
Seno mengakhiri acara kencan mereka dengan membawa Armell ke pantai. Desir ombak mengalun memberikan suasana romantis. Seno dan Armell berjalan menyusuri pantai dengan saling bergandengan tangan. Sungguh kencan yang sempurna versi Armell. Karena dia belum pernah merasakan kencan dengan siapapun sebelumnya.
Seno sengaja membawa Armell ke pantai di sore bahkan hampir petang itu, tujuannya adalah untuk menikmati sunset yang akan terlihat sangat indah jika di lihat dari pantai itu.
" Kamu senang hari ini? " tanya Seno saat mereka tengah duduk di tepi pantai dengan beralaskan tikar yang Seno sewa dari persewaan tikar di sana.
" Banget. " jawab Armell sambil memandang ke arah Seno dan tersenyum. " Aku sangat bahagia hari ini. Terimakasih. Karena sudah memberikan hari yang indah untukku. " ucapnya melo.
Seno tersenyum, kemudian menarik Armell ke dalam dekapannya. Mereka saling berpelukan. Armell sudah mulai berani memeluk Seno sekarang.
" Aku juga bahagia saat melihat kamu bahagia. " ucap Seno saat pelukan mereka terlepas.
Seno memandang lekat mata Armell. Begitu juga Armell. Mereka sama-sama saling mencari arti dari tatapan itu. Apakah ada cinta dalam tatapan itu?
Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Armell. Kemudian ia memejamkan matanya dan mengecup bibir tipis milik Armell. Tidak ada penolakan dari Armell. Bahkan Armell ikut memejamkan matanya. Merasa tidak ada penolakan, Seno yang awalnya hanya berniat memberikan kecupan, kini berubah ******* lembut bibir Armell.
" Bernafaslah, baby. " ucap Seno saat ia melepas ciumannya. " Kamu bisa pingsan kalau tidak bernafas. " lanjutnya.
Armell masih mengerjab-ngerjabkan matanya. Membuat bulu mata lentinya bergoyang-goyang. Pandangannya masih menatap ke arah Seno. Di tatap oleh Armell seperti itu, Seno kembali ingin merasai bibir Armell.
" Sekali saja, balaslah ciumanku. " pinta Seno sambil berbisik saat bibirnya sudah sangat dekat dengan bibir Armell.
Ciuman itu terulang lagi. Kali ini, Armell berusaha membalas setiap perlakuan Seno. Meskipun ia masih agak kaku dalam hal ini, tapi ia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya.
Seno tersenyum dalam hati saat ciumannya bersambut. Ia merasa sangat bahagia. Ia menarik tengkuk Armell dan memperdalam ciumannya. Mereka saling *****@*.
" Ehmm.... Ngontrak kita euy...." tukas seseorang yang berada di dekat mereka.
Spontan Armell melepas ciuman mereka. Mukanya merona karena malu di lihat orang saat sedang berciuman, juga malu karena dia sudah berani membalas ciuman suaminya.
" Ganggu aja bang. Kayak nggak pernah aja. " omel Seno ke laki-laki yang berdehem tadi.
Armell memalingkan wajahnya ke sebelah sambil tersenyum tipis.
" Baby, makasih. " ucap Seno seraya berbisik di telinga Armell.
" Ck. " Armell berdecak.
" Habis ini, dan mulai sekarang, jangan pernah coba-coba menolak ciumanku. Dan ingat, kalau aku menciummu, kamu harus membalasnya. Masak iya, aku bekerja sendiri terus. Kan capek. " ujar Seno.
" Kayak yang kerja jadi kuli aja. " sahut Armell.
Kemudian Seno menggeser duduknya, mendekat ke Armell. Ia meraih tubuh Armell dan merangkulnya dengan sebelah tangannya sambil mereka menikmati sunset yang tersaji indah di hadapan mereka.
Setelah hari mulai malam, Seno dan Armell meninggalkan pantai dengan menaiki motor sport yang di kendarai oleh Seno.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Seno lalu membelokkan motornya di depan sebuah bangunan. Mereka berteduh di sana.
Karena saat berangkat cuaca sangat cerah, jadi Seno tidak kepikiran untuk membawa jas hujan.
" Hujannya lebat sekali. " ujar Armell saat ia turun dari motor.
" Iya nih. Mana nggak bawa mantel lagi. Baju kamu basah. " ucap Seno seraya mengamati baju Armell yang basah.
" Iya nih. " jawab Armell sambil memperhatikan bajunya yang basah kuyup. " Tapi kaosku tidak terlalu basah. Karena tertutup jaket. Baju mas juga basah tuh. " ujar Armell seraya memperhatikan baju Seno.
