My Handsome Police

My Handsome Police
Aneh



Acara berlibur telah usai. Kini semuanya sudah kembali ke kehidupan mereka yang biasanya. Seno berangkat ke kantor di pagi hari dan pulang di sore harinya. Sedangkan Armell, karena ia sudah selesai dengan kegiatan kuliahnya, ia sering ikut suaminya ke kantor. Untuk membantu pekerjaan suaminya, atau hanya sekedar ingin berkumpul dengan teman-teman waktu magang dulu.


" Baby, kamu yakin hari mau ikut ke kantor? " tanya Seno yang melihat sang istri tampak sedikit pucat.


Armell mengangguk mantap, " He em. Bosen di rumah nggak ada kerjaan. "


" Kan sama aja. Di kantor juga nggak ada kerjaan, baby. " sahut Seno sambil tersenyum sambil mencubit lembut pipi Armell.


Armell merubah mimik wajahnya menjadi agak cemberut. " Kan mas sendiri yang nggak ngasih aku kerjaan. Buat apa coba dulu aku sekolah tinggi-tinggi kalau yang ada sekarang nganggur. " ucapnya.


" Baby, ingat kata dokter. Bukannya aku nggak ngijinin kamu kerja, atau nggak kasih kamu kerjaan. Cuma aku nggak pengen kamu kecapekan. " ujar Seno sambil membelai rambut Armell. Tapi Armell masih tetap cemberut. " Pengen cepet punya baby kan? " tanya Seno lembut.


Armell langsung mengangguk. Dan sesaat, mimik wajahnya berubah menjadi ceria kembali.


" Ya udah ayo lah berangkat. Keburu siang. Mending nggak ngapa-ngapain di kantor. Daripada nggak ngapa-ngapain di rumah. Kalau di kantor kan ada mas. Bisa lihatin kamu. Lihat wajah ganteng suamiku. Terus kalau tiba-tiba pengen enak-enakan bisa langsung cap cus. Nggak usah nungguin mas pulang. " ujar Armell manja sambil menyenderkan kepalanya di lengan Seno.


Seno mengecup puncak kepala Armell. " Kamu sekarang kenapa jadi pinter gombal gini? Hem? Pinter ngerayu lagi. Terus sering tiba-tiba pengen enak-enakan. "


Yah, entah sejak kapan dan entah kenapa, akhir-akhir ini, Armell bersikap begitu manja dengan suaminya. Selalu ingin berdekatan dengan sang suami. Bahkan ia sudah tidak malu untuk mengajak suaminya enak-enakan. Tidak kenal tempat pula. Mau di kantor saat suaminya sedang sibuk-sibuknya, jika tiba-tiba ia pengen, maka mau tidak mau, Seno harus menurutinya. Untung ruang kerja Seno ada kamar tidurnya. Jadi tidak masalah jika mereka berhubungan.


Pernah juga, saat Seno sedang meeting. Tiba-tiba sang istri mengirim pesan kalau dirinya sangat menginginkan suaminya saat itu juga. Seno terpaksa meninggalkan ruang meeting dan segera menghampiri sang istri yang berada di ruang kerjanya.


Bahkan pernah juga kejadian yang membuat Seno semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap istrinya.


Flash back on


Siang itu, Seno dan Armell sedang menikmati makan siang di sebuah restoran Korea. Tiba-tiba saja Armell merengek ingin makan Ramen khas Korea. Jadi, Seno mengajaknya makan siang di restoran Korea yang terkenal di ibukota.


Tiba-tiba di pertengahan makan, Armell bergerak-gerak tidak nyaman.


" Kenapa baby? " tanya Seno yang semenjak tadi melihat istrinya seperti resah.


Armell menggeleng tanpa memberikan jawaban. Ia berusaha menekan keinginannya. Sesekali ia mengusap tengkuknya dan mengambil nafas panjang.


Seno mengerutkan dahinya melihat istrinya. Bahkan Armell tidak menghabiskan makanannya.


" Baby...." panggil Seno sambil mengelus kepala Armell. " Why? What's wrong with you? " tanyanya.


Armell mendekatkan wajahnya ke telinga Seno, lalu berbisik, " Pengen..."


Seno membulatkan matanya mendengar ucapan istrinya. " Baby...jangan aneh-aneh. Semalam kita sudah melakukannya berkali-kali. Bahkan sampai hampir pagi. "


Armell langsung menjauhkan wajahnya dan cemberut. Ia kesal tentu saja. " Kalau nggak mau ya udah. Bilang aja nggak mau. Semalam kan kamu juga pengen. Bukan cuma aku aja. " sahut Armell ketus sambil menusuk-nusukkan garpu yang ia buat makan tadi ke dalam mangkuk yang masih berisi ramen.


Seno menjadi serba salah kalau sudah begini. Melihat istrinya yang ngambek, tentu saja ia tidak mau. Tapi setelah jam malam siang ia ada janji bertemu dengan klien penting. Jadi bagaimana dia bisa melayani keinginan sang istri.


" Baby, don't be mad, oke. Habis ini aku ada meeting penting sama klien. Aku janji, nanti malam kita berolahraga lagi sepuas kamu. Oke? " bujuk Seno.


