
Hari berganti. Satu minggu setelah pesta pernikahan itu. Tuan Adiguna dan nyonya Ruth memberikan hadiah honeymoon ke Seno dan Armell. Tapi mereka belum pergi honeymoon karena jadwal pijat terapi untuk kandungan Armell waktunya sudah mepet. Dan lagi, dokter bilang, sebelum melakukan terapi, Armell tidak boleh kecapekan.
Lengan yang tertembak juga sudah mengering. Sudah hampir sembuh.
Tut ..Tut ..Tut ..
" Halo, baby. " sapa Seno di seberang.
" Mas, nanti sore jadwal terapi pemijatan yang di jadwalkan dokter Ratna. Mell berangkat sendiri, apa sama mas? " tanya Armell.
" Sama aku. Mau berangkat jam berapa? " tanya Seno.
" Jam setengah empat aja. Biar tidak kelamaan antrinya. Tadi dokter Bryan bilang, sudah di ambilkan antrian. " sahut Armell.
" Baiklah. Nanti jam tiga aku jemput. " tukas Seno.
" Mas ngggak sibuk? " tanya Armell.
" Lumayan. Tapi tetap akan aku luangkan waktu untuk istri tercinta. " sahut Seno.
" Hilihhhh..... gombal teruuuusss...." sahut Armell.
" Ha...ha ..ha .." Seno menanggapi dengan tawa khasnya.
" Apa mas minta bang Damar jemput Mell? Mell samperin mas ke kantor aja. Jadi kita rumah sakit dari kantor. Kan lebih dekat kalau dari kantor. Mas nggak kecapekan. " ujar Armell.
" Mmm...Boleh deh. Ya udah, mau di jemput Damar jam berapa? Biar aku kasih tahu Damar. " jawab Seno.
" Ini Mell siap-siap. Mas suruh bang Damar berangkat sekarang aja. " sahut Armell.
" Oke. Aku tunggu di kantor. Ada kamu, jadi tambah semangat kerjanya. " ujar Seno.
" Hm. Ya udah, Mell tutup teleponnya. Assalamualaikum. " pamit Armell.
Panggilan di akhiri. Armell segera bersiap untuk menyusul sang suami di kantor. Ia memakai rok supaya nanti tidak susah saat mau di pijat.
Setelah selesai bersiap, Armell menunggu Damar di ruang tamu.
" Loh, mau kemana non bos? " tanya Lilik.
" Eh, mbak Lilik. Ngagetin aja. " sahut Armell sambil mengelus dadanya karena ia terkejut. " Mau ke kantor mas Seno. Nanti kan mau terapi pijat ke dokter Ratna. Jadi daripada mas Seno kejauhan jemput kesini, aku aja yang nyusulin ke kantor. " lanjut Armell.
Lilik manggut-manggut. " Lilik, doain, semoga usaha non bos berhasil ya non. Terus non bisa segera hamil lagi. Biar rumah sini ramai kalau ada anak kecil. "
" Amin, mbak Lilik. " sahut Armell.
Terdengar deru suara mobil masuk ke pekarangan rumah.
" Wah, itu sepertinya yang jemput sudah sampai. " ujar Lilik sambil melongok ke depan.
Armell berdiri. " Mbak, Mell berangkat dulu ya. " pamit Armell.
" Iya non, hati-hati di jalan. " jawab Lilik.
Armell segera keluar rumah. Sampai di luar, Damar sudah turun dari mobil dan sudah membukakan pintu penumpang untuk Armell. Armell memberikan senyumnya menyapa Damar. Damar sedikit membungkukkan badannya.
" Kita langsung ke kantor tuan, apa nona mau mampir kemana dulu? " tanya Damar saat mereka sudah berada di dalam mobil.
" Langsung ke kantor aja, bang. " jawab Armell.