" Sama. Celana aja yang basah. Kaosnya nggak basah malahan. Soalnya kebetulan aku pakai jaket kulit. " jawab Seno meneliti pakaiannya.
" Kamu lepas aja jaket kamu gih. Nanti kamu masuk angin. Kamu pakai jaket aku. " kata Seno sambil melepas jaketnya.
" Ntar mas Seno jadi kedinginan kalau jaketnya aku pakai. " ujar Armell.
" Udah, jangan bantah. Cepetan buka jaket kamu. Kamu lupa, aku ini polisi. Kalau cuma hujan kayak gini udah biasa. " suruh Seno yang telah melepas jaket yang ia kenakan.
Semakin malam, hujan malah semakin lebat. Petir menyambar-nyambar. Meskipun sudah memakai jaket Seno, tetap saja Armell merasa kedinginan. Ia menggosok-gosok tangan dan lengannya. Melihat Armell kedinginan, Seno berinisiatif memeluk tubuh Armell dan memberikan kehangatan.
Kruuukkkk
Perut Armell berbunyi. Seno dan Armell saling menatap. Kemudian mereka tertawa bersama-sama.
" Lapar. He...he...he..." ujar Armell.
Seno melihat ke kiri dan ke kanan. " Tidak ada restoran di dekat sini. " ucap Seno.
" Situ aja yuk. " ucap Armell menunjuk ke pedagang nasi kucing. ( Nasi kucing itu, nasi yang di bungkus kecil-kecil, terus lauknya ada yang pakai kering tempe, ada yang pakai ikan asin dan sambal. Bagi kalian yang pada Ndak tahu ya guys. )
" Yakin kamu mau makan di situ? Kotor loh beb. " ucap Seno.
" Siapa bilang kotor? Kan belum lihat kesana. Lagian daripada lapar. Terus masuk angin. Mending makan apa adanya aja. Ayuk lah. " jawab Armell sambil menarik tangan Seno dan di bawa ke warung tenda kecil yang ada di dekat mereka.
Armell memilih nasi bungkus yang akan di makannya. Dan Seno, jangan tanya. Kalau Armell sudah berbicara, maka ia harus mengikutinya. Iapun makan nasi yang sama seperti yang di makan oleh Armell.
" Beb, sepertinya hujan akan lama nih redanya. Kalau kita paksain pulang, sudah bisa di pastikan kita bisa sakit besok. Udaranya dingin banget. Jarak sini ke kota jauh banget. Masih sekitar satu jaman. Gimana? " tanya Seno ke Armell.
Armell diam tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia juga bingung.
" Tuan sama nona ini suami istri bukan? " tanya pedagang nasi itu.
" Kami suami istri pak. Kenapa emangnya? " tanya Seno.
" Kalau suami istri, mending nginap di hotel. Ada hotel Bagus kok di dekat sini. Ada sekitar satu kilo ke arah sana. Daripada harus di paksakan pulang tapi hujannya masih lebat gini. " ujar si pedagang nasi.
" Wah, boleh juga itu. Gimana beb? " tanya Seno ke Armell.
Armell nampak berpikir. " Yaaa.... terserah deh. Gitu juga boleh. Daripada kedinginan gini. " jawab Armell pada akhirnya. " Tapi kita nggak ada baju ganti juga. Percuma aja kan kalau baju kita juga basah. " lanjutnya.
" Di dekat hotel itu ada toko baju non. Yah, walau hanya toko baju kecil-kecilan. Kalau jam segini biasanya masih buka. " sahut si pedagang nasi.
" Ya udah, yuk kita kesana aja. Keburu tutup juga toko bajunya. " ajak Seno.
Armell mengangguk. Mereka bangkit dari duduknya.
" Makasih ya pak. " ucap Seno.
" Ini kembaliannya tuan. " ucap pedagang sambil menyerahkan sisa uang waktu bayar makanan tadi.
" Ambil aja pak kembaliannya. " jawab Seno sambil menangkupkan jaket Armell ke dadanya.
" Tapi masih banyak ini tuan. " ucap si pedagang.
" Anggap aja itu rejeki bapak. " jawab Armell.
" Makasih banyak tuan, nona. " ucap si pedagang.
Seno dan Armell mengangguk bersamaan. Kemudian mereka keluar dari warung itu dan menaiki motornya lagi. Mereka menerjang hujan deras untuk mencari hotel yang di bilang si pedagang tadi.
" Baby, maaf ya. Kita malah jadi hujan-hujanan gini. " ucap Seno sambil berteriak karena suara hujan yang kencang dan angin.
" Iya nggak pa-pa. Yang penting kan kita happy. " jawab Armell sambil berteriak juga.
***
bersambung