Tapi Armell masih tetap cemberut, " Maunya sekarang kok di kasihnya nanti. " gerutunya.


Tapi tiba-tiba Armell mempunyai sebuah ide. Ia yakin, kali ini suaminya pasti tidak akan bisa menolak. Ia menggeser duduknya mendekati Seno. Lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah ************ sang suami. Bermain di sana, sambil bibirnya mengendus leher Seno.


" Baby, don't be like this. " ujar Seno sambil mencekal tangan nakal Armell. " Banyak orang di sini. " Tambahnya.


Tapi sepertinya keinginan Armell jauh lebih besar dari rasa malunya. Meskipun tangannya di cekal oleh Seno, sekarang tangan yang satunya ia gunakan untuk bermain dengan Martinez.


" Kita ke hotel. " bisiknya. Armell tersenyum menyeringai.


Lalu Seno menarik tangan Armell untuk berdiri dan berjalan meninggalkan restoran itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang seratusan tanpa meminta bill nya terlebih dahulu.


Armell mengikuti langkah Seno dengan mengulum senyum. Bahkan kini otaknya sudah mulai berkelana kemana-mana.


Seno segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman restoran itu setelah dirinya dan istrinya masuk ke dalam mobil. Ia mencari hotel terdekat.


Di dalam mobil, Armell semakin menggila. Tangannya sudah benar-benar tidak bisa di kondisikan.


" Baby, please jangan seperti ini. " pinta Seno karena tubuhnya terasa sangat panas. Tangan Armell bermain lincah dengan Martinez. " Apa kita akan melakukannya di dalam mobil saja? " lanjutnya.


Tapi Armell masih tidak bergeming. Ia masih tetap asyik dengan kegiatannya. Bahkan resleting celana Seno kini sudah terbuka. Seno semakin menggeram saat tubuh Armell menunduk dan terasa sesuatu yang basah ikut bermain.


Seno menghentikan mobilnya sembarangan. Ia sudah tidak tahan dengan kelakuan sang istri. Setelah mobilnya berhenti dengan mesin mobil yang tetap menyala, Seno memundurkan jok kemudinya ke belakang. Lalu ia meraih tubuh Armell ke dalam pangkuannya.


Seno mel**** bibir seksi istrinya dengan sangat lahap.


" Baby, kau sangat nakal hari ini. " ujarnya diantara desahannya.


Dan kegiatan itu akhirnya benar-benar terjadi di dalam mobil. Siang panas yang membakar segalanya. Untung posisi mereka sedang berada di pinggir jalanan yang sepi. Hanya sesekali ada mobil yang lewat. Di tambah lagi, kaca mobil yang tidak nampak dari luar apa yang di lakukan sang pemilik mobil di dalam. Sudah bisa di pastikan jika orang yang lewat tidak akan menyadari jika sedang terjadi pertempuran panas di dalam mobil.


Dan beruntungnya lagi, tempat itu jauh dari pos polisi. Jika tidak, sudah pasti Seno kena tilang.


Kegiatan yang memakan waktu hampir satu jam lamanya itu akhirnya berakhir juga. Dengan wajah puas dari keduanya. Nafas yang masih terengah-engah setelah kegiatan yang menguras tenaga itu, membuat keduanya masih dalam posisi yang sama.


Setelah nafasnya mulai teratur, Armell berpindah tempat ke tempat duduk asalnya. Lalu membenarkan pakaiannya yang sudah tidak tahu bagaimana bentuknya. Menyisir rambutnya yang acak-acakan dengan jari-jarinya.


Senopun melakukan hal yang sama. Ia mengancingkan kembali kemejanya dan memasukkan kembali ke dalam celana yang pastinya juga telah terkoyak.


" Kau benar-benar liar hari ini baby. Kau membuatku terlambat menghadiri meeting penting. " ujarnya seraya masih merapikan pakaiannya.


" Tapi mas suka kan? Mas juga sangat menikmatinya. " sahut Armell yang juga masih sibuk merapikan penampilannya.


" Aku selalu suka semua yang menyangkut dirimu. Apapun itu. " ujar Seno tegas. Kini pakaiannya sudah kembali rapi.


" Kita langsung kembali ke kantor? " tanya Armell.


Seno mengangguk, " Kamu sudah selesai dengan pakaianmu? Pastikan semuanya sudah kembali seperti semula. Aku tidak mau sampai ada kancing yang terlewat. " ujarnya.


" Sudah semua. Semua sudah kembali tersegel. " jawab Armell sambil menunjukkan senyum manisnya.


" Thank you baby. And I love you. " ucap Seno sambil mengelus pipi Armell. Dan dua kalimat itu pasti selalu ia ucapkan setiap mereka selesai berkegiatan.


" I love you too. " jawab Armell.


Setelah mendengar jawaban dari sang istri, Seno melajukan mobilnya perlahan memasuki jalanan kembali. Ia harus segera sampai di kantor. Karena ia sudah terlambat seperempat jam dari jadwal meeting. Bahkan tadi saat Rezky menghubungi, Seno tidak menjawabnya.


Karena mungkin capek setelah melakukan kegiatan yang melelahkan, Armell tertidur di jok di sisi Seno. Membuat Seno tersenyum tipis.


Flash back off