
Mobil yang Seno kendarai sampai pekarangan rumah dengan aman dan selamat. Selama perjalanan tadi, Armell seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Mau Seno bertanya ataupun berbicara apapun, tidak ada yang ia tanggapi. Hatinya masih terasa panas. Ia marah. Marah karena telah merasa di bohongi. Dan ia juga marah karena perasaannya.
Saat Armell hendak membuka pintu mobil, Seno buru-buru menguncinya kembali. ( Mobil mahal ya guys...jadi ada kunci yang central locknya ada di pintu sopir. Dan hanya sopir yang bisa membukanya. )
" Buka pintunya. " ucap Armell tanpa melihat Seno sedikitpun.
" Nggak. Sebelum kita bicara. " jawab Seno tegas tak terbantahkan.
Dasar Armell, si keras kepala. Mendengar ucapan Seno, Armell kembali menyandarkan tubuhnya di jok mobil sambil bersedekap. Ia masih tetap diam.
" Baby ..." panggil Seno sambil memegang lengan Armell.
Armell segera menepis tangan Seno. " Nggak usah pegang-pegang. " ucap Armell dengan nada marah.
" Oke. Aku nggak pegang. " jawab Seno sambil mengangkat kedua tangannya di samping kepalanya. " Kamu kenapa sih baby? Kok marah-marah nggak jelas gini. Tadi aja kamu nyium-nyium aku loh. Sampai bikin aku terkejut. Tapi aku seneng sih...Di cium lagi juga aku mau. Mau banget malah. " goda Seno.
" Mau di cium pakai sepatu ini? " tanya Armell ketus sambil menunjuk sepatunya.
" Eits. Itu namanya nimpuk baby...Bukan nyium. Kalau nyium tuh pakai bibir. Gini nih...." ucap Seno sambil mencondongkan tubuhnya mendekati Armell.
Armell langsung mendorongnya.
" Udah aku bilang, jangan pegang-pegang. Apalagi dekat-dekat. Jijik aku di pegang sama tangan mas yang bekas polisi NGGAK jelas itu. " ucap Armell ketus.
" Pfffttt...." Seno menahan tawanya. " I see. Aku tahu sekarang kenapa kamu marah-marah dari tadi. Kamu cemburu ya? " tebak Seno.
" Siapa juga yang cemburu. " gerutu Armell sambil menatap ke luar jendela di sampingnya.
" Lalu apa masalahnya kalau kamu nggak cemburu?" tanya Seno.
Armell tidak menjawab.
" Baby, kamu marah tapi aku seneng loh kalau kamu marahnya karena cemburu. Itu artinya aku sudah punya tempat spesial di hati kamu. " ucap Seno sambil menghadap Armell yang membelakanginya.
Armell masih tetap diam.
" Beb....." panggil Seno sambil memegang pundak Armell. Tapi lagi-lagi di tepis oleh Armell.
" Beb, jangan diem aja dong. Ngomong apa gitu kek. Entar kita nggak turun-turun dari mobil lho. " pancing Seno.
" Nggak turun juga nggak pa-pa. " jawab Armell sekenanya. Lalu ia membenarkan posisi duduknya dan menyandarkan kepalanya di jok, lalu menutup matanya.
Seno menghela nafas panjang dan dalam-dalam melihat kelakuan istrinya. Sabar, Seno.... Menghadapi orang keras kepala itu harus ekstra sabar.
Seno akhirnya membuka kunci pintu mobilnya. Tanpa berkata apa-apa, ia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan Armell begitu saja di dalam mobil.
Armell membuka matanya saat mendengar pintu di tutup. Iapun segera turun dari mobil dan berjalan cepat mendahului Seno yang sudah berjalan lebih dulu. Bahkan ia sempat menyenggol lengan Seno saat ia mendahului Seno, sedangkan mereka sama-sama berada di pintu rumah yang memang hanya terbuka separuh. Membuat Seno hanya menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Seno menghenyakkan pant*tnya di sofa ruang tengah. Ia menyalakan TV, lalu " Liiiiiikkkk..." panggilnya.
" Iya tuan bos......" jawab Lilik sambil tergopoh-gopoh menghampiri Seno di ruang tengah.
" Bikinin kopi. " pinta Seno.
" Siap tuan bos. " jawab Lilik yang lalu ia meninggalkan Seno untuk membuat kopi.
Seno menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memijit pelipisnya. Hari ia sangat lelah. Lelah bekerja karena hari ini ada kasus yang harus segera ia dan timnya tangani. Seharusnya masih ada kasus lagi untuk hari ini. Tapi karena ibu negara sedang ngambek, akhirnya ia meninggalkan teman-temannya menyelesaikan kasus itu sendiri.
