
" Maaf, permisi...." sapa Nyonya Ruth ke dua orang gadis yang sedang mengobrol di depan rumah kost Armell dulu.
" Iya Bu, ada yang bisa kami bantu? " tanya salah satunya.
" Adik-adik ini anak kost di sini ya? " tanya Nyonya Ruth.
" Iya Bu. Benar. "
" Oh, apa benar anak saya Armell Lusinda ada di sini? " tanya Nyonya Ruth kembali.
" Kak Armell emang di sini Lel? " tanya salah satu gadis itu ke temannya.
" Sepertinya tadi pagi aku dengar suaranya di sini. " jawab Leli, salah satu gadis tadi. " Sepertinya kak Armell di sini Bu. Soalnya tadi pagi saya seperti mendengar suaranya. " ujar Leli ke nyonya Ruth.
" Oh, bisa tolong di panggilkan? " tanya Nyonya Ruth sambil tersenyum ramah.
" Bisa Bu, sebentar saya panggilkan. Ibu bisa menunggu di ruang tamu itu. " ucap Leli.
" Silahkan masuk Bu. " teman Leli membukakan pintu ruang tamu. Dan Leli berlalu untuk memanggil Armell.
Tak lama kemudian, Armell keluar.
" Nyonya...." Armell terkejut melihat orang yang mencarinya.
" Halo, sayang. " sapa Nyonya Ruth. Beliau berdiri dan langsung memeluk Armell. Beliau sangat senang bisa bertemu dengan menantunya.
Armell membalas pelukan dari istri mantan bosnya itu. Tapi ia masih di landa kebingungan. Kenapa istri bosnya itu mencarinya dan tiba-tiba memeluknya.
Nyonya Ruth melepas pelukannya. Kini ia menangkup wajah Armell dan menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum bahagia dan dengan genangan air mata bahagia di pelupuk matanya. Kemudian ia menarik wajah Armell mendekat, dan mengecup kening Armell.
Armell semakin bingung dengan semua perlakuan istri mantan bosnya itu.
" Ayo kita duduk. " ajak Nyonya Ruth sambil menarik tangan Armell. Senyum bahagia masih tetap menghiasi wajahnya.
" Sayang, kamu apa kabar? " tanya Nyonya Ruth.
" Alhamdulillah, saya baik nyonya. " jawab Armell sopan.
" Uh, sayang...bisa tidak jangan memanggilku nyonya. Agak nggak enak di dengar. Panggil mama aja ya? " pinta Nyonya Ruth.
" Ha? " Armell terkejut lagi. " Nyonya, itu...itu tidak mungkin nyonya. Anda kan istri dari bos tempat magang Mell dulu. " jawab Armell tidak enak hati.
" No, honey. Please, just called me mama, oke? Aku ingin kamu memanggilku mama. Aku senang kamu menjadi putriku. " ucap Nyonya Ruth penuh harap.
" Mmm..." Armell malah jadi semakin tidak enak hati. Istri bosnya itu memang perempuan yang baik. Semenjak pertemuan pertama mereka, Armellpun sangat menyukainya.
Nyonya Ruth menunggu Armell memanggilnya mama dengan penuh harap.
" Iya, mama. " ucap Armell pada akhirnya.
Nyonya Ruth kembali memeluk Armell, " Ah, senangnya. " ia berujar.
Nyonya Ruth melepas pelukannya. " Sekarang, ikut mama yuk. " ajak Nyonya Ruth sambil menarik tangan Armell.
Armell di buat melongo dengan perlakuan istri bosnya itu. Otaknya masih belum bekerja maksimal. Ia nurut saja tangannya di tarik oleh nyonya Ruth.
Setelah ia berada di dekat mobil Nyonya Ruth, Armell baru tersadar. " Kita mau kemana, nyonya? Eh, maksud Mell ma? "
" Pulang ke rumah mama. " jawab Armell.
" Tapi ma....Mell..." Armell berusaha menolak, tapi Nyonya Ruth tidak membiarkannya.
" Ayo, sayang. Pulang ke rumah mama. Ke rumah kita. Mama mohon. " ucap nyonya Ruth sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dagu.
Armell kembali merasa tidak enak untuk menolak.