Lalu Damar mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Seno. Menyusuri jalanan ibukota yang padat. Setengah jam kemudian, sampailah mereka di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
Damar membukakan pintu untuk Armell. Lalu memberikan kunci mobil ke satpam. Supaya satpam itu membawa mobilnya ke tempat parkir.
Damar mengantar Armell memasuki gedung itu. Sampai di lobi, resepsionis menyambut kedatangan Armell, istri dari CEO Adiguna group dengan membungkukkan badan mereka dan tersenyum ramah. Armell membalas rasa hormat mereka dengan senyum manisnya.
Damar mengikuti langkah Armell dari belakang. Di setiap Armell melangkahkan kakinya, dan bertemu dengan karyawan di sana, Armell mendapatkan perlakuan yang sama seperti saat bertemu resepsionis di depan tadi.
" Bang, apa ruangan mas Seno masih sama dengan yang kemarin? " tanya Armell ke damar saat mereka memasuki lift.
" Tidak, nona. Tuan sekarang menempati ruangan tuan Adiguna dulu. Karena tuan Adiguna memaksa tuan muda untuk menempati ruangan itu. " jawab Damar.
" Lalu, apakah sekretaris suamiku masih si Desi itu? " tanya Armell kembali.
" Bukan nona. Sekretaris tuan muda sama dengan sekretaris tuan Adiguna dulu. Masih sekretaris Rika. Si Desi sudah berpindah tempat, nona. " jawab Damar.
Senyum kecil terbit dari sudut bibir Armell.
Tring
Pintu lift terbuka. Damar mempersilahkan Armell keluar dari lift terlebih dahulu. Lalu mengantar Armell sambil ke depan ruangan CEO barunya.
" Halo, kak Rika. " sapa Armell ke sekretaris suaminya.
Rika yang saat itu masih sibuk mengetik dan tidak tahu kedatangan istri dari CEO barunya, segera berdiri, lalu membungkukkan badannya memberi hormat.
Armell terkekeh mendapat perlakuan seperti itu.
" Kak, bisa nggak bersikap seperti biasanya? " ujar Armell.
" Maksudnya? " tanya sekretaris Rika.
" Ya itu tadi. Nggak usah pakai bungkuk-bungkuk gitu. Mending gini. " ujar Armell lalu menarik Rika ke dalam pelukannya.
Rika membalas pelukan Armell.
" Seperti ini kan lebih enak. " ujar Armell.
" Iya enak. Tapi nggak enak kalau di lihat suami kamu. " ujar rika pelan.
Armell tersenyum. " Suamiku tidak akan marah. Dia tahu aku ini orang seperti apa. "
" Aku tuh bingung tahu, harus bersikap dan memanggilmu apa. " ujar rika.
" Ya seperti biasanya aja kak. Armell gitu. " sahut Armell.
" Nggak bisa. Namanya nggak sopan tahu. Sekarang kamu kan sudah menjadi menantu di keluarga Adiguna. Istri dari putra satu-satunya tuan Adiguna. Aku nggak boleh manggil kamu hanya dengan nama. Mmmm...aku panggil dengan nona Armell saja. " ujar Rika sambil tersenyum.
" Baiklah, terserah kak Rika saja enaknya bagaimana. " ujar Armell pada akhirnya.
" Masuklah. Tidak perlu aku antar kan? " goda Rika.
Armell tertawa, " aku masuk dulu kak. " pamitnya.
Lalu Armell meninggalkan Rika dan Damar berdua. Armell membuka pintu dan menutup pintu ruangan Seno perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Suasana dalam ruangan itu sudah berbeda dengan saat masih di tempati tuan Adiguna. Ruangan itu nampak lebih cerah dan segar dengan penataan barunya.
Seno masih asyik dengan pekerjaannya. Ia tidak menyadari kehadiran istrinya. Armell memandangi suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia tersenyum. Lalu berjalan perlahan menghampiri Seno.