Tidak hanya lelah karena pekerjaan. Hati dan pikirannya juga lelah menghadapi istri keras kepalanya. Ia memejamkan matanya sambil berpikir keras bagaimana menjinakkan sang ibu negara. Andaikan ia sudah berhasil belah duren, hal ini pasti bisa segera ia tangani. Tangan ahlinya pasti mampu menjinakkan sang ibu negara. Tapi saat ini, jika tangan mahirnya bekerja, yang ada ia akan mendapatkan timpukan sofa oleh sang istri.
" Aaarrrrgggghhhhh........" teriak Seno sambil mengacak-acak rambut cepaknya.
...Di dalam kamar...
Setelah masuk ke dalam kamar, Armell langsung mengunci pintunya, lalu memencet tombol kedap suara.
" Aaaaaaaaaaa........." teriak Armell sekencang-kencangnya.
" Dasar suami tukang selingkuh. Pembohong. Bilangnya nggak suka, tapi curi-curi kesempatan di belakangku. Sebal...sebal...sebal....Pengen aku tendang sel@ngk@ng@nny@! " umpat Armell sambil menggepal tangannya erat.
" Siaaalllll....Hatiku kenapa rasanya sakit begini???? Kenapa aku jadi sangat marah sih? " umpat Armell kepada dirinya sendiri.
" Ada apa dengan diriku ini? Apa benar aku cemburu? Apa iya ini yang namanya cemburu? " gumamnya.
" Bagaimana ini? Kalau memang aku cemburu, berarti benar aku mencintai dia? Ohhhh tidaaakkk...." gumam Armell sambil merengek.
" Masak iya aku jatuh cinta sama polisi ngeselin itu sih....Duh Mellll.....Melll...gimana ini??? " ucap Armell sambil mengacak-acak rambutnya.
Armell jadi semakin semprawut otaknya. Di tambah lagi, omongan Ikke tempo hari.
' Jangan kasih kendor. Jangan biarkan suamimu melihat rumput tetangga. Rumput tetangga itu lebih hijau. ' kira-kira itulah yang diingat oleh Armell.
" Ihhhhh...." Armell kembali mengacak-acak rambutnya.
Armell yang merasa kepala dan hatinya semakin panas, segera masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, kemudian berdiri di bawah shower masih dengan berpakaian lengkap. Ia berharap, dinginnya air bisa mendinginkan hati dan otaknya.
Tok...tok ..tok .. pintu kamar di ketuk.
" Beb, buka pintunya dong...." pinta Seno dari balik pintu.
Armell tersentak mendengar suara Seno. Ia masih berdiam diri. Ia bingung bagaimana berhadapan dengan suaminya itu. Jantungnya berdetak kencang.
Tok. tok ..tok .. pintu kembali di ketuk
" Baby, aku mau mandi. Oh, paling tidak biarkan aku mengambil baju untuk ganti. Masak kamu tega biarin aku pakai seragam ini terus...Gerah beb...." pinta Seno dengan suara melas.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Seno menyunggingkan senyumnya. Tapi Armell tidak melihatnya sedikitpun. Ia kembali duduk di ranjang.
Seno melangkah masuk ke dalam kamar. Ia melihat Armell duduk di tepi ranjang. Seno menyusul duduk di sebelah Armell.
" Baby, maafkan aku. Aku bersalah padamu. " ucap Seno sambil memegang tangan Armell. Kali ini Armell tidak menepis tangan Seno. Tapi ia masih diam.
" Beb. Tanganku udah bersih. Aku udah menyucinya tadi. Bahkan sampai 10 kali pakai sabun. Maaf kalau aku menyakiti hati kamu. " ujar Seno.
Armell masih menunduk, tapi kemudian ia berkata, " Kenapa kamu bohong sama aku mas? Kenapa kamu nggak jujur aja? Kenapa kamu nggak bilang aja kalau kamu suka sama dia? Aku tidak akan merasa seperti ini jika kamu jujur. Aku ikhlas mas, kalau kamu memang ingin bersamanya. Aku juga bersedia pergi dari rumah ini. " ucap Armell lirih.
" Baby, kamu ngomong apa? Siapa yang suka sama dia? Sama sekali nggak, beb. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku sudah pernah bilang sama kamu kan? " jawab Seno.
" Jangan bohong hanya untuk menjaga hatiku mas. Aku tidak akan sanggup jika seperti ini. " jawab Armell masih dengan suara lirih.
" Hei, aku tidak pernah berbohong sama kamu. Aku bicara jujur, baby. Aku bicara apa adanya. " jawab Seno sambil mengelus kepala Armell.
" Kalau kamu nggak bohong, kenapa tadi pagi bilang kalau kamu pulang malam karena ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Tapi kenyataannya kamu enak-enakan makan berduaan sama polisi itu. " sanggah Armell.