' Kenapa nyonya Ruth begitu baik sama aku? Sampai menyuruhku memanggilnya mama lagi. Dan sekarang mangajakku pulang ke rumahnya. Dan beliau bilang, rumah kita? Ada apa ini sebenarnya? Apa mungkin aku ini anak kandung beliau yang beliau buang? Seperti baby Arvin? Ah, tidak-tidak. Tidak mungkin. Wajahku saja mirip bapak sama ibu kok. Lalu kenapa? Ada apa? Jangan bilang beliau masih menginginkanku jadi menantunya....Ohhh....tidak.... tidak....' ujar Armell dalam hati menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Sayang...." panggil Nyonya Ruth menyadarkan Armell dari lamunannya.
" I-iya ma..."
" Ayo kita pulang. " ajak Nyonya Ruth kembali.
" Tapi ma, kenapa mama mengajak Mell pulang ke rumah mama? " tanya Armell.
" Nanti mama jelasin di rumah. Papa juga udah nungguin loh. " jawab nyonya Ruth sambil menggandeng tangan Armell.
" Ma..." Armell memegang tangan Nyonya Ruth. " Armell udah nikah ma. "
" Mama tahu itu. " jawab Nyonya Ruth dengan tampang berseri-seri.
" Kalau Armell udah nikah, berarti nggak mungkin Mell menjadi menantu mama kan? " tanya Armell dengan wajah bloonnya.
" Iya, mama ngerti itu. Mama nggak bakal minta kamu jadi mantu mama kalau emang kamu udah nikah sama cowok lain. " ucap Nyonya Ruth.
" Kalau Mell ikut mama, nanti kalau suami Mell nyariin gimana ma? " tanya Armell.
" Ya nanti biar suamimu datang ke rumah, jemput kamu. " jawab Nyonya Ruth enteng.
" Terus ma..."
" Udah, ayo.... nanti mama jelasin semuanya sejelas-jelasnya di rumah. Mama kasih tahu sebuah rahasia nanti. " janji Nyonya Ruth.
Armell nampak berpikir. Lalu ia pun memutuskan untuk ikut. Ia ingin tahu apa yang akan di jelaskan oleh nyonya Ruth.
" Iya. " nyonya Ruth mengangguk. " Bawa baju-baju kamu juga. Yang kamu bawa dari rumah suami kamu tadi pagi. "
Armell mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumah kostnya lagi. Ia mengambil tas ransel yang ia bawa tadi pagi. Setelah mengambil tas, ia kembali menghampiri Nyonya Ruth.
Dion, yang di berikan tugas oleh tuan Adiguna mengantar sang istri menjemput menantunya, dengan senang hati membukakan pintu untuk Nyonya Ruth juga Armell.
" Terimakasih banyak, pak Dion. " ucap Armell sambil membungkuk.
" Sama-sama nona. " jawab Dion sambil membungkuk juga.
' Silahkan anda menikmati kebingungan anda mencari nona muda, tuan muda. ' batin Dion sambil tersenyum dalam hati.
Kemudian Dion membawa mereka berdua meninggalkan rumah kost Armell dan ke rumah besar.
Armell nampak terpana dengan keindahan rumah besar keluarga Adiguna. Ia heran tentu saja. Rumah itu terlihat begitu indah, besar dan mewah. Berbagai macam bunga ada di taman rumah itu. Bunga-bunga yang seperti ia lihat di taman edukasi yang pernah Seno ajak lihat dulu.
" Ayo masuk, sayang. " ajak Nyonya Ruth sambil menarik tangan Armell. Armell hanya mengikuti.
" Pa...papa sayang...." panggil Nyonya Ruth ke suaminya. Hari itu, tuan Adiguna sengaja tidak ke perusahaan. Apalagi sekarang Seno ikut andil di perusahaan. Beliau jadi jarang ke kantor.
Tuan Adiguna keluar dari lift.
" Pa, mama berhasil bawa putri kita. " ucap Nyonya Ruth bangga sambil dengan senyuman.
" Mama paling.." tuan Adiguna mengacungkan jempolnya.
" Tuan...." sapa Armell sambil membungkuk.
" Papa sayang. Dia papa kamu sekarang. " ujar Nyonya Ruth sambil menepuk pundak Armell.
" Duduk dulu, Lus. " tuan Adiguna mempersilahkan.
" Terimakasih, tuan. " ucap Armell.
" Papa sayang...." protes Nyonya Ruth.
