kamu suruh seseorang jemput. " jawab ibu sambil tersenyum ke menantunya.
" Jadi, kamu berinisiatif buat jemput ibu mas? Kok nggak bilang-bilang..." rengek Armell.
" Surprise, baby. Terus sekarang, aku yang udah bawa ibu sama Fitria kesini, nggak dapet pelukan, gitu? " goda Seno.
Armell mencibir, " Kalau emang harus dapet pelukan berarti tuh...bang Damar. Kan dia yang udah jemput ibu sama Fitria. Bukan mas. " jawab Armell sambil menunjuk ke Damar yang baru masuk rumah sambil membawa tas ibu Armell.
" Terimakasih, nak. " ucap ibu ke Damar.
" Sama-sama Bu. " ucap Damar sambil membungkuk.
" Kok dia sih yang mau kamu peluk. Kalau bukan aku yang suruh, dia juga nggak bakalan jemput ibu loh. " protes Seno.
Armell menghambur ke pelukan Seno. " Iya, iya suamiku yang cemburuan. Aku kasih pelukan. Ekstra....dan ekstra pokoknya. " Armell memeluk tubuh Seno erat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Seno.
Seno tersenyum, " Cemburuan yang penting cuma sama kamu. Karena aku cinta sama kamu. " ujar Seno sambil membalas pelukan istrinya.
" Aku juga cinta sama kamu. " ujar Armell lirih.
" Cie...cie...cie....ada anak di bawah umur ini woy...." ujar Fitria.
" Apa kamu bilang beb? " tanya Seno yang takut salah mendengar apa yang di katakan oleh Armell.
Armell melepas pelukannya. " Bilang apaan? " tanya Armell pura-pura bodoh. Karena sejujurnya dia malu untuk mengatakan cinta ke suaminya.
" Tadi yang barusan. Kamu ulangi lagi coba. " pinta Seno.
" Yang mana sih? Mell lupa ah. " sahut Armell sambil pergi meninggalkan Seno dan mengajak ibu juga Fitria masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Armell pura-pura tidak mendengar. Tapi ia tersenyum malu.
" Mell, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? " Tanya ibu saat kini mereka berada di dalam kamar. Dan Fitria, jangan di tanya. Anak itu sedang berkeliling rumah.
" Mell bahagia Bu. " jawab Armell sambil tersenyum.
" Alhamdulillah. Ibu seneng dengernya. " sahut ibunya
" Mas Seno laki-laki yang sangat baik. Dia sangat menyayangi Mell Bu. Mell tidak pernah menyangka sebelumnya jika Mell bisa mendapatkan suami seperti dia. " ujar Armell. " Dan apa ibu tahu? Mas Seno sebenarnya berasal dari keluarga yang sangat kaya. Awalnya Mell minder. Mell takut jika Mell tidak bisa menyesuaikan diri dengannya. Mell juga takut tidak di terima oleh orang tuanya. " cerita Armell.
" Sekarang mas Seno sudah tidak bekerja jadi polisi lagi. Dia di minta papanya untuk mengurus perusahaan keluarga. " tambahnya.
" Kamu sudah kenal dengan orang tuanya? " tanya ibu
" Sudah Bu. Mereka saaangat baik. Mereka sangat menyayangi Mell. Mell benar-benar bersyukur Bu. " jawab Armell.
" Alhamdulillah kalau begitu. Ibu lega. Kamu kan hidup jauh dari ibu, jauh dari keluarga kamu. Tapi karena kamu sekarang sudah mendapatkan keluarga baru yang baik, ibu sangat senang. " Ujar ibu sembari memeluk Armell.
" Iya Bu. " ucap Armell sambil mengangguk. " Oh iya Bu, nanti malam mama bilang mau kesini sama papa. "
" Oh ya? Berarti ibu nanti bisa kenalan sama besan ya. Semoga ibu tidak malu-maluin ya. " ujar ibunya sambil tersenyum.
Armellpun membalas dengan senyuman pula.
💫💫💫
" Siaaalllll....." teriak seseorang sambil melempar barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
Dua orang anak buah yang ada di depannya hanya bisa menunduk ketakutan melihat bosnya marah-marah tidak jelas.
" Kenapa aku tidak bisa menemuinya? Hah? " tanyanya ke kedua anak buahnya itu.
Kedua anak buahnya itu hanya menggeleng.
" Dasar tidak berguna kalian. Keluar kalian sekarang juga. " teriaknya.
Kedua anak buahnya itu langsung segera berbalik badan ingin segera keluar dari ruangan itu. Sampai-sampai mereka berdua saling berbenturan. Tapi masa bodoh dengan jidat mereka yang terasa panas. Yang penting bisa keluar dari ruangan itu secepatnya.
Robert mengendorkan dasinya. Lalu mengusap wajahnya kasar.
" Armell.....Armelll....Armelll....." teriaknya.
" Aku sangat merindukanmu honey. " gumamnya.
" Sialllll.....Kenapa susah sekali bertemu denganmu? Kenapa laki-laki bodoh itu selalu mengikutimu? " teriaknya.
" Dan kamu Mariana. Bodoh sekali kamu. Sudah ku bilang jangan macam-macam. Bodoh... Sekarang hilang sudah sekutuku. Dasar tidak berguna. " umpatnya.
" Oh, honey... bagaimana caranya supaya aku bisa menemuimu? Apa aku harus menculik mu lagi? " ujar Robert sambil mondar-mandir tidak jelas.
Setelah kembali dari negara asalnya seminggu yang lalu, ia selalu berusaha untuk menemui Armell. Ia selalu mendatangi kampus Armell setiap hari. Tapi tidak semudah biasanya. Seno selalu mengawal ketat istrinya. Ia selalu mengantar dan menjemput Armell. Bahkan jika Armell mau bepergian, jika ia tidak bisa mengantar, ia akan meminta Damar atau Rezky untuk mengantar Armell.
Robert yang telah jatuh kepada Armell selalu saja uring-uringan. Rasa rindu yang meluap-luap membuat emosinya juga ikut meluap-luap. Mendapatkan Armell tidak semudah ketika ia mendapatkan Stella. Robert mengakui itu. Dan itu membuatnya semakin uring-uringan.
***
bersambung
Kemarin yang pelakor udah end nasibnya ya guys .. Sekarang yang pebinor muncul lagi...Gimana kira-kira caranya memusnahkan pebinornya ya🤔🤔
Ada yang mau kasih ide? Nanti ide kalian kalau cocok, author pakai deh... Atau author bikin mati aja ya ....Atau masuk penjara??