" Kamu salah paham, baby. Aku beneran ada beberapa kasus yang harus aku dan timku selesaikan hari ini. Dan asal kamu tahu, tadi aku tidak berduaan sama dia. Kami bertiga. Eh bukan, berempat malah. Satu temanku pamit duluan karena dapat kabar katanya anaknya kecelakaan. Dan satu temanku lagi, ijin ke toilet sebelum kamu datang. Jadi yang kamu lihat hanya aku berdua sama dia. " bela Seno.
" Terus kenapa tadi kamu mau-mau saja di layani sama dia? Di ambilin nasi lah...diambilin lauk lah .." lanjut Armell sambil cemberut.
" Aku sudah menolak. Tapi dia maksa. Bahkan kamu lihat kan tadi, seberapa banyak nasi dan lauk yang ada di piringku? Aku tidak memakan nasi dan lauk yang diambilkan dia. Aku makan dari yang aku ambil sendiri. " jawab Seno.
" Lalu ini apa? " tanya Armell sambil memperlihatkan ponselnya. " Mas bilang kalian tidak satu kantor. Tapi kalian sering pergi berdua. " lanjutnya.
Seno mengambil ponsel Armell dan melihat apa yang ingin di tunjukkan oleh istrinya itu. Cukup terkejut saat ia melihat gambar dan membaca pesan yang ada di ponsel Armell.
Seno menghela nafas panjang.
" Aku akan jelasin semuanya sekarang. Biar kamu nggak salah paham. Aku dipindahkan dari devisiku sebelumnya. Di kantor kami ada perombakan. Aku di pindahkan ke devisi kriminalitas. Dan naasnya, Mariana juga di pindahkan kesitu. Jadi mau tidak mau, kami menjadi satu tim. Harus bekerja bareng. Harus menyelesaikan kasus bareng. Harus pergi bareng juga. Dan tadi itu salah satunya. Tadi kami habis menangkap pencuri, dan kami belum sempat makan siang. Jadi tadi saat kamu temui, kami sedang makan siang. " jelas Seno.
Armell menatap mata Seno sambil mengedip-ngedipkan matanya. Membuat bulu matanya yang panjang dan lentik bergoyang-goyang.
" Dan foto-foto juga pesan yang kamu terima itu, itu semua nggak bener. Fotonya hasil editan. Karena aku tidak merasa pernah berfoto Selfi bareng dia sambil merangkulnya seperti ini. " lanjut Seno.
" Beneran? " tanya Armell memastikan sambil masih cemberut.
" Beneran. Sumpah demi Allah. Apa yang aku katakan tadi sesuai dengan kenyataan. " jawab Seno.
Mereka kemudian saling terdiam dan saling menatap dalam mata mereka. Kemudian Seno menarik Armell ke dalam dekapannya. Dekapan yang begitu hangat menurut Armell. Baru hari ini ia menyadari jika dekapan dan pelukan suaminya itu begitu menghangatkan hatinya. Ia tidak menolak dan menepis dekapan Seno kali ini. Ia ingin merasakan kenyamanan ini.
" Aku mohon, percaya padaku. Selalu. Aku tidak akan mengkhianatimu sampai kapanpun. " ucap Seno sepenuh hati. Armell mengangguk. Untuk kali ini ia akan dan ingin mempercayai suaminya. Lalu Seno mengecup puncak kepala Armell dalam-dalam dan cukup lama.
" Terimakasih " ucap Seno. Mereka kembali saling memandang. Kemudian Seno tersenyum hangat sehangat hati Armell saat ini.
" Aku mau mandi dulu. " pamit Seno.
Dan...Cup...
Seno mengecup sekilas bibir tipis Armell.
Dan plak...
Armel memukul lengan Seno dengan tangannya. " Kebiasaan banget sih. " gerutu Armell.
" He...he..he..Habis bibir kamu manis. " ucap Seno sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
Seno berada di dalam kamar mandi hanya sebentar. Ia mandi sekilas. Karena hari sudah lumayan malam. Ia melingkarkan handuknya di pinggang, kemudian ia keluar dari kamar mandi. Niatnya mau menggoda istrinya. Tapi ternyata....
" Yahhh, udah tidur aja dia. " ucap Seno kecewa. Lalu ia mengusap rambutnya yang masih agak basah. Ia mengurungkan niatnya untuk menggoda Armell. Ia segera mengambil kaos dan celana boxer kesayangannya di almari, lalu memakainya.
Setelah memakai baju, ia kembali menuju ke tempat tidur. Ia naik ke ranjang dan menempati sisi kosong di sebelah Armell. Ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Armell.
" Ijinkan aku tidur di sini malam ini sambil memelukmu. Aku janji, hanya memelukmu, baby. " ujar Seno, lalu ia mengecup kening Armell dan ikut memejamkan matanya sambil memeluk istrinya.
***
bersambung
...Nah, akhirnya selesai juga part ini.... episode terpanjang yang pernah author tulis...Jadi, ayo kasih dukungan kalian yah....jangan asal di baca tanpa meninggalkan jejak ....ðŸ¤ðŸ¤...