Armell tersenyum kikuk sambil melihat ke tuan Adiguna sekejap. Beliau juga tersenyum.
" Maafkan mama kamu yang mungkin sudah memaksa kamu untuk ikut kemari nak. " ucap tuan Adiguna.
" Ah, papa ini. Mending sekarang papa jelasin ke Lusi, biar Lusi nggak bingung gitu. Mulut mama ini udah gatel dari tadi tahu pa. Pengen cerita. Pengen kasih tahu ke Lusi, kita ini siapa. " ujar Nyonya Ruth setelah mereka semua duduk di sofa.
" Iya ma. Sabar. " jawab sang suami sambil manggut-manggut.
" Kamu pasti sangat ingin tahu kenapa mama ini mengajak kamu kesini. Sampai-sampai dia juga memintamu memanggil mama. Iya kan? " tanya tuan Adiguna ke Armell.
Armell langsung mengangguk.
" Dulu...saya pernah mengatakan kepadamu kalau aku ingin menjodohkan kamu dengan putraku. Kamu ingat? " ujar tuan Adiguna mulai bercerita.
" Iya benar tuan. " jawab Armell dengan serius mendengarkan.
" Kamu bilang saat itu, kamu mengatakan kalau kamu tidak bisa menikah dengan putraku karena telah ada laki-laki lain yang menikahimu. Terus terang kami sangat kecewa saat itu. Kami sangat tidak menyukai suami kamu itu. Yang sudah berani mengambil calon menantu dari keluarga Adiguna. " lanjut tuan Adiguna.
" Tapi setelah kami mengetahui siapa laki-laki yang sudah menikahi kamu, kami berubah menjadi sangat senang. Kami bahagia. Kami bersyukur kamu menikah dengannya. Meskipun laki-laki itu nakal, tapi dia sudah berani menikahimu. Kami bangga kepadanya. " ucap tuan Adiguna sambil tersenyum hangat.
" Kamu tahu, kenapa kami bahagia saat tahu siapa suami kamu? " tanya tuan Adiguna. Armell menggeleng.
" Tentu saja kamu pasti tidak tahu karena anak nakal itu tidak pernah mengatakan siapa orang tuanya. Apa suami kamu pernah bercerita tentang keluarganya? " tanya tuan Adiguna.
Hati Armell jadi ketar-ketir. " Tidak tuan. Tidak pernah sama sekali. "
" Apakah kamu ingin mengenal keluarga suamimu?" tanya tuan Adiguna kembali.
Armell mengangguk. " Tentu saja, tuan. "
" Yakin kamu tidak akan kecewa kepada suamimu jika kamu sudah mengenal keluarganya? Bagaimana jika keluarga suamimu tidak seperti yang kamu bayangkan? "
" Maksud tuan? Apa tuan mengenal keluarga suami saya? " tanya Armell.
" Tentu saja. Kami sangat mengenalnya. " jawab tuan Adiguna dan diiringi senyuman dari nyonya Ruth.
" Siapa mereka tuan? "
" Siapa nama suami kamu? Nama lengkapnya. " ucap tuan Adiguna.
" Seno Gael Adi....guna..." Armell semakin terkejut saat ia menyebutkan nama belakang suaminya. " Tuan, jangan bilang kalau...kalau suami saya...."
Tuan Adiguna mengangguk-angguk. Armell spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Ia syok mendapati kenyataan ini. Ia tidak pernah menyangka dan mengira jika suaminya berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Ia menjadi merasa sangat kecil.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sudah sangat di bohongi. Berkali-kali ia mengatakan kepada Seno kalau ia tidak menyukai orang kaya. Apalagi sampai menjadi istri orang kaya. Ia tidak ingin kehidupannya berubah. Ia juga tidak ingin pribadinya juga berubah.
" Sayang...." ucap Nyonya Ruth yang langsung memeluk Armell. Ia tahu kalau Armell saat ini sedang syok. Mendapati kenyataan yang di luar ekspektasinya.
" Mama...oh, Nyonya.... bolehkah Mell kembali ke rumah kost sekarang? " tanya Armell gugup.
" Tidak sayang. " ucap Nyonya Ruth sambil menggeleng. " Kamu tidak akan kemana-mana. Kami tidak akan membiarkan kamu pergi kemana-mana. "
" Maaf, Nyonya...Saya...."
***
bersambung