Saat sampai di dekat Seno, ia memutar kursi seno, lalu duduk di pangkuan suaminya. Ia meraih wajah Seno yang masih terlihat terkejut, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Seno. ********** sesaat, sebelum melepasnya.
Armell tersenyum memandang wajah suaminya yang masih agak terkejut. Ia mengusap bibir suaminya yang terkena lipstiknya.
Menyadari tingkah nakal istrinya, Seno meraih pinggang Armell dan menguncinya.
" Istriku semakin nakal saja sekarang ya. " ujarnya.
" Habisnya, kamu serius banget. Masak aku masuk nggak tahu. " sahut Armell sambil cemberut.
Cup
Seno mengecup bibir Armell yang cemberut sekilas. Gemas dengan tingkah istrinya.
" I m sorry baby. Aku tidak mendengarmu membuka pintu. Mungkin karena aku terlalu fokus dengan pekerjaan." jawab Seno.
Armell tersenyum, " Tidak apa-apa. Ya udah, mas lanjutin kerjanya. Biar cepat selesai. " Armell hendak bangkit dari pangkuan Seno. Tapi Seno mempererat pelukannya. " Mas ..." protes Armell.
" Di sini saja. Aku bisa menyelesaikan pekerjaanku sambil kamu tetap di sini. " ujar Seno.
" Mana bisa. Mas kan harus membaca berkas-berkas itu. Kalau Mell masih di sini, bagaimana mas bisa baca? Yang ada, kerjaan mas nggak selesai-selesai. " jawab Armell.
Seno tampak berpikir. " Betul juga. Kamu duduklah di sofa. Jangan kemana-mana. " ujar Seno sambil melepas tangannya dari pinggang Armell.
Armell berdiri lalu berjalan menuju sofa. Ia mendudukkan pantatnya di sana.
" Suasana ruangan ini beda banget sama waktu di tempati papa. " ujar Armell.
" Ya jelas beda. Aku merubahnya. Biar ganti suasana. Biar tampak kalau yang menempati itu masih muda. " jawab Seno sambil matanya kembali pada berkas-berkas di depannya.
" Siapa yang masih muda? " tanya Armell sambil mengambil botol air mineral yang ada di meja dekat sofa. Ia membuka tutup botol itu, lalu menenggaknya.
" Ya akulah. Siapa lagi? " sahut Seno.
" Muda? Emang mas masih muda? Umur mas tahun depan kan udah kepala tiga. " ejek Armell.
" Ck. Biarpun usiaku sudah hampir kepala tiga, tapi aku masih terlihat sangat muda. Tidak akan kalah jika hanya di bandingkan dengan pemuda berusia dua puluhan. " elak Seno.
" Siapa yang bilang? " tanya Armell.
" Nyatanya, kamu aja yang masih 22 tahun, tergila-gila sama aku. Iya kan? " sahut Seno.
" Ya karena udah terlanjur. " sahut Armell.
" Terlanjur apa maksudnya? " tanya Seno. Kali kni ia melirik sekilas ke arah Armell yang sedang memakan buah anggur yang ada di depannya.
" Terlanjur udah di bobol gawangnya. Kalau nggak di lanjutin, mana ada cowok yang masih muda mau sama gawang yang kipernya oon. " jawab Armell nyeleneh.
" Berarti aku punya pemain penyerang yang hebat. Nyatanya kipermu klepek-klepek. Dan akhirnya aku bisa mencetak gol. Jadi, meskipun usiaku sudah hampir kepala tiga, yang penting masih kuat menyerang dan membuat gol berkali-kali dalam satu kali pertandingan. Nggak perlu adu pinalti. " sahut Seno semakin kemana-mana omongannya.
Dan pembicaraan konyol itu berlanjut sampai akhirnya pekerjaan Seno selesai. Setelah pekerjaannya selesai, Seno segera mengajak Armell berangkat ke rumah sakit.
Dua puluh menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Menunggu antrian sebentar, nama Armell sudah di panggil. Mereka lalu segera masuk kedalam ruang praktek dokter Ratna.
" Selamat sore, tuan, nona. " sapa dokter Ratna.
" Selamat sore dokter. ," sapa Armell balik.
" Sudah masa subur? " tanya dokter Ratna.
" Iya dok. " jawab Armell singkat.
" Wah, nona Armell ini meskipun kandungannya lemah, tapi subur ya. Biasanya wanita kalau setelah mengalami keguguran, akan mendapatkan masa menstruasi setelah hampir dua bulan. Tapi nona sudah kembali siklusnya setelah satu bulan. Semoga setelah terapi pijat, nona akan segera hamil kembali ya. " ujar dokter Ratna.
" Semoga saja dokter. " jawab Armell.
" Baiklah, nona. Saya akan sedikit memberikan penjelasan mengenai pijat terapi ini. Nanti yang akan memberikan pijatan bukan saya ya nona, tuan. Tapi ada orang yang memang sudah ahli dalam hal ini. Nanti nona akan di antar ke ruang terapi. Dan saya perlu memberitahu, jika pijatan ini akan lumayan sakit saat di awal. Tapi nanti setelah dua atau tiga kali melakukan pemijatan, akan terasa lebih ringan rasanya. Apakah tidak masalah nona? " tanya dokter Ratna.
Armell tersenyum, " Tidak masalah dokter. Saya siap. " ujarnya.
Seno meremas tangannya, " Baby, tidak usah di paksakan. Kita tidak harus melakukannya. " ucapnya.
" Mas, kita ini sedang berusaha. Jadi, aku akan siap melakukan apapun supaya aku bisa hamil lagi dan melahirkan. Karena aku sangat ingin mempunyai baby. " jawab Armell sambil menepuk pelan punggung tangan Seno.
Seno menghela nafas panjang. Ia menunduk sebentar. " Baiklah. Tapi kalau nanti kamu tidak kuat, jangan di paksakan. " ujar Seno. Armell mengangguk.
" Baiklah tuan, nona, suster akan mengantar anda berdua. " ucap dokter Ratna.
Lalu dokter Ratna meminta suster mengantar mereka ke ruang terapi yang berada tak jauh dari ruangan dokter Ratna.
Setelah menemui sang terapis, yang sepertinya seorang perempuan, suster mempersilahkan Armell untuk masuk ke dalam dan tidur di ranjang. Seno mengikutinya karena ia tidak akan meninggalkan Armell melalui semua itu sendirian.
Sang terapis yang juga seorang dokter berwajah Chinese menghampiri, lalu tersenyum dan berkata, " Sudah siap nona? "
" Sudah, dok. " sahut Armell.
Suster yang mendampingi, membantu Armell membuka bajunya, menarik kemeja Armell sampai ke dada, lalu menarik rok Armell sampai ke bawah perut.
" Agak sakit ya nona. Tuan, bisa pegang tangan istrinya, biar kalau istrinya kesakitan, tuan tahu. " canda dokter itu. Seno memegang tangan Armell. Lalu dokter mulai memijat. Awalnya, pijatan itu terasa agak geli. Tapi lama-kelamaan, pijatan terasa perih, nyeri sampai ke ulu hati. Armell meringis menahan rasa sakit itu. Menekan tangan Seno kencang.
Seno membelai rambut Armell dan mengecup keningnya. Sesekali ia mengelap peluh istrinya. Perjuangan sang istri untuk memberikan kebahagiaan dan kesempurnaan dalam rumah tangga mereka, memang patut di acungi jempol. Seno berjanji, dia akan selalu membahagiakan istrinya itu. Akan memberikan hatinya sepenuhnya untuk sang istri.
***
bersambung
...Maaf ya kak ...hari ini satu episode lagi...Tapi part-nya panjang loh....jadi kakak jangan kecewa yah.......
...happy